10/07/2021

Mengenal Tokoh Sastra Wanita Indonesia: Fatimah Hasan Delais (Mentok-Bangka)

APERO FUBLIC.- Dunia tulis menulis atau mengarang dalam memunculkan hasil karya sastra sudah sejak dulu ditekuni oleh kaum wanita. Berikut ini kita akan mengenal seorang penulis wanita dari kepulauan Bangka tepatnya di Mentok. Kisah yang sangat menyentuh hasil karya Fatimah Hasan Delais berjudul Kehilangan Mestika. Menceritakan tokoh bernama Hamidah yang hidup dalam penderitaan. Diakhir ceritanya dia akhirnya hidup menyendiri dimana dia kehilangan semua orang-orang yang dia cintai, dari ayah, kekasih dan kehancuran rumah tangganya.

Penulis wanita yang bernama Fatimah Hasan Delais yang menggunakan nama pena Hamidah. Dia lahir di pulau Bangka pada tahun 1913. Meninggal pada tahun 1953 dalam usia 40 tahun di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Pada masa itu Pulau Bangka masih masuk dalam administrasi Provinsi Sumatera Selatan. Itu berarti dia sudah mengenal Indonesia yang merdeka. Semasa hidupnya dia pernah bekerja di majalah Poedjangga Baroe.

Buku karya yang cukup terkenal berjudul Kehilangan Mestika. Tokoh dalam karya sastra bernama Hamidah. Bercerita  tentang sebuah perjuangan wanita dalam usaha memajukan daerahnya, Muntok. Kemudian tokoh cerita pindah ke Kota Palembang. Dalam perjalanan ke Palembang Hamidah berjumpa dengan seorang pemuda bernama Ridhan, dan berencana menikah.

Hubungannya dengan Ridhan tidak disetujui seorang paman Ridhan. Hamidah kemudian menerimah akibatnya, dan dalam kisah selanjutnya Hamidah dijebak. Sehingga dia kehilangan pekerjaannya di gebernemen, sedangkan Ridhan meninggal sebab pamannya itu. Hamidah kemudian pulang kembali ke Mentok, Bangka. Dia membawa luka dijiwanya, dan tetap kuat lalu aktif kembali di Mentok.

Di Mentok dia menjumpai dua orang pemuda bernama Idrus dan Anwar. Keduanya kemudian jatuh cinta pada Hamidah. Dalam bagian babak itu, Hamidah memilih Idrus. Anwar kemudian menemukan jodoh bernama Rukiah. Tidak lama kemudian ayah Hamidah meninggal dunia, membuat keadaan kehidupan Hamidah berubah. Dia akhirnya terpaksa ikut dengan saudaranya di Kota Jakarta.

Di Jakarta hubungannya dengan Idrus dihancurkan oleh saudaranya. Kemudian Hamidah dinikahkan dengan pemuda bernama Rusli. Rusli adalah saudara sepupunya. Dengan susah payah Hamidah berusaha menerima Rusli dalam hidupanya. Namun, dalam pernikahan dengan Rusli dia tidak mendapatkan anak. Akhirnya rumah tangga merekah pun berakhir. Karena merasa tidak ada gunanya lagi hubungan mereka.

Rusli pun ternyata sudah menikah dan langsung hidup bersama istri mudanya. Hamidah kemudian pulang kembali ke Mentok membawa kehancuran jiwanya. Di Mentok dia merenungi kehidupannya, yang ternyata dirinya sudah tua. Dia hidup sendiri, terpisah dari orang-orang yang dia kasihi dan yang mengasihinya. Sementara Idrus baru saja meninggal dunia, yang ternyata dia juga tidak mau menikah setelah putus dengan Hamidah. Dalam Roman karya Fatimah Hasan Delais ada diselipkan puisi.

Aku heran tak mengerti.
Kata Orang:
“Waktu itu datang dan pergi.”
Datang membawa perubahan baru!.
Pergi, memusnakan yang telah kejadian.
Bagiku,
Mengapa tidak begitu?.
Ia tak kuasa menyapu yang telah terjadi atasku.
Ia tak membawa jawab pertanyaanku.
Mula-mula ku kirimkan melati kepada kekasihku.
Sebagai tanda kesucian hatiku.
Kususul pula dengan mawar merah.
Alamat dari kebesaran cintaku.
Tetapi,
Sekaliannya, seperti terkirim kepada si mati.
Kelirukah aku, tersesatkah aku?.
Ataupun ..... memang tak boleh dipercayai?.
(..........)


Dalam syair tersebut menjelaskan tentang hancurnya Hati tokoh Hamidah. Tampak kebingungan dan kesedihan sekali si Hamidah. Hamidah menyadari keadaan selalu berubah seiring waktu berubah. Lalu semua yang terjadi juga berakhir dan hanyalah kenangan tersisah. Hamidah telah berusaha mencintai dengan sejujurnya dan memberikan hatinya. Namun mengapa selalu berakhir dengan kehancuran dan kepahitan.

Dia juga ragu dengan dirinya, apakah dia berdosa telah meninggalkan Idrus. Padahal hatinya tetap setiah, dan dia dijodohkan dengan Rusli. Apakah dia tidak setia, atau waktulah yang mengubah keadaan. Jiwanya bertanya-tanya, apa dia keliru dalam memutuskan sesuatu. Atau dia tersesat dalam jalan kehidupannya. Sehingga akhir dari kehidupannya yang menyedikan dan sendiri.

Disusun: Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 8 Oktober 2021.
Sumber: Sri Rahaju Prihatmi. Pengarang-Pengarang Wanita Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya, 1977.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment