1/04/2020

e-Biografi Singkat Mohammad Hatta (Bung Hatta)

Foto Bung Hatta sewaktu berumur 13 tahun.
Apero Fublic.- Kota Bukittinggi terletak di Provinsi Sumatera Barat. Kota yang sejuk terletak di dataran tinggi Agam. Kota ini juga dikenal dengan nama Kota Gadang. Kata Gadang dalam bahasa Melayu Minang berarti besar. Penamaan tersebut berkaitan dengan sebuah jam besar terletak di kota Bukit Tinggi, Jam Gadang. Kota Bukittinggi menjadi istimewah di Indonesia karena kota ini tempat kelahiran salah satu Pahlawan Proklamator Indonesia, Mohammad Hatta.

Mohammad Hatta yang juga dikenal dengan Bung Hatta. Lahir pada 12 Agustus 1902 dari seorang ibu bernama, Siti Salehah. Siti Salehah asli kelahiran Kota Bukittinggi. Ayah beliau bernama Haji Mohammad Jamil, dari daerah Batu Hampar di dekat Kota Payakumbuh. Kakek bernama Syaik Arsyad seorang tokoh masyarakat dan guru pendidikan agama Islam. Kakek Bung Hatta dari pihak ibu bernama Ilyas Bagindo Marah seorang saudagar.

Bung Hatta anak kedua, kakaknya seorang perempuan bernama Rafi’ah. Sewaktu dilahirkan Bung Hatta diberi nama Athar, yang berarti harum. Panggilan sehari-hari dipanggil Atta. Dari paggilan Atta itulah lama kelamaan namanya berubah menjadi Hatta. Kemudian dilengkapi dengan Mohammad Hatta.

Ayah kandungnya meninggal ketika Bung Hatta berumur tujuh bulan. Beberapa waktu kemudian ibu beliau menikah lagi dengan seorang pedagang berasal dari Palembang, bernama Masagus Haji Ning. Haji Ning salah seorang dari rekan perdagangan kakek Bung Hatta. Dari pernikahan ibunya, beliau mendapat empat saudara perempuan.

Budi pekerti dan ahlak baik Bung Hatta telah tampak sejak kecil. Dia tidak pernah berbuat menjengkelkan keluarganya. Hidup dietngah keluarga terhormat dan kaya. Beliau tidak menjadi sombong dan menjauh dari rakyat kecil. Berdisiplin, mandiri dan yang paling luar biasa beliau hidup sederhana dan hemat. Bung Hatta sudah sejak kecil gemar membaca buku. Buku sudah menjadi teman dan sahabat beliau.

Dia tidak suka keluyuran dan berbuat hura-hura dan sia-sia. Kedisiplinannya tercipta secara alami dan menjadi watak pribadi beliau. Waktu mengaji, sekolah dan bermain dia seimbangkan. Di sekitar rumahnya tidak banyak anak yang sebaya dengannya. Sehingga dia kurang bermain di luar rumah. Besifat pendiam, serius dan jarang bersenda gurau besama siapapun. Senyumnya penuh arti dan pandai menyembunyikan perasaannya.

Suatu soreh Bung Hatta pulang kesorean saat magrib. Kakeknya menghukum beliau dengan berdiri dibawa sebatang pohon. Saat pamannya menjemput untuk mengajak pulang. Bung Hatta kecil menolak. Dia ingin kakeknya yang membebaskannya dari hukum dan baru dia mau keluar dari garis lingkaran hukum yang dibuat kakeknya.

Kakek dari pihak ayahnya (Syaik Arsyad), menginginkan beliau menjadi ulama. Beliau memanggil sang kakek dengan panggilan Ayah Gaek.  Sedangkan kakek dari ibunya, Ilyas Bagindo Marah yang dipanggilnya Pak Gaek. Mengingkan beliau masuk ke sekolah umum. Pendidikan beliau dan kakaknya Rafi’ah dimulai dari Sekolah Rakyat untuk Bumi Putra.

Setelah belajar selama tiga tahun beliau dipindahkan kesekolah khusus orang Belanda atau anak bangsawan yang dianggap sederajad dengan orang Belanda, Europese Lagere School  (ELS). Tidak banyak anak-anak asli Indonesia yang dapat bersekolah di ELS, dan tamat tahun 1916.

Bung Hatta kemudian melanjutkan sekolah yang Bahasa Pengantaranya Bahasa Belanda, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat SMP zaman sekarang. Hatta kecil mulai mengenal paham kebangsaan saat mendapat pelajaran sejarah di MULO. Pada tahun 1918 Nazir Datuk Pamuncak salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia. Pulang dari Batavia, bermaksud untuk pergi ke Belanda melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden.

Karena dia sudah selesai sekolah di HBS (Hogere Burgerschool), di Batavia (Jakarta). Karena meletus perang Dunia Pertama maka rencana Nazir Datuk Pamuncak ditunda. Sebelumnya Nazir dan rekan-rekan HBS sudah mendirikan organisasi pemuda “Jong Sumatranen Bond” pada 9 Desember 1917. Nazir Datuk Pamuncak ingin mendirikan cabang dari organisasi pemuda tersebut di Kota Bukit Tinggi.

Dengan bantuan Marah Sutan sekretaris Persatuan Sosial di Padang bernama Sarekat Usaha menyelenggarakan suatu rapat umum dengan para pelajar sekolah-sekolah menengah di Padang dan Bukit Tinggi. Bung Hatta ikut menghadiri acara tersebut. Pertemuan yang tidak terlupakan oleh Bung Hatta. Pidato Nazir Datuk Pamuncak tentang kebangsaan dan kebangkitan Asia. Yang membuat jiwa kebangsaan Mohammad Hatta memuncak.

Setelah selesai sekolah MULO, beliau diizinkan ibunya sekolah di Jakarta. Masuk sekolah perdagangan, Prins Hendrik School (PHS).  Saat menjadi siswa beliau belajar tentang perdagangan dengan seorang pengusaha, Ayub Rais. Belajar dari pengalaman dan bertukar pikiran tentang tata usaha. Dalam masalah politik Bung Hatta juga mulai aktif mengikuti perkembangan politik masa itu. Seperti peristiwa Insiden Cimareme.

Pemerintahan Kolonial Belanda menginstruksikan agar penduduk menjual sebagian beras pada pemerintah. Haji Hasan menolak menjual karena daerah beliau juga kekurangan beras. Maka pemerintah mengirim serdadu dan menembak membabibuta kedalam rumah pak Haji. Sehingga pak haji meninggal dunia. Oleh media pro pemerintah dituduhkan pada perlawanan Organisasi Syarikat Islam. Haji Hasan dijadikan kambing hitam sekaligus untuk menakuti-nakuti rakyat. Padahal masalah  itu tidak ada hubungannya dengan Syarikat Islam sama sekali.

Pengkambing hitaman karena Haji Hasan anggota dari Syarikat Islam. Peristiwa ini dikenal dengan, Insiden Syarikat Islam Seksi B. Maka sejak saat itu Pemerintahan Kolonial Belanda mendapat alasan untuk memusihi Syarikat Islam. Banyaknya peristiwa ketidakadilan tersebut membuat Bung Hatta terpanggil untuk terjun memperjuangkan kehidupan rakyat dan kemerdekaan.

Pada tahun 1921 Bung Hatta menyelesaikan sekolah di PHS. Dia berencana kuliah di Belanda. Seorang gurunya memberi saran untuk bekerja saja di perusahaan milik Belanda. Dengan ijazah diploma yang dia miliki dia sangat mudah mendapat pekerjaan dengan gaji besar. Kemudian beliau bertemu dengan seorang gurunya De Kock.

Nasihatnya, Mencari uang itu gampang, tapi kesempatan menuntut ilmu yang lebih tinggi tidak selalu ada. Maka Bung Hatta mantap dan melanjutkan studi di Belanda. Bung Hatta mendapat beasiswa dari Yayasan Van Depenter untuk melanjutkan studi ke Belanda. Tapi beasiswa baru dapat dia terimah setelah dia berada di Belanda. Untuk ongkos keberangkatan dia harus mengusahakannya sendiri.

Karena terbiasa hidup hemat dan suka menabung bunghata memiliki banyak simpanan. Kemudian keluarga juga membantu keuangan Bung Hatta. Di Belanda masuk Sekolah Tinggi Perdagangan atau Handles Hooge School di Rotterdam. Bersama rekan-rekan beliau mendirikan organisasi Perhimpunan Indonesia. Tahun 1926 dia terpilih menjadi ketua Perhimpunan Islam.

Dalam kegiatan aktif pergerakan kebangsaan. Salah satu dari kegiatan Perhimpunan Indonesia mengikuti konres internasional di Brussels (Belgia), dari tanggal 10 sampai 15 Februari 1927. Perhimpunan Indonesia mengirim, Achmad Soebardjo, Gatoto Tarunamihardja, dan Abdul Manap. Pertemuan tersebut mendapat sorotan dari surat kabar Belanda.

Pada tanggal 23 September 1927 Bung Hatta dan tiga orang rekan ditangkap dan di penjarakan di Casuaristraat. Salah satunya rekan dari Bukit Tinggi Nazir Datuk Pamuncak. Dakwaan adalah, pertama menjadi anggota organisasi terlarang. Kedua terlibat pemberontakan, dan ketiga menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda.

Dalam bulan Juli 1932, Bung Hatta berhasil lulus ujian doktoral dan mendapat gelar akademisi Sarjana Ekonomi. Pulang, beliau naik kereta menuju Genoa sebuah pelabuhan di Italia Selatan. Dari sana beliau naik kapal Jerman menuju Singapura. Dari Singapura beliau naik Maskapai Pelayaran Belanda dan tiba di Tanjung Periuk pada Agustus 1932. Sebelas tahun beliau merantau di Negeri Belanda.

Setiba di Indonesia, kaum pergerakan nasional menyambut beliau. Sebuah partai non kooperatif PNI-Pendidikan yang dipimpin Sutan Syarir menyerakan mandat kepemimpinan pada Bung Hatta. Bung Karno sudah bebas dari penjara yang kesekian kalinya.

Dia masuk Partai Perindo dan berusaha menggabungkan dengan PNI-Pendidikan, tapi gagal. Bulan November 1932 beliau pulang ke kota kelahiran. Tapi kegiatannya terus di ikuti Belanda dan dia hayan bertahan satu setengah bulan di sana. Sementara itu, Dinas Intelijen Politik Belanda semakin keras mengawasi.

Setelah Bung Karno di buang, kini giliran Bung Hatta dan rekan-rekan juga dibuang ke Boven Digoel di Papua. Bung Hatta dan enam rekannya bertolak dari pelabuhan Tanjung Periuk dengan kapal Melchior Treub. Hatta dan Syarir ditempatkan di kelas dua. Sedangkan lima rekan lainnya ditempatkan di atas dek kapal hanya beralaskan tikar. Tapi dalam pelayaran mereka lebih suka di atas dek kapal bersama teman-teman pembuangan lainnya.

Dalam pelayaran Bung Hatta berkata, “Kita harus berpendirian, di mana pun kita berada. Kita masih tetap berada di tanah air kita sendiri. Aku bisa hidup di mana pun dengan perasaan gembira. Bila alam luas dipersempit orang untuk kita, tegakkan alam itu di dalam dada kita sendiri.

Untuk aktif berpolitik memang tidak dapat dilakukan di tanah pembuangan. Tapi itu tidak perlu disesalkan. Kita harus yakin,jika ada hari kemarin, pasti akan ada hari esok. Terbanglah setinggi-tingginya selagi sayap masih bisa dikembangkan. Tetap tawakal dan persiapkan diri untuk hari yang akan datang.”

Pada akhir bulan Januari 1936, Bung Hatta dan Syarir dipindahkan ke Banda Neira di selatan Ambon. Tiba pada 10 Februari 1936. Waktu penduduk disana baru 3.000 orang. Terdapat Sekolah Dasar Belanda, sekolah lanjutan tiga tahun dan sekolah lanjutan, Sekolah Melayu 5 Tahun. Di pulau kecil tersebut mereka berdua bertemu dengan Mr. Iwa Kusumasumantri yang telah lebih dahulu dibuang Pemerintahan Kolonial Belanda.

Pada 8 Desember 1941 Jepang mengumumkan perang dengan Belanda. Perintah telegram dari Jakarta memerinthkan Hatta dan Syarir dipindahkan ke Sukabumi. Waktu itu tentara Belanda sudah menghadapi penyerangan Jepang dari utara.

Di bagian timur Jepang sedang berperang melawan, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Cina, Belanda, dan Australia. Di daratan Eropa, Jerman sedang menghadapi seluruh kekuatan di Eropa. Pada 1 Februari 1942, pesawat terbang Catalina datang menjemput Hatta dan Syarir. Kemudian terbang menuju Surabaya.

Tangga 2 Februari mereka di bawa ke Jakarta dengan kereta api, lalu ditempatkan di sebuah asrama polisi. Pada 9 Maret 1942 Belanda menyerah pada Jepang. Kolonel Ogura datang ke Sukabumi menyatakan kalau Pemimpin Pemerintahan Militer Jepang ingin bertemu dengan beliau.

Sokarno pulang dari pembuangan dan tiba di pelabuhan pasar ikan Juli 1942, Jakarta. Mereka yakin kalau Jepang tidak akan bertahan lama karena peperangan dengan Sekutu. Maka mereka akan menggunakan taktik bekerja sama tapi tetap bergerak di bawah tanah.

Menggerakkan rakyat untuk menyambut perubahan suhu politik dunia. Waktu berlalu, pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang resmi menyerah pada Sekutu setelah dua kota besar di Jepang di Bom Atom, Amerika Serikat.  Pada tanggal 16 Agustus Bungkarno dan Bung Hatta di bawak pemuda ke Rengasdengklok di daerah Karawang.

Perundingan akhirnya memutuskan melakukan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 atau 2605 menurut tahun Jepang mewakili bangsa Indonesia Soekarno-Hatta. Perjuangan selanjutnya melawan Belanda yang hendak menjajah kembali. Maka Bung Hata mulai memainkan penananya di kanca politik Nasional dan Internasional.


Bung Hatta yang sudah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Akhirnya menikah diumur beliau yang sudah menginjak 43 tahun. Pengorbanan yang sangat besar beliau merelakan hidup dan mengenyampingkan kepentingan pribadi demi Bangsa Indonesia.

Adakah yang relah berkorban demikian. Setelah beliau menikah, dikaruniai tiga orang putri, yaitu Meutia Hatta, Halidah Hatta, Gemala Hatta. Ibu Meutia Hatta pernah menjadi mentri di era kepemimpinan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mohammad Hatta adalah salah satu tokoh pendiri bangsa Indonesia. Seorang muslim yang taat dan disiplin.

Paham politik beliau berhaluan nasionalis demokratis. Bung Hatta anti terhadap paham komunisme sejak beliau terjun di dunia pergerakan nasonal. Beliau pernah mengusulkan berdirinya Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII), namun tidak di izinkan oleh rezim otoriter Orde Baru dibawa Soeharto.
Foto masa kecil Bung Hatta yang sangat menyukai naik jenis kereta kuda yang tidak beratap.
Foto kenangan Bung Hatta dengan keluarga, ibu, adik-adik dan kakaknya sebelum dia berangkat ke pembuangan di Boven Digoel, Papua.

Oleh. Joni Apero

Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 5 Januari 2020.

Sumber: Syahbuddin Mangandaralam. Apa dan Siapa Bung Hatta. Jakarta: Rosda Jayaputra. Tanpa tahun terbit.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment