11/07/2020

Masjid Raya Abdul Kadim: Kemegahan Arsitektur Islam Indonesia

Apero Fublic.- Sekayu. Jalan-jalan di Kabupaten Musi Banyuasin sekarang dapat menemukan masjid yang indah. Di tengah Kota sekayu kita dapat menemukan masjid tradisional asli Sumatera Selatan, Masjid Agung Sekayu.

Namun sayang masjid tersebut telah dipugar oleh orang-orang yang tidak mengenal nilai kebudayaan dan arsitektur tradisional. Sehingga menghilangkan nilai-nilai budaya dan keaslian masjid.

Sekarang kita hanya dapat melihat bagian atas atap yang masih berbentuk asli. Atap tradisional asli Sumatera Selatan dikenal dengan Atap Mustaka Tipologi Sumatera Selatan. Atap tersebut dapat dilihat pada atap masjid Agung Palembang. Dari atap Masjid Agung Palembang semasa Kesultanan Palembang Darussalam menyebar ke seluruh Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

Sekarang kita akan mengulas masjid baru dibangaun dengan gaya modern. Beratap kubah tipologi Kubah Bawang aliran Asia Selatan dan Iran. Dari segi arsitektur mengadopsi pola arsitektur  klasik Islam dan modern Islam, Masjid Raya Abdul Kadim.

Kepala Desa Epil, Armedi, memanggilnya dengan sebutan Anak Perantau Pengingat Kampung Halaman. Dialah Prof. H Abdul Kadim, putra asli Desa Epil, Kecamatan Lais, inisiator pendiri masjid terindah dan termegah di Musi Banyuasin.

Armedi menuturkan, H. Abdul Kadim dulunya adalah orang yang sederhana, namun berkat kerja keras dan kecerdasannya dia bisa menjadi orang sukses diperantauan.

Masjid Raya Abdul Kadim mulanya dibangun pada awal tahun 2018 dengan motivasi untuk mengajak ke jalan ibadah dan membanggakan Desa Epil, Kecamatan Lais, Musi Banyuasin. Sebelum membangun masjid ini terlebih dahulu telah diadakan musyawarah keluarga, para tokoh masyarakat, dan juga meminta petunjuk dengan para tokoh-tokoh agama.

Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 1,1 Hektare dan di sisi samping ada jembatan yang melintasi kolam serta sedang dibangun juga tempat cinderamata oleh-oleh khas Musi Banyuasin.

Dilihat dari bentuknya, masjid ini memakai konsep arsitektur bangunan masjid-masjid Asia Selatan. Konsep tajmahal dilihat pada sisi hiasan menara di setiap sudut bangunan. Penggunaan kubah tipologi Kubah Bawang yang digunakan pada bangunan Islam tersebar di Asia Selatan, dan Asia Tengah. Sementara pintu masjid memakai konsep Masjid Nabawi.

Hermanto atau biasa dipanggil Tok, adik kandung H. Abdul Kadim menceritakan bahwa proses pembangunan masjid ini sudah hampir selesai. Insya Allah perkiraan bulan Maret tahun 2021 masjid ini akan diresmikan dan sudah bisa dipakai untuk ibadah.

Perihal bahan-bahan untuk masjid banyak yang didatangkan dari Yogyakarta dan ukiran-ukiran masjid didatangkan khusus dari Jepara. Sementara itu tempat bedug memakai konsep atap rumah limas Palembang, sedangkan bedugnya sendiri di datangkan dari Cirebon.

Salah satu keunikan pada masjid ini terdapat pada kursi besar berkaki tiga, yang dibuat seperti Broken Chair yang ada di Place des Nations, Jenewa. Adapun filosofi kursi ini melambangkan tentang siklus kehidupan dalam mengejar kekuasaan dan kakinya patah satu mempunyai penafsiran sesuai dengan ekspektasi kita, yang bisa juga diterjemahkan kekuasaan tanpa diimbangi dengan ketakwaan akan kehilangan satu kaki yang membuat kita jatuh.

Terakhir, Hermanto mengungkapkan, "Kita berharap, masjid ini dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk beribadah, memberikan kebanggaan pada warga Desa Epil khususnya dan umat muslim umumnya, serta tidak menutup kemungkinan kedepannya masjid ini juga dapat menjadi salah satu alternatif destinasi wisata religi yang memberikan manfaat perekonomian bagi masyarakat sekitar. Wallahualam Bissawab." (HS).

Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Musi Banyuasin, 8 November 2020.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment