8/19/2020

Kaba: Mamak Si Hetong

Apero Fublic.- Di Ulak Tanjung Bungo, Nagari Camin Taruih, Ranah Payuang Sakiki memerintah seorang raja bernama Rajo nan Hangek. Saudara perempuannya bernama Rabiah Rando Kayo bersuami Datuak Bendaharo mempunyai anak seorang perempuan bernama Kasumbo Hampai.

Kasumbo Hampai ini seorang putri cantik jelita, tiada taranya, pintar, bangsawan, dan kaya raya. Ketika Kasumbo Hampai ini lahir terlihat keistimewaanya, lantai rumah patah dan pondasi rumah belah menyambut bayi itu. Tingkat kebangsawanannya itu diceritakan; Sulit untuk mencarikan raja untuk jodohnya.

Sulit mencarikan Sultan untuk pendampingnya. Sulit pula mencari putri untuk teman duduknya. Putri mempunyai dua orang pelayan bernama Kambang Manih dan Bujang Salamaek. Memiliki sebuah kolam khusus untuk putra dan putri raja mandi dan bersantai bermain.

*****

Tidak jauh dari negeri itu. Tinggal dua orang bersaudara, yang laki-laki bernama Mamak Si Hetong. Yang perempuan bernama Si Rawan Pinang. Keduanya yatim piatu, hidup miskin, rakyat jelata dan silsilah keluarganya juga tidak begitu jelas.

Suatu hari, karena suatu urusan. Mamak Si Hetong meminta adiknya Si Rawan Pinang pergi ke Ulak Tanjung Bungo. Negeri kediaman Kasumbo Hampai. Sesampai di sana, Rawan Pinang mandi di kolam milik Kasumbo Hampai yang indah.

Saat sedang mandi, Bujang Salamaek dan Kambang Mani datang dan melihat ada orang lain yang berani mandi di kolom kerajaan. Keduanya melaporkan kejadian tersebut pada, Kasumbo Hampai. Dia datang menghampiri kolam, marah. Kasumbo Hampai mencaci maki Si Rawan Pinang.

Anak anjiang, anak binatang. Anak jumbalang moh kiranyo. Anak singiang-ngiang rimbo. Anak cancang panarahan. Kononlah bak paras kau iko. Tapijak ka den lantiangkan. Tabuai ka den lapehkan. Tatangguak ka den tuangkan. Bapak kau panjua padi. Mande kau panjua sada.”

(Terjemahan: Anak anjing anak binatang. Anak jumbalang malah kiranya. Anak hantu dalam rimba. Anak cincang penyiangan. Kononlah seperti rupa kau ini. Terpijak akan saya sepakkan. Terbuai akan saya lepaskan. Tertangguk akan saya lemparkan. Bapak kau penjual padi. Ibu kau penjual sadah).

Penghinaan tersebut diterimah dengan hati yang sedih dan pedih. Dia berkata janganlah berkata seperti itu. Karena bisa menyebabkan  terjadinya hal yang buruk.

Penghinaan Kasumbo Hampai diceritakan Si Rawan Pinang pada kakaknya, Mamak Si Hetong. Mendengar penghinaan buruk itu, dia bermaksud membalas perbuatan Kasumbo Hampai. Lalu dia meminta adiknya untuk meminjam rencong sakti pada, Putih Ameh Manah. Ameh Manah meminjamkan, dengan syarat. Kalau rencong hilang mereka berdua menjadi budaknya.

Setelah itu, Mamak Si Hetong pergi menyusuri hutan. Dia mencari buluh perindu dan kelapa sakti. Dia menemukan kelapa sakti. Batangnya kokoh, berbuah satu dan daunnya hanya sehelai. Hetong berusaha memanjat, tetapi tidak bisa. Kemudian dengan rencong sakti dia diterbangkan ke atas dan dapat memetik buah kelapa sakti itu.

Tempurung kelapa dia bawak pulang. Kemudian pergi mencari buluh perindu. Akhirnya menemukannya di Gunung Bungsu, Simulanggang, Ranah Limo Puluah. Buluh perindu hanya seruas, daunnya hanya sehelai. Kemudian dia ambil dan dibuatnya saluang. Tempurung kelapa tadi dia buat rebab.

Setelah itu, mulailah Mamak si Hetong meniup dan memainkan saluang. Sedangkan Si Rawan Pinang memainkan rebab. Keduanya memulai merayu Kasumbo Hampai. Kasumbo Hampai perlahan termakan rayuan saluang dan rebab sakti tersebut. Sehingga dia jatuh cinta pada Mamak Si Hetong. Tidak enak makan dan tidak enak tidur. Karena ingin bertemu dengan Mamak si Hetong.

Rajo Nan Hangek marah mengetahui Kasumbo Hampai jatuh cinta pada Mamak Si Hetong orang miskin dan rakyat jelata. Tapi Kasumbo Hampai tidak mau lagi dengan yang lain. Dia hanya ingin hidup bersama Mamak Si Hetong. Kalau dilarang dia akan bunuh diri.

Kemudian, secara sembunyi-sembunyi Kasumbo Hampai keluar istana. Dia pergi menuju rumah Mamak Si Hetong. Setiba di sana dia hanya menjumpai Si Rawan Pinang. Dikatannnya kalau Mamak Si Hetong sudah pergi ke Lubuak Aluang. Sesungguh, Mamak Si Hetong ada di dalam rumahnya.

Baru beberapa waktu kemudian. Kasumbo Hampai bertemu dengan Mamak Si Hetong. Kasumbo Hampai membujuk Mamak Si Hetong agar tidak lagi berdagang. Apabila dia ingin menjadi istrinya. Kasumbo Hampai relah memberikan semua hartanya.

Mamak Si Hetong menolak, dia kemudian terus pergi ke berdagang. Kasumbo Hampai kemudian mengikuti dari belakang. Dalam perjalanan itu, tibalah di Bukit Sialang di dekat sebuah ngarai yang dalam. Ngarai itu dihuni oleh ular tedung, ular naga dan lebah. Saat menyeberangi penyemberangan ngarai itu. Kasumbo Hampai terjatuh karena titiannya patah. Sedangkan Mamak Si Hetong terus melanjutkan perjalanan.

Di dalam ngarai, Kasumbo Hampai meminta naga itu untuk menelannya. Tapi ular naga menolak karena dia tahu, kalau Kasumbo Hampai kekasih Mamak Si Hetong manusia sakti. Begitu juga lebah dan ular tedung tidak mau mengganggu Kasumbo Hampai. Oleh naga itu, Kasumbo Hampai diberikan cincin dan benda keramat.

Dengan bantuan cincin sakti itu, Kasumbo Hampai memanggil burung Burak. Dia meminta burak menyampaikan pesan pada orang tuanya, Rajo Nan Hangek. Kalau dia sekarang berada di dalam sebuah ngarai dalam. Pada awalnya raja tidak percaya, tapi burak membawa tanda dari Kasumbo Hampai.

Rajo Nan Hangek memerintahkan rakyatnya mengeluarkan Kasumbo Hampai. Raja sendiri datang dengan mengendarai kuda terbangnya. Kasumbo Hampai dikeluarka menggunakan rotan. Setelah itu, Kasumbo Hampai berpesan pada semua orang. Kalau dia mati, maka kuburkan dia di Bukit Sialang.

Setelah beberapa waktu pulang ke istana. Kasumbo Hampai timbul niat ingin bunuh diri. Sebagaimana kata-katanya dahulu. Kalau tidak menikah dengan Mamak Si Hetong lebih baik dia mati. Dia juga merasa malu, keinginannya ingin menikah dengan Mamak Si Hetong tidak terwujud. Sebelum bunuh diri dia meminta semua orang pelayan untuk pergi dan dia ingin sendiri. Kemudian dia menulis pesan ungkapan rasa malu dan sedihnya.

Malu hamba tiada tertahan. Mamak raja kata orang. Ibu kaya kata orang. Bapak bertua di negeri. Awak gadis kata orang. keinginan tidak akan terkabul. Daripada hidup lebih baik mati. Besok mati kini mati.” Saat Rajo Nan Hangek pulang, istanah tampak tertutup. Saat masuk didapati Kasumbo Hampai mati bunuh diri dengan sebilah rencong.

Sesuai dengan wasiat Kasumbo Hampai sebelumnya. Maka dia di kubur di Bukit Sialang. Datang mengikuti menguburkan dari tiga luak. Yaitu, Luhak Tanah Datar, Luhak Limo Puluh, Luhak Agam. Semua yang datang diberi sedekah. Kemudian diadakan sedekahan selama tiga hari.

*****

Setelah menjadi orang kaya, Mamak Si Hetong pulang dari merantau. Melewati jalan pulang dahulu, dia kembali tiba di Bukit Sialang. Menjumpai sebuah kuburan, dan ditanyakannya pada seorang penggembala.

Jawab si penggembala bahwa kuburan tersebut adalah kuburan Kasumbo Hampai. Mendengar itu, Mamak Si Hetong menggali kubur Kasumbo Hampai. Lalu dia berdoa pada Allah SWT, solawat pada Rasulullah SAW, juga atas nama keramat kakeknya. Akhirnya, Kasumbo Hampai kembali hidup lagi.

Pulanglah mereka ke rumah Mamak Si Hetong. Oleh Si Rawan Pinang dengan keramat sakti kakek mereka. Meminta rumah besar beserta seisinya, sapi, kerbau dan lainnya. Untuk persiapan pernikahan Mamak Si Hetong dengan Kasumbo Hampai.

Untuk itu, masyarakat dan kedua orang tua Kasumbo Hampai diundang. Orang tua Kasumbo Hampai terkejut menyaksikan kalau dia masih hidup. Oleh keduanya ingin kembali di ajak pulang. Tapi Kasumbo Hampai tidak mau dan tinggal dirumah suaminya.

Beberapa waktu kemudian lahirlah anak laki-laki, bernama Sidawan Pakan. Setelah dewasa Sidawan Pakan bertanya tentang rumah ibunya. Tapi ibunya tidak mau memberitahu. Kasumbo Hampai memberikannya cincin sakti dan baju terbang pemberian naga di ngarai di dekat Bukit Sialang.

Dengan kesaktian cincin tersebut, Sidawan Pakan berjumpa dengan roh neneknya yang sudah lama meninggal. Roh Neneknya menceritakan asal usul ibunya. Tentan peristiwa dimana ayah ibunya melarang menikah dengan Mamak Si Hetong. Untuk itu, Sidawan Pakan bermaksud mengunjungi Negeri Camin Taruih. Mempertanyakan alasan-alasan perlakuan Rajo Nan Hangek pada ibunya.

Namun kejadian diluar sangakah. Rajo Nan Hangek marah dan tidak terima atas kelancangan Sidawan Pakan. Maka terjadilah pertarungan yang tidak diinginkan Sidawan Pakan. Karena kesaktiannya Sidawan Pakan dapat mengalahkan kakek dari ibunya. Sehingga keduanya menjadi berdamai dan baik. Namun, Rajo Nan Hangek akhirnya meninggal karena dimakan usia. Setelah itu, Sidawan Pakan pulang dan menceritakan kejadian tersebut. Membuat semuanya menjadi sedih. Karena tidak ada pewaris taktah Nagari Camin Taruih. Akhirnya Mamak Si Hetong diangkat masyarakat menjadi raja. Karena dia suami Kasumbo Hampai putri Rajo Nan Hangek.

Mamak Si Hetong ingat jasa baik Putih Ameh Manah.  Yang dahulu meminjamkan dia sebilah rencong Aceh yang sakti. Atas nasihat Hakim Perdana. Si Rawan Pinang dinikahkan dengan Sutan Lembang Alam putra Puti Ameh Mana. Sehingga bertambah erat hubungan kekeluargaan mereka.

Diadakanlah pesta besar-besaran pernikahan Si Rawan Pinang dengan Sutan Lembang Alam. Lembang Alam dalam acara pernikahan mengendarai burung garuda. Setelah itu, kehidupan Mamak Si hetong dan Adiknya penuh dengan kebahagiaan.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 7 Agustus 2020.

Sumber: Edwar Djamaris. Terjemahan Kaba Mamak si Hetong. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Kaba adalah salah satu jenis karya sastra prosa dalam kesastraan masyarakat Melayu Minangkabau. Kaba sama halnya dengan jalan cerinta pantun, misalnya dalam kesastraan Sunda.

Kaba juga sejenis prosa liris. Dari segi isinya kaba sama dengan jenis kesastraan Melayu pada umumnya, seperti cerita hikayat. Cerita hikayat adalah cerita yang berisi hasil hayalan atau fiksi.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment