7/14/2020

Jejak Misionaris Belanda Pada Serat Ngelmu Sepiritisme.

Apero Fublic.- Belanda adalah penjajah yang sangat agresip dan sangat ingin menjadikan Indonesia sebagai budaknya. Usaha-usaha tersebut termasuk dengan cara-cara menyebarkan agama sesuai dengan agama mereka. Untuk menyebarkan agama mereka, tentu harus menggunakan media-media dengan berbagai cara. Seperti membuka sekolah agama mereka, melakukan pertemuan secara langsung dengan korban, atau melalui media kesastraan.

Di Pulau Jawa kesastraan yang dekat dengan penduduknya adalah serat. Serat adalah ciri khas kesastraan masyarakat Jawa. Maka dari itu, seorang misionaris Belanda menulis sebuah buku yang kemudian diterjemahkan oleh Raden Pudjahardja. Namun untuk menyamarkan buku orang Belanda tersebut, maka nama penterjemah dibuat sebagai pengarang dari buku itu.

Sehingga masyarakat yang membaca tidak tahu kalau buku tersebut akal orang Belanda membodohi mereka. Sehingga mereka ikut-ikutan menjadi murtad. Penggunaan gelar raden sangat efektif untuk rakyat awam. Karena biasanya bangsawan akan menjadi panutan rakyat biasa. Belanda yang telah banyak mempelajari budaya Bangsa Indonesia, mengerti teori "agama raja agama rakyat."

Sehingga mereka atau rakyat awam lebih mudah menerima misionaris setelah membaca buku tersebut. Atau bertambah tegu kepercayaan mereka pada agama tersebut. Hanya di Pulau Jawa dimana dahulu banyak orang Islam murtad. Di luar pulau Jawa hanya kelompok masyarakat primitif yang menerima kekristenan dari Belanda. Berikut cuplikan buku karya Wepen Blommers Stertern yang diterjemahkan oleh Raden Pudjahardja atas bantuan Winter.

Cariyossipun tiyang ingkang sampul ajal, inggih punika ingkang sampun badan alus. Katedhak ing tembung Walandi dening tuwan:
Wintar ing Surakarta.

Saking serat Anggitanipun tuwan: Weren Blom ing Betawi. Babon asli saking: Raden Pujahardjo ing Surakarta. Kawedalaken saha kasade dening: Tan Khoen Swie, Kedhiri 1925.

Para penyusun penelitian Serat Ngelmu Spiritisme tidak objektif. Atau mereka berupaya menyamarkan kalau buku Serat Ngelmu Spiritisme adalah tulisan orang Belanda bernama Wepen Blommers Stertern di Batavia (Jakarta). Pada halaman 172 pada alenia pertama menyatakan kalau buku karangan Raden Pudjahardja di Surakarta.

Kemudian pada alenia kedua dinyatakan, bahwa serat atau buku  Ngelmu Sepiritisme merupakan terjemahan dari buku aslinya yang dikarang oleh Wepen Blommers Stertern berbahasa Belanda. Kemudian buku dibawa oleh Winter ke Surakarta. Di Surakarta inilah buku tersebut diterjemahkan kedalam Bahasa Jawa. Untuk menambah daya tarik buku maka penggunaan nama Raden Pudjahardha digunakan sebagai pengarang. Seharusnya diberi penjelasan kalau Raden Pudjahardja hanyalah penerjemah buku, bukan pengarang. Lalu buku tersebut disesuaikan dengan dengan sastra Jawa, termasuk ditulis dengan istilah Serat.

Serat atau buku Ngelmu Sepiritisme sangat erat  kaitannya dengan aksi kristenisasi zaman Kolonial Belanda di Pulau Jawa. Penggunaan nama Raden untuk menarik simpati dan pengaruh di tengah masyarakat di Pulau Jawa. Buku ini kemudian di sebarkan di Jawa Timur oleh se-orang Cina bernama Tan Khoen Swie di Kediri. Kemungkinan orang Cina ini telah masuk kristen dan bekerja sama dengan para misionaris untuk menyebarkan agama Kristen. Sekaligus mengambil keuntung dari penjualan buku tersebut.

Kalau kita pelajari dan perhatikan penggunaan media budaya untuk penyebaran Kristen. Seperti menggunakan bahasa Jawa, aksara Jawa, nama bangsawan Jawa dan sistem sastra Jawa yaitu, Serat.

Serat Ngelmu Sepiritisme bercerita tentang seorang gadis bernama Maria yang hidup tidak senono. Dia hidup berpoya-poya, berzinah, dan sebagainya. Kalau kita perhatikan cerita ini sangat sesuai Dengan budaya masyarakat Barat (Belanda)  dimana tidak ada norma-norma susilah dalam tatanan masyarakat mereka.

Kemudian dalam cerita si Maria bertemu dengan seorang pemuda bernama Kris. Kemudian kembali si Maria berbuat tidak senono dengan Kris. Mereka berzinah dan akhirnya si Maria hamil. Oleh Kris diminta agar Maria menggugurkan kandungannya. Kemudian Maria menggugurkan kandungannya dan keduanya merasa bahagia setelah menggugurkan kandungannya.

Kisa berlanjut, kemudian Maria meninggal dan menceritakan keadaannya yang sangat menderita di dalam kubur. Dimana dia selalu dikejar-kejar oleh seorang bayi. Bayi tersebut adalah janin yang dia gugurkan dahulu. Meminta pertanggung jawaban pada Maria yang telah menggugurkannya. Begitu juga cerita si Kris. Dia juga merasa menyesal karena menjadi seorang Kristen yang tidak taat. Jarang ke greja dan sebagainya. Kris juga berpesan agar kalau ke greja jangan hanya meminta puji dan pamer saja. Tapi harus dengan tulus. Cerita keduanya setelah mereka menjadi roh.

Dengan demikian Serat Ngelmu Spiritisme adalah Cerita Orang Yang Sudah Meninggal. Dimana penyajian kisah-kisah dan keadaan di dalam kubur. Menyesali perbuatan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Konsep ini seperti siksa kubur dalam agama Islam.

Jelas sekali kalau cerita ini bertujuan menyamakan ajaran Kristen dan Islam agar diterima oleh orang Islam yang akan di Kristenkan. Sekaligus penguat orang-orang di Jawa yang sudah murtad. Mengapa demikian disebut menirukan kepercayaan Islam oleh penulis Belanda tersebut. Karena konsep agama Kristen semua dosa umat Kristen sudah ditebus oleh Yesus dan tidak perlu khawatir untuk berbuat dosa di dunia ini.

Berikut cuplikan isi Serat Ngelmu Sepiritisme atau buku karya misionaris Belanda Wepen Blommers Stertern. Cerita-cerita sangat terinspirasi dari berkumpulnya orang-orang Kristen di gereja. Dalam cerita ini seorang dukun kesurupan roh Maria dan penduduk bertanya pada roh tersebut. “Selama perkumpulan sejak tanggal 30 Januari 1992 banyak warga masyarakat yang bertanya kepada Maria.
Mari....!
Apakah kamu bersedia bercerita serta berbincang-bincang bersama teman-temanku?.” Kemudian warga masyarakat tersebut mendapat jawaban dari dukun kerasukan, jawabannya demikian: ................................ 10. Masalah keterangan tadi, semuanya akan dijawab oleh Maria sendiri.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 15 Juli 2020.
Sumber: S. Budhisantoso. Serat Wredha Mudha dan Serat Ngelmu Sepiritisme. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991/1992.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment