11/02/2020

Mengenal: Babad Jawi Kartasura jilid 4

Apero Fublic.- Naskah Klasik. Berikut ini, menginformasikan tentang naskah klasik Babad Jawi Kartasura Jilid 4. Kartasura adalah sekarang sebuah kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Awalnya Kartasura adalah wilayah Kesultanan Mataram. Kemudian pada tahun 1755 politik Pecah Belah Belanda diterapkan yaitu dengan diadakan perjanjian Giyanti.

Kesultanan Mataram dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Masa ini terjadi kemunduran politik di Tanah Jawa akibat aneksasi Belanda dan perebutan kekuasaan antara bangsawan di Kesultanan Mataram.

Dalam jilid 4 menceritakan kelicikan Belanda mempengaruhi Pangeran Purbaya. Agar bersedia bekerja sama dengan Kompeni (VOC). Belanda berjanji akan memberikan keuntungan yang diperoleh Kompeni sebanyak dua ribu real tiap tahun. Pangeran Purbaya juga tidak perlu menghadap ke Kartasura setiap tahun. Apabila Pangeran Purbaya dapat menghentikan perperangan di daerah-daerah.

Pangeran Purbaya meminta agar Natapura dan Herucakra diberikan pengampunan setelah perang dihentikan. Begitu juga dengan nata negara apabila bersedia berdamai. Namun kebiasaan orang Kafir tetap sama. Janji hanyalah bualan kosong dan tidak ada artinya. Begitulah cara-cara Kafir Belanda dalam memperdaya orang Islam yang menganggap janji adalah hutang.

Setelah perang berhenti dan keadaan terkendali oleh Belanda. Natapura, Herucakra dan Natanegara tetap ditangkap Belanda. Mereka ada yang dibuang di Serandil dan Afrika. Sedangkan Pangeran Purbaya dipenjara di Batavia (Jakarta) sampai meninggal. Jenazah kemudian diminta keluarga dan dikebumikan di Kartasura.

Sunan (pemimpin Kartasura) yang baru meminta agar keluarga Sunan Mangkurat Mas  yang dibuang ke Cylon dikembalikan Belanda. Karena mereka dahulu membawa pusaka istana dahulunya. Belanda mengabulkan permintaan Sunan. Namun Belanda kembali mengambil kesempatan meminta agar membayar utang-utang dan biaya-biaya yang pernah dikeluarkan Belanda.

Serta pengembalian biaya pengamanan daerah atas permintaan Sultan Jawa. Kisah dalam Naskah Babad Jawi Kartasura 4 menceritakan semasa bertahtahnya Sunan Mangkubuwono ke II. Berikut cuplikan naskah Babad Jawi Kartasura jilid 4.

50.SINOM

1.Dyan Suradilaga mojar.
Adhi Tohjaya Ngabehi.
Bilih makaten kang rembag.
Kawula matur rumiyin.
Mring kakang Surapati.
Andadosaken pirembug.
Bok lajeng kauningan.
Maring Jeng Purubayadi.
Kang supadya menis sambung rapotira.
 
2.Ananging andika datan.
Kawula bekta umarsi.
Yen dados kejoting manah.
Ira kakang Surapati.
Yogi tuwan ngentosi.
Wonten ingriki rumuhun.
Dene kang kula bekta.
Amung berana pakirim.
Ki Tohjaya Ngabehi sarowngira.
 
3.Pra samya sikap gagaman.
Barengos sakepel sisih.
Anjembrung netra gumilar.
Ulatnya ringas mawengis.
Rarasan ting kalesik.
Ting galibet tingkahipun.
Rowangira Tohjaya.
Pra samya maras kang ati.
Saya dangu gumeter atinya biyas.
..........................

Naskah Babad Jawi Kartasura 4 dialihaksarakan oleh Ny. Sri Soeharini dari aksara Jawa ke aksara Latin. Diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, tahun 1987. Dalam jilid 4 ini, terdiri dari 84 bait.

Setiap bait terdiri dari tujuh, sembilan, sepuluh baris. Buku alihaksara ini setebal 91 halaman, ditambah kata pengantar, daftar isi, ringkasan cerita. Terdapat empat pupuh yaitu sinom, dhandhanggula, asmaradana dan sinom.

Alih aksara tidak disertai alih bahasa. Sehingga bagi Anda yang ingin membahas naskah Babad Jawi Kartasura 4 pada bagian penterjemahan ke dalam bahasa Indonesia. Dapat pada tingkatan skripsi, teisis dan disertasi. Semoga informasi dunia kesastraan klasik Indonesia ini bermanfaat bagi kita semua.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 3 November 2020.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment