5/08/2020

Ayah Maafkan Aku

Apero Fublic.- Kita semua memiliki seorang ayah. Dia yang telah menyemai benih pada rahim ibu kita. Sehingga kita dapat hadir di dalam kandungan ibu. Tapi ayah merawat kita dan merawat ibu kita. Dia tidak mengandung kita, tidak banyak menggendong kita. Dia tidak banyak berkata-kata dan bercanda.

Terkadang dalam satu hari dia tidak berkata-kata pada kita. Saat kita bangun dia telah pergi bekerja. Saat dia pulang kita sudah tertidur. Tidak ada bekas gendongan di bahunya. Tidak ada suapan dari tangannya kemulut kita. Dia lebih kasar dari ibu, dan tidak segan memukul kita atau memarahi kita.

Coba kita perhatikan, saat dia pulang. Tubuhnya bau keringat dan kakinya pegal. Bahunya terluka memanggul beban kerja. Kulitnya yang dulu cerah, perlahan menghitam. Bajunya yang dulu bersih sekarang mulai kumal.

Kita berkali-kali berganti baju. Tapi dia tetap baju yang sama bertahun-tahun. Kadang dia memilih baju bekas dari saudara sudah cukup. Atau dia makan seadanya di tempat kerja. Sedangkan kita makan enak di tempat kulia atau saat jalan-jalan.

Kita santai di siang hari, dan bangun kesiangan tidak mengapa. Tapi ayah tidak dia harus bangun dengan tergesah-gesah. Dia malu kalau anak dan istrinya tidak makan besok. Dia sedih kalau anak-anaknya tidak dapat besekolah. Tidak sama seperti anak-anak orang. Masihkan kita meremehkan dia.

Atau berbuat melukai hatinya. Kalau kamu mampu, berarti kamu tidak punya hati. Mencintai ayah kita, bukan dengan salim tangan. Tapi menjadi pribadi yang baik dan selalu berusaha menjadi terbaik. Menjadi orang jujur dan manusia yang berguna.


AYAH MAAFKAN AKU

Ayah
Dalam selimut hari-hari
Disepanjang masa dan tahun-tahun
Terik dan hujan, lelah dan letih
Kau simpan di balik senyummu
Tertawa dirimu, berbohong dilugunya kami
Kami tiada pernah tau
Semua mengira, baik-baik saja.

Ayah,
Adakah kata yang lebih baik
Yang dapat kami ucapkan
Dari semua khilaf dan nakalnya aku
Mengapa kau begitu bijaksana
Saat aku sadar, betapa terpukulnya jiwaku
Kau sedang mengajarkan
Sebuah kehidupan

Ayah
Aku yang dahulu begitu hebat
Aku yang dahulu begitu kuat
Kini telah rapu dan lemah
Dibawah telapak kakimu
Aku tahu
Kau bukan hanya memikul beban
Tapi menjadi guru kehidupan
Pada tataran terendah, yang menyakitkan

Ayah, ayahku
Perlahan kecut kulit wajahmu
Rambutmu mulai memutih kini
Langkahmu mulai lamban dan gontai
Baru kami sadar
Kaulah tameng dan benteng terbesar

Ayah, izinkan aku menangis
Hari ini, dan hari-hari yang akan datang
Aku menyesal telah tumbuh begitu keras
Aku menyesal telah lahir begitu egois

Ayah
Kini aku persembahkan kehidupanku
Demi engkau dan usaha perjuanganmu
Semua akan aku perjuangkan demimu
Aku persembahkan semua
Hanya untukmu
Walau tiada seberapa
Bila dibanding jasamu.

Ayah, aku bersimpu
Saat kau hidup, dan saat kau tiada.

Oleh. Sadaria.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Indralaya, 8 Mei 2020.
Terima kasih buat Apero Fublic telah bersedia menerbitkan syarce atau syair cerita karya saya. Kurang lebih mohon maaf karena saya masih dalam tahap belajar menulis. Aku persembahkan syarce ini pada ayah tercinta.

Buat teman-teman yang mau mempublikasikan karya puisi atau jenis karya tulis lainnya. Kirim saja ke Apero Fublic atau Jurnal Sastra Apero Fublic melalui email redaksi fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment