10/20/2020

Mengenal Regalia: Pusaka Penobatan Sultan Riau-Lingga dan Daerah Taklukannya.

foto hanya ilustrasi
Apero Fublic.- Kesultanan Riau-Lingga adalah kelanjutan dari dinasti Melayu, dari Kesultanan Malaka. Setelah Malaka di Rebut Portugis tahun 1511, keturunan sultan menebar dan membangun kesultanan-kesultanan baru.

Salah satunya adalah terebentuknya Kesultanan Riau dan kemudian pindah ke Lingga. Maka dikenal dengan Kesultanan Riau-Lingga dengan sultan pertama Sultan Abdul Rahman Muazam Syah I, pada 1819/1824-1832.

Kesultanan Riau-Lingga dalam melantik sultan harus memakai alat nobat kebesaran pusaka kerajaan. Alat kebesaran meliputi Cogan bernama “Sirih Besar” yang bentuknya seperti daun siri dan tulang daun dari perak. Selain cogan perlengkapan nobat juga terdapat, gendang nobat, sebuah pedang emas berhulu panjang dan rantai sayap sandang, juga sekalian pusaka turun temurun lainnya. Semua perlengkapan tersebut dinamakan regalia.

Menurut Hasan Junus makna frasa kata cogan adalah; Yaitu nama bagi kebesaran Melayu, yaitu mas yang dibuat seperti daun-daun kayu dan tersurat nama sultan di sana. Apabila raja berangkat atau berjalan cogan itulah yang berjalan dahulu.

Simbol cogan memiliki arti kebesaran dimana emas sebagai alatnya. Emas adalah logam mulia yang mahal menyimbolkan kebesaran dan kemewahan. Sedangkan daun menyimbolkan pepohonan yang besar dan rindang. Lalu tumbuh dan berakar meneduhkan serta berbuah dan berkembang biak.

Pusaka kerajaan tersebut sangat penting untuk penobatan seorang sultan di Kesultanan Riau-Lingga. Pada tahun 1722, pusaka kerajaan (regalia-cogan) diambil dari Siak. Karena sebelumnya pusaka kerajaan diambil Raja Kecik (Sultan). Setelah Raja Kecil digulingkan oleh Tengku Sulaiman dan lima Upu Bugis. Untuk menobatkan Tengku Sulaiman menjadi Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I. Menunggu datangnya pusaka kerajaan dari Siak.

Pada cogan yang berbentuk daun sirih besar tertulis dalam aksara Arab Melayu yang berbunyi. “Hua-hua, bismillah al-rahman al-rahim bahwa inilah raja yang diketurunan dari Bukit Siguntang asalnya daripada baginda Sultan Iskandar Zulkarnain dan ialah raja yang adil lagi berdaulat yang mempunyai takhta kerajaan serta kebesaran dan kemuliaan kepada segala negeri yang di dalam daerah tanah Melayu dan kurnia Tuhan rabbul ‘arsil’azim atasnya dan dikekalkan Allah subhanahu wa ta’ala di atas kerajaannya ditambahi Allah pangkatnya yang kebesaran serta derajahnya yang kemuliaan di dalam daulat sa’adati Allahi wa akhlada allahumma mulkahu wa sultanaha wa abdaha ‘adlahu wa insanahu bijahi al-nabi sayyidi al-mursalina wa’alihi wa shahbihi ajma’in amin alahumma amin, tamat.”

Apabila kita cermati dari kata-kata yang tertulis pada cogan berbentuk daun siri tersebut. Menyatakan kalau kesultanan Riau-Lingga adalah keturunan raja-raja dari kerajaan Sriwijaya dan asal usul Melayu dari Bukit Siguntang di Palembang. Memang di Sumatera Selatan dan pulau sumatera lainnya adalah kawasan kebudayaan Melayu.

Pada tahun 1822 adanya misi ke Betawi atau Batavia menemui Gubernur Jendral Belanda A.G.Ph. van der Capellen. Menurut Hasan Junus membicarakan pengembalian regalia dan pusaka kerajaan lainnya yang saat itu masih disimpan Engku Putri Raja Hamidah kepada Sultan Abdul Rahman.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 20 Oktober 2020.

Ahmad Dahlan. Sejarah Melayu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014.
Husni Rahim. Sistem Otoritas & Administrasi Islam. Jakarta: Logos, 1998.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment