4/26/2020

Mengenal Tradisi Malemang Atau Sedekah Rami di Kecamatan Sungai Keruh

Apero Fublic.- Sungai Keruh. Setiap wilayah di Indonesia memiliki beragam budaya-budaya. Budaya tersebut diwarisi dari nenek moyang mereka yang diajarkan secara turun temurun. Berikut ini kita akan mengenal suatu budaya masyarakat di Kecamatan Sungai keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Yaitu budaya malemang yang laksanakan oleh masyarakat setempat satu kali dalam setahun.

Kata malemang berasal dari kata lemang. Awalan kata ma dalam bahasa Melayu berarti melakukan sesuatu dengan menunjukkan masa waktu sedang dikerjakan. Kalau diartikan secara bahasa kata ma-lemang berarti aktivitas membuat lemang. Lemang adalah nama sebuah kuliner Melayu tradisonal yang berbahan ketan pulut atau padi pulut.

Selain itu, sering juga lemang di buat dari Ketan Hitam. Ketan hitam atau masyarakat menamakannya, padi arang. Karena jenis padi ini berasnya berwarna hitam kemerahan layaknya arang. Bumbu kuliner, yaitu kelapa olahan, gula, gula merah. Alat yang digunakan untuk memasak daun pisang, dan bumbung bambu. Bumbung bambu adalah potongan ruas bambu. Padi ketan atau Padi Arang setelah diolah dengan bumbu. Dimasukkan kedalam bumbung bambu kemudian ditutup dengan daun pisang.

Dapat juga dengan cara-cara lain. Ada juga lemang yang diberi garam yaitu, lemang rasa asin. Cara memasak, dengan membuat sandarang memanjang terbuat dari kayu. Kemudian wadah lemang yang terbuat dari ruas bambu setelah diisi bahan lemang di sandarkan. Lalu, dinyalakan api yang besar di sekeliling lemang mentah. Sehingga dengan panas api tersebut membuat lemang masak.

Kegiatan malemang juga disebut masyarakat Sungai Keruh dengan istilah sedekah rami. Sedekah adalah istilah penyebutan untuk memberikan sesuatu pada orang lain. Dengan cara memasak makanan lalu diberikan atau mengajak orang-orang untuk makan. Kata rami berarti bersama-sama atau beramai-ramai. Sedekah rami dapat didepenisikan suatu kegiatan budaya masyarakat yang dilaksanakan secara bersama-sama tanpa terkecuali oleh penduduk di suatu tempat. Dalam hal ini pada masyarakat Sungai Keruh.

Lokasi desa tempat penyelenggaraan kegiatan malemang atau sedekah rami berpusat di Desa Kertayu, di Kecamatan Sungai Keruh. Sedangkan penduduk desa-desa lain yang berada di Kecamatan Sungai Keruh datang berkunjung ke Desa Kertayu. Mengapa demikian, karena Desa Kertayu terdapat sebuah keramat kepuyangan masyarakat Sungai Keruh.
Ikatan sejarah dimana orang-orang Sungai Keruh adalah satu marga dan satu keturunan dari kepuyangan tersebut, yaitu Puyang Dulu. Pemerintahan marga yang sudah ada sejak zaman Kedatuan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, dan Sampai dihapuskan semasa Orde Baru. Untuk identitas kepuyangan, ada yang menyebut nama Puyang, Tumanina. Pemerintahan marga bersifat genoalogis dan monarki. Baru pada zaman penjajahan Belanda Pemerintahan marga dirubah menjadi monarki.

Relevansi sejarah tersebut berasal dari adanya keramat Puyang Dulu di Desa Kertayu. Namun sayang, keramat yang seharusnya sebagai simbol budaya dan persatuan masyarakat. Berkembang menjadi tempat syirik di tengah masyarakat. Kalau ada yang berkunjung sering meminta-minta sesuatu. Sering juga orang-orang datang meminta togel, dan sebagainya. Semoga tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Tradisi malemang atau sedekah rami dilaksanakan setelah panen padi usai. Dimana masyarakat banyak mendapat hasil memanen padi ladang. Terutama padi ketan pulut atau ketan hitam. Tradisi malemang dilaksakan pada antara bulan empat dan bulan enam. Tergantung masa yang disesuaikan oleh tetua masyarakat dan kesepakatan masyarakat.

Oleh. Totong Mahipal
Editor. Selita. S.Pd.
Foto. Dadang Saputra.
Sungai Keruh, 22 April 2020.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment