2/07/2022

Opini Budaya: Filosofi Tebing Sungai

APERO FUBLIC.- Sobat budaya, kalau mau jujur sekali saja dalam kehidupan ini, kita pasti pernah merasakan kalau apa pun yang kita miliki selalu kurang bagus dibandingkan punya orang lain. Dari masalah rumah dan perabotannya, kendaraan, fisik, masalah pekerjaan, sampai masalah kekasih baik itu rupa dan tabiatnya. Ada ujaran berbunyi "rumput di halaman tetangga lebih hijau dari pada rumpun di rumah sendiri."

Sobat budaya, sebab inilah filosofi Tebing Sungai muncul. Mungkin kita pernah berada di tebing sungai, katakanlah ketika memancing ikan. Pada kondisi duduk memancing di sisi tebing sungai kita pastilah memperhatikan sisi tebing sungai di seberang yang berhadapan dengan kita. Pada saat pandangan kita memandang tebing di seberang itu. Pikiran kita mulai menerjemahkan apa yang kita lihat dan yang kita perhatikan.

Dalam pandangan kita, tampaklah tebing yang ada di seberang lebih strategis buat memancing dan tempat untuk duduk bagus. Begitu juga saat melihat arus sungai yang ada di seberang, juga tampak bagus dan cocok untuk melempar kail kita. Kita merasa tebing diseberang lebih bagus dan lebih baik dibandingkan dengan tebing dimana posisi kita sekarang memancing.

Karena kurang puas dan menilai tebing lebih bagus, kita mulai mencari cara untuk menyeberangi sungai untuk pindah lokasi memancing. Akan tetapi begitu sampai di seberang sungai, apa yang kita dapatkan ternyata tebing sungai dimana posisi kita tadi lebih bagus dari yang baru kita datangi. Sekarang tampak tebing sungai seberang kita lebih bagus dari yang kita datangi ini.

Kenapa bisa demikian? Karena pada saat itu kita telah tertipu oleh ilusi optik, apa yang kita pandang sebenarnya hanya bias pantulan cahaya yang bermain didalam benak kita dan mengendap menjadi harapan, di saat itulah mata kita memainkan peranannya mengaminkan isi benak kita, menjadikan apa yang kita pandang sesuai dengan keinginan kita padahal kenyataannya berbeda antara penglihatan dan kenyataan.

Begitulah, kita terlalu asik menerjemahkan segalanya hanya dengan indera penglihatan, tanpa kita libatkan indera yang lain dan satu lagi katalisator paripurna dalam diri kita yakni hati. Filosofi Tebing Sungai menjawab segala pertanyaan-pertanyaan di benak kita. Tanpa disadari selama ini kita telah menjadi salah satu sisi tebing sungai yang selalu memandang ke tebing sungai sisi lain, akhirnya membuat kita terperangkap dengan pemikiran dan pandangan sendiri sebagai salah satu tebing sungai tersebut. #Salam Bimakai

Oleh: Bimakai
Editor. Melly
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 8 Februari 2022.
(Editor Akuisisi disalah satu platform online & Founder Sekolah Menulis Online RSC). Kunjungi fortal  pibadi penulis di: www.bimakai.xyz

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment