4/19/2020

Mengenal Danau Ranau Dalam Hegemoni Kebudayaan Melayu

Apero Fublic.- Mengenal Danau Ranau. Danau ini, terletak di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Danau Ranau secara geografis berada di perbatasan antara Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung. Yaitu, terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Lampung Barat.

Sumber air Danau Ranau berasal dari aliran Sungai Wurkuk dan mengalir menjadi Sungai Komering. Sebagaimana Danau Toba memiliki sebuah pulau ditengah-tengah danau. Begitupun juga dengan Danau Ranau, memiliki sebuah pulau yang dinamakan Pulau Marisa.

Di Pulau Marisa terdapat objek wisata air panas, air terjun serta tersedia tempat penginapan. Untuk menuju pulau Marisa dapat naik perahu motor dari dermaga Banding Agung atau Dermaga Pusri. Danau Ranau terletak kurang lebih 50-an kilometer dari Kota Muaradua.
Dikutif dari wikipedia Danau Ranau terbentuk karena letusan gunung berapi yang menyebabkan cekungan permukaan bumi mega raksasa. Sehingga terbentuk penampungan air hujan, lalu membentuk aliran seiring proses alam. Secara topografi di sekitar danau berbukit-bukit. Kalau melihat dari petah kawasan ini juga masuk dalam gugus kaki bukit barisan.

Penduduk asli kawasan Danau Ranau adalah salah satu induk dari masyarakat Sumatera Selatan. Banyak terdapat bukti-bukti arkelogis kalau danau ranau telah dihuni sejak lama. Seperti dengan banyaknya ditemukan batu berukir atau jenis artepak-artepak purba. Danau Ranau masuk dalam tradisi kebudayaan megalitikum Pasemah. Secara umum kebudayaan seperti ini juga terdapat diseluruh dataran tinggi di Indonesia.

Dari kediaman diatas bukit inilah nantinya orang-orang berkebudayaan sanskerta menyebut orang Indonesia dengan orang Mala yang bermakna Orang Bukit atau orang yang tinggal di bukit-bukit. Kemudian kata mala bertemu dengan kosakata Cina kuno. Orang Cina menyebut orang mala yang dikenalkan orang India dengan Mala-yu. Yu berarti negeri dalam bahasa Cina.

Maksud dari orang Cina menerangkan orang dari negeri Mala. Sehingga terbentuklah kata Malayu atau Melayu saat terbentuknya kerajaan besar pertama Kedatuan Sriwijaya yang juga diikuti terbentuknya kerajaan Melayu di Jambi.

Masuknya pengaruh hindhu-buhda sejak awal abad masehi membuat peralihan kebudayaan terjadi. Dari budaya megalitikum dan berdiam di dataran tinggi berangsur-ansur menjadi kebudayaan pengaruh hindhu-budha. Yang kemudian menjadi kebudayaan maritim. Peralihan ini terbukti dengan datangnya Puyang Dapunta Hyang ke Bukit Seguntang di Palembang. Disana Puyang Dapunta Hyang dari Minanga Tamwan di daerah OKI sekarang. Mendirikan Kota Palembang sebagaimana tertulis pada prasasti kedukan bukit.

Secara kebudayaan dan sejarah penduduk sekitar Danau Ranau adalah orang Melayu, beragama Islam. Banguan tempat tinggal asli juga rumah panggung. Adat Istiadat juga sama seperti adat Melayu lainnya yaitu kental dengan pengaru Islam.

Selama ini, pemerintah tidak memiliki inovasi dalam memajukan potensi wisata lokal. Sehingga pariwisata di Sumatera Selatan biasa-biasa saja. Seharusnya ada kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.
Seperti bekerja sama dengan universitas-universitas di seluruh Sumatera Selatan. Dimana penyelenggaraan kegiatan PPL atau KKL dapat dilakukan di kawasan wisata lokal. Mengingat selama ini kegiatan mahasiswa demikian hanya diarahkan ke Jawa, Bali atau keluar negeri. Pemerintah harus mengajarkan bagaimana bentuk pembangunan negara dengan tindakan nyata.

Sebagai catatan adanya tumpang tindih keterangan media. Ada yang menulis Danau Singkarak adalah danau terbesar kedua setelah Danau Toba di pulau Sumatera. Di sisi lain ada juga yang menulis danau Ranau yang terbesar kedua.

Dari sini menunjukkan bahwa tidak adanya data yang sah. Semoga pendataan dan dokumentasi data-data objek wisata dirinci lebih lanjut oleh pihak yang berwenang. Dari sini juga menunjukkan buruknya literasi Indonesia.

Oleh. Rama Saputra
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 21 April 2020.
Sumber foto. Facebook Americo. Mohon izin penggunaan foto-foto Anda. Terimah kasih. Semoga Mega Wisata Nusantara segera terwujud.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment