11/19/2021

Burung Bangau dan Ikan (Dongeng Toraja).

APERO FUBLIC.- Pada suatu hari seekor burung bangau pergi mencari makan. Hari itu, burung bangau pergi ke sawah penduduk disekitar tempat tinggalnya. Dia tahu kalau banyak ikan di sekitar sawah penduduk. Tidak jauh dari persawahan terdapat sebuah tebat dimana air berkumpul. Bangau mulai mencari ikan, dia dengan sigap menghalau ikan-ikan dengan kakinya.

Ikan berlarian kesana kemari, sehingga bangau dapat melihatnya. Lalu bangau menangkap salah satu ikan. Ikan yang tertangkap oleh paru tampak terjepit kuat dan tidak berdaya. Bangau yang sudah lapar tidak tahan untuk menelan ikan yang dia tangkap itu. Ikan itu mencari akal agar tidak tertelan oleh si bangau. Dengan cepat dia berkata pada bangau.

“Bangau, sebelum kau menelan Aku. Maukah kau mendengar nyanyianku yang sangat menarik dan bagus sekali?.” Kata ikan.

“Nyanyian apa itu?.” Tanya bangau penasaran, dan dia tertarik dengan saran si ikan.

“Sudah dengarkan saja, Aku akan mulai bernyanyi dengan merdu sekali.” Kata Ikan dan mulai bernyanyi.

“Kaki bangau adalah pemukul tambur yang bagus. Sayap bangau bagaikan tenunan lebar dan indah. Perut bangau laksana kawat emas yang halus kekuning-kuningan. Mata bangau laksana gasing emas yang berputar-putar dengan lunglainya. Paru bangau tak ubanya ujung tombak emas berkilauan.”

Mendengar nyanyian ikan yang lembut dan merdu serta sanjungan juga pujian itu. Membuat bangau menjadi gembira dan merasa tersanjung sekali. Dia bahagia dan merasa dirinya mahkluk yang paling indah dan hebat. Bangau lupa diri, dia tersenyum dan jepitan parunya mengendur lalu terbuka. Ikan melanting dan jatuh kembali kedalam air tebat. Dengan cepat ikan itu berenang masuk ke cela-cela kayu penahan tebat (embarau), bersembunyi. Kayu-kayu berfungsi menahan tanah agar tidak hanyut terbawa air.

Bangau sadar dia telah di tipu. Dia sangat marah lalu meburu ikan itu. Parunya mematuk-matuk ikan itu, sedangkan kakinya menendang-nendang ke embarau tebat. Pada cela yang sempit kaki burung bangau terjepit kuat. Sehingga dia tidak bisa menarik kakinya kembali lepas. Beberapa waktu kemudian si bangau yang suka di puji akhirnya mati lemas di tebat itu. Sedangkan si ikan gembira karena berhasil mengalahkan lawannya. Begitulah akhir dari cerita makhluk yang suka di puji-piji.

Rewrite: Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 19 November 2021.
Sumber: Muhammad Sikki, Dkk. Struktur Sastra Lisan Toraja (Transkripsi dan Terjemahan). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment