7/14/2022

DONGENG WALIO: Kisah Ayam dan Kera

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulu ayam dan kera berteman. Suatu hari, Kera mengajak ayam untuk jalan-jalan. Karena sibuk menikmati keindahan alam sekitar, keduanya tidak menyadari kalau sudah jauh dan hari menjelang malam. Dalam perjalanannya kera merasa sangat lapar, sehingga dia menangkap ayam temannya untuk dijadikan makanannya.

“Aku lapar, ku makan engkau ayam.” Kata kera sambil mencabuti bulu-bulu ayam. Tentu saja ayam tidak tinggal diam. Dia terus meronta dan berusaha melepaskan diri. Bulu ayam hampir habis dicabuti oleh kera jahat itu. Beruntung beberapa saat setelah itu, ayam berhasil melepaskan diri. Dia berlari dan menuju rumah sahabat lamanya, si Kepiting.

Saat menjumpai sahabat kepitingnya, dia menceritakan semua hal telah menimpanya. Sehingga kepiting tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Itulah kata orang tua, kalau kita mencari teman, haruslah memilih teman yang baik hatinya dan setia. Sudah, masrilah masuk kedalam rumah.” Kata kepiting menasihati ayam, lalu mengajak masuk kedalam rumahnya.

“Kepiting tolonglah, bagaimana bulu-buluku kembali tumbuh seperti semulah.” Kata si Ayam. Kepiting mengangguk dan dia memandikan ayam dengan santan setiap hari. Sehingga dalam waktu beberapa hari bulu ayam kembali seperti semulah.

“Bagaimana caranya kita dapat menghukum kera itu.” Tanya ayam pada kepiting.

“Aku punya ide, kita membuat sebuah perahu dari tanah liat yang ada disekitar lobangku ini. Setelah selesai, kita undang kera itu untuk pergi berlayar ke sebuah pulau yang banyak buah-buahannya.” Saran kepiting, ayam setuju dan mereka mulai membuat perahu dari tanah liat. Beberapa minggu kemudian perahu selesai. Ayam pun pergi mencari kerah yang dulu hampir memakannya dan mencabuti bulu-bulunya. Ayam menjumpai kera itu di suatu tempat. Mereka bertutur sapa dan berbasah-basih.

“Kera, marilah kita berlayar ke sebuah pulau yang banyak buah-buahannya, sedangkan engaku sangat pandai memanjat.” Kata ayam.

“Ayam, ayam. Dimana kita mendapat perahu untuk berlayar ke pulau itu.” Tanya kera meremehkan.

“Tenang saja, nanti saya ajak temanku si kepiting. Dia punya perahu dan kita dapat berlayar ke seberang bersama-sama.” Kata ayam. Pergilah keduanya menuju tepian dimana terdapat perahu dan kepiting. Setelah itu, kepiting mengajak ayam dan kerah naik perahu dan perjalanan berlayar ke tengah laut dimulai. Kera dengan sangat gembira naik ke perahu. Dia berpikir kalau akan makan sepuas-puasnya buah-buahan di pulai itu, sementara ayam dan kepiting akan mati karena tidak dapat memanjat.

“Kalau kita sudah di tengah laut. Aku akan memberi komando dan mulai melubangi perahu. Lakukan diam-diam supaya perahu kita bocor dan perahu perlahan tenggelam.” Ujar kepiting.

“Do-mi-so-la-so-mi. Aku lubangi hooo!!1.” Ayam bernyanyi-nyanyi sambil tertawa-tawa.

“do-mi-so-la-so-mi. Jangan dahulu, hooo!!!.” Balas kepiting menyanyi. Mereka pura-pura bermain dan terus tertawa. Kera tidak menyadari apa yang dilakukan ayam dan kepiting.

“Aku lubangi, hooo.” Kembali ayam bernyanyi.

“Nanti dalam sekali hooo.” Balas kepiting. Setelah di tengah lautan, mulailah kepiting dan ayam melobangi perahu tanah liat mereka perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian perahu mulai terisi air. Ayam melompat terbang kedaran, dan kepiting menyelam ke dalam laut. Sementara kera merasa kebingungan karena perahu terus tenggelam. Karena tidak bisa berenang akhirnya kera mati lemas tenggelam.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Rama Saputra
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 14 Juli 2022.
Sumber: M.Arief Mattalitti, Dkk. Sastra Lisan Walio. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta, 1985.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment