2/04/2020

Novel Pembangun Bangsa. Garis Merah di Rijswijk.

Apero Fublic.- Sebuah novel yang sangat bagus telah hadir ditengah kita. Saya berharap novel tersebut diangkat ke layar lebar. Novel yang terbit pada tahun 2012, dengan judul Garis Merah di Rijswijk hasil buah karya oleh Li Loh. Diterbitkan oleh penerbit ternama Republika di Jakarta. Buku novel setebal 436 halaman. Sampul buku bernuansa Batavia zaman Kolonial Belanda. Isi novel terdiri halaman judul, persembahan dan kata pengantar. Kemudian dilanjutkan jalan cerita yang diakhiri dengan biografi singkat penulis.


Li Loh adalah nama kecil dan sekaligus nama pena Ilham Q. Moehiddin. Jurnalis, cerpenis, novelis, dan essai. Karir jurnalistik penulis putra kelahiran Kabaena, Sulawesi Tenggara 8 Februari. Li Loh pernah bekerja di beberapa media dalam dan luar negeri. Selain menulis essai bersifat umum dia juga menulis essai keislaman.

Selain itu, aktif juga pada teknik gonzo story sebagai genre baru dalam kepenulisan Indonesia. Yakni genre yang menggabungkan teknik gonzo journalism (kubisme jurnalisme sastrawi) dengan teknik penceritaan. Untuk menghapus batas imajiner antara fakta dan fiksi; dan mempromosikan Telisik Literasi sebagai cabang baru forensik sastra.


Karya sastra yang sudah diterbitkan diantaranya; Kitab dan Tafsir Perawan Nemesis (Kumpulan Cerpen dan Puisi, 2000). Khanjar Gading (2001); Unabomber; Gadis Kecil di Elliot House (Novel 2002). Kabin 21 (Novel, 2003). Li Loh mendirikan perhimpunan penulis The Indonesian Freedom Writers untuk mempromosikan genre tersebut. Di Kendari, bersama beberapa novelis, penyair, desain grafis, dan film-maker, ia mendirikan Komunitas Settung, sebuah komunitas penulis di Sulawesi Tenggara. Berikut sinopsis dari novel Garis Merah di Rijswijk:


Banyak intrik terjadi menjelang terbentuknya Republik Indonesia. Kekuatan-kekuatan besar saling bersaing membentuk model dasar republik Indonesia.
Sudah barang tentu Amir Sjarifuddin terkejut mendengar ucapan terakhir Dick  de Hoogs itu. Mendengarnya, Amir tak menyangka bahwa kalangan raja, bangsawan dan penguasa wilayah, begitu bodoh dan mudah diperdayai kesesatan Mason-Zion.
“Politik Zion akan menggerakkan semuanya dengan tetap mengacu pada garis masing-masing. Inilah keteraturan Zion itu. Keteraturan tanpa blok yang memisahkannya. Negara Komunis Hindia akan memperkuat nilai tawar persemakmuran dalam hubungannya dengan dunia internasional kelak.”
“Rencana yang berbahaya,” desis Amir. Dick de Hoog tersenyum puas.

Demikian cuplikan sinopsis novel. Novel Garis Merah di Rijswijk adalah sebuah novel yang sangat bagus. Mengangkat latar sejarah masa pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dimana para bintang adalah tokoh-tokoh pergerakan yang nyata. Gambaran tentang suasana pergerakan kemerdekaan.

Pergulatan ideologi antara islamisme, nasionalisme dan komunisme. Adanya pergolakan kaum bangsawan dan pemimpin wilayah yang didukung Belanda.Adegan jalan cerita konsisten bertema pergerakan dan perjuangan kaum cendekiawan Indonesia pada masanya.


Membaca novel ini akan memberikan pengetahuan sejarah, budaya, dan kondisi sosial masyarakat Indonesia pra-kemerdekaan. Memberikan imejinasi tentang masa lalu. Menambah wawasan kebangsaaan. Membuka akal dan pemikiran betapa pentingnya perjuangan dengan pemikiran dan ideologi.

Perjuangan dengan senjata hanyalah sebatas bentuk tembak menembak. Namun perjuangan dengan paham dan ideologi akan menentukan kemenangan. Dalam novel ini kita akan menemukan kesulitan hidup para pemimpin kita. Menemukan jalan cerita tentang kesulitan dalam bertemu atau rapat para kaum pergerakan.


Novel ini termasuk novel kotemporer Indonesia yang sangat memotivasi dan memberikan pencerahan pada generasi sekarang dan yang akan datang. Penulisnya sangat tekun dan kreatif dalam membawakkan jalan cerita dan dialog-dialognya. Bacalah novel luar biasa ini.


Oleh. Joni Apero

Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 4 Februari 2020.
Sumber. Li Loh. Garis Merah di Rijswik. Jakarta: Republika, 2012.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment