5/26/2022

Mengenal Pahlawan Nasional Dari Papua: Frans Kaisiepo

APERO FUBLIC.- Frans Kaisiepo lahir di Biak pada 10 Oktober 1921. Dia menjadi salah satu penentang Belanda di tanah Papua. Saat terjadi perundingan di Sulawesi Selatan dia hadir dan menentang penyatuan Papua dengan NIT (Negara Indonesia Timur) bentukan Belanda. Sekembalinya dari konferensi dia kembali ke Biak terus mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan dia dan rakyat Biak mereka lakukan sampai Papua bergabung dengan Republik Indonesia.

Jiwa kebangsaan Frans Kaisiepo tumbuh sejak dia berkenalan dengan Sugoro  Atmoprasojo seorang mantan guru Taman Siswa yang diasingkan ke Digul, Papua. Dari Sugoro dia banyak mendapat informasi tentang perjuangan dan pergerakan rakyat Indonesia. Maka beliau bertekad untuk terjun langsung dalam kanca perjuangan.

Perjuangannya dia tuangkan dalam pergerakan, lalu pada bulan Juli 1946 dia menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM). Karena itulah saat dia terlibat dalam Konferensi Malino dia menolak penggabungan Papua dengan negara boneka bentukan Belanda NIT (Negara Indonesia Timur).

Saat Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Belanda dan Negara Indonesia di Den Hag. Frans Kaisiepo menolak diangkat sebagai anggota delegasi Belanda. Akibatnya dia dihukum Belanda dan dia dihukum buang ke daerah terpencil. KMB menghasilkan keputusan pengakuan kedaulatan terhadap Negara Republik Indonesia. Namun Belanda bersikeras bahwa mereka ingin terus menjajah Papua dan Papua tetap bagian dari Belanda. Sehingga untuk membebaskan Papua dari cengkeraman Belanda. Maka pada 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan operari TRIKORA untuk membebaskan Papua. Masa TRIKORA Frans Kaisiepo membatu tentara mendarat di Papua.

Pada 1 Mei 1963 secara resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kalau Papua lepas dari Belanda dan menjadi bagian dari Indonesia sebagaimana wilayah lainnya di Nusantara. Maka wilayah Negara Indonesia didepenisikan bahwa seluruh wilayah bekas jajahan Belanda atau yang dikenal dengan Hindia Belanda. Frans Kaisiepo kemudian diangkat Pemerintah sebagai Gubernur untuk Papua. Kemudian dia bertugas untuk melaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

Pada 14 Juli hingga 4 Agustus 1969, Pepera berlangsung dan menghasilkan suara bulat bahwa Papua menjadi bagian dari negara Republik Indonesia. Frans Kaisiepo menjabat Gubernur Papua sampai tahun 1973 kemudian pensiun. Enam tahun setelah pensiun beliau wafat dan dimakamkan di taman Makam Pahlawan Cenderawasi, Jayapura. Atas jasa-jasa beliau yang sangat besar maka Pemerintah  Indonesia memberinya gelar Pahlawan Nasional. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 77/TK/1993/ pada 14 September 1993.

Disusun: Tim Apero Fublic
Editor. Joni Apero.
Palembang, 26 Mei 2022.

Sember foto: wikipedia

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment