10/25/2020

Lontarak Tellumpoccoe: Sejarah, Budaya, dan Perjuangan. (Sulawesi Selatan).

Apero Fublic.- Naskah Klasik. Tradisi menulis di Nusantara Indonesia tersebar disetiap daerah. Salah satunya tradisi tulis tangan menggunakan daun lontar dari masyarakat Sulawesi yang dikenal dengan tradisi tulis Lontarak. Ada yang ditulis dengan aksara Bugis atau aksara Makasar. Ada juga yang ditulis dengan aksara Arab yang dinamakan hurupuk serang.

Salah satu naskah lontarak, adalah Naskah Lontarak Tellumpoccoe. Naskah ini mengisahkah tentang kehidupan keluarga kerajaan Bone dan masyarakatnya. Permasalahan yang sulit dan penuh intrik politik istanah. Tellumpoccoe bermakna Tiga Saudara atau Tiga Bukit.

Pada saat zaman kertas masyarakat menulis dengan menggunakan kertas. Begitu juga saat masyarakat menerjemahkannya atau menyalin ulang juga menggunakan kertas. Tapi dalam penamaannya masyarakat Sulawesi tetap menyebut dengan Lontarak.

Kisah Naskah Lontarak Tellumpoccoe dimulai dari zaman kedatangan to-manurung lokal sekitar tahun 1326 sampai jatuhnya Kesultanan Gowa oleh kekuatan Kompeni Belanda pada tahun 1667 Masehi.

Dalam lontarak Tellumpoccoe tercatat nama-nama Kerajaan atau Kesultanan masa itu di sekitar jazirah Sulawesi. Diantaranya, Bone, Wajo, Soppeng, Luwu, dan Kesultanan Gowa. Dalam cerita dikisahkan hubungan damai dan perang antar satu sama lain.

Dikisahkan setelah masa Kepemimpinan Raja Galigo, di kawasan kerajaan tersebut tidak ada lagi kedamaian, dan ketentraman. Yang berlaku masa itu adalah hukum rimba dan manusia saling menghianati dan memusuhi. Masa kacau ini berlanjut selama tujuh keturunan atau disebut pitutureng (tujuh musim/masa).

Tellumpoccoe diambil dari nama perjanjian aliansi atau bersatunya tiga kerajaan Bugis, yaitu Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng (trialiansi). Perjanjian persahabatan itu disebut; Mallamumpatu e ri Timurung (Penanaman batu di Timurung). Namun karena politik perjanjian Telummpoccoe hancur oleh Arung Palaka. Ketika Kesultanan Wajo tetap berpihak dan setia pada Kesultanan Gowa.

Dalam bahasa asli naskah Tellumpoccoe.

1.Ia nae surek poadaada-engngi tana e ri Bone / Enreng ngia mangkuk e ri Bone / Angkan na rirapik e mengkalinga / Napau e to-matoa/.

2.Tania upo-mabusung / Tania upo-maweddawedda / tekku-matula poadada aseng tolebbi / Aga kuassimang memeng kui-nappa lakkek wija senri mangkauk e/.

3.Ia garek arung puwatta arung menrek e ri Galigo dek-na riaseng arung/.

4.Aga tenna sisseng tau e si ewa ada / Si-anrebale i tau e / Si-akbelli-belliang / Dek na adek / Apagi sia riaseng nge bicara/.

5.Pitutturen ni itta na dek arung / Sekua toni ro itta na tau e tessisseng siewa ada / Tekke bicara/.

Berikut terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia.

1.Inilah surat (lontarak) yang membicarakan (perihal;tentang) tanah Bone. Serta Mangkauk e ri Bone, khusus yang sempat didengar (dari) penuturan orang tua (leluhur). (Mangkauk e ri Bone adalah Gelar Raja Bone yang berati Raja Berdaulat di tanah Bone).

2.Tidaklah aku durhaka. Tidaklah aku terkutuk. Tidaklah aku kualat (karena) menyebut-nyebut nama orang-orang terhormat. Maka sebelumnya, aku lebih dahulu mohonkan ampun barulah kemudian menuturkan satu persatu keturunan baginda Mangkauk e.

3.Konon kabarnya baginda raja yang termuat dalam Galigo, tiada lagi seorang pun yang bertakhta. (Galigo berarti: sastra suci berjudul Galigo. Galigo nama putra Sawerigading dari isterinya bernama We Cudai).

4.Maka orang tidak lagi mengenal mufakat. Orang saling memangsa seperti ikan. Saling memusuhi. Tiada lagi adek. Aturan yang mengandung sangsi adat. Apa pula yang dinamakan bicara. Peradilan dalam menegakkan keadilan. (Adek berarti: aturan adat).

5.Sudah tujuh periode lamanya tiada raja (arung). Sudah sekian lamanya pula tiada kedamaian. Tanpa bicara. Peradilan dalam menegakkan keadilan. (arung berarti: raja, bangsawan, penguasa).

Lontarak Tellumpoccoe diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, 1992/1993. Peneliti atau penulis Pananrangi Hamid dan Dra. Tatiek Kartikasari dengan para penyunting Drs. S. Sumardi dan Sri Mintosih.

Buku transliterasi Naskah Lontarak Tellumpoccoe ditulis bahasa asli dan Bahasa Indonesia. Ada ulasan tentang naskah pada bagian awal buku. Pada Bab III ada analisa isi, dimana penjelasan bait-bait naskah cukup menerangkan maksud.

Buku terdiri dari 150 halaman. Bagi Anda yang tertarik dengan buku transliterasi Naskah Lontarak Tellumpoccoe dapat menemukan di Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan pusat dengan sampul warna kuning.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 26 Oktober 2020.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment