8/26/2020

Sebuah Puisi: DUA ISTANA DI NEGRI +62

Apero Fublic.- Sekayu. Melihat kehidupan bangsa kita yang morat marit. Kita tentu sangat miris ketika para pemangku amanah hanya bermain-main dalam menetapkan kebijakan. Sedikit pun tanpa melakukan kebijakan yang memihak ke rakyat kecil.

Pencitraan yang sangat hebat mereka lakukan di media sosial. Sehingga mereka seperti malaikat yang menyerupai manusia. Padahal sesungguhnya mereka adalah harimau pemakan daging dan penerkam mangsa yang tidak berdaya.

DUA ISTANA DI NEGRI +62

Hujan dibalik air mata.
Rakyat-rakyat kecil di pedalaman.
Yang tinggal di tepi-tepi hutan.
Hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.
 
Istana di kota megah-megah.
Ada AC, pedingin ruangan.
Ada makanan yang selalu datang.
Dari wadah-wadah yang Indah piring katering.
Dengan lauk-lauk yang beragam.
Kaya dengan vitamin dan mineral.
Membuat perut-perut di istana di kota-kota.
Menjadi buncit dan berlemak.
 
Sementara istana di tepi hutan.
Pondok buruk di tengah kebun.
Beratap daun rumbiah.
Berdinding dengan kulit kayu, bambu.
AC alam menyalah selalu.
Sebab angin berhembus selalu.
Mendamaikan istana di tepi hutan.
 
Wahai penghuni istana di kota-kota.
Gedung bertingkat dan nyaman-nyaman.
Katering yang enak dan bervitamin.
 
Wahai penghuni istana di tepi hutan.
Bangunan buruk beratap daun ilalang.
Penghuninya bahagia dan damai.
Walau hanya makan daun singkong gulai.
 
Kemana uang hasil pajak rakyat.
Pajak jual karet, jual kopi, jual-jualan lainnya.
Hasil tambang, hasil dagang, BUMN.
Kemana hasil pajak saat mereka membeli sembako.
Kemana uang pajak saat membayar kendaraan bermotor.
 
Apa habis dibayarkan untuk katering saja.
Untuk makan kamu-kamu disitu.
Bukankah cukup makan nasi bungkus, cukup.
Kamu memang semena-mena.
Layanan sedikit minta uang.
Didinding tertempel gratis.
 
Adu negeri ini, daerah saya juga.
Alangkah sial lahir di negeri +62.
Negeri orang neofeodalis dan buaya.
Rupa manusia ternyata tikus anggaran.
Begitulah cerita negeri +62.
Ngeri juga.

Oleh. Sujarnik.
Sekayu, 25 Agustus 2020.

Hanya sebuah puisi bukan sejarah. Pusi bersifat hayalan dan imejinasi semata. Tapi kadang ada juga benarnya. Namun tetap karya sastra. Bagi sahabat-sahabat yang ingin mengirimkan karya tulias berupa puisi atau karya sastra lainnya.

Kirimkan ke Apero Fublic melalui email redaksi fublicapero@gmail.com. Ingat jangan melanggar hak cipta dan Undang-Undang Negara Indonesia. Konten sepenuhnya milik pengirim dan tanggung jawab pengirim.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment