7/14/2020

Sastra Klasik: Serat Wredha Mudha

Apero Fublic.- Indonesia adalah negara yang memiliki beragam kebudayaan masyarakatnya di setiap daerah. Salah satu hasil budaya bangsa Indonesia adalah sastra klasik. Sastra klasik adalah sastra-sastra hasil karya nenek moyang orang Indonesia sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di antara sastra klasik tersebut adalah Serat Wredha Mudha dan Serat Ngelmu Sepiritisme. Untuk Serat Ngelmu Sepiritisme adalah buku misionaris Belanda Wepen Blommers Stertern yang diterjemahkan kedalam Bahasa Jawa dan aksara jawa oleh Raden Pudjarahardja, di Surakarta. Supaya terasa dekat dengan masyarakat di Jawa maka di tulis dengan istilah, serat. Dua serat tersebut diterbitkan dalam satu buku.

Di terbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun anggaran 1991/1992. Buku bersampul kuning dengan jumlah halaman 182 lembar. Artikel ini bentuk tinjauan hasil penelitian pada sastra yang ditulis oleh Raden Ngabehi Jayamardasa pada tahun 1912 Masehi. Asli naskah berbahasa Jawa setebal 66 halaman. Di alih aksara ke aksara latin dan disajikan dalam duan bahasa, Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Apa bila Anda tertarik dengan naskah ini. Silakan cari buku dengan identitas sesuai pada sumber di bawah. Dalam bahasan ini, membahas Serat Wredha Mudha.

Susunan sastra Serat Wredha Mudha terdiri dari percakapan-percakapan yang memiliki makna-makna sindiran pada orang-orang yang berpikiran tahayul, bodoh, percaya dukun dan pendek. Bercerita tentang seorang pemuda yang dalam masa perkembangan diri dan kejiwaan.

Dimana dia ingin menjadi superioritas dan memiliki kejayaan yang bersifat simbolis. Jiwa pemuda yang berapi-api tersebut ingin memiliki kekuatan diri yang lebih. Dimana pada masa tersebut dia ingin memiliki ilmu kebal dan ingin memiliki ilmu pelet untuk memikat wanita.

Kemudian dari kedua ilmu itu, apakah berguna dan banyak maanfaat bagi seseorang yang memilikinya. Lantas ilmu yang bagaimana yang diperlukan seorang manusia. Sastra ini, memberikan pemahaman atau pendidikan pada masyarakat tentang kehidupan ini. Pada masa dahulu hal-hal demikian, seperti ilmu kebal dan ilmu pelet adalah hal yang sangat dicari dan dibanggakan.

Serat ini ditujuakn untuk kritik sosial masyarakat yang masih hidup dalam keterbelakangan pemikiran. Agama Islam yang dianut tidak dimengerti karena belum kuatnya pendidikan Islam. Untuk itu, hadirlah karya sastra Serat Wredha Mudha sebagai kritikan dan pengajaran untuk masyarakat luas. Tujuan agar masyarakat berpikir dengan logika dan rasional.

Berikut cuplikan serat Wredha Mudha dalam Bahasa Jawa.
Surakarta tanggak kaping: 1 Wulan Sapar ing Wawu Jimakir, angka: 1912. Utawi kaping: 21 wulan Januari, angka 1912.
Raden Ngabehi Jayamardasa.
Wredha: “Lho, sampeyan engger, wilujeng ...... (hal 7). (tidak terbaca mungkin).
Mudha  : “Wilujeng, pengestunipun kyai.
Wredha: “Dangu mboten mriki-mriki, engger, wed punapa.
Mudha  : “Suweg ramen angkuyug kyai, rakanipun inggih ngupados seserepan pangestunipun kyai. Pangestunipun kyai, lampah kula inggih angsal damel, nanging teka dereng seged sreg dhateng manah. Milah kula lajeng sowan panjenengan punika. Weleh-weleh punapa kyai, sajatosipun kula badhe nyuwun sih kadarman seserepan panjenengan bab ngelmi jaya kawijayaan, rehning kula taksih nombok bilih wonten perlunipun sampun madal sumbi, kangge pager, kyai, sanadyan jaman harja, nanging kula manah perlu apepager.[1]

Berikut cuplikan serat Wredha Mudha dalam bahasa Indonesia
Surakarta tanggal. 1 bulan Sapar tahun 1912 atau tanggal 21 Januari 1921.
Raden Ngabei Jayamardasa.

Wredha: “Hai kisanak bagaimana kabarnya?.
Mudha  : “Berkat doa bapak kami selamat.”
Wredha: “Sudah cukup lama kamu tidak kemari, apakah sedang punya kerja?.”
Mudha  : “Saya sedang ada keperluan yaitu mencari pengalaman dan berkat doa bapak usaha kami sudah berhasil tetapi hati saya belum mantap, oleh sebab itu kami segera menghadap Bapak. Terus terang saya hendak memohon agar bapak bersedia mengajarkan pada saya tentang ilmu kekebalan tubuh (Jawa: Jaya Kawijayaan), berhubungan saya masih muda mungkin kalau ada manfaat serta sebagai benteng untuk jaga diri. Walaupun zaman sudah aman namun setelah saya pikir bahwa membentingi badan itu juga penting.[2]

Dalam cerita Serat Wredha Mudha yang berbentuk percakapan tersebut terkandung beberapa pemikiran yang logis dan rasional. Serat ini membuka pemikiran masyarakat agar tidak tertipu oleh perkataan orang mengaku dukun dan mengaku sakti.

Seperti: Untuk orang yang ingin belajar ilmu susuk atau ilmu terlihat cantik dan tampan. Ilmu susuk yaitu dengan cara memasukkan emas, berlian atau intan kedalam tubuh manusia. Ternyata dukun meletakkan sesuatu pada kapas pembungkus permata atau emas yang berbauh menyengat dihidung. Lalu kapas tersebut diletakkan dihidung si pemuda. Sehingga si pemuda merasa hidungnya tertusuk karena bauh menyengat.

Namun, dalam perkataan si dukun kalau itu proses masuknya susuk. Kamudian kapas dikeluarkan kembali dan ditukar oleh si dukun. Sehingga seolah-olah intan, emas atau apa saja yang dijadikan susuk telah masuk kedalam tubuh si Pemuda.

Bentuk penipuan pemasangan susuk. Setelah itu, si pemuda merasa tampan dan sering bersolek. Karena merasa dirinya tampan dan percaya diri. Itu hanya perasaannya saja. Adanya kepercayaan susuk berjalan, susuk dalam kulit semuanya adalah kebohongan dan penipuan.

Kemudian ilmu pemasangan air raksa agar tubuh kuat. Pemuda bercerita agar tubuhnya kuat, tahan banting maka dia meminum air raksa. Tapi dibalik itu, si dukun tahu bagaimana mengolah air raksa sehingga aman diminum, bukan karena kesaktiannya. Untuk pantangan-pantangan hanyalah penguat keyakinan dan menambah seram atau mistik saja. Tidak ada sangkut pautnya.

Lalu si pemuda bercerita tentang Ilmu Guna Pengasihan untuk wanita atau Istri. Oleh si guru pemuda itu, dia diberi semacam minyak. Lalu dia diperintahkan mengoleskan pada kemaluannya. Ternyata minyak tersebut dibuat dari pohon talas.

Minyak tersebut kalau terkena kulit manusia akan terasa gatal dan menjadi lecet. Kemudian dia berhubungan intim dengan seorang wanita. Wanita tersebut merasa puas dan kemaluan si pemuda terus kuat. Kuat karena gatal bukan karena tenaga seksnya bertambah.

Kemudian dijelaskan kalau penggunaan minyak tersebut sangat berbahaya. Baik untuk laki-laki atau wanita pasangan berhubungan intim. Karena dapat menyebabkan penyakit kelamin. Maka ilmu pengasihan tersebut hanyalah tipuan atau ilmu apus istilah Orang Jawa.

Kemudian si pemuda bercerita tentang ilmu kesempurnaan. Dimana orang yang mati dapat hidup kembali. Oleh si guru pemuda dia diberi syarat-syarat dunia perdukunan. Biasa sesajen, puasa, pantang ini dan pantang itu. Kemudian si pemuda dibawa ke dalam kamar gelap.

Oleh si guru dirinya ditekan dibeberapa bagian tubuh. Dimana aliran darah terhenti cukup lama. Oleh karena itu, si pemuda yang dijadikan contoh, pingsan dalam waktu kurang lebih setengah jam. Saat jalan darah normal kembali si pemuda kembali sadar. Maka dia seolah-olah hidup setelah mati. Si Pemuda sangat kecewa mengetahui rahasia gurunya tersebut.

Ilmu kekebalan tubuh atau jaya kawijayaan juga ternyata ilmu tipuan atau ilmu apus. Rahasianya, senjata zaman dahulu seperti senjata tradisonal kecepek atau senjata Belanda. Jarak tembak masih terukur dan pendek.

Misalnya jarak tembah 100 meter, maka si guru pemuda itu menempatkan dia di jarak 105 meter. Lalu si guru menembak dan peluru hanya sampai sehingga saat peluru senjata mengenai tubuh tidak melukai lagi.

Tapi hanya seperti terkena peluru ketapel. Begitupun saat ilmu menjilat besi panas. Lidah memiliki fungsi mendinginkan yang panas. Maka apabila lidah dilati menjilat hal yang panas maka akan terbiasa. Sehingga saat menjilat hal yang panas tidak lagi terbakar.

Kemudian ilmu paldot seperti orang tahan panas. Oleh si gurunya pemuda kembali diminta banyak persyaratan sebagaimana ilmu-ilmu perdukunan. Kali ini pemuda akan menyelupkan tangannya di tima panas yang mendidih. Maka si guru seperti membaca-baca mantra lalu dia mengusap kedua tangan si pemuda.

Setelah diusap maka diperintahkanlah dia mencelupkan tangannya di timah panas yang mendidih tersebut. Ternyata tangannya tidak apa-apa. Kemudian dijelaskan oleh sang Kiai. Kalau sebelum dia mencelupkan kedalam timah mendidih itu. Sesungguhnya guru si pemuda mengoleskan minyak getah jarak. Rahasianya, timah panas akan tawar apabila terkena getah jarak.

Setelah mendengar semua penjelasan tersebut. Si pemuda baru sadar kalau dia selama ini telah di tipu oleh orang yang mengaku sakti. Ilmu-ilmu tersebut hanyalah tipuan saja dan sesajen dan syarat-syarat hanyalah kebohongan.

Susuk emas dan intan juga kebohongan karena diambil si guru atau si dukun. Apabila kita perhatikan, cerita ini sangat bermanfaat untuk mengajarkan masyarakat tentang ketahayulan. Agar masyarakat berhenti mempercayai hal-hal demikian lagi.

angan mempercayai orang mengaku dukun atau orang pintar. Terutama di zaman sekarang (2020), zaman ilmu pengetahuan. Kita juga masih heran masih banyak masyarakat kita yang percaya dan menjadi korban dukun. Benarlah ajaran Islam, dimana mengharamkan untuk percaya pada dukun, ramalan dan pada tahayul.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Sumber: Tim Peneliti: S. Budhisantoso, Dkk. Serat Wredha Mudha Serat Ngelmu Sepiritisme. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991/1992.



[1]S. Budhisantoso, Dkk. Serat Wredha Mudha Serat Ngelmu Sepiritisme. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991/1992, h. 14.
[2]S. Budhisantoso, Dkk. Serat Wredha Mudha Serat Ngelmu Sepiritisme. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991/1992, h. 55.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment