1/10/2020

Geguritan I Jayaprana. Sastra Klasik dari Bali Utara.

Apero Fublic.- Geguritan Jayaprana adalah sebuah karya sastra berasal dari Pulau Bali. Sebuah sastra klasik yang mengangkat tragedi yang benar-benar terjadi di Bali. Kata Geguritan berkembang di daerah Jawa Tengah sampai ke Bali. Kata dasar adalah gurit yang berarti tatahan atau coretan.

Geguritan kemudian diistilahkan untuk menyebut sebua kesastraan klasik. Sastra geguritan berbentuk puisi lama yang berkembang pada masyarakat penutur Bahasa Jawa dan bahasa Bali. Geguritan pada awalnya berupa tembang di tengah masyarakat. Kemudian terus berkembang menjadi bentuk geguritan yang memuat cerita. Geguritan yang berkembang juga memiliki corak tersendiri dibeberapa daerah berbahasa Jawa.

Geguritan Jayaprana juga berupa sebuah tembang yang berirama puisi. Ada terdapat tujuh baris kalimat setiap baitnya. Sudah lazim kata-kata dari sastra lama selalu kata-kata bermakna dengan mengibaratkan dan mengumpamakan. Objek perumpamaannya adalah alam sekitar dan kehidupan sosial waktu tersebut. Naskah asli Geguritan Jayaprana ini di ambil dari Lontar dari Gedung Kirtya di Singaraja, Bali. Kode No. Kirtya/IV d/202/3.

Penerbitan dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta 1978. Buku di labeli dengan Milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Alih aksara, alih bahasa, dan ilustrasi oleh Ketut Ginarsa. Buku ini berjumlah 52 halaman, bentuk sampul warna putih susu disertai iluminasi batik corak hitam putih dedaunan, tumbuhan, bunga-buang pada bagian atas dan bawah sampul. Judul besar Geguritan Jayaprana dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1978.

Berikut Keterangan Singkat I Jayaprana.
Sebuah kuburan yang terletak terpencil di tengah hutan sepi. Tampak terawat rapi dan dikeramatkan masyarakat sekitar. Di sekitar kuburan selalu ada taburan bunga-bunga berwarna-warni. Begitupun dengan lidi-lidi bekas dupa harum yang masih terpancang di atas sesajen.

Keadaan alam sekeliling sepi, hanya suara burung-burung yang menyambut para peziarah. Nisan yang berbentuk sederhana adalah keburan I Jayaprana. Dia seorang laki-laki yang sedang berbulan madu dengan istri tercintanya. Kemudian Jayaprana dibunuh oleh seorang utusan raja yang berkuasa pada masa itu. Raja yang terkenal lalim dan kejam terhadap rakyatnya sendiri. Tempat kejadian tersebut bernama Celuk Terima. Oleh penduduk kemudian jasad Jayaprana dibangunkan sebuah nisan.

Cerita yang sungguh-sungguh terjadi di Bali Utara itu, merupakan sebuah cerita “duka-carita” sebagai bentuk protes terhadap kesewenang-wenangan raja yang memerintah pada masa itu.

Contoh bait dari Geguritan I Jayaprana, yang diawali dengan kata “Om awignam astu sidam atau Semoga sukses tak terhalang. Awal juga diberikan pembagian atau bab, “Puh Ginada

1. Ada geguritan anyar,
Ginada anggonnya gending,
Di Gumreg Buda Kelion,
Tanggal pisan sedek dalu,
Sasih kalimah rahina,
Sri Puspa Jiwa Kawarna.

Terjemahan baik pertama ke dalam Bahasa Indonesia.
Ada nyanyian baru,
Memakai tembang Ginada,
Disusun hari Rabu Keliun Gumreg,
Tanggal satu waktu malam,
Pada bulan kelima,
Waktu menyusun nyanyian,
Tahun Saka satu enam empat.[1]

109. Temuli raris kapaca,
Salinging surate mangkin,
Ya te nani Jayaprana,
tuara sedeng bakal pupu,
majalan nani pang melah,
ne ne jani,
Konkon kola ngamatiang.

Terjemahan bait 109 ke dalam Bahasa Indonesia.
Lalu segerah dibacanya,
Adapun isi surat itu:
“Hai, kau Jayaprana,
tak layak kau pelihara,
berjalanlah kau baik-baik,
saat ini,
Keperintahkan membunuhmu.[2]

110. Sisip nanine prasangga,
Mamaden tingkahing Gusti,
Somah nanine I Nyoman,
Ia pacang juang aku,
Tong pantes cai ngelahang,
Ne ne jani,
Apang da nani nglawan.

Terjemahan baik ke 110 ke dalam Bahasa Indonesia.
Dosamu sangat berani,
Menyamai tingkah raja,
Istrimu I Layonsari,
Ia akan kuambil,
Tak pantas kau miliki,
Saat ini,
Agar jangan kau melawan.[3]

Demikianlah cuplikan dari sastra Klasik Indonesia dari daerah Pulau Bali. Indonesia negara yang sangat kaya raya dengan beragam budaya dan intelektual masa lalu. Semoga bermanfaat bagi pencinta sastra Indonesia. Mari kita bangun ulang kesastraan moderen Indonesia dengan berakar ke budaya-budaya bangsa kita.

Mengingat sekarang sangat banyak manusia-manusia perusak dengan menghadirkan kesusastraan rusak atau sastra hitam yang tidak sesuai dengan budaya asli Indonesia. Budaya-budaya rusak tersebut ditiru dari budaya asing dan adanya upaya orang-orang seagama dengan orang asing yang mempopulerkan kesusastraan rusak (destruktif).

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Sos.
Fotografer. Dadang Saputra
Palembang, 11 Januari 2020.
Sumber: Ketut Ginarsa. Geguritan Jayaprana. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1978.



[1]Ketut Ginarsa. Geguritan Jayaprana. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1978, h. 13.
[2]Ketut Ginarsa. Geguritan Jayaprana, h. 36.
[3]Ketut Ginarsa. Geguritan Jayaprana, h. 37.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment