10/26/2020

Lontarak Tellumpoccoe: Sejarah Asal-Usul Kesultanan Bone

Apero Fublic.- Bone adalah nama sebuah kerajaan yang terletak di kawasan Sulawesi. Sebelum masuk Islam raja dan masyarakat Bone memeluk agama nenek moyang. Bone salah satu kerajaan orang Melayu Bugis. Menurut Lontarak Tellumpoccoe dalam epos Galigo raja pertama Bone adalah to manurung (Manurunge ri Matajang). To Manurung hadir memenuhi harapan rakyat kawasan tanah Bone waktu itu.

Istilah pengertian kata to berarti orang. Kata ma adalah menunjuk kata kerja. Kata to-ma-nurung berarti orang yang turun dari kayangan atau langit. Banyak ahli sejarah berpendapat to manurung adalah penakluk-penakluk dari daerah lain. Ada juga yang berpendapat kalau to manurung adalah cerita karangan untuk menyatukan masyarakat Bone atau sebagai pengangkat kedudukan keluarga raja.

Menurut silsilah Raja-Raja Bone tercatat ada 34 orang raja Bone dan dua Jenang. Sedangkan menurut Lontarak Tellumpoccoe raja Bone hanya tercatat 15 raja dan dua Jenang. Raja pertama Bone bernama Manurunge ri Matajang menikah dengan Manurunge ri Toro.

Dari pernikahan tersebutlah menurunkan raja-raja Bone. Manurunge ri Matajang digelari rakyat Bone, Mangkauk e ri Bone. Sebutan masyarakat Bone untuk raja pertama mereka Mata Silompok e. Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri raja-raja Bone. Yaitu, La Ummassa, Pattanra Wanua dan tiga orang lagi.

Arung Mata Silompok e atau Mangkauk e ri Bone terkenal dengan jasa masa pemerintahannya. Pertama, menetapkan aturan berkenaan dengan pemilikan harta benda bagi segenap individu dalam suatu kelompok  keluarga yang mengalami perceraian. Kedua, menciptakan berbagai peraturan, peradilan serta hukum, hal mana kemudian ditaati secara turun-temurun oleh rakyat setempat. Ketiga, menciptakan bendera kerajaan yang disebut Woromporongnge.

Manurunge ri Matajang memimpin Bone selama empat pariama atau 32 tahun. Manurunge ri Matajang mangkat atau wafat secara gaib. Yaitu, gaib bersama datangnya sambaran kilat dan petir. Sebelum mangkat beliau menobatkan putranya La Ummassa menjadi Raja Bone dengan disaksikan oleh seluruh rakyat Bone. Semasa kepemimpinan La Ummassa dilakukan perluasan wilayah. Seperti penaklukkan kerajaan kecil diantaranya, Beru, Cellu, Malou, dan Majang.

Berikutnya raja Bone dilanjutkan oleh keturunan dan keluarga kerajaan. Pemimpin tidak dimonopoli pihak laki-laki saja. Tapi membolehkan tahtah diwariskan pada anak perempuan. Dalam tradisi kerajaan Bone tidak ada perebutan kekuasaan. Apabila raja sudah dilantik maka rakyat akan patuh. Setelah La Ummassa raja ketiga bernama La Saliwu Kerampeluwak, dilantik menjadi raja Bone saat masih bayu, yaitu baru berumur satu hari.

Kemudian We Benrigau Makkaleppie (wanita), La Tenrisukki, La Wulio Botek e, La Tenrirawe Bongkae, La Iccak, La Pattawe, We Tenrituppu, La Tenriruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng, La Tenripale Toakkeppeang, Tosenrima Matinroe ri Siang.

Semasa Kesultanan Gowa menguasai Bone, menempatkan perwakilan pemerintahan karena Bone selalu memberontak. Perwakilan bergelar Jennang. Jennang pertama bernama Jennang Toballa. Jennang Toballa kemudian berbalik melawan Kesultanan Gowa. Dalam perang Jennang Toballa kemudian tewas. Setelah itu, Jennang Toballa diganti oleh Jennang Arung Amali.

Situasi kembali berubah dimana Kesultanan Gowa runtuh oleh serangan Arung Palakka dan gabungan pasukan VOC Belanda. Bone kemudian dipimpin oleh Arung Palakka dengan gelar, “La Tenritata To Unru Arung Palakka Sultan Sa’aduddin To Risompae Matinroe Ri Bontoala.

Pada masa sebelumnya Perjanjian Persaudaraan telah disepakati antara tiga kerajaan. Yaitu, Kerajaan Wajo, Bone dan Soppeng. Perjanjian persaudaraan tersebut dinamakan “Mallamumpatu e ri Timurung,” yang berarti Penanaman Batu di Timurung. Terjadinya perjanjian Tellumpoccoe pada masa pemerintahan Raja Bone ke VII, La Tenrirawe Bongkae. Isi perjanjian Tellumpoccoe atau perjanjian persaudaraan tiga sahabat.

Pada woroane seina seama    : bersaudara seibu sebapak.
Tana ta ia tellu                       : Tanah Negeri kita bertiga.
Bone-Wajo-Soppeng               : Bone-Wajo-Sopeng.
Manguru ja manguru deceng : Bersama dalam duka dan suka.
Seuwa uluwang                      : seorang anak sulung.
Seuwa anak tengnga             : seorang anak tengah.
Seuwa pakcucung                  : seorang anak bungsu.
Mattulu parajo                       : berpilin bagaikan parajo (tali).
Tellu Teppettu                        : tiga yang takterputuskan.
Siranreng tessibelleyang       : seiring sejalan-seia sekata.
Makkedawang ri saliweng      : menyebar luas di luar.
Temmakkedawang ri laleng   : tak menyebar ke dalam.
Nama anak eppo                    : diwarisi anak cucu.
Tennawawa to mate               : takkan terbawa ke kuburan.
Taro adanna tanae                : kita sepakat tanah kita.
Tellu masseajing                    : Tiga saudara.
Bone-Wajo-Soppeng               : Bone-Wajo-Soppeng.
Nasabbi dewata seuwa e        : disaksikan oleh Maha Dewa.
Tapasengengi anak eppota    : kita wasiatkan pada anak cucu.
Ia’ mpelai taro adanna           : siapa yang mengingkar kata mufakat.
Tannae ia tellu masseajing    : tanah kita tiga saudara.
Makkuwa ramuramunna       : dialah akan remuk.
Tanana ia tellu                       : tanahnya bertiga.
Itello naottongie batu             : bagai telur tertimbun batu.
Iapa namarussak                   : barulah akan rusak.
Taro adanna tanae iatellu     : perjanjian tanah kita bertiga.
Bone, Waja, Soppeng             : Bone-Wajo-Soppeng.
Marussak pi peretiwie            : Bilah bumi telah runtuh.
Batarae                                  : Langit (juga runtuh).
Tesengengngi tanata              : Kita namakan tanah kita
Tellumpoccoe                          : Tiga saudara (Tiga Bukit).

Perjanjian persahabatan Tellumpoccoe mulai berakhir saat Gowa mulai melakukan penyerangan terhadap Wajo, Soppeng dan Bone. Pada awalnya Kerajaan Wajo ditaklukkan oleh Kesultanan Gowa. Menyusul kemudian Kerajaan Soppeng ditaklukkan Gowa. Kedua wilayah perlahan menerima Islam dan menjadi sekutu Kesultanan Gowa.

Kemudian menyusul Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kesultanan Gowa. Namun, pihak kesultanan tidak melakukan campur tangan dalam pemerintahan. Sehingga masyakat Bone mengatur sendiri pemerintahannya. Mereka tetap tidak mau menerima Islam sebagai agama. Rakyat Bone kemudian melakukan pemberontakan. Namun dapat dipatahkan oleh pasukan Kesultanan Gowa.

Islam mulai masuk dengan baik dimulai dari Raja La Tenriruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng. Raja Bone ke-XI seorang Muslim. Namun hanya memimpin tiga tahun dan dia pergi ke Pattiro. Karena Dewan Hadat dan masyarakat menolak mentah-mentah Islam.

Rakyat Bone kemudian melantik raja mereka yang ke-XII. Bernama La Tanripale Toakkeppeng adalah putra La Icca (Raja Bone–VIII). Semasa kepemimpinan Raja La Tenripale dia kembali melakukan perlawanan terhadap Gowa. Mereka menentang dakwa Islam dan memberontak. Tapi kembali dikalahkan oleh laskar Kesultanan Gowa. Sejak saat itu, perlahan Rakyat dan Raja Bone perlahan menerima Islam. Setelah menerima Islam Raja Bone La Tenripale sering berkunjung ke Makasar.

Karena Bone yang terus memberontak, maka Kesultanan menempatkan perwakilannya. Perwakilan tersebut diberi gelar, Jenang. Masa Jenang Toballa terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Jenang perwakilan Gowa. Pertempuran kembali berkobar antara Bone dan Gowa. Kembali Bone kalah dan takluk pada Kesultanan Gowa.

Kekalahan Kesultanan Gowa diserang oleh pasukan VOC dan Arung Palakka membuat situasi politik berubah. Namun, Kesultanan Wajo yang sudah menjadi sahabat Kesultanan Gowa masih terus memihak Kesultanan Gowa. Sehingga Arung Palakka menyerang Kesultanan Wajo. Wajo kemudian kalah dan hancurkan, sedangkan raja gugur dalam perang. Sejak itu, persaudaraan tiga kerajaan Wajo, Bone dan Soppeng berakhir (Tellumpoccoe).

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 26 Oktober 2020.
Sumber: Pananrangi Hamid dan Tatiek Kartikasari. Lontarak Tellumpoccoe. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992/1993.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment