10/24/2020

Mengenal Raja Ali Haji: Bapak Bahasa Indonesia.

Apero Fublic.- Raja Ali Haji lahir di Kesultanan Riau-Lingga pada tahun 1808 atau 1809 di Pulau Penyengat, meninggal pada 1870/3 Masehi. Ayah beliau bernama Raja Ahmad lahir pada 1773 Masehi, dengan julukan Engku Haji Tua. Ibu Raja Ali Haji bernama Encik Hamidah binti Panglima Selangor.

Ayah beliau juga seorang pengarang dan penyair. Diantara karyanya, Syair Engku Putri, Syair Perang Johor, dan Syair Raksi. Kakek Raja Ali Haji bernama Raja Haji Fisabilillah yang digelari Marhum Teluk Ketapang. Raja Haji Fisabilillah syahid dalam perang di teluk Ketapang melawan penjajah Belanda.

Raja Ali Haji memiliki tiga orang isteri; pertama, Halimah binti Raja Ja’far Yang Dipertuan Muda Riau XI. Kedua, Daeng Cahaya binti Manaroh, dan ketiga Encik Sulong. Dari ketiga istrinya mendapat 15 orang anak, 6 laki-laki dan 9 orang perempuan. Anak beliau yang menjadi penulis bernama Raja Hasan. Cucu beliau yang juga menjadi penulis bernama Aisyah Sulaiman.

Raja Ali Haji memiliki enam orang saudara, yaitu; Raja Muhammad Said, Raja Haji Daud, Raja Abdul Hamid, Raja Usman, Raja Haji Umar, Raja Haji Abdullah. Usia 13 tahun pernah datang ke Batavia. Di usia 16 tahun ikut ayahnya berdagang ke Pulau Jawa.

Raja Ali Haji adalah seorang ulama yang saleh dan aktif menulis. Beliau juga seorang pengamal tarikat naksahbandi begitu juga dengan anggota kerajaan lainnya. Perlu diketahui juga, kata raja adalah gelar untuk bangsawan kesultanan Riau-Lingga keturunan Melayu Bugis. Oleh Hooykaas Raja Ali Haji dijuluki sebagai pengarang yang teramat pandai.

Kedudukan agama Islam yang begitu rupa dalam kerajaan Riau. Sehingga ilmu pengetahuan menjadi yang diutamakan, terutama tulis dan membaca. Dengan demikian menjadikan keluarga Kesultanan dan keluarga Yang Dipertuan Muda (perdana mentri) mengutamakan belajar, membaca lalu menjadi penulis.

Begitu juga dengan Raja Ali Haji, dari kecil dia sudah menyukai belajar dan menulis. Tumbuh dan besar dilingkungan istana yang menerapkan tradisi ulama, yaitu menulis. Selain itu, pengaruh dari sang ayah yang juga seorang penyair dan pengarang. Di umur 12 beliau sudah ikut terlibat dalam urusan Kesultanan Riau-Lingga dalam bimbingan ayahnya.

Berikut karya tulis dari Raja Ali Haji; Pertama, Bustanul al Katibin lis Subyan al Muta’alimin, naskah setebal 36 halaman dan ditulis sekitar tahun 1857. Karya kedua Pengetahuan Bahasa setebal 440 halaman. Di cetak di Singapura oleh Al Ahmadiah Press pada tahun 1926 dan ditulis kira-kira 1859 Masehi.

Ketiga, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya, setebal 96 halaman dan ditulis sekitar tahun 1860. Pernah dicetak oleh sebuah majalah Islam bernama Al-Imam di Singapura tahun 1329 Hijriyah atau 1911 Masehi.

Keempat, Tuhfat al Nafis setebal 330 halaman ditulis sekitar 1865 dan pernah diterbitkan oleh the Malayan Branch Royal Asiatic Society Singapura tahun 1932.

Kelima, Gurindam Dua Belas ditulis sekitar tahun 1847 Masehi. Buku ini sudah disalin kedalam Bahasa Belanda  oleh E. Netscher. Keenam, Tsamarat al Muhimmah setebal 78 halaman. Pernah dicetak oleh Mathba’at al Riauwiyah di Pulau Penyengat Inderasakti 1275 Hijriyah.

Ketujuh, Mukaddimah fi Intizam al Wathaib setebal 18 halaman, naskah tersimpan di Leiden, Belanda. Kedelapan, Syair Suluh Pegawai naskah tersimpan di Yayasan Inderasakti Pulau Penyengat. Kesembilan, Syair Hukum Nikah naskah tulis tangan setebal 44 halaman juga tersimpan di Yayasan Inderasakti.

Kesepuluh, Syair Sinar Gemala Mestika Alam, terjemahan adaptasi dari Bahasa Arab. Dicetak oleh Mathba’at al Riauwiyah di Pulau Penyengat Inderasakti dan diterbitkan oleh Rusyidiah Klub 1311 H/1893 Masehi, setebal 70 halaman. Kesebelas, Syair Siti Sianah Syahibat Fatut wal Amanah, naskah tulis tangan setebal 70 halaman juga tersimpan di Yayasan Kebudayaan Inderasakti. Keduabelas, Syair Hukum Faraid ditulis sekitar tahun 1893. Ketigabelas, Syair Awal ditulis sekitar tahun 1863.

Karena hasil karya-karya tulis Raja Ali Haji yang sempurna. Menjadikan tata bahasa Melayu semakin baik. Sehingga digolongkan dengan istilah bahasa Melayu Tinggi atau Bahasa Melayu Tulis. Dari sistem tata bahasa dan hasil karya-karya dijadikan pedoman berbahasa Kolonial Belanda di Indonesia. Sedangkan Bahasa Melayu Renda atau Bahasa Melayu Pasar adalah istilah penyebutan bahasa Melayu yang belum dibakukan.

Bahasa Melayu kemudian dijadikan mata pelajaran bahasa di sekolah-sekolah semasa Pemerintahan Kolonial Belanda. Kemudian diterbitkan buku Tata Bahasa Melayu oleh Balai Poestaka pada tahun 1917 untuk diajarkan di sekolah-sekolah di Hindia Belanda (Indonesia), dikarang oleh K. Sasrasoegonda dengan judul, Kitab Jang Menjatakan Djalannja Bahasa Melajoe.

Pada tahun 1930-an mata pelajaran bahasa Melayu dihapus oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dari sekolah-sekolah. Karena para kaum pergerakan diseluruh Hindia Belanda menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa Persatuan. Sebagaimana Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Dimana Bahasa Melayu kemudian di ganti nama menjadi Bahasa Indonesia. Karena kata Indonesia untuk menggantikan penyebutan Hindia Belanda. Perubahan nama Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia hanya sebatas perubahan nama saja.

Raja Ali Haji meninggal di Pulau Penyengat tahun 1970/1973. Karena jasa-jasa beliau yang telah melahirkan kesastraan besar untuk kesatuan Bangsa Indonesia (Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia). Maka beliau dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional dibidang bahasa pada tahun 2007. Karena sebagai peletak dasar Bahasa Indonesia. Raja Ali Haji dijuluki masa moderen dengan “Penegak Tiang Agung Peradaban Asia Tenggara.” Mengingat bahasa Melayu (Indonesia) menjadi bahasa mayoritas dan bahasa kawasan di Asia Tenggara.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 25 Agustus 2020.

Sumber:
UU Hamidy. Syair Suluh Pegawai (Hukum Nikah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.
Ahmad Dahlan. Sejarah Melayu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014.
Jakob Sumardjo. Kesusastraan Melayu Rendah. Yogyakarta: Galang Press, 2004.
Koewatin Sasrasoegonda. Kitab Jang Menjatajan Djalannja Bahasa Melajoe. Jakarta: Balai Pustaka, 1986. (Buku Asli: Sasrasoegonda Koewatin. Kitab Jang Menjatajan Djalannja Bahasa Melajoe. Boekhandel en Drukkerij v/h G.C.T. VAN DORP & Co. Semarang-Soerabaia-‘s Gravenhage, 1917, cet. Ke-2. Redaktur: W.AL.Stokhof).


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment