7/13/2020

Puisi: HUJAN BELUM REDA


Apero Fublic.- Puisi sebagai media terapi kejiwaan akan sangat efektif menjadi pengobat jiwa. Berpuisi mampu meredam amarah yang besar dan mampu menyembuhkan luka hati. Puisi hadir menggelora dengan segenap hati sang penyair.

Apabila kamu menghadapi masa yang tersulit dalam hidupmu. Ungkapkanlah dengan puisi agar kamu tidak tergerak berbuat negatif. Puisi dapat menjadi teman curhat dan mendengarkan curahan hati dengan baik. Puisi selalu diam dan menerima apa yang kita tulis, kita katakan padanya.


HUJAN BELUM REDA

Hujan belum reda.
Bait tetes seolah hati bergema menjalar di jiwa.

Hujan ini belum lagi reda.
Menggambarkan rindu yang menua.

Hujan ini belum lagi reda.
Dalam hati kusebut nama.
Setetes demi setetes alangkah indah bila reda.
Hati berbisik liri namun engkau takmengerti,
Candu menjelma menjadi rindu, tak sempat kubelai rambutmu.
Kutuliskan sajak agar nampak daun cinta.

Hujan belum lagi reda.
Kau paksa aku dengan yang tak ku-duga.

Hujan ini belum lagi reda.
Nampak srigala diburu oleh domba.
Hari yang fana taksempat berjumpa kedua kalinya.
Tetaplah semangat mengejar cita-cita.

Hujan belum lagi reda.
Serupa ketukan palu menggetarkan jiwa.
Pelebur sukma,
Bukan karna dia yang ada di balik jendela.
Tapi rindu yang terselip di ranting dada.
Maafkan anakmu yang belum tiba.
Maafkan anakmu asyik melukis jingga.
Tapi ayah bunda tetap satu denyutan nadi.

Oleh. Medikal Rohim
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra
Palembang, 13 Juli 2020.

Buat sahabat-sahabat yang ingin mempublikasikan karya tulis. Seperti puisi, syarce, surat kita, cerpen, dongeng, legenda, mitos, cerita kita, jurnalisme kita, artikel, dan sebagainya. Kirim karya Anda melalui email redaksi fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com atau whatsApp 081367739872. Jangan melanggar UU IT dan Hak Cipta Republik Indonesia. Apero Fublic tidak bertanggung jawab atas konten tapi hanya sebatas pempublikasi.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment