1/02/2020

Laporan Internasional: Gejolak di Xinjiang dan Akar Permasalahannya

Apero Fublic.- Agama Islam sudah hadir di Cina sejak 1400 tahun yang lalu. Menurut catatan Islam sampai pada tahun 618 Masehi, semasa pemerintahan Dinasti Tang.[1] Sahabat Rasulullah SAW  yang datang langsung berdakwah diantaranya,  Saad bin Abdul Qais, Qais bin Abu Hudhafah, Urwah bin Abi Uththan dan Abu Qais bin Al-Harits.

Dari mereka dakwah Islam yang dilanjutkan para pedagang dan mubaliq lokal terus berkembang. Sehingga melahirkan lebih dari 136 juta umat Islam di seluruh dataran negara Cina. Namun Pemerintahan Cina menutupi jumlah umat Islam yang sebenarnya untuk kepentingan politik mereka. Sebut saja misalnya pada tahun 1990 Pemerintah Cina menyebutkan jumlah umat Islam hanya 17 juta saja.

Namun L. Stoddard memberi penjelasan, bahwa jumlah umat Islam setelah pemadaman pemberontakan di Turkestan dan Yunan  tahun 1870 Masehi berkurang sangat drastis. Setelah pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan oleh Pemerintahan Tiongkok. Sekarang kaum muslimin Tiongkok hanya tiggal 10 juta saja.[2] Dari keterangan buku tersebut yang terbit pertama tahun 1921 jumlah umat Islam di Cina tersisa 10 juta. Kemudian tahun 1990 apakah wajar jumlah hanya 17 juta saja. Kecuali kalau ada pembantaian masal yang berkelanjutan pada masa Komunis. Itulah para analis memperkirakan sekarang (2019) jumlah umat Islam Cina sudah jauh lebih besar.

Muslim Uyghur adalah kelompok masyarakat Islam Cina terbesar kedua setelah etnis Hui, mereka mendiami wilayah Xinjiang (Turkistan Timur) sudah ribuan tahun lampau.[3] Di dalam perjalanan sejarah wilayah ini pernah memerintah dataran luas Asia Tengah termasuk memerintah seluruh Cina, India, Rusia, Eropa dan Timur Tengah. Zaman kemudian berbalik orang Cina yang menguasai masyarakat Xinjiang. Berikut tiga pokok masalah Xinjiang yang rumit.

1. Permasalahan Sejarah
Masyarakat Xinjiang atau Turkistan Timur memiliki sejarah besar pada masa-masa lampau. Nenek moyang mereka adalah kelompok suku petarung yang ulung. Mereka memiliki sejarah-sejarah penaklukan-penaklukkan. Suku Uyghur bangsa yang ganas dan sangat suka berpetualang berperang. Mereka keturunan penakluk-penakluk dunia. Seperti Jengis Khan, Kubilai Khan, Hulagu Khan, Timur Leng, Kaisar-Kaisar Mongol. Atilah yang terkenal adalah salah satu nenek moyang dari orang-orang di daerah Xinjiang ini.[4]

Wilayah ini dahulunya adalah wilayah tanpa tuan, masyarakatnya dipimpin oleh Khan-khan yang merdeka. Khan gelar pemimpin persatuan kepala suku. Sampai munculnya kekuatan komunis di Rusia dan bangkitnya komunis di Cina. Wilayah khan-khan ini kemudian dianeksasi oleh kedua kekuatan besar tersebut. Sehingga menjadi dua kawasan wilayah, Turkistan Timur dikuasai Cina. Sedangkan Turkisatan Barat oleh komunis Rusia. Masyarakat yang sudah hidup merdeka ribuan tahun kemudian harus tunduk pada satu kekuatan politik.

Permasalahan Uyghur sudah sangat lama bagi Cina. Penguasaan Cina dan aneksasi Rusia di daerah Xinjiang telah membuat penderitaan berkepanjangan di kawasan ini. Seperti pada tahun 1933 Masehi penduduk Xinjiang memberontak dan memproklamasikan Republik Turkistan Timur. Ketika kaum Komunis Cina memenangkan perang melawan Kaum Nasionalis. Mereka kembali menganeksasi Xinjiang. Pada tahun 1949 Xinjiang kembali dikuasi Cina Komunis dan menghapus Republik Turkistan Timur.

Kemudian ada exsodus suku Kazakh kurang lebih 40.000 orang membawa semua ternak mereka. Dalam perjalanan mereka diserang dan di bombardir oleh pesawat komunis Rusia. Sehingga tinggal 8.500 saja yang hidup. Kemudian sepanjang jalan mereka terus diburu pasukan komunis Cina. Ditambah cuaca yang tidak bersahabat. Dari 8.500 muslim Kazak yang tersisa berhasil mencapai Kasmir hanya sekitar 3.000 orang. Kemudian beberapa tahun kemudian pelarian dari penguasaan komunis cina berlangsung. Sekitar 19 ribu orang Kazak di Xinjiang pergi menuju Turki. Tapi yang sampai ke Turki hanya 400 orang saja.[5]

Wilayah Xinjiang yang terus bergolak sudah lebih dua abad lamanya, sampai sekarang. Pergolakan sejak masa-masa, dinasti Manchu. Berlanjut sampai Pemerintahan Komunis Cina sekarang. Pergolakan Muslim sedikit terhenti semasa Pemerintahan Demokrasi Cina. Permasalahan yang paling kental adalah pertarungan paham komunis dan Islam. Ketahanan dan militannya orang-orang Xinjiang berlanjut. Begitupun dengan saudara mereka muslim Turkistan Barat pada umumnya tidak menyerah menghadapi Komunis Rusia. Sampai terbentuk negara-negara Islam Asia Tengah setelah runtuhnya Uni Soviet. Seperti Republik Kazakhstan, Usbekistan, Tajikistan, Kirgistan.

Sejarah panjang telah membentuk identitas muslim Uyghur. Mereka punya akar sejarah yang tidak dapat dihapus. Walau di hapus di Cina namun wilayah lain di dunia telah mencatatnya. Mereka yang telah ditempa oleh sejarah akan menjadi sangat kuat. 

Pada awal Dinasti Manchu belum terjadi pergolakan. Tapi ketika dinasti Manchu Xinjiang mulai mengganggu Islam pergolakan terjadi. Berawal dari larangan membangun masjid, melarang kaum muslimin berangkat haji, melarang ulama masuk Cina. Terjadi pergolakan selama 107 tahun di daerah Xinjiang (1782-1889). Dinasti Manchu menumpas ganas, membantai penduduk desa-desa kecil yang mereka temui.

Menurut keterangan Kolonel Bell, akibat perang-perang tersebut telah mengurangi populasi Muslim daerah Xinjiang yang diperkirakan sekitar 15.000.000 orang. Hanya tersisa 1.000.000 orang saja. Beberapa waktu kemudian penduduk Khokand dengan 40.000 orang berhasil menguasai keadaan, Yaqub Khan. Membebaskan kota-kota di daerah Xinjiang dan menjadikan Xinjiang di bawa kekuasaannya.

Kemerdekaan kemudian diakui oleh Rusia pada tahun 1872 dan diikuti Sultan Turki dan Inggris. Ditahun 1877 kembali peperangan terjadi memperubutkan Xinjiang. Dinasti Manchu mengirim jendral Tso Chung Tang dengan kekuatan 100.000 prajurit. Kekalahan disebabkan Rusia menghianati perjanjian dan membantu Cina. Kemudian Yaqub Khan diracuni oleh penghianat. Selama dinasti Manchu terjadi 490 pemberontakan kaum muslim Cina. Kemudian terjadi revolusi demokratis tahun 1911. Pemerintahan demokratis Cina ini membuat kedamaian di dataran Cina. Kaum muslimin mendapat kedudukan dan perlakuan yang sama dari orang Cina non-muslim lainnya.

Terdapat lima golongan besar masa demokratis, Tibet, Mongol, Manchu, Han, dan Muslim.[6] Orang-orang Muslim Cina menempati kedudukan tinggi negara. Seperti Jendral Omar Pei Chung-hsi yang menjadi Kepala Stapf Umum Angkatan Darat-Laut-Udara Tiongkok. Pada tahun 1912 Ma Lin Yee seorang Muslim dari Hunan diangat menjadi Mentri Pendidikan.[7] Suasana demokratis terus bergolak dengan ideologi Komunisme-Leninisme. Hingga akhirnya komunis berkuasa dan keadaan kaum muslim kembali berubah. Namun walau dizaman demokratis ini. Ketika politik tidak menentu. Daerah Xinjiang tetap kemvali memberontak dan masyarakat mendirikan Negara Republik Turkistan Timur (1933). Proklamasi kemerdekaan kedua Xinjiang.

2. Kesukuan dan Budaya
Orang-orang Uighur mereka merasa berbeda dengan orang Cina. Kehidupan yang lebih dipengaruhi kebudayaan Asia Tengah. Bentuk fisik yang berbeda dari orang Cina pada umumnya. Kehidupan yang bebas kelompok suku-suku yang tidak bertuan dalam waktu yang lama. Kemudian mereka sekarang pada masa moderen memiliki tuan yang harus dituruti dengan ketat.

Orang Uyghur memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa Cina pada umumnya. Suku Uyghur kalau di Asia Tenggara sama seperti orang Melayu. Dimana tradisi kehidupan sangat kental dengan Islam. Bahasa mereka serumpun dengan bahasa Turki (Turko-Altaic). Mereka juga lebih dekat dengan ras Asia Tengah. Telah memiliki sejarah sejak 300 tahun sebelum Masehi. Cara berpakaian mereka berwarna warni dengan warna mencolok. Kaum laki-laki memakai jubah panjang, celana besar, bersepatu boot. Kaum wanita memakai gaun dan rok dengan jaket tanpa lengan yang dipadukan dengan baju. Memakai topi bersegi empat empat bernama duopa dengan hiasan sulaman dan berjahit tampal.[8]

Setelah Suku Uyghur yang mendiami wilayah Xinjiang adalah suku Kazakh. Suku kazakh sama dengan orang Kazakhtan di Turkistan Barat. Ciri fisik mereka, berambut kemerahan, bermata biru, dan wajah cantik. Menurut perkiraan etnis Kazakh sudah mendiami Xinjiang atau Turkistan Timur sejak abad ke dua sebelum Masehi. Kemudian etnis Muslim DongXiang mereka mendiami wilayah Xinjiang dan Gansu. Mereka berbahasa Altaic Mongolia. Kata Dongxiang berari Kampung Timur.

Mereka menyebut dirinya dengan Santa.[9] Kemudian ada kelompok Kirghis yang juga sama suku Kirghistan. Lalu suku Tajik yang juga mendiami wilayah Xinjiang dan sama dengan orang Tajikistan. Mereka penganut syiah sama seperti di Tajikistan dan Iran. Bahasa mereka juga bahasa pengaruh Parsi. Kemudian etnis Usbek juga sama dengan saudara mereka di Usebekistan di Asia tengah atau bagian dari Turkistan Barat dahulu dikuasai Komunis Rusia. Kelompok terakhir adalah etnis Tatar. Mereka juga bagian dari etnis Tatar di Rusia.[10]

Apabila kita melihat dari segi kebudayaan. Maka penduduk Xinjiang memang berbeda dari penduduk Cina. Wilayah kebudayaan Xinjiang atau Turkistan Timur adalah wilayah kebudayaan Asia Tengah. Xinjiang secara geografis memang masih masuk geografis wilayah Asia Tengah. Perbedaan kemudian menjadi sangat kontras ketika Pemerintahan Komunis-Leninisme Cina berkuasa. Dari sini kita juga dapat mengerti mengapa Pemerintah Komunis Cina memindahkan etnis Han ke daerah Xinjiang untuk mengimbangi jumlah penduduk dan menduduki secara politis.

3. Kesalahan Pendekatan Pemerintahan Cina
Agama Islam sesungguhnya tidak bermasalah dengan jenis pemerintahan apapun. Tetapi Islam selalu digunakan sebagai bahan bakar untuk tujuan tertentu. Islam sebagai agama selalu mengajarkan kebaikan dan perdamaian. Komunitas Muslim Hui yang menjadi komunitas terbesar hidup damai dengan Pemerintah Cina.

Muslim Hui yang memakai mazhab Syafiih. Selain itu, mereka juga merasa orang Cina tulen. Sehingga mereka tidak ada alasan melawan apalagi berperang. Dari pokok sejarah dan budayalah masyarakat Xinjiang merasa berbeda dengan orang Cina lainnya. Sehingga mereka terus melakukan perlawanan berabad-abad. Kalau melihat Muslim Hui, muslim Yunan menunjukkan Islam tidak bermasalah dengan Pemerintahan Cina sekarang. Beberapa aspek kesalahan Pemerintahan Cina dalam mendekati masyarakat Xinjiang. Berikut empat kesalahan kebijakan dan pendekatan oleh Pemerintahan Komunis Cina.

I. Revolusi Kebudayaan
Untuk melawan paham komunis Muslim Xinjiang menggunakan agama Islam untuk kekuatan dan penentangan terhadap doktrin komunisme. Komunisme sangat bertentangan dengan keislaman. Revolusi kebudayaan yang dilakukan oleh komunis Cina tahun 1960-an tidak dapat memadamkan Islam. Sementara kebudayaan lain dan agama-agama telah menyerah pada tangan besi komunis. Akibatnya kaum Muslimin mendapat penindasan. Serta upaya-upaya komunis untuk menghancurkan Islam. Menghapus sistem budaya masyarakat, seperti sistem Khan.

Berusaha mengubah bahasa dan semua kebudayaan masyarakat Xinjiang dengan radikal. Dari bahasa, sistem tulisan, hukum, menghapus pendidikan Islam. Membatasi jumlah masjid atau membongkar bangunan masjid. Tentu semua usaha ini akan menimbulkan perlawanan. Upaya revolusi kebudayaan untuk menciptakan Cina yang satu tanpa retak oleh budaya dan agama. Sesuai dengan doktrin Komunisme-Leninisme. Dimana menempatkan negara sebagai borjuisme baru. Manusia menjadi mesin negara, alat negara. Bukan makhluk hidup yang berbudaya dan beragama.

II. Menindas Islam
Menindas keislaman disini adalah upaya-upaya paham komunis mengikis Islam dari masyarakat Xinjiang. Seperti melarang berpuasa, melarang berhaji, tidak memberikan pendidikan Islam. Menutup sekolah-sekolah Islam dan melarang atribut keislaman misalnya jilbab. Melarang berorganisasi keislaman, menghilangkan pengadilan Islam dan sebagainya. Upaya menindas Islam untuk melemahkan perlawanan masyarakat Muslim Xinjiang. Tapi apakah program berhasil sudah 80 tahun Komunis Cina berkuasa.

III. Memindahkan Etnis Lain
Masyarakat Xinjiang merasa terancam keberadaan mereka. Dengan banyaknya perpindahan penduduk dari daerah lain membuat mereka menjadi minoritas di wilayah nenek moyang mereka. Timbul kecemburuan sosial yang melahirkan perlawanan. Kemudian terjadi kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan. Yang membuat penduduk asli Xinjiang merasa dijajah dan di nomor duakan.

IV. Cara-Cara Tangan Besi
Cara-cara tangan besi belum pernah berhasil dalam mengendalikan manusia. Seumpama seorang anak yang nakal. Kemudian didik secara keras belum tentu menjadi sesuai harapan. Manusia memiliki sifat pembangkangan ketika dikeraskan. Saat dikeraskan akan timbul marah, dendam, kebencian dan perlawanan. Jiwa manusia memerlukan tempat berlabu dalam menenangkan jiwa yang terus bergolak. Cara-cara tangan besi ada baiknya dirubah menjadi cara-cara berbudi luhur. Contoh tangan besi seperti memenjarakan imam masjid. Memenjarakan orang yang tetap puasa di bulan ramadhan. Menghilangkan nyawa orang yang dianggap memberontak. Membuat kamp konsentrasi tawanan, dan lainnya.

Pemerintahan Cina mengira dengan menindas Islam mereka akan mampu memadamkan api perlawanan masyarakat Xinjiang. Sehingga bermacam-macam program mereka untuk menghancurkan Islam. Berharap dengan hancurnya Islam maka akan berakhir perlawanan. Namun perlawan masyarakat Xinjiang terus berlanjut walau Islam ditindas. Karena akar masalah bukan pada  Islam. Tapi pada sejarah, ras dan kebudayaan. Kalau permasalahan Islam cukup diberikan kemerdekaan beragama sudah cukup.

Pemerintah Cina menindas Islam adalah kesalahan kebijakan tidak tepat sasaran. Sebab Islam hanya menjadi bahan bakar bagi perlawanan masyrakat Xinjiang. Bukan hanya di dalam negara Cina khususnya di Xinjiang. Penindasan terhadap Islam juga menjadi bahan bakar di luar negara Cina. Dapat kita saksikan sekarang, Amerika Serikat memantik bahan bakar itu. Kemudian banyak umat Islam yang tersulut dan berdemolah di seluruh dunia. Ada baiknya pemerintah Cina mulai menggandeng negara-negara Islam untuk menyelesaikan masalah Uyghur.

Agama Islam hanya diselesaikan oleh orang Islam. Hindari menegarakan manusia seperti selama ini. Tapi negara membentuk kesatuan dengan rakyat. Memberikan hak sosial budaya dan kemerdekaan beragama. Pemerintah Cina dapat berunding dengan tokoh muslim dunia terutama ulama Indonesia. Kemudian menjadi mediasi dalam perdamaian. Menjadi peninjau dalam pelaksanaannya. Para ulama dapat bermusyawara untuk menyadarkan masyarakat Xinjiang. Tapi Cina lebih suka memvangun kamp kosentrasi. Lalu menjejalkan paham komunisme-Leninisme. Beberapa waktu lalu Taliban datang menemui ulama Indonesia. Itu menunjukkan adanya kepercayaan pada Ulama-ulama Indonesia.

Sebagai pendukung rekonsiliasi Islam dan Pemerintah ada baiknya muslim Uyghur dan Pemerintah Cina untuk saling bijaksana. Pemerintah Cina memberikan hak-hak beragama dan berbudaya, pendidikan sesuai dengan Islam. Memberikan otonomi khusus, memiliki pengadilan agama Islam, dan pemimpin wilayah orang Islam. Menghidupkan bahasa asli, sistem Khan juga dikembalikan sebagai bentuk penghormatan kebudayaan.  Pemerintah Cina mendapat pengakuan atas wilayah Xinjiang atau Turkistan Timur bagian dari Republic Rakyat Tiongkok.

Kalau masyarakat merasa tidak terancam exsistensi mereka. Tidak semuanya akan mendukung pemisahan diri atau pemberontakan. Tapi kalau semuanya ditindas. Dibuat program mengkomuniskan pahan hidup masyarakat Xinjiang. Maka ini tidak akan pernah menemukan titik temu antara Islam dan Komunis.

Pemerintah Cina mulailah belajar dari sejarah, belajar dari Rusia yang menjadi kiblat mereka dahulu mendapatkan paham komunis. Rusia sudah memberikan semua hak muslim dan menghidupkan budaya etnis Muslim. Sehingga semua pemberontakan Muslim di Rusia beransur-ansur berakhir dengan sendirinya. Rusia sekarang sudah memasuki  masa tenang dan damai. Seperti pemberontakan Muslim Chenya, Muslim tatar Sudah surut dan berakhir di Rusia.

Karena peperangan, kekerasan dan kekacauan tidak pernah melahirkan kemajuan selain kehancuran. Kerugian di kedua belah pihak. Kehidupan muslim di Xinjiang yang hancur dan negara Cina yang terus bergejolak. Masyarakat Xinjiang menjadi terbelakang dan terpuruk. Lebih baik bekerja sama, antara Muslim Xinjiang dan Pemerintah Cina.

Untuk terciptanya kemajuan di wilayah Xinjiang. Energi besar seharusnya digunakan pada hal-hal positif bukan hal-hal yang berbau perang dan perlawanan. Bukankah sudah lebih dua ratus tahun wilayah Xinjiang bergolak terus. Semuanya di atasi dengan kekerasan dan pembantaian. Apakah semua itu dapat menyelesaikan masalah sampai sekarang?. Begitupun rakyat Xinjiang apakah itu menyelesaikan masalah.

Untuk muslim Xinjiang berjuanglah dengan cara-cara moderat. Tinggalkan cara-cara tradisional dan bergeraklah pada bidang ekonomi, kebudayaan, pendidikan, dan dakwah. Karena kalian memiliki tugas dakwah untuk seluruh Cina. Belajarlah dari perjanjian hudaibiyah semasa Rasulullah SAW. Karena Islam adalah masa depan Cina yang akan menggantikan Kong Hu Cu dan Komunisme. Sebab bangsa Cina selalu membutuhkan kekuatan dari dalam untuk menegakkan Imperium besarnya.

Saya rasa pemerintah Indonesia dan negara Muslim lainnya tidak salah membantu Cina dalam masalah Uyghur. Disamping kerja sama ekonomi, teknologi. Jangan pula kita ikut skenario Amerika Serikat yang berkepentingan menjatuhkan Cina. Tapi membantu bersifat mediasi damai dan kemanusiaan. Kalau pemerintah tidak mau turun langsung. Bisa melalui tangan para ulama-ulama, organisasi keislaman. Bukan membatu bersifat politis yang bertentangan dengan piagam PBB. Sekian semoga bermanfaaf. Aminnnnnnn.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 2 Januari 2020.

Daftar Pustaka:
Lothrop Stoddard. Dunia Baru Islam. Jakarta: Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat, 1965.
Ann Wang Seng. Rahasia Sukses Muslim Cina: Kegemilangan Islam di Negeri Komunis. Jakarta: Hikmah, 2008.
Hans Kohn. Dasar Sedjarah Rusia Moderen. Terj. Hasjim Djalal. Jakarta: Bhratara, 1966.
Leo Agung. Sejarah Asia Timur. Yogyakarta: Ombak, 2012.



[1]An Wan Seng, Rahasia Sukses Muslim Cina: Kegemilangan Islam di Negeri Komunis, Jakarta: Hikmah, 2008, h. 23.
[2]Lothrop Stoddard, Dunia Baru Islam, Jakarta: Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat, 1965, h. 60.
[3]Ann Wang Seng, Rahasia Sukses Muslim Cina, h. 83.
[4]Rafiq Khan, Isam di Tiongkok. Terj. Sulaimansah. Jakarta: Tintaemas, 1967, h. 55.
[5]Rafiq Khan, Isam di Tiongkok, h. 55-58.
[6]Rafiq Khan, Isam di Tiongkok, h. 14.
[7]Rafiq Khan, Isam di Tiongkok, h. 16-18.
[8]Ann Wan Seng, Rahasia Sukses Muslim di Cina, h. 83-85.
[9]Ann Wan Seng, Rahasia Sukses Muslim di Cina, h 88
[10]Ann Wan Seng, Rahasia Sukses Muslim di Cina, h 83-93.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment