1/19/2022

Pentingnya Komunikasi Dalam Keluarga

APERO FUBLIC.- KOMUNIKASI secara sederhana dapat diartikan sebagai penyampaian informasi berupa pesan, ide atau gagasan maupun menyampaikan perasaan dari satu pihak ke pihak lain. Kenapa komunikasi penting itu dalam tatanan keluarga? isu kemerosotan nilai-nilai dalam keluarga di beberapa negara banyak mengemuka.

Indikator terjadinya kemerosotan nilai-nilai yaitu meningkatnya angka perceraian, kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang terdekat termasuk keluarga semakin meningkat bahkan manjadi budaya yang turun temurun. Keluarga bukan lagi tempat yang baik bagi perkembangan anak bahkan menjadi tidak aman.

Realitas tersebut terjadi akibat kurang terjalinnya komunikasi yang baik dalam keluarga, komunikasi yang positif merupakan komponen dalam resolusi konflik keluarga. Bila kedekatan keluarga terjaga maka penyesuaian terhadap konflik apapun akan selalu terselesaikan.

Keluarga harus selalu menyadari bahwa kebutuhan hidupnya akan terpenuhi apabila terjalin komunikasi dengan orang lain, karenanya jika berhasil dalam komunikasi efektif maka kebutuhannya akan tercapai. Anak bercengkrama dengan bapak dan ibunya di rumah, mereka bertukar informasi, pengalaman maupun berdiskusi bahkan berdialog yang panjang untuk merundingkan suatu keputusan.

Perlu kiranya anda mengetahui seberapa jauh pentingnya komunikasi dalam keluarga, yaitu komunikasi penting untuk mempererat hubungan keluarga supaya lebih saling mengenal, sebagai jembatan solusi terhadap permasalahan yang muncul, membangun keceriaan dan kehangatan sehingga menambah semangat hidup, komunikasi yang baik dan efektif akan membentuk kepribadian anak menjadi terbuka, luwes dan bersahabat. Itulah yang bisa anda rasakan bila komunikasi terjalin dengan baik bersama keluarga jika anda mampu menciptakan komunikasi yang hangat di rumah, diharapkan anda bisa lebih bijak untuk mulai membangun kebersamaan dengan keluarga.

Suatu studi dalam ‘Jurnal Komunikasi’ keluarga menyatakan pentingnya komunikasi dalam keluarga membentuk ketahanan anak menghadapi kesulitan, orang tua yang terbuka akan aktif berdiskusi dengan anak tentang masalah yang dihadapi namun tetap meyakinkan mereka bahwa bahwa badai pasti akan berakhir’, dengan begitu anak akan mempelajari masalah kehidupan dan menghadapinya dengan tabah dan selalu percaya diri serta selalu berkeyakinan bahwa semua pasti akan berlalu.

Kita sering mendengar atau membaca di media banyak anak remaja yang terjerumus dalam penggunaan narkoba, sex bebas atau bahkan bunuh diri (suicide). Hal ini tentu sangat menyedihkan dan mengapa ini bisa terjadi?. Dulu pelaku pecobaan bunuh diri sering terjadi pada orang dewasa yang diakibatkan karena depresi karena tekanan hidup itupun banyak terjadi di negara maju seperti jepang atau amerika, tetapi sekarang di Indonesia mulai mengalami peningkatan bahkan angka kejadianya meningkat pada tingkat usia remaja.

Pola dalam berkomunikasi memang sangat dipengaruhi oleh sosial budaya, dalam suasana perubahan masyarakat dewasa ini keluarga-keluarga dengan berbagai  latar belakang budaya sering berbenturan dengan nilai-nilai yang baru yang dibawa oleh sistem yang baru. Problem dalam mendidik anak menjadi suatu hal yang tak terelakan, karena dalam hal ini perlu pengetahuan dalam membangun pola komunikasi keluarga secara efektif, sehingga mampu mengantarkan anak-anak memiliki perkembangan emosi yang baik.

Dalam masalah ini, keluarga selalu dihadapkan antara nilai-nilai budaya yang masih dipertahankan dengan nilai-nilai budaya baru. Perkembangan emosi yang sering dikenal dengan istilah kecerdasan emosional sering terabaikan oleh keluarga, sebab masih banyak keluarga yang masih memprioritaskan kecerdasan intelektual (IQ) semata, padahal kecerdasan emosi sangat terkait dengan kecerdasan-kecerdasan lain seperti, sosial, moral, interpersonal dan spiritual.

Demi tercapainya perkembangan kualitas-kualitas emosi maka orang tua sebagai pelatih emosi’ perlu memanfaatkan sebaik-baiknya saat-saat berharga dalam keluarga dengan membangun pola komunikasi yang efektif dengan mengambil peran aktif serta bermakna dalam melatih anak dalam mengajarkan naik turunnya kehidupan yaitu pelibatan emosi baik yang negatif maupun emosi yang positif. Pada dasarnya kemampuan emosional sudah ada sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan, tapi seiring perkembangannya sangat tergantung dari interaksi dengan orang lain, artinya emosi merupakan proses mental yang akan berkembang tergantung dari proses belajar dengan lingkungannya.

Oleh. Fitria Rahmawati
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Totong Mahipal.
Palembang, 19 Januari 2022.
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Ilmu Perpustakaan.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment