7/15/2021

Sejarah Perpustakaan Islam Sebagai Sumber Ilmu.

APERO FUBLIC.- Perpustakaan dikatakan sebagai sumber ilmu karena perpustakaan tempat penyimpanan berbagai sumber ilmu yang biasanya berbentuk buku dapat digunakan oleh setiap kalangan tanpa pandang bulu. Ternyata ilmu pengetahuan pada masa terdahulu itu banyak ditemukan oleh ilmuan-ilmuan  Islam yang menjadikan awal mulanya perpusatkaan itu ada dan menjadi kebanggaan umat Islam di zaman itu dengan banyaknya pengumpulan buku-buku mengenai pengetahuan yang dituliskan oleh ilmuan Islam.

Kekayaan khazanah intelektual Islam klasik itu berasal dari dua sumber: pertama, bersumber dari terjemahan-terjemahan manuskrip kuno dari berbagai peradaban praislam beserta komentar-komentar yang diberikan oleh ilmuwan muslim; kedua, bersumber  dari karya-karya orisinal para ilmuwan Muslim itu sendiri dari berbagai  jenis tradisi keilmuan.  Pusat penting pertama yang khas menangani filsafat dan sains kealaman dan matematika adalah Bayt al-Hikmah, suatu perpustakaan yang di dalamnya juga terdapat observatorium; di bangun di Baghdad oleh Khalifah al-Ma’mun sekitar tahun 200 H/815M.

Kecemerlangan perpustakaan Islam, menurut Pedersen, terjadi pada kekhalifahan Fathimiyah di Kairo. Pada tahun 1005, Khalifah al-Hakim membangun Dar al-‘Ilm di Kairo. Kemudian Khalifah al-Hakim mendirikan sebuah akademi yang dilengkapi dengan perpustakaan di bawah tanah istana Fathimiyah. Buku-buku dari seluruh cabang ilmu yang ada pada zaman itu terkoleksi di perpustakaan Dar al-Ilm tersebut. Ketika Dinasti Fathimiyah mengangkat citra Mesir sebagai pusat peradaban Islam terkemuka di dunia, ada seorang penguasa keturunan Umayyah di Kordoba, al-Hakam, yang pada akhir abad ke-10 mendirikan perpustakaan besar.

Menurut Mehdi Nakosteen, terdapat tiga jenis perpustakaan pada abad-abad permulaan Islam: Umum, Semi Umum, dan Pribadi. Perpustakaan umum salah satunya seperti Bayt al-Hikmah, perpustakaan-perpustakaan semi pribadi yang berhasil didaftar adalah al-Nasirudinullah, al-Mu’tashim billah dan perpustakaan Khalifah-khalifah Fatimiyah. Sedangkan perpustakaan pribadi yang berhasil didata adalah perpustakaan yang dimiliki oleh al-Fath ibn Khaqan, Hunaya ibn Ishaq, dan masih banyak lagi. Ibnu Abbad tidak saja mengizinkan penggunaan secara bebas tetapi juga memberi 1000 dirham dan seperangkat pakaian kepada setiap cendikiawan untuk meningkatkan pengetahuan.

Betapa bangganya kita sebagai umat islam karena ilmuan Muslim terdahulu adalah orang yang berintelek tinggi dan sangat menghargai ilmu pengetahuan untuk melestarikan pengetahuan kepada para cerdikiawan yang ingin menambah ilmu, bahkan banyak juga diberikan beberapa dirham untuk memotivasi semangat mereka dalam menimbah ilmu saat berkunjung keperpustakaan dan sekarang kita harus melanjutkan semangat itu dengan menambah pengatahuan kita melalui buku-buku yang ada diperpustakaan dan menyebarkan ilmu yang kita miliki melalui pembuatan buku sehingga bisa dibaca oleh banyak orang bahkan saat kita telah tiada. Ilmu itu masih dapat digunakan oleh banyak orang karena buku yang telah kita buat tadi menjadi penyebaran ilmu yang abadi.

Oleh: Rahma Syarifa.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 15 Juli 2021
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment