10/16/2020

Mengenal Arus Musi (ARSI) MUBA

Apero Fublic.- ARSI adalah singkatan dari Arus Musi. ARSI sebuah Organisasi Kemasyarakatan yang bergerak pada bidang kebudayaan di Kabupaten Musi Banyuasin. ARSI didirikan oleh putra-putri asli Musi Banyuasin pada 1 Maret 2013, oleh Herdoni Safriansyah bersama kawan-kawan.

Periode pertama pendirian dengan susunan kepengurusan organisasi 2013-2016. Yaitu, Herdoni Safriansyah sebagai ketua, Almendi Dwi Putra sebagai sekretaris, Nenik Kristina, SE., sebagai bendahara. Kantor sekretariat ARSI (Arus Musi) terletak di Jalan Merdeka, Kelurahan Kayuara, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin. Organisasi Kemasyarakatan ARSI terdaftar dengan notaris Gustimansah., SH., M.Kn.

Kipra ARSI selama ini dikenal luas oleh masyarakat Musi Banyuasin dan Suamtera Selatan. Untuk bidang penyelenggaraan kegiatan-kegiatan organisasi meliputi bidang seni, sastra dan kebudayaan.

Seperti kegiatan pelestarian permainan tradisional. Pada bidang kesastraan Melayu daerah Musi Banyuasin, adanya kegiatan pengenalan dan pembelajaran seni senjang, peribahasa (petua wang tue), pantun berbahasa Melayu daerah Musi Banyuasin dan lainnya.

Salah satu kiprah pengembangan kesastraan dengan diterbitkannya antologi puisi karya para penyair Musi Banyuasin dengan judul Munajat Tugu Bundaran, dengan penulis Herdoni Syafriansyah dan kawan-kawan. Kesastraan juga mereka kembangkan kesastraan bidang religi. Pada bidang kebudayaan yang sangat berpengaruh adalah dengan dilakukannya agenda menelusuri jejak budaya.

Apabila kita memperhatikan dari kiprah dan gerak kegiatan ARSI. Suatu tanda munculnya embrio pergerakan kebudayaan di Musi Banyuasin. Suatu kawasan berkebudayaan Melayu. Dimana kawasan berkebudayaan Melayu telah tergeser oleh nilai-nilai budaya asing atau budaya daerah lain. Apabila hal demikian tidak segerah kita perbaiki maka kita akan kehilangan jati diri daerah atau bangsa ini.

Masyarakat kita sekarang tampak bingung kebudayaan. Mereka juga buta dengan budaya daerah sendiri. Apabila kita melihat cara berpakaian, bertingkah laku, berjoget mabuk sambil saat ada keramaian dengan pakaian sembrono. Hal demikian menunjukkan kalau masyarakat kita bingung berbudaya.

Kebangkitan Organisasi Kemasyarakatan yang bersifat kesastraan dan kebudayaan sangat diperlukan. Pada zaman perang untuk menjaga bangsa kita memerlukan senjata. Pada masa damai dan masa perang kita memerlukan kebudayaan dan kesastraan untuk bertahan, melawan dan berperang.

Hampir semua pihak di negeri kita yang tercinta ini. Semuanya meremehkan dan menyepelehkan kebudayaan dan kesastraan. Padahal budaya dan sastra adalah ibu dari masyarakat. Buruknya kesastraan dan budaya akan berdampak pada buruknya perilaku sosial masyarakat.

Sebagai contoh, misalnya ketika menonton film porno. Akan muncul sifat-sifat dan mencontoh cara-cara film porno. Begitu juga dengan hal-hal buruk lainnya dari budaya dan sastra akan ditiru oleh masyarakat.

Semoga organisasi Arus Musi akan terus berkiprah dalam bidang kebudayaan dan kesastraan. Kemudian mengembangkan ide-ide baru dalam memunculkan kebudayaan. Sehingga menjadi guru bagi masyarakat di Musi Banyuasin.

Dengan harapan juga akan muncul pejuang-pejuang kebudayaan dan kesastraan lainya. Begitu juga pihak pemerintah dan tokoh masyarakat juga ikut serta dengan nyata dalam membangun kebudayaan yang sesuai dengan bangsa kita.

ARSI setiap kegiatan yang diselenggarakan selalu diliput oleh media cetak atau media siber.

Foto-foto kenangan ARSI dalam rangkaian kegiatan organisas.

Sosialisasi Bakul Tangkal Sebagai Simbol (Kerajian) Kabupaten Musi Banyuasin.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 17 Oktober 2020.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment