5/14/2020

e-Antologi Puisi: Tentang Cinta.

Apero Fublic.- e-Antologi puisi adalah kumpulan puisi elektonik yang memuat beberapa puisi. Biasanya e-Antologi puisi terdiri dari sepuluh buah puisi. Boleh satu tema atau bermacam tema. Boleh satu penulis atau terdiri dari beberapa penulis.

Unsur penting e-Antologi puisi seperti tema e-Antologi, penulis, dan tempat menulis puisi. e-Antologi puisi saya bertema tentang cinta. fungsi tema untuk menjadi pengenal atau identitas dari e-Antologi puisi milik kita.

Sehingga dapat membedakan dengan karya kita dan karya orang lain. Tentang Cinta mewakili dan salah satu ungkapan rasa cintaku pada keluargaku. Berikut e-Antologi Puisi Tentang Cinta.


I LOVE MY DAD

Dad, pahlawan pertama aku kenal.
Yang pertama,
mengenalkanku dengan nama Allah.
Azan yang engkau lantunkan di telingku.
Pada saat aku lahir ke dunia.

Dad, kamu yang membantu ibu.
Pada saat aku rewel malam hari.
Membantu ibu, mendiamkan aku.
Sewaktu aku menangis dikalah kecil.
Engkau yang membuat aku tertawa.
Melalui lolucon-lolucon yang kau buat.
Dad, dirimu membanting tulang.
Bercucuran keringat untuk  menafkahi keluarga.
Engkaulah, pemimpin terbaik dalam keluarga.

Dad, pada saat aku mengingat semua itu.
Air mata menetes dan tak bisa aku bending.
Dad, hanya satu kata ini ku dengarkan pada-mu.

I Love  You My Dad.
Terima kasih,
Telah menjadi pahlawan dalam hidupku.


IBU MALAIKAT KU.

Ibu,
Engkau  tangan hangat pertama,
Yang kurasakan dalam eratnya kasihmu.
Hangatkan tubuhku yang mungil.
Engkau malaikat yang mengandungku,
Sembilan bulan lamanya.
Melahirkanku dengan sekuat tenaga.
Dengan hembusan nafas pertarukan jiwa.
Engkau yang memandikan aku.
Dengan sentuhan lembut tanganmu.
Diwaktu aku masih kecil, dulu.
Engkau yang selalu membimbing,
Menasehatiku dengan kasihmu.
Lembut kata-katamu.
Engkau yang menguatkan aku.
Memotivasiku disaat aku jatu dan lemah.
Pelukanmu, membuat nyaman jiwaku.

Ibu, oh Ibu ku.
Engkau selalu bersabar ,
Menghadapiku pada saat aku nakal.
Membangkang katamu,
Tak mendengar nasihatmu.

Maafkan aku ibu, maafkan aku.
Maafkan anakmu yang nakal ini.

Andaikan aku pemilik seluruh isi dunia.
Akan aku berikan padamu.
Tapi, semua itu tak akan dapat membalas jasamu.
Begitu pun kasih sayang ibu,
Tak termakan waktu.

Terima kasih ibu,
Terima kasih telah memberikan cahaya.
Dalam kehidupan yang begitu indah.

KAKAK

Kakak,
Kamu adalah saudaraku yang tersayang.
Kamu yang membantu ibu,
Menjagaku waktu kecil dulu,
Mungkin sampai aku mati.
Aku tak bisa melupakan semua itu.
Saat-saat kakak membantuku,
Mengerjakan tugas sekolah.
Saat-saat kakak menemani aku bermain, tertawa.
Kakak juga adalah teman curhatku.
Bilakah masalah datang menjumpaiku.

Iya,
Kadang juga aku jengkel.
Saat kakak memarahi karna kenakalanku.
Tapi aku baru sadar saat ini,
Ternyata semua itu.
Pelajaran hidup yang kakak berikan padaku.

Terima kasih kak.
Terima kasih telah menemani hidupku.
Terima kasih telah menjadikan hidupku.
Menjadikan lebih bermakna.


SEKEPING KENANGAN DARI AYAH

Ribuan perjalanan telah kita lewati.
Dari masa-masa remaja hingga kita memiliki ikatan.
Hingga sampailah sekarang kini.

Begitu beragam jikalau di kenang .
Dimana kita dipertemukan dalam ikatan suci.
Menjalani kehidupan bahterah rumah tangga bersamamu.

Kini kita memiliki butir-bitir cinta,
Yang berada di antara kita.
Butir –butir cinta yang kini mewarnai.
Kehidupan keluarga kita

Yaaa.
Dialah yang kini menjadi warna terang.
Bercahaya dikehidupan kita mendatang.
Yaitu, buah hati ayah dan bunda.


HIDUP YANG BERIRAMA

Esok bukan sekedar membalikkan badan.
Dari lelapnya tidur.
Bukan pula berjalan lurus.
Menyonsong kehidupan,
Bagai datarnya lorong yang lurus.

Akan tetapi hidup memiliki rasa, yang kadang;
Membosankan.
Sedih.
Susah.
Senang.
Dan penuh kegelisahan.
Bagaikan struktur dalam organisasi.
Yang memiliki peran yang beragam.

Itulah hidup.
Bagai pohon yang beranting-ranting.
Dalam menyonsong hidup kedepan.
Agar menjadi lebih baik.


Puisi Tentang Politik
TINDAS BRUTAL

Indahnya jikalau,
Penguasa memiliki sekuntum rasa adil.
Saat rakyatnya tertindas membantu dengan adil.
Namun fakta menjadi opini.

Begitulah.
Saat yang kaya menindas yang miskin.
Saat yang berkuasa menjadi singa.
Saat berpangkat menjatuhkan.
Saat perwakilan rakyat menjadi gila.

Lalu.
Kemana kami rakyat kecil harus lari.
Kemana kami rakyat kecil mengadu nasip.
Kemana kami rakyat kecil bersorak ria,
Tersenyum lepas, mengadu nasip, menata hidup.
Jikalau penguasa berpangkat tinggi, kaya.
Namun menjadi gila

Yaa.
Inilah sederet gambaran negeriku Indonesia.
Walau sudah tak terjajah.
Namun menjadi semak belukar.
Yang dipenuhi tindakan manusia brutal.


JANJI PALSU DPR

Diatas mimbar.
Diatas panggung.
Di poster-poster.
Terdengar… Terbaca…..Dan Terlihat.
Kata-kata manis yang terdengar keluar.
Akan aku berikan.
Akan aku penuhi.
Akan katanya.
Sederet janji yang keluar dari mulut.
Bagaikan kereta api yang tak mau berhenti.
Namun saat menjabat.
Menduduki kursi empuk.
Berada di ruangan mewah, ber AC.
Masih adakah engkau mengungkit janjimu.
Di saat rakyat kesusahan, menderitam, kelaparan.

Itukah janji yang kau ucapkan dulu.
Hanya kata maaf yang terlontar dari mulutmu.
Yaaaaa.
Hanya secerca kertas yang hangus terbakar.
Semoga Allah melunaskan janjimu kelak di akhirat.


INDONESIA MERDEKA PALSU

Kemerdekaan hanya kata yang tak terbukti.
Katanya  Indonesia tanah yang makmur.
Katanya Indonesia tak seseram dulu.
Katanya Indonesia sudah merdeka.

Lalu bagaimana dengan koruptor,
Yang memakan uang rakyat.
Lalu bagaimana dengan penegak hokum.
Hanya ditimpahkan kepada orang kecil.
Lalu bagaimana yang selalu kedinginan.
Karena tempat tinggal lebih buruk,
Dari pohon yang rindang.
Lalu bagaimana dengan anak-anak Indonesia,
Bersorak menuntut hak pendidikan.

Inginku teriak dan berkata.
Adakah yang bisa hentikan semua itu.
Agar Indonesia kita ini.
Bukanlah kemerdekaan palsu.


HAUS AKAN TAHTA

Gemuruh terdengar berita.
Saat satu demi satu.
Bakal calon menyusun politik.

Sogok menyogok mengeluarkan uang.
Agar dapat partai dan pendukung yang banyak.
Inilah dinamakan politik,
Bila menang bersorak ria.
Kalau tak dapat tempat,
Bagaikan tindakan menyayat hati.
Peretakkan tulang belulang tubuh.
Jikalau ingin mendapatkan kursi.
Maka mahar yang diberi lebih tinggi.

Itulah cacatnya politik.
Bagai lingkaran setan.
Yang haus akan kekuasaan.

Puisi tentang Islam
KIAMAT

Dramatis.
Mengagetkan.
Datang tiba-tiba.
Saat-saat Allah menguncangkan,
Seisi langit dan bumi ini.
Lalu masih adakah manusia merasa aman.
Bumi terguncang sedasyat-dasyatnya.
Seisi bumi berhamburan,
Bagaikan anai-anai yang bertebaran.
Lalu masih adakah,
Di antara manusia merasa aman.

Renungkan kawan.
Manusia bermobil mewah,
Tak lagi di pandangnya.
Manusia berumah mewah,
Tak bisa lagi berlindung di bawah naungannya.
Para ilmuan tak lagi berfilsafat.
Para pelajar tak lagi bersekolah.
Pegawai, dokter, olahragawan,
Bahkan orang nomor satu di negerinya.
Tak akan berdaya menangkis semua itu.
Allah maha berkuasa atas segala,
Apa yang di langit dan di bumi.

Ya Allah.
Sembari kami berdoa padamu, ampunilah kami.
Ampunilah dosa-dosa kami.
Seraya berkata: Takbir…Takbir…Takbir.

Oleh. Hamriani Beddu Dewi.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palopo, 14 Mei 2020.
Catatan: Buat sahabat-sahabat semua jangan biarkan hasil karya puisi kalian di simpan hanya di dalam buku catatan atau di dalam latop kalian saja.

Publikasikan agar memberi inspirasi untuk semua orang yang membacanya. Terima kasih untuk Apero Fublic dan Jurnal Sastra Apero Fublic telah mempublikasikan puisi saya.

Apabila sahabt-sahabat yang ingin mempublikasikan karya tulis apa pun kirim saja ke Apero Fublic melalui email redaksi fublicapero@gmail.com atau duniasastra@gmail.com.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment