Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

10/27/2020

Naskah Klasik Caretana Rama

Apero Fublic.- Naskah klasik Caretana Rama ditulis berbahasa Sunda. Caretana Rama berarti Cerita Rama. Cerita Rama adalah cerita kesastraan dari zaman Hindhu. Naskah ditulis dengan berbait-bait, dan ciri khas naskah wilayah di kepulauan Jawa adalah menggunakan sistem pupuh.

Tapi di dalam naskah ini hanya ditulis Puh saja. Pupuh adalah subjudul monoton yang terus dipakai oleh para sastrawan klasik. Seperti biasa nama pupuh, Dhnandanggula, Pangkor, dan lainnya. Terdapat sebanyak 42 pupuh. Setiap bait berjumlah sepuluh baris secara keseluruhan.

Naskah Caretana Rama mengisahkan kehidupan masyarakat Hindhu dan para dewata. Sebagaimana sastra klasik biasanya, selalu menceritakan kehidupan keluarga raja. Cerita ini mengisahkan tokoh yang tidak asing lagi, yaitu Sri Rama, Laksmana, Hanuman, Dewi Sita dan negeri khayalan Alengkahpura. Berikut cuplikan dari naskah klasik Nusantara, Caretana Rama.

1.Dhandhanggula.
........
........(tidak terbaca dan halaman hilang).
....longna singgih.
Ingkang sudya amaca.
 
Kang anggadhah panedhanireki.
Dhateng ingkang wong sudya amaca.
Aja ngemu mucang reke.
Miwah jarijiipun.
Empung kongsi telesireki.
Manawa katitisan.
Ing layang puniku.
Punika kawedhinira.
Kang anggadhah bohbeleh dadi awoni.
i sastra punika.
 
Kalanipun anerat puneki.
Kertisastra tunggeng giryeng anak.
Ing desa Pacanan reke.
Kampong Talang puniku.
Loring margi enggenireki.
Salaminya punika.
Taksi woten reku.
Yen tan teka anakira.
Jalyestri masa mantuk ing giryani.
Ing kitha Pamlingan.
 
Wiwitipun tinurun puniki.
Caritani Sang Bathara Rama.
Duk kala tinambak tasik.
Sindhubangnda ranipun.
Damel margweng Alengka puri.
Sang Mraja Dasamuka.
Kang drebe prajeku.
Ratwagung gagah prakusa.
Datan nana ngimbangi prajuritani.
Sakweng yaksa Alengka.
 
42.Puh Artati
1.Irika kang ari matur aris.
Denirarsa mulat ing Rahwana.
Pan kasusra ing rat kabe.
Menggih wanini langkung.
Ndan Sang Rama anut ing kapti.
Anuli sira kesah.
Ranten Ian sang prabu.
Wibisana Ian Anuman.
Tunggweng gerwanira ri saksana prapti.
Ing prenah Dasamuka.
 
2.Mapan ana ing padaning wukir.
Sarandiba aneng sela-sela.
Nenggih Sumandha linggihe.
Mwang yan sawiyos tutur.
Ana ta kang watuh sawiji.
Rupani puri agrah.
Sarandiba putung.
Kasawat dera Anuman.
Puka tiba nibani Rahwana linggih.
Senetan kapipitan.
 
3.Nuli Rama mara Ian kang ari
Katon rupa Rahwana anandhang.
Curna kweh tana selane.
Geti mili umancur.
Ing selarga malah amarit.
Delwa-rena tan pegat.
Ludiranya metu.
Malah mangke lagi ana.
Sang Rahwana Citradana Ian kang ari.
Bradana ebat mulat.

Bagi kamu akademisi kesastraan, budaya, dan sejarah dapat menjadikan buku ini sebagai bahan penelitian. Untuk karya ilmiah seperti skripsi, tesisi atau disertasi. Sebab buku ini hanya mempublikasikan transliterasi aksara ke aksara latin. Tidak memberikan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia. Demikianlah informasi sastra klasik kali ini. Semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi pada Anda.

Buku transliterasi aksara ini diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, 1985. Alih aksara oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto. Buku terdiri dari, kata pengantar, ringkasan cerita dan alih aksara ke aksara latin.

Buku setebal 386 halaman dengan sampul hitam merah. Kalau Anda tertarik dengan buku alih aksara ini. Dapat menjumpai di Perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Pusat.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 28 Oktober 2020.
Sumber: Sudibjo Z. Hadisutjipto. Caretana Rama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985.


Sy. Apero Fublic

10/26/2020

Standar Operasional Prosedur (SOP) Perlindungan Wartawan

Apero Fublic.- Rakyat Indonesia telah memilih dan berketetapan hati melindungi kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat itu dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat dan bagian penting dari kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat yang tertuang secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

Dalam pelaksanaan kemerdekaan pers, wartawan merupakan bagian penting didalamnya. Sehingga dalam menjalankan tugas-tugasnya wartawan mutlak untuk mendapat kepastian dan perlindungan hukum dari negara, masyarakat dan perusahaan. Untuk itu Standar Perlindungan Profesi Wartawan ini dibuat:

SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

1.Perlindungan yang diatur dalam standar ini adalah perlindungan hukum untuk wartawan yang menaati kode etik jurnalistik dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya antara lain meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi melalui media massa guna memenuhi hak publik memperoleh informasi.

2.Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, wartawan dilindungi dari segala jenis tindak kekerasan, penyitaan dan atau perampasan alat-alat kerja, serta tidak boleh dihambat atau diintimidasi oleh pihak manapun.

3.Karya jurnalistik wartawan dilindungi dari segala bentuk penyensoran dan plagiat.

4.Dalam menjalankan tugasnya wartawan dibekali surat penugasan, peralatan, asuransi, serta pengetahuan, keterampilan dari perusahaan pers.

5.Dalam penugasan jurnalistik di wilayah konflik bersenjata, wartawan dibekali dengan alamat keselamatan diri dan tidak menggunakan identitas pihak yang bertikai, wajib diperlakukan sebagai pihak yang netral dan diberikan perlindungan hukum sehingga dilarang diintimidasi, disandera, disiksa, dianiaya, apalagi dibunuh.

6.Dalam perkara yang menyangkut karya jurnalistik, perusahaan pers diwakili oleh penanggungjawabnya dengan didampingi oleh kuasa hukum.

7.Dalam kesaksian perkara yang menyangkut karya jurnalistik, penanggungjawabnya hanya dapat ditanya mengenai berita yang telah dipublikasikan. Wartawan dapat menggunakan hak tolak untuk melindungi sumber informasi;

8.Pemilik atau manajemen perusahaan pers dilarang memaksa wartawan untuk membuat berita yang melanggar Kode Etik Jurnalistik dan atau hukum yang berlaku.

9.Dalam melaksanakan tugas jurnalistik wartawan mendapat perlindungan hukum dari negara, dari masyarakat, dan perusahaan pers.

10. Setiap wartawan dilarang memaksakan diri dalam peliputan berita yang membahayakan jiwa secara langsung. Seperti mewajibkan memakai masker (APD Standar) saat peliputan ditengah penyebaran virus menular.

11. Diwajibkan memakai alat pelindung diri dalam situasi tertentu saat bertugas. Sebagai contoh menggunakan pelampung saat melakukan penyemberangan pada perairan.

Standar Operasional Prosedur (SOP) Perlindungan Wartawan ini dibuat untuk dijadikan pedoman dalam melindungi tugas-tugas wartawan dalam menjalankan profesinya.

Sy. Apero Fublic

Lontarak Tellumpoccoe: Sejarah Asal-Usul Kesultanan Bone

Apero Fublic.- Bone adalah nama sebuah kerajaan yang terletak di kawasan Sulawesi. Sebelum masuk Islam raja dan masyarakat Bone memeluk agama nenek moyang. Bone salah satu kerajaan orang Melayu Bugis. Menurut Lontarak Tellumpoccoe dalam epos Galigo raja pertama Bone adalah to manurung (Manurunge ri Matajang). To Manurung hadir memenuhi harapan rakyat kawasan tanah Bone waktu itu.

Istilah pengertian kata to berarti orang. Kata ma adalah menunjuk kata kerja. Kata to-ma-nurung berarti orang yang turun dari kayangan atau langit. Banyak ahli sejarah berpendapat to manurung adalah penakluk-penakluk dari daerah lain. Ada juga yang berpendapat kalau to manurung adalah cerita karangan untuk menyatukan masyarakat Bone atau sebagai pengangkat kedudukan keluarga raja.

Menurut silsilah Raja-Raja Bone tercatat ada 34 orang raja Bone dan dua Jenang. Sedangkan menurut Lontarak Tellumpoccoe raja Bone hanya tercatat 15 raja dan dua Jenang. Raja pertama Bone bernama Manurunge ri Matajang menikah dengan Manurunge ri Toro.

Dari pernikahan tersebutlah menurunkan raja-raja Bone. Manurunge ri Matajang digelari rakyat Bone, Mangkauk e ri Bone. Sebutan masyarakat Bone untuk raja pertama mereka Mata Silompok e. Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri raja-raja Bone. Yaitu, La Ummassa, Pattanra Wanua dan tiga orang lagi.

Arung Mata Silompok e atau Mangkauk e ri Bone terkenal dengan jasa masa pemerintahannya. Pertama, menetapkan aturan berkenaan dengan pemilikan harta benda bagi segenap individu dalam suatu kelompok  keluarga yang mengalami perceraian. Kedua, menciptakan berbagai peraturan, peradilan serta hukum, hal mana kemudian ditaati secara turun-temurun oleh rakyat setempat. Ketiga, menciptakan bendera kerajaan yang disebut Woromporongnge.

Manurunge ri Matajang memimpin Bone selama empat pariama atau 32 tahun. Manurunge ri Matajang mangkat atau wafat secara gaib. Yaitu, gaib bersama datangnya sambaran kilat dan petir. Sebelum mangkat beliau menobatkan putranya La Ummassa menjadi Raja Bone dengan disaksikan oleh seluruh rakyat Bone. Semasa kepemimpinan La Ummassa dilakukan perluasan wilayah. Seperti penaklukkan kerajaan kecil diantaranya, Beru, Cellu, Malou, dan Majang.

Berikutnya raja Bone dilanjutkan oleh keturunan dan keluarga kerajaan. Pemimpin tidak dimonopoli pihak laki-laki saja. Tapi membolehkan tahtah diwariskan pada anak perempuan. Dalam tradisi kerajaan Bone tidak ada perebutan kekuasaan. Apabila raja sudah dilantik maka rakyat akan patuh. Setelah La Ummassa raja ketiga bernama La Saliwu Kerampeluwak, dilantik menjadi raja Bone saat masih bayu, yaitu baru berumur satu hari.

Kemudian We Benrigau Makkaleppie (wanita), La Tenrisukki, La Wulio Botek e, La Tenrirawe Bongkae, La Iccak, La Pattawe, We Tenrituppu, La Tenriruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng, La Tenripale Toakkeppeang, Tosenrima Matinroe ri Siang.

Semasa Kesultanan Gowa menguasai Bone, menempatkan perwakilan pemerintahan karena Bone selalu memberontak. Perwakilan bergelar Jennang. Jennang pertama bernama Jennang Toballa. Jennang Toballa kemudian berbalik melawan Kesultanan Gowa. Dalam perang Jennang Toballa kemudian tewas. Setelah itu, Jennang Toballa diganti oleh Jennang Arung Amali.

Situasi kembali berubah dimana Kesultanan Gowa runtuh oleh serangan Arung Palakka dan gabungan pasukan VOC Belanda. Bone kemudian dipimpin oleh Arung Palakka dengan gelar, “La Tenritata To Unru Arung Palakka Sultan Sa’aduddin To Risompae Matinroe Ri Bontoala.

Pada masa sebelumnya Perjanjian Persaudaraan telah disepakati antara tiga kerajaan. Yaitu, Kerajaan Wajo, Bone dan Soppeng. Perjanjian persaudaraan tersebut dinamakan “Mallamumpatu e ri Timurung,” yang berarti Penanaman Batu di Timurung. Terjadinya perjanjian Tellumpoccoe pada masa pemerintahan Raja Bone ke VII, La Tenrirawe Bongkae. Isi perjanjian Tellumpoccoe atau perjanjian persaudaraan tiga sahabat.

Pada woroane seina seama    : bersaudara seibu sebapak.
Tana ta ia tellu                       : Tanah Negeri kita bertiga.
Bone-Wajo-Soppeng               : Bone-Wajo-Sopeng.
Manguru ja manguru deceng : Bersama dalam duka dan suka.
Seuwa uluwang                      : seorang anak sulung.
Seuwa anak tengnga             : seorang anak tengah.
Seuwa pakcucung                  : seorang anak bungsu.
Mattulu parajo                       : berpilin bagaikan parajo (tali).
Tellu Teppettu                        : tiga yang takterputuskan.
Siranreng tessibelleyang       : seiring sejalan-seia sekata.
Makkedawang ri saliweng      : menyebar luas di luar.
Temmakkedawang ri laleng   : tak menyebar ke dalam.
Nama anak eppo                    : diwarisi anak cucu.
Tennawawa to mate               : takkan terbawa ke kuburan.
Taro adanna tanae                : kita sepakat tanah kita.
Tellu masseajing                    : Tiga saudara.
Bone-Wajo-Soppeng               : Bone-Wajo-Soppeng.
Nasabbi dewata seuwa e        : disaksikan oleh Maha Dewa.
Tapasengengi anak eppota    : kita wasiatkan pada anak cucu.
Ia’ mpelai taro adanna           : siapa yang mengingkar kata mufakat.
Tannae ia tellu masseajing    : tanah kita tiga saudara.
Makkuwa ramuramunna       : dialah akan remuk.
Tanana ia tellu                       : tanahnya bertiga.
Itello naottongie batu             : bagai telur tertimbun batu.
Iapa namarussak                   : barulah akan rusak.
Taro adanna tanae iatellu     : perjanjian tanah kita bertiga.
Bone, Waja, Soppeng             : Bone-Wajo-Soppeng.
Marussak pi peretiwie            : Bilah bumi telah runtuh.
Batarae                                  : Langit (juga runtuh).
Tesengengngi tanata              : Kita namakan tanah kita
Tellumpoccoe                          : Tiga saudara (Tiga Bukit).

Perjanjian persahabatan Tellumpoccoe mulai berakhir saat Gowa mulai melakukan penyerangan terhadap Wajo, Soppeng dan Bone. Pada awalnya Kerajaan Wajo ditaklukkan oleh Kesultanan Gowa. Menyusul kemudian Kerajaan Soppeng ditaklukkan Gowa. Kedua wilayah perlahan menerima Islam dan menjadi sekutu Kesultanan Gowa.

Kemudian menyusul Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kesultanan Gowa. Namun, pihak kesultanan tidak melakukan campur tangan dalam pemerintahan. Sehingga masyakat Bone mengatur sendiri pemerintahannya. Mereka tetap tidak mau menerima Islam sebagai agama. Rakyat Bone kemudian melakukan pemberontakan. Namun dapat dipatahkan oleh pasukan Kesultanan Gowa.

Islam mulai masuk dengan baik dimulai dari Raja La Tenriruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng. Raja Bone ke-XI seorang Muslim. Namun hanya memimpin tiga tahun dan dia pergi ke Pattiro. Karena Dewan Hadat dan masyarakat menolak mentah-mentah Islam.

Rakyat Bone kemudian melantik raja mereka yang ke-XII. Bernama La Tanripale Toakkeppeng adalah putra La Icca (Raja Bone–VIII). Semasa kepemimpinan Raja La Tenripale dia kembali melakukan perlawanan terhadap Gowa. Mereka menentang dakwa Islam dan memberontak. Tapi kembali dikalahkan oleh laskar Kesultanan Gowa. Sejak saat itu, perlahan Rakyat dan Raja Bone perlahan menerima Islam. Setelah menerima Islam Raja Bone La Tenripale sering berkunjung ke Makasar.

Karena Bone yang terus memberontak, maka Kesultanan menempatkan perwakilannya. Perwakilan tersebut diberi gelar, Jenang. Masa Jenang Toballa terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Jenang perwakilan Gowa. Pertempuran kembali berkobar antara Bone dan Gowa. Kembali Bone kalah dan takluk pada Kesultanan Gowa.

Kekalahan Kesultanan Gowa diserang oleh pasukan VOC dan Arung Palakka membuat situasi politik berubah. Namun, Kesultanan Wajo yang sudah menjadi sahabat Kesultanan Gowa masih terus memihak Kesultanan Gowa. Sehingga Arung Palakka menyerang Kesultanan Wajo. Wajo kemudian kalah dan hancurkan, sedangkan raja gugur dalam perang. Sejak itu, persaudaraan tiga kerajaan Wajo, Bone dan Soppeng berakhir (Tellumpoccoe).

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 26 Oktober 2020.
Sumber: Pananrangi Hamid dan Tatiek Kartikasari. Lontarak Tellumpoccoe. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992/1993.

Sy. Apero Fublic.

10/25/2020

Lontarak Tellumpoccoe: Sejarah, Budaya, dan Perjuangan. (Sulawesi Selatan).

Apero Fublic.- Naskah Klasik. Tradisi menulis di Nusantara Indonesia tersebar disetiap daerah. Salah satunya tradisi tulis tangan menggunakan daun lontar dari masyarakat Sulawesi yang dikenal dengan tradisi tulis Lontarak. Ada yang ditulis dengan aksara Bugis atau aksara Makasar. Ada juga yang ditulis dengan aksara Arab yang dinamakan hurupuk serang.

Salah satu naskah lontarak, adalah Naskah Lontarak Tellumpoccoe. Naskah ini mengisahkah tentang kehidupan keluarga kerajaan Bone dan masyarakatnya. Permasalahan yang sulit dan penuh intrik politik istanah. Tellumpoccoe bermakna Tiga Saudara atau Tiga Bukit.

Pada saat zaman kertas masyarakat menulis dengan menggunakan kertas. Begitu juga saat masyarakat menerjemahkannya atau menyalin ulang juga menggunakan kertas. Tapi dalam penamaannya masyarakat Sulawesi tetap menyebut dengan Lontarak.

Kisah Naskah Lontarak Tellumpoccoe dimulai dari zaman kedatangan to-manurung lokal sekitar tahun 1326 sampai jatuhnya Kesultanan Gowa oleh kekuatan Kompeni Belanda pada tahun 1667 Masehi.

Dalam lontarak Tellumpoccoe tercatat nama-nama Kerajaan atau Kesultanan masa itu di sekitar jazirah Sulawesi. Diantaranya, Bone, Wajo, Soppeng, Luwu, dan Kesultanan Gowa. Dalam cerita dikisahkan hubungan damai dan perang antar satu sama lain.

Dikisahkan setelah masa Kepemimpinan Raja Galigo, di kawasan kerajaan tersebut tidak ada lagi kedamaian, dan ketentraman. Yang berlaku masa itu adalah hukum rimba dan manusia saling menghianati dan memusuhi. Masa kacau ini berlanjut selama tujuh keturunan atau disebut pitutureng (tujuh musim/masa).

Tellumpoccoe diambil dari nama perjanjian aliansi atau bersatunya tiga kerajaan Bugis, yaitu Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng (trialiansi). Perjanjian persahabatan itu disebut; Mallamumpatu e ri Timurung (Penanaman batu di Timurung). Namun karena politik perjanjian Telummpoccoe hancur oleh Arung Palaka. Ketika Kesultanan Wajo tetap berpihak dan setia pada Kesultanan Gowa.

Dalam bahasa asli naskah Tellumpoccoe.

1.Ia nae surek poadaada-engngi tana e ri Bone / Enreng ngia mangkuk e ri Bone / Angkan na rirapik e mengkalinga / Napau e to-matoa/.

2.Tania upo-mabusung / Tania upo-maweddawedda / tekku-matula poadada aseng tolebbi / Aga kuassimang memeng kui-nappa lakkek wija senri mangkauk e/.

3.Ia garek arung puwatta arung menrek e ri Galigo dek-na riaseng arung/.

4.Aga tenna sisseng tau e si ewa ada / Si-anrebale i tau e / Si-akbelli-belliang / Dek na adek / Apagi sia riaseng nge bicara/.

5.Pitutturen ni itta na dek arung / Sekua toni ro itta na tau e tessisseng siewa ada / Tekke bicara/.

Berikut terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia.

1.Inilah surat (lontarak) yang membicarakan (perihal;tentang) tanah Bone. Serta Mangkauk e ri Bone, khusus yang sempat didengar (dari) penuturan orang tua (leluhur). (Mangkauk e ri Bone adalah Gelar Raja Bone yang berati Raja Berdaulat di tanah Bone).

2.Tidaklah aku durhaka. Tidaklah aku terkutuk. Tidaklah aku kualat (karena) menyebut-nyebut nama orang-orang terhormat. Maka sebelumnya, aku lebih dahulu mohonkan ampun barulah kemudian menuturkan satu persatu keturunan baginda Mangkauk e.

3.Konon kabarnya baginda raja yang termuat dalam Galigo, tiada lagi seorang pun yang bertakhta. (Galigo berarti: sastra suci berjudul Galigo. Galigo nama putra Sawerigading dari isterinya bernama We Cudai).

4.Maka orang tidak lagi mengenal mufakat. Orang saling memangsa seperti ikan. Saling memusuhi. Tiada lagi adek. Aturan yang mengandung sangsi adat. Apa pula yang dinamakan bicara. Peradilan dalam menegakkan keadilan. (Adek berarti: aturan adat).

5.Sudah tujuh periode lamanya tiada raja (arung). Sudah sekian lamanya pula tiada kedamaian. Tanpa bicara. Peradilan dalam menegakkan keadilan. (arung berarti: raja, bangsawan, penguasa).

Lontarak Tellumpoccoe diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, 1992/1993. Peneliti atau penulis Pananrangi Hamid dan Dra. Tatiek Kartikasari dengan para penyunting Drs. S. Sumardi dan Sri Mintosih.

Buku transliterasi Naskah Lontarak Tellumpoccoe ditulis bahasa asli dan Bahasa Indonesia. Ada ulasan tentang naskah pada bagian awal buku. Pada Bab III ada analisa isi, dimana penjelasan bait-bait naskah cukup menerangkan maksud.

Buku terdiri dari 150 halaman. Bagi Anda yang tertarik dengan buku transliterasi Naskah Lontarak Tellumpoccoe dapat menemukan di Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan pusat dengan sampul warna kuning.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 26 Oktober 2020.


Sy. Apero Fublic.

10/24/2020

Mengenal Raja Ali Haji: Bapak Bahasa Indonesia.

Apero Fublic.- Raja Ali Haji lahir di Kesultanan Riau-Lingga pada tahun 1808 atau 1809 di Pulau Penyengat, meninggal pada 1870/3 Masehi. Ayah beliau bernama Raja Ahmad lahir pada 1773 Masehi, dengan julukan Engku Haji Tua. Ibu Raja Ali Haji bernama Encik Hamidah binti Panglima Selangor.

Ayah beliau juga seorang pengarang dan penyair. Diantara karyanya, Syair Engku Putri, Syair Perang Johor, dan Syair Raksi. Kakek Raja Ali Haji bernama Raja Haji Fisabilillah yang digelari Marhum Teluk Ketapang. Raja Haji Fisabilillah syahid dalam perang di teluk Ketapang melawan penjajah Belanda.

Raja Ali Haji memiliki tiga orang isteri; pertama, Halimah binti Raja Ja’far Yang Dipertuan Muda Riau XI. Kedua, Daeng Cahaya binti Manaroh, dan ketiga Encik Sulong. Dari ketiga istrinya mendapat 15 orang anak, 6 laki-laki dan 9 orang perempuan. Anak beliau yang menjadi penulis bernama Raja Hasan. Cucu beliau yang juga menjadi penulis bernama Aisyah Sulaiman.

Raja Ali Haji memiliki enam orang saudara, yaitu; Raja Muhammad Said, Raja Haji Daud, Raja Abdul Hamid, Raja Usman, Raja Haji Umar, Raja Haji Abdullah. Usia 13 tahun pernah datang ke Batavia. Di usia 16 tahun ikut ayahnya berdagang ke Pulau Jawa.

Raja Ali Haji adalah seorang ulama yang saleh dan aktif menulis. Beliau juga seorang pengamal tarikat naksahbandi begitu juga dengan anggota kerajaan lainnya. Perlu diketahui juga, kata raja adalah gelar untuk bangsawan kesultanan Riau-Lingga keturunan Melayu Bugis. Oleh Hooykaas Raja Ali Haji dijuluki sebagai pengarang yang teramat pandai.

Kedudukan agama Islam yang begitu rupa dalam kerajaan Riau. Sehingga ilmu pengetahuan menjadi yang diutamakan, terutama tulis dan membaca. Dengan demikian menjadikan keluarga Kesultanan dan keluarga Yang Dipertuan Muda (perdana mentri) mengutamakan belajar, membaca lalu menjadi penulis.

Begitu juga dengan Raja Ali Haji, dari kecil dia sudah menyukai belajar dan menulis. Tumbuh dan besar dilingkungan istana yang menerapkan tradisi ulama, yaitu menulis. Selain itu, pengaruh dari sang ayah yang juga seorang penyair dan pengarang. Di umur 12 beliau sudah ikut terlibat dalam urusan Kesultanan Riau-Lingga dalam bimbingan ayahnya.

Berikut karya tulis dari Raja Ali Haji; Pertama, Bustanul al Katibin lis Subyan al Muta’alimin, naskah setebal 36 halaman dan ditulis sekitar tahun 1857. Karya kedua Pengetahuan Bahasa setebal 440 halaman. Di cetak di Singapura oleh Al Ahmadiah Press pada tahun 1926 dan ditulis kira-kira 1859 Masehi.

Ketiga, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya, setebal 96 halaman dan ditulis sekitar tahun 1860. Pernah dicetak oleh sebuah majalah Islam bernama Al-Imam di Singapura tahun 1329 Hijriyah atau 1911 Masehi.

Keempat, Tuhfat al Nafis setebal 330 halaman ditulis sekitar 1865 dan pernah diterbitkan oleh the Malayan Branch Royal Asiatic Society Singapura tahun 1932.

Kelima, Gurindam Dua Belas ditulis sekitar tahun 1847 Masehi. Buku ini sudah disalin kedalam Bahasa Belanda  oleh E. Netscher. Keenam, Tsamarat al Muhimmah setebal 78 halaman. Pernah dicetak oleh Mathba’at al Riauwiyah di Pulau Penyengat Inderasakti 1275 Hijriyah.

Ketujuh, Mukaddimah fi Intizam al Wathaib setebal 18 halaman, naskah tersimpan di Leiden, Belanda. Kedelapan, Syair Suluh Pegawai naskah tersimpan di Yayasan Inderasakti Pulau Penyengat. Kesembilan, Syair Hukum Nikah naskah tulis tangan setebal 44 halaman juga tersimpan di Yayasan Inderasakti.

Kesepuluh, Syair Sinar Gemala Mestika Alam, terjemahan adaptasi dari Bahasa Arab. Dicetak oleh Mathba’at al Riauwiyah di Pulau Penyengat Inderasakti dan diterbitkan oleh Rusyidiah Klub 1311 H/1893 Masehi, setebal 70 halaman. Kesebelas, Syair Siti Sianah Syahibat Fatut wal Amanah, naskah tulis tangan setebal 70 halaman juga tersimpan di Yayasan Kebudayaan Inderasakti. Keduabelas, Syair Hukum Faraid ditulis sekitar tahun 1893. Ketigabelas, Syair Awal ditulis sekitar tahun 1863.

Karena hasil karya-karya tulis Raja Ali Haji yang sempurna. Menjadikan tata bahasa Melayu semakin baik. Sehingga digolongkan dengan istilah bahasa Melayu Tinggi atau Bahasa Melayu Tulis. Dari sistem tata bahasa dan hasil karya-karya dijadikan pedoman berbahasa Kolonial Belanda di Indonesia. Sedangkan Bahasa Melayu Renda atau Bahasa Melayu Pasar adalah istilah penyebutan bahasa Melayu yang belum dibakukan.

Bahasa Melayu kemudian dijadikan mata pelajaran bahasa di sekolah-sekolah semasa Pemerintahan Kolonial Belanda. Kemudian diterbitkan buku Tata Bahasa Melayu oleh Balai Poestaka pada tahun 1917 untuk diajarkan di sekolah-sekolah di Hindia Belanda (Indonesia), dikarang oleh K. Sasrasoegonda dengan judul, Kitab Jang Menjatakan Djalannja Bahasa Melajoe.

Pada tahun 1930-an mata pelajaran bahasa Melayu dihapus oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dari sekolah-sekolah. Karena para kaum pergerakan diseluruh Hindia Belanda menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa Persatuan. Sebagaimana Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Dimana Bahasa Melayu kemudian di ganti nama menjadi Bahasa Indonesia. Karena kata Indonesia untuk menggantikan penyebutan Hindia Belanda. Perubahan nama Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia hanya sebatas perubahan nama saja.

Raja Ali Haji meninggal di Pulau Penyengat tahun 1970/1973. Karena jasa-jasa beliau yang telah melahirkan kesastraan besar untuk kesatuan Bangsa Indonesia (Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia). Maka beliau dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional dibidang bahasa pada tahun 2007. Karena sebagai peletak dasar Bahasa Indonesia. Raja Ali Haji dijuluki masa moderen dengan “Penegak Tiang Agung Peradaban Asia Tenggara.” Mengingat bahasa Melayu (Indonesia) menjadi bahasa mayoritas dan bahasa kawasan di Asia Tenggara.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 25 Agustus 2020.

Sumber:
UU Hamidy. Syair Suluh Pegawai (Hukum Nikah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.
Ahmad Dahlan. Sejarah Melayu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014.
Jakob Sumardjo. Kesusastraan Melayu Rendah. Yogyakarta: Galang Press, 2004.
Koewatin Sasrasoegonda. Kitab Jang Menjatajan Djalannja Bahasa Melajoe. Jakarta: Balai Pustaka, 1986. (Buku Asli: Sasrasoegonda Koewatin. Kitab Jang Menjatajan Djalannja Bahasa Melajoe. Boekhandel en Drukkerij v/h G.C.T. VAN DORP & Co. Semarang-Soerabaia-‘s Gravenhage, 1917, cet. Ke-2. Redaktur: W.AL.Stokhof).


Sy. Apero Fublic.

10/23/2020

Mengenal Naskah Syair Suluh Pegawai (Hukum Nikah).

Apero Fublic.- Naskah Syair Suluh Pegawai atau Syair Hukum Nikah ditulis dengan aksara Arab Melayu oleh Raja Ali Haji. Raja Ali Haji salah satu keturunan Yang Dipertuan Muda pada Kesultanan Riau-Lingga. Gelar Raja menunjukkan kalau dia Bangsawan Kesultanan Riau-Lingga keturunan Melayu Bugis.

Naskah Syair Suluh Pegawai dan Naskah Syair Hukum Nikah isinya hampir sama. Tetapi dijumpai dalam tiga versi. Satu versi dalam bentuk cetakan. Satu versi dalam bentuk apograf (tulis tangan untuk dicetak). Satu versi lagi bentuk manuskrip tulis tangan.

Perbedaan dari kedua naskah; Syair Hukum Nikah yang tersimpan pada Perpustakaan Universitas Laiden, setebal 44 halaman. Naskah II, apograf daripada naskah I, sebanyak 112 halaman, dan ada beberapa halaman yang hilang. Naskah III, dari versi tercetak dari naskah II terdiri dari 48 halaman.

Naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai merupakan syair yang berisi permasalahan pernikahan dan berumah tangga. Cara penyampaiannya ditulis dalam bentuk syair berirama hampir sama dengan pantun.

Rumah tangga yang baik dan bahagia harus berpangkal dengan ilmu pengetahuan. Maka dalam pernikahan dan tatacara pernikahan bermulah dari hukum Islam. Dengan demikian, Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai memberikan pedoman dalam kehidupan berumah tangga. Berikut cuplikan dari naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai.

Pasal Yang Pertama Pada Menyatakan Arkan al-Nikah.

30.Rukun nikah lima perkara.
Wali dan saksi pokok bicara.
Ijab dan qabul hendaklah segera.
Laki isteri masuk ketara.
 
31.Syaratnya itu merdeheka dan adil.
Taklik syara’ baliq dan aqil.
Segala lawannya jangan diambil.
Nisacaya ib’ad boleh menggapil.
 
32.Tertib wali sudah berjangka.
Seperti tertib mengambil pusaka.
Tiadalah banyak lagi direka.
Menuntut ilmu janganlah leka.
 
33.Syarat saksi pula dijalan.
Merdeheka laki-laki adil handalan.
Islam taklif bukan balalan.
Berkata mendengar melihat pengenalan.
 
34.Hendaklah dua orang saksi itu.
Jangan sekali dikurangkan satu.
Jika lebih terlebih tentu.
Di dalam hukum tersebut begitu.

Arti Qarna’.

75.Adapun qarna’ ampunya arti.
Faraj tersempal tulang dililihati.
Gendalanya besar nyatalah pasti.
Hendak mudik jadi terhenti.

76.Nilah penyakit yang amat sukar.
Dukun tiada dapat membongkar.
Apalagi berubi berakar.
Tiadalah boleh diganti dan tukar.

77.Pada laki-laki puntung kemaluan.
Atau mati tidak melawan.
Tiada berguna pada perempuan.
Meskipun dia kaya hartawan.

78.Tetapi jikalau sedikit melintuk.
Tatkala berdekat tidak mematuk.
Atau karena bersin dan batuk.
Atau terkadang patahnya bentuk.

79.Sekedar demikian tiadalah sesak.
Makan sedikit air madu masak.
Dengan telur setengahnya masak.
Insya Allah boleh menggasak.

Itulah sedikit cuplikan dari naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai karya Raja Ali Haji dari Kesultanan Riau-Lingga. Bagi Anda yang memiliki sedikit permasalahan dalam hubungan seks bersama istri. Pada bait 78 dan 79 merupakan saran untuk menguatkan kemaluan Anda.

Untuk para pecinta sastra, penulis, novelis, akademisi atau para peneliti kesastraan (mahasiswa-mahasiswi). Dapat menjumpai naskah tersebut di Perpustakaan Inderasakti di Pulau Penyengat Provinsi Riau sekarang.

Atau anda ingin lebih tahu tentang buku transliterasi dari Naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai dapat menjumpai di Perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Nasional Pusat di Jakarta. Buku diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Terdiri dari 164 halaman, pada tahun 1990 dengan tim pengkaji; UU. Hamidy, Hasan Junus, R. Hamzah Yunus, dan Ahmad Yunus.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 24 Oktober 2020.
Sumber: UU. Hamidy, Dkk. Syair Suluh Pegawai (Hukum Nikah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Sy. Apero Fublic.

10/22/2020

10/20/2020

Mengenal Regalia: Pusaka Penobatan Sultan Riau-Lingga dan Daerah Taklukannya.

foto hanya ilustrasi
Apero Fublic.- Kesultanan Riau-Lingga adalah kelanjutan dari dinasti Melayu, dari Kesultanan Malaka. Setelah Malaka di Rebut Portugis tahun 1511, keturunan sultan menebar dan membangun kesultanan-kesultanan baru.

Salah satunya adalah terebentuknya Kesultanan Riau dan kemudian pindah ke Lingga. Maka dikenal dengan Kesultanan Riau-Lingga dengan sultan pertama Sultan Abdul Rahman Muazam Syah I, pada 1819/1824-1832.

Kesultanan Riau-Lingga dalam melantik sultan harus memakai alat nobat kebesaran pusaka kerajaan. Alat kebesaran meliputi Cogan bernama “Sirih Besar” yang bentuknya seperti daun siri dan tulang daun dari perak. Selain cogan perlengkapan nobat juga terdapat, gendang nobat, sebuah pedang emas berhulu panjang dan rantai sayap sandang, juga sekalian pusaka turun temurun lainnya. Semua perlengkapan tersebut dinamakan regalia.

Menurut Hasan Junus makna frasa kata cogan adalah; Yaitu nama bagi kebesaran Melayu, yaitu mas yang dibuat seperti daun-daun kayu dan tersurat nama sultan di sana. Apabila raja berangkat atau berjalan cogan itulah yang berjalan dahulu.

Simbol cogan memiliki arti kebesaran dimana emas sebagai alatnya. Emas adalah logam mulia yang mahal menyimbolkan kebesaran dan kemewahan. Sedangkan daun menyimbolkan pepohonan yang besar dan rindang. Lalu tumbuh dan berakar meneduhkan serta berbuah dan berkembang biak.

Pusaka kerajaan tersebut sangat penting untuk penobatan seorang sultan di Kesultanan Riau-Lingga. Pada tahun 1722, pusaka kerajaan (regalia-cogan) diambil dari Siak. Karena sebelumnya pusaka kerajaan diambil Raja Kecik (Sultan). Setelah Raja Kecil digulingkan oleh Tengku Sulaiman dan lima Upu Bugis. Untuk menobatkan Tengku Sulaiman menjadi Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I. Menunggu datangnya pusaka kerajaan dari Siak.

Pada cogan yang berbentuk daun sirih besar tertulis dalam aksara Arab Melayu yang berbunyi. “Hua-hua, bismillah al-rahman al-rahim bahwa inilah raja yang diketurunan dari Bukit Siguntang asalnya daripada baginda Sultan Iskandar Zulkarnain dan ialah raja yang adil lagi berdaulat yang mempunyai takhta kerajaan serta kebesaran dan kemuliaan kepada segala negeri yang di dalam daerah tanah Melayu dan kurnia Tuhan rabbul ‘arsil’azim atasnya dan dikekalkan Allah subhanahu wa ta’ala di atas kerajaannya ditambahi Allah pangkatnya yang kebesaran serta derajahnya yang kemuliaan di dalam daulat sa’adati Allahi wa akhlada allahumma mulkahu wa sultanaha wa abdaha ‘adlahu wa insanahu bijahi al-nabi sayyidi al-mursalina wa’alihi wa shahbihi ajma’in amin alahumma amin, tamat.”

Apabila kita cermati dari kata-kata yang tertulis pada cogan berbentuk daun siri tersebut. Menyatakan kalau kesultanan Riau-Lingga adalah keturunan raja-raja dari kerajaan Sriwijaya dan asal usul Melayu dari Bukit Siguntang di Palembang. Memang di Sumatera Selatan dan pulau sumatera lainnya adalah kawasan kebudayaan Melayu.

Pada tahun 1822 adanya misi ke Betawi atau Batavia menemui Gubernur Jendral Belanda A.G.Ph. van der Capellen. Menurut Hasan Junus membicarakan pengembalian regalia dan pusaka kerajaan lainnya yang saat itu masih disimpan Engku Putri Raja Hamidah kepada Sultan Abdul Rahman.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 20 Oktober 2020.

Ahmad Dahlan. Sejarah Melayu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014.
Husni Rahim. Sistem Otoritas & Administrasi Islam. Jakarta: Logos, 1998.

Sy. Apero Fublic.

10/16/2020

Mengenal Arus Musi (ARSI) MUBA

Apero Fublic.- ARSI adalah singkatan dari Arus Musi. ARSI sebuah Organisasi Kemasyarakatan yang bergerak pada bidang kebudayaan di Kabupaten Musi Banyuasin. ARSI didirikan oleh putra-putri asli Musi Banyuasin pada 1 Maret 2013, oleh Herdoni Safriansyah bersama kawan-kawan.

Periode pertama pendirian dengan susunan kepengurusan organisasi 2013-2016. Yaitu, Herdoni Safriansyah sebagai ketua, Almendi Dwi Putra sebagai sekretaris, Nenik Kristina, SE., sebagai bendahara. Kantor sekretariat ARSI (Arus Musi) terletak di Jalan Merdeka, Kelurahan Kayuara, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin. Organisasi Kemasyarakatan ARSI terdaftar dengan notaris Gustimansah., SH., M.Kn.

Kipra ARSI selama ini dikenal luas oleh masyarakat Musi Banyuasin dan Suamtera Selatan. Untuk bidang penyelenggaraan kegiatan-kegiatan organisasi meliputi bidang seni, sastra dan kebudayaan.

Seperti kegiatan pelestarian permainan tradisional. Pada bidang kesastraan Melayu daerah Musi Banyuasin, adanya kegiatan pengenalan dan pembelajaran seni senjang, peribahasa (petua wang tue), pantun berbahasa Melayu daerah Musi Banyuasin dan lainnya.

Salah satu kiprah pengembangan kesastraan dengan diterbitkannya antologi puisi karya para penyair Musi Banyuasin dengan judul Munajat Tugu Bundaran, dengan penulis Herdoni Syafriansyah dan kawan-kawan. Kesastraan juga mereka kembangkan kesastraan bidang religi. Pada bidang kebudayaan yang sangat berpengaruh adalah dengan dilakukannya agenda menelusuri jejak budaya.

Apabila kita memperhatikan dari kiprah dan gerak kegiatan ARSI. Suatu tanda munculnya embrio pergerakan kebudayaan di Musi Banyuasin. Suatu kawasan berkebudayaan Melayu. Dimana kawasan berkebudayaan Melayu telah tergeser oleh nilai-nilai budaya asing atau budaya daerah lain. Apabila hal demikian tidak segerah kita perbaiki maka kita akan kehilangan jati diri daerah atau bangsa ini.

Masyarakat kita sekarang tampak bingung kebudayaan. Mereka juga buta dengan budaya daerah sendiri. Apabila kita melihat cara berpakaian, bertingkah laku, berjoget mabuk sambil saat ada keramaian dengan pakaian sembrono. Hal demikian menunjukkan kalau masyarakat kita bingung berbudaya.

Kebangkitan Organisasi Kemasyarakatan yang bersifat kesastraan dan kebudayaan sangat diperlukan. Pada zaman perang untuk menjaga bangsa kita memerlukan senjata. Pada masa damai dan masa perang kita memerlukan kebudayaan dan kesastraan untuk bertahan, melawan dan berperang.

Hampir semua pihak di negeri kita yang tercinta ini. Semuanya meremehkan dan menyepelehkan kebudayaan dan kesastraan. Padahal budaya dan sastra adalah ibu dari masyarakat. Buruknya kesastraan dan budaya akan berdampak pada buruknya perilaku sosial masyarakat.

Sebagai contoh, misalnya ketika menonton film porno. Akan muncul sifat-sifat dan mencontoh cara-cara film porno. Begitu juga dengan hal-hal buruk lainnya dari budaya dan sastra akan ditiru oleh masyarakat.

Semoga organisasi Arus Musi akan terus berkiprah dalam bidang kebudayaan dan kesastraan. Kemudian mengembangkan ide-ide baru dalam memunculkan kebudayaan. Sehingga menjadi guru bagi masyarakat di Musi Banyuasin.

Dengan harapan juga akan muncul pejuang-pejuang kebudayaan dan kesastraan lainya. Begitu juga pihak pemerintah dan tokoh masyarakat juga ikut serta dengan nyata dalam membangun kebudayaan yang sesuai dengan bangsa kita.

ARSI setiap kegiatan yang diselenggarakan selalu diliput oleh media cetak atau media siber.

Foto-foto kenangan ARSI dalam rangkaian kegiatan organisas.

Sosialisasi Bakul Tangkal Sebagai Simbol (Kerajian) Kabupaten Musi Banyuasin.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 17 Oktober 2020.

Sy. Apero Fublic.

POKDARWIS MUBA: Ngeri !!! Tinjau Bunker Perang

Apero Fublic.- Musi Banyuasin. Tim Pokdarwis MUBA kali ini menelusuri peningalan bersejarah di Desa Rantau Kasih yaitu sebuah bunker peninggalan zaman Belanda yang diperkirakan sudah ada sejak akhir abad ke-19 Masehi (15/10/2020).

Masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin tidak banyak yang mengetahui hal ini dikarenakan minimnya publikasi dan dokumentasi sejarah peninggalan masa kolonial ini. Terletak di Dusun III, Desa Rantau Kasih, Kecamatan Lawang Wetan, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Peninggalan bersejarah tersebut hampir terkubur oleh tanah dan semak-semak.

Pada bunker dan sisa reruntuhan ditemukan batu bata bertuliskan BATAM dan BENSON, berdasarkan catatan sejarah batu bata merk BATAM di buat oleh perusahaan Batam Brick Work yang didirikan oleh Raja Haji Kelana pada tahun 1898. Sementara sekolah batu bata Benson berdiri Pada tahun 1894 di bagian timur Kota Benson yang disebut Sekolah Riverside. Raja Haji Kelana adalah salah satu bangsawan di Kesultanan Riau Lingga. Gelar Raja menandakan beliau bangsawan keturunan Bugis.

Ketua Pokdarwis Muba, H. Firdaus Marvel melalui sekretarisnya, Herdoni Syafriansyah mengatakan. "Dibawah naungan DISPOPAR MUBA, kami terus turun ke bawah untuk mencari dan mempromosikan potensi wisata yang ada di setiap Kecamatan MUBA. Sejalan dengan semangat Bapak Bupati MUBA agar ke depan setiap kecamatan di MUBA punya agenda pariwisata tahunannya."

Situs sejarah yang biasa masyarakat sekitar sebut sebagai Goa Belanda ini terhampar pada lahan seluas 100 meter persegi, dengan banyaknya bebatuan yang runtuh termakan usia.

Pemilik lahan Alamudin bin Rohim (63) mengatakan. "Bunker itu sudah ada bahkan sejak sebelum kakeknya mendiami wilayah ini. Menurut kakek saya, selain bunker dulu di sana ada menara, tiang-tiang bangunan, dan juga lubang semacam kolam yang entah apa kegunaannya. Namun, sekarang menara dan tiang bangunan tersebut sudah hancur, serta kolam-kolam itu semakin lapuk ditutupi semak belukar. Mungkin entah berapa lama lagi bunker yang tersisa ini juga akan runtuh." Tutupnya. (HS).

Foto bersama Tim POKDARWIS MUBA di lokasi Bunker peninggalan masa Kolonial Belanda.

Editor. Desti, S.Sos
Tatafoto. Dadang Saputra
Musi Banyuasin, 16 Oktober 2020.

Sy. Apero Fublic.