Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

12/21/2019

Mengenal Kawasan Tanah Renah

Apero Fublic.- Memahami ilmu geografis suatu wilayah sangat diperluka untuk pembangunan-pembangunan jangka panjang. Selain itu, pemahaman geografis permukaan bumi suatu kawasan juga berguna untuk pertahanan negara. Untuk mendukung strategi perang tentara.

Dalam hal ini, akan membahas tentang geogfafis wilayah tanah yang diistilahkan oleh masyarakat Melayu dengan tanah renah. Dalam penyebutan penduduk mengistilahkan dengan hutan renahtanah renahdaerah renah atau renah saja. Untuk pemahaman penulisan, dibakukan dengan kawasan renah.

Pemilihan kata kawasan karena mewakili suatu tempat di daerah tersebut. Sebab belum tentu di daerah tersebut semuanya tanah renah. Kalau pemakaian kata daerah renah pengertian akan bertabrakan dengan penyebutan administrasi. Kata renah digunakan sebagsi nama tempat terletak di daerah provinsi Jambi, yaitu Renah Kemumu.

Kawasan renah adalah suatu kawasan tanah yang cukup luas. Terletak diantara sungai-sungai besar, sedang atau kecil. Dimana saat musim hujan kawasan ini sering tergenang banjir. Tapi banjir tersebut adalah banjir alami. Karena curah hujan tinggi, yang membuat air tidak tertampung lagi oleh badan sungai.

Juga tidak lagi tertampung oleh tempat-tempat penampungan air alami lainya, seperti lebungrawa-rawa, paya, benca dan bencani di kawasan renah. Sehingga air naik kedaratan, lalu menyatu dengan air sungai dan tempat-tempat penampungan air alami. Terbentuklah kawasan banjir yang luas, atau kawasan renah.

Banjir alami ini akan surut dan kering saat sungai induk surut. Lama banjir bisa sehari, kadang sampai satu minggu, tergantung cuaca. Apabila cuaca terus hujan berskalah luas, air akan bertahan. Banjir hujan atau banjir alami biasanya terjadi empat sampai lima kali dalam satu bulan. Karena pola cuaca tropis bilamana satu minggu hujan curah tinggi, maka air akan banjir. Siklus banjir alami terjadi, mulai dari masuk musim penghujan sampai mejelang musim kemarau. Umumnya terjadi antara bulan September-Juli.

Polah banjir alami:  Diawali dengan hujan yang berkelanjutan dan deras. Baik hujan di daera hilir, setempat, hulu sungai, perbukitan dan pegunungan. Kemuidan air sungai induk naik. Lalu diikuti oleh air, rawa-rawa, Lebak dan sungai lainnya. Air terus naik ketika suplai air hujan terus datang. Di kawasan tenah yang terletak di antara sungai-sungai akan terjadi banjir seiring air hujan yang terus turun. Sehingga terciptalah lautan air yang luas. Seluruh kawasan tanah renah terendam air banjir alami.

Setelah banjir terhampar luas menggenangi. Cuaca akan menjadi panas atau cerah. Saat ini terjadi penguapan air. Sungai induk surut dan diikuti sungai-sungai lainyya. Maka kawasan renah yang sedang banjir airnya juga menyusut dan kering. Setelah itu, akan terjadi hujan-hujan kembali dan selalu diikuti banjir lagi. Ukuran banjir tidak selalu sama, kadang meluas dan dalam. Kadang juga tidak terlalu dalam, sedang dan kecil. Sangat tergantung pada curah hujan. Kalau hujan selama sepuluh hari tidak berhenti-henti. Alamat banjir besar di kawasan tanah renah.

Kawasan renah bentuk permukaan tanahnya datar dan subur. Banyak terdapat sungai-sungai kecil dan sedang. Jenis penampungan air alami seperti paya-paya,[1] lebung,[2] benca,[3] bencani.[4] Selain itu, di tengah kawasan renah ada satu tempat tanah agak tinggi. Luasnya kurang lebih satu atau dua hektar.

Oleh masyarakat Melayu dinamakan dengan tanah kempungan. Dinamakan kempungan karena saat terjadi banjir alami (hujan), tanah tersebut terkepung air. Mirip pulau di tengah lautan. Masyarakat saat terjadi banjir sering mendatangi tanah kempungan, untuk berburu.

Biasanya ada hewan buruan yang terkurung, seperti kancil, kijang atau rusa. Hewan yang terkurung belum sempat pindah ke tanah pematang saat akan banjir. Kosa kata kempungan berasal dari kata kepung. Kalau dicermati berarti kata kepung adalah kosah kata asli dari kebudayaan Melayu atau Indonesia.

Perbedaan kawasan renah dengan kawasan rawa-rawa. Yaitu, kawasan renah terendam air dan terendam banjir hanya saat intensitas curah hujan tinggi sehingga badan sungai tidak lagi dapat menampung air hujan. Lama terendam air banjir hujan sehari atau paling lama satu minggu. Kemudian air surut dan kering kembali. Sehingga dapat dijadikan tempat bertani oleh penduduk. Perkebunan karet, kelapa sawit, berladang menanam padi dan lainnya.

Kalau rawa-rawa terendam air selama musim penghujan dan tidak mengering kecuali saat musim kemarau dimana hujan terhenti. Selagi masih ada hujan rawa-rawa tidak kering. Ada juga istilah antonim dari kawasan renah, yaitu pematang. Pematang adalah kawasan tanah yang tidak terkena banjir alami atau banjir hujan. Pematang boleh juga disebut dataran tinggi. Yang bersebelahan dengan kawasan renah.

Kawasan renah ini menyebabkan salah paham dari penduduk di kota atau orang yang lahir dan besar diperkotaan. Sebab mereka tidak mengenal geografis alami tempat tersebut. Mereka hanya tahu banjir saja. Tapi tidak mengenal yang dinamakan kawasan renah. Banjir alami ini bukan disebabkan rusaknya hutan atau lingkungan. Tapi bentuk kenormalan dan siklus alami musim hujan. Justru kalau tidak ada lagi banjir dikawasan renah ini. Berarti alam sudah rusak secara global.

Karena sangat berkaitan dengan sistem normal cuaca bumi. Tidak ada gunanya mengatasi banjir alami atau banjir hujan ini, dengan cara menanam pohon disekitar tempat tersebut. Apalagi menanam pohon di hulu atau perbukitan, gunung. Semua itu sangat salah kapra.

Para awak media pun selalu menuduh pembuang sampah sembarang, kerusakan lingkungan dan sebagainya, drainase dan dijadikan senjata politik. Memang pembuangan dan penumpukan sampah di sungai ada andil dalam banjir. Kalau sampah sudah menyebabkan sungai tersendat dan buntu. Walau sungai di bersihkan, tetap tidak akan menyelesaikan masalah banjir alami atau banjir hujan.

Hampir semua kota-kota di Indonesia terletak di kawasan renah dan rawa-rawa. Di perkotaan kawasan renah ini dijadikan tempat pembangunan. Mulai dari pembangunan pasilitas umum, rumah penduduk, perkantoran dan jalan. Celakanya lagi bangunan zaman sekrang adalah bentuk depok. Atau langsung dibangun diatas permukaan tanah.

Masyarakat Melayu masa lalu pada umumnya membangun rumah tinggal menggunakan bangunan panggung. Untuk mendiami kawasan renah yang subur. Namun budaya ini tidak dimengerti oleh masyarakat kota terutama di daerah Pulau Jawa. Sebab mereka mengikuti pola depok bangunan orang di Jawa yang tinggal di dataran tinggi (pematang).

Sebagai contoh banjir yang tidak sudah-sudah adalah Kota Jakarta. Sebab pemimpin dan warga masyarakat tidak mengerti dengan istilah kawasan renah. Dari mulai masa Kolonial sampai sekarang. Kawasan renah dibangun, kemudian tempat penampungan air alami ditimbun dengan tanah. Meliputi sungai-sungai, rawa-rawa, paya, lebung, benca, bencani.

Saat masa datangnya banjir alami dari curah hujan tinggi. Maka banjir itu meminta kawasan renah untuk ditempati. Ketika kawasan renah banjir itu adalah hal alamiah. Apabila ada penimbunan maka akan ada pergeseran air banjir alami ke wilayah sekitar. Teori rendaman batu, coba ambil air setengah baskom. Kemudian masukkan batu satu demi satu. Maka air baskom akan bergerak naik.

Mengapa masyarakat membangun di kawasan renah??. Sebab saat intensitas hujan sedang dan ringan. Keadaan kawasan tanah renah, tidak terendam air. Walau hujan lebat tapi tidak berkelanjutan juga tidak akan menimbulkan banjir. Tidak ada yang salah dan aneh di kawasan renah. Ketika intensitas hujan tinggi dengan curah hujan besar.

Saat itulah fungsi kawasan renah dipakai alam untuk menampung air hujan yang sangat banyak itu. Penduduk pun kemudian mengetahui kalau tempat itu sering banjir. Maka mulailah pembangunan dengan minimbun pondasi yang tinggi. Ada juga yang menimbun lebung, sungai kecil, lubang-lubang, rawa-rawa, benca dan bencani

Menimbun lekukan-lekukan tanah agar tanah menjadi rata. Semua timbunan tersebut tidak menghilangkan tuntutan air hujan untuk jatuh dan menempati alam. Sehingga air yang dulu telah jatuh di setiap  tahun seumur bumi ini. Akan bergeser menggenangi kawasan lain.

Tidak dapat dibayangkan saat seluruh kawasan renah, dan tempat-tempat penampungan air alami telah ditimbun. Maka dua kali lipat pola air alami yang bergerak atau bergeser. Lalu masyarakat, pemerhati lingkungan, pemerintah, awak media berkata, "lingkungan benar-benar telah rusak. Terkadang saling menyalakan padahal mereka semua tidak tahu. Ada yang berkata: "Dahulu disini tidak banjir, sekarang telah banjir. "Dahulu hanya sebelah sana banjir, sekarang sudah sampai kesini."

Mengapa terjadi demikian, karena air dikawasan renah, meliputi sungai-sungai kecil, lebung, benca, bencani, paya, dan seluruh kawasan renah tempat penampung alami luapan air sungai sudah di timbun dengan tanah dan pondasi bangunan. Masa atau volume air hujan itu sama sejak seumur bumi ini. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Hanya waktu siklusnya yang berbeda.

Hanya satu metode untuk mengatasi banjir kawasan renah. Dengan membangun tempat penampungan-penampungan air. Lalu dipadukan dengan drainase yang terkoneksi. Seperti dari selokan, saluran-saluran air dan kanal-kanal yang lancar dan terpadu. Lalu dialirkan ke suatu penampungan raksasa.

Dari pada pemerintah membangun kawasan taman dengan pohon-pohon. Dengan maksud untuk resapan air mengandalkan hisapan akar pohon. Yang tepat adalah membangun lebung-lebung atau danau-danua kecil di kawasan-kawasan yang terdeteksi kawasan renah (sejarah geografis). Untuk pengganti tempat penampungan air alami yang telah ditimbun oleh pembangunan.

Kawasan renah di Indonesia harus dipetakan. Bermanfaat, untuk BMKG memberikan peringatan apabila intensitas hujan akan tinggi untuk warga yang tinggal di kawasan renah. Membuat UU pembangunan dengan sistem bangunan panggung di kawasan renah. Demi kebaikan dan pelestarian lingkungan hidup. Untuk peta geografis pertahanan dan keamanan oleh TNI. Untuk mengecek kelayakan pemberian bantuan bencana banjir.

Kadang karena awak media yang awan situasi kawasan. Saat mereka melihat banjir di sebuah pemukiman penduduk di kawasan renah yang luas. Mereka akan memberitakan bencana banjir. Saat video dan foto muncul di media. Maka yang tampak seakan-akan bencana banjir besar. Yang sangat merugikan, akhirnya Pemerintah Daerah merasa malu. Sehingga mengucurlah bantuan yang salah kapra pada kawasan itu. Sehingga peluang korupsi juga terbuka.

Untuk pemerintah pusat yang akan membangun kawasan ibu kota negara baru di Kalimantan. Dimana pola alam sama dengan alam Sumatera. Agar meneliti kawasan sebelah mana yang menjadi kawasan renah, di lokasi calon ibu kota negara. Sehingga menghindari pembangunan di tempat tersebut. Studi penelitian kawasan renah dapat dilakukan selama musim hujan.

Jangan hanya berpatokan misalnya bekas pemukiman, apalagi pemukiman rumah panggung. Jangan melihat misalnya bekas perkebunan karet, sawit, buah-buahan. Karena tanaman tersebut tidak terganggu oleh banjir alami tersebut. Banyak yang tertipu dengan kawasan renah.

Karena pada umumnya keadaan geografis Indonesia yang tropis memiliki kesamaan pola alam. Studi pada tulisan ini saya ambil di kawasan renah di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Dipelajari sebagai anak desa yang akrab dengan lingkungan tanah renah.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Pd.
Palembang, 22 Desember 2019.


[1]Paya adalah tempat penampungan air alami yang terletak dikawasan renah. Berbentuk memanjang seperti sungai. Tapi airnya dangkal dan tergenang. Air baru mengalir saat hujan lebat. Paya juga dialiri oleh air banjir alami di kawasan renah. Kata paya pengindonesiaan dari kata paye.
[2]Lebung adalah bentuk penampungan air alami di dalam hutan-hutan torpis terutama di kawasan renah. Bentuk lebung melingkar cukup luas. Berisi air saat musim hujan dan kering saat kemarau. Lebung mirip danau tapi kecil dan airnya tergantung dengan air hujan. Lebung juga dilalui banjir alami saat musim hujan. Sehingga lebung selalu banyak ikan-ikan.
[3]Benca juga tempat penampungan air alami. Berbentuk melingkar atau memanjang. Lebar dari ukuran satu meter sampai lima meter persegi. Terletak di kawasan hutan renah. Ada yang dilalui banjir alami kawasan renah ada yang hanya dilalui oleh aliran air hujan. Juga banyak ikan-ikan yang datang.
[4]Bencani juga tempat penampungan air alami di hutan-hutan renah. Berbentuk memanjang seperti sungai tapi surut dan dangkal. Lebarnya biasanya kurang lebih satu meter. Kedalaman hanya dari sepuluh senti menter sampai satu meter. Airnya mengalir jerni menuju anak-anak sungai di sekitar kawasan tersebut. Kalau sudah di ujung atau hulunya, bencani biasanya hanya berupa mata air yang mengalir di celah-celah akar pohon.


By. Apero Fublic

Sepiyani. Cerita Cinta Muslimah

Apero Fublic.- Aku tulis puisi ini untuk menyapa angin yang tersesat diserata bumi. Angin yang menyapa musim-musim yang akan datang. Pesan hari ini, untuk hari yang akan datang. Semoga tersampaikan pada mereka-mereka.

Ada sudut kisah yang tercerita diantara kita, para muslimah. Cerita yang sudah dicoba untuk dihapus oleh masa. Namun tidak pernah ada penghapus yang mampu menghapus. Sebab iman adalah anugerah yang tidak pernah mati.

Cerita Cinta Muslimah.

I miss you.
Ungkapan rindu yang lalu.
Rindu yang lama bersemayam.
Di ujung senja hati yang lapang.
Telah bersemi kisah cinta dan kenangan.
Dalam diam.

Makna cinta adalah keindahan.
Keindahan yang tiada batasnya.
Walau.luka, walau kecewa.
Sebab cinta bukan untuk memaksa diri.
Atau alasan untuk kita menangis.
Cinta Allahlah yang abadi.

Cintailah dengan sepenuh hati.
Cintailah karena Allah.
Berharap hanya padanya.
Pada sang pembolak-balik hati.

Kita semua menginginkan cinta.
Aku, kau, dia dan kita semua.
Cinta dalam diam seorang muslimah lebih baik.
Daripada cinta yang melanggar norma agama.
Mengumbar mesrah tiada  guna.
Media sosial mejadi pamer aibnya.
I miss you.Kita semua merindukan.
Merindukan cinta yang sesungguhnya.

Sedikit tentangku. Namaku Sepiyani, lahir di Kabupaten Banyuasin, 11 April 2004 yang lalu. Aku menyukai warna merah. Bagiku warna merah, selain tanda berani, juga tanda kejujuran. Berani jujur walau salah. Berani jujur walau dibenci.

Kalau makanan kesukaanku atau kuliner favorit adalah bakso. Sekarang aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), di kabupatenku. Moto hidupku, “tetap bahagia walau aku selalu diremehkan orang. Bagiku kesempurnaan itu hanyalah milik Allah. Pesanku pada semua, "jadilah pribadi yang menghargai orang lain dan jangan sekali-kali meremehkan orang. Kalau mau dihargai orang. Hargai orang terlebih dahulu. Ingat, hukum karma itu ada.

Terima kasih sudah mampir pada halaman puisiku di Apero Fublic. Terima kasih juga sudah membaca puisiku. Maaf masih dalam proses belajar. Kalau ada saran yang baik coba tuliskan pada komentar. #wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatu.

Oleh. Sepiyani
Editor. Selita. S.Pd.
Banyuasin, 21 Desember 2019.
Catatan: Untuk teman-teman yang ingin menyumbangkan karya puisinya. Boleh juga karya tulis lainnya. Dapat mengirimkan ke Apero Fublic. Jangan biarkan karya terbaikmu berakhir dibuku harianmu saja. Terbitkan dan semoga menginspirasi semua orang. kontak; joni_apero@yahoo.com. gmil: fublicapero@gmail.com. Line: Apero Fublic. Linkedin: Apero Fublic. Instagram: @apero_fublic. Facebook: Apero Fublic.

Sy. Apero Fublic

12/20/2019

Makna di Balik Chet, Sudah Makan, Belum???

Apero Fublic.- Sebelum masuk pembahasan, kita bahas dahulu pengertian dari kata chet. Kata chet diambil dari kosa kata bahasa Inggris, chat. Yang bermakna obrolan dalam bahasa Indonesia. Kata chat dieja dengan chet. Lalu turunan kata yang menjelaskan peristiwa yang sedang terjadi, chating. Kalau kamu belum paham juga. Kata chet dimaknai oleh masyarakat, sama saja dengan pesan singkat (SMS) atau inbox. Yang jelas sejenis itulah secara umum.

Kamu mungkin punya teman (cewek atau cowok) yang selalu chet yang tidak penting. Misalnya, assalamualikum adik/kakak. Lagi Apa?. Trus dijawab, “lagi santai aja atau dutai (duduk santai). Kemudian dia chet lagi, “Sudah makan belum? Atau  “jangan lupa makan ya, nanti kena sakit maag. Ada juga chet tidak penting lagi, “Uda mandi belum?. Kalau chet malam, “jangan tidur malam-malam ya, dik/kak?. Chet besoknya ditanyai lagi. “sudah mandi belum?. Capekkan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Adalah pertanyaan basa-basi yang umum di Indonesia. Baik itu chet melalui media sosial, SMS, whatsApp, telegram dan sebaginya. Kalau kita pikir-pikir kenapa coba. Menanyakan urusan pribadi kita, dan hal sepeleh begitu, “sudah makan belum?. Padahal kita ini sudah besar, sudah kuliah, sudah sarjana, ada juga sudah kerja.

Lucu juga saat cowok bertanya pada cewek, sudah makan belum.  Padahal si cewek masak trus dirumahnya. Pokoknya kita itu tidak perlulah ditanyakan sudah makan atau belum. Kita ini sudah besar, kalau lapar pasti makanlah.  Kalau gerah, badan kotor mandi. Pengen juga balas, “hehhh, nasi dan makanan di rumah saya banyak, gak pernah habis. Jadi tidak perlu ditanyakan sudah makan atau belum. Tapi kata itu cuma di dalam hati loh, gak berani berkata begitu.

Kita balas sebab tak enak. Sebagai manusia berperasaan dan berakal sehat. Kesal juga chet dan pesan cuma bertanya seperti itu-itu saja. Kalau  cuma sekali tidak mengapalah. Ini kadang hampir tiap hari, tanya dan ingati. “sudah makan atau belum?. Dijawab belum. “makanlah, dek/kak nanti sakit. Gak baik untuk lambung. Ehhhh, sudah jadi dokter juga dia. Kulia jurusan sejarah juga, tau apa tentang sakit dalam.

Begitupun dengan chet-chet tema lainnya. Bilang jangan tidur malam-malamlah. Padahal memang siangnya banyak tidur jadi malam susa tidur. Tanya masalah mandi. "Sudah mandi belum? Memang kita gak pernah mandi apa. Gak lucu istilah orang zaman now.

Memang realita, begitulah isi pesan (SMS) atau chet basa-basi di Indonesia. Begitu juga saat menelpon atau video call. Tapi mengapa orang Indonesia budaya begitu. Apa mereka tidak ada sesuatu yang lain diucapkan atau ditanyakan. Kalau orang Mesir ditanya sudah mandi apa belum?, mereka tersinggung dan marah. Sebab mandi adalah urusan pribadi, kenapa juga coba bertanya begitu.

Aku sering memikirkan hal demikian, mengapa  kebiasaan chet orang Indonesia demikian. Suatu hari aku memperhatikan kehidupan sekitar. Saya perhatikan tetangga-tetangga, keluarga-keluarga. Kita perhatikan, saat ibu-ibu membujuk anak-anaknya agar makan. Ada anak yang disuapin, lalu sendok diterbangkan seperti pesawat terbang, ngeong-ngeong gitu. Baru anaknya membuka mulut dan makan. Ada ibu-ibu yang sambil berlari-lari mengejar anak-anaknya agar makan. Saat kita pulang sekolah atau kuliah. Ibu kita berkata, "makanlah dahulu, baru tidur. Ibu masak makanan kesukaan kamu, makanlah.

Kalau masih TK atau PAUD ibu-ibu juga selalu buatkan bekal untuk anak-anaknya. Aku ingat dahulu waktu masih TK (Taman Kanak-Kanak). Kalau kita bertamu keruma teman, saudara kita. Kita diajak makan atau di suguhi makanan. Kalau saya amati dari semua ini. Ternyata pertanyaan "sudah makan belum?? atau jangan lupa makan!!. Adalah perkataan rutin ibu-ibu pada anak-anaknya. Karena ibu sangat menyayangi anak-anaknya. Selalu berusaha menjaga makan putra-putrinya. Makan akan menyehatkan tubuh dan sebagai kebutuhan pokok manusia.

Begitupun dengan pertanyaan sepele lainnya. Seperti, sudah madi belum? Jangan tidur malam-malam!!. Hati-hati di di jalan!. Semua juga perkataan ibu pada anak-anaknya. Kalau kita lagi nonton atau bermain henpon malam hari. Ibu kita bilang, "jangan tidur malam-malam. Besok mau sekolah nanti terlambat. Kata-kata ”nanti terlambat" hanya alasan saja. Sebab kalau suka bergadang nanti sakit. Ibu tidak mau anaknya sakit. Apalagi kalau main henpon sambil berbaring, bisa rusak mata.

Jadi kalau kamu punya teman yang suka tanya-tanya sudah makan apa belum. Sudah mandi apa belum. Jangan tidur malam-malam. Jangan merasa aneh dan marah, ya. Itu tandanya dia peduli dan sayang padamu. Kalau seorang cewek, punya teman cowok yang suka tanya-tanya sudah makan apa belum. Jawaban yang tepat bukan "sudah atau belum." Tapi jawaban yang tepat itu “Kak, kalau mau taa’ruf dengan adek. Adek sudah siap. Datang kerumah, gihh!! temuai bapak. Gitu.

Begitupun dengan cowok, kalau punya teman cewek yang suka tanya-tanya hal sepele seperti itu. Jawabnya yang tepat. “Dek, sudah siap apa, ibadah sama kakak!!!. Nikah yuk.

Kalau punya sahabat yang suka chet atau SMS Seperti itu. Tandanya sahabatmu menyayangimu. Tentu persahabatan di dunia cewek-cewek, atau antara cewek dan  cowok. Kalau cowok sama cowok, kan jadi tanda tanya!!. Jangan pula langsung baperan dan salah anggapan, kalau ada cewek/cowok yang chet demikian. Ada baiknya biarkan semua mengalir seperti air. Sekarang tahukan kamu makna dari chet yang sepele itu. Chet tanda peduli dan tanda sayang. Sayang belum tentu cinta. Tapi kalau cinta sudah pasti sayang.
#Salam cerita kita. Kirimkan cerita seru harianmu ke Apero Fublic.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 20 Desember 2019.
Editor. Desti. S. Sos.
Sumber foto. Internet.

Sy. Apero Fublic

12/18/2019

Legenda Asal-Usul Nama Desa Gajah Mati

Apero Fublic.- Desa Gajah Mati sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Suatu ketika aku bertandang kerumah almarhumah Puyang. Puyang sempat berandai-andai. Tentang asal usul nama Desa Gajah Mati. Aku mendengarkan dengan seksama dan mengingat sampai sekarang.

Rumah panggung milik puyang bertipologi rumah panggung basepat. Jenis pertama dari perkembangan bangunan tempat tinggal di Sumatera Selatan. Rumah itu, sudah lapuk dimakan usia. Terlihat dari keadaan material rumah buram dan kusam.

“Puyang, sudah berapa lama rumah ini berdiri?. Tanyaku waktu itu.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi sewaktu aku masih kecil berumur lima atau enam tahu. Keadaan rumah kita ini sudah tua hampir seperti ini." Jawab Puyang sambil mengunyah sirih. Mulutnya merah karena air kapur sirih. Dia menumbuk pinang agar lembut karena tidak dapat mengunyah lagi. Aku melihat tepak sirinya penuh oleh alat-alat makan sirih.

“Berapa umur Puyang sekarang?” Tanyaku.

“Sekitar 90 tahun.” Jawabnya. Pendengaran dan penglihatan puyang masih baik.

Lama bercerita banyak hal, tentang keadaan desaku pada masa lalu. Aku banyak bertanya tentang adat istiadat. Bertanya tentang sejarah di desa. Puyang bilang kalau sejarah dia tidak tahu. Kalau andai-andai tentang asal usul nama Desa Gajah Mati dia tahu. Puyang mendengar andai-andai itu dari moneng-monengku sewaktu dia masih anak-anak.

Memang zaman dahulu para orang tua suka berandai-andai untuk menghibur dan mendidik anak-anak. Sebab belum ada televisi seperti sekarang untuk hiburan anak-anak. Sekarang orang lebih suka menonton televisi atau bermain henpon. Tradisi berandai-andai kemudian hilang seiring waktu.

“Lihat di belakang rumah ada sungai. Lihat di samping sungai ada padang rumput. Padang rumput itu bekas Talang masyarakat Desa Gajah Mati. Jelas beliau, benar atau tidaknya, ini hanyalah cerita andai-andai. Itulah kata Puyang dan sedikit batuk-batuk. Puyang mulai menceritakan cerita asal usul nama Desa Gajah Mati.

*****

Penduduk Negeri Dataran Bukit Pendape pada masa itu, sudah sangat padat sekali. Sehingga hutan-hutan disekitar pemukiman warga sudah ada pemiliknya semua. Sehingga generasi masih muda tidak memiliki lahan untuk bertani lagi. Masyarakat Negeri Dataran Bukit Pandape hidup dari hasil bertani dan berternak. Ada juga yang menjadi pedagang, tukang rumah, nelayan sungai, dan pengrajin alat-alat rumah tangga.

Penduduk di Kota Pedatuan dan di talang-talang sekitar sudah padat sekali. Diantara talang-talang yang telah padat itu, salah satunya bernama Talang Selensing. Selensing nama tumbuhan yang sejenis pandan hutan. Tumbu di rawa-rawa atau tanah berair, seperti paya-paya. Talang Selensing dikeliling paya-paya yang panjang dan dalam. Menjadi tempat menangkap ikan, mandi mencuci masyarakatnya.

Kisah ini berawal dari sebuah keluarga besar Puyang Karu-Karu. Puyang Karu-Karu memiliki enam orang anak. Empat laki-laki dan dua wanita, semuanya sudah menikah. Anak pertama bernama Kamaju, anak kedua bernama Salibu, ketiga Manaku, keempat Pandika, kelima dan keenam Dinini dan Dinina yang kembar.

Keadaan sangat sulit masa itu. Keluarga Puyang Karu-Karu kesulitan ekonomi. Mereka hidup sederhana sekali. Mengandalkan beberapa hektar tanah untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga besar. Anak-anak Puyang Karu-Karu tidak dapat menerima keadaan yang sulit itu. Maka bermusyawarahlah mereka disuatu malam. Berkumpul di ruang tengah rumah. Puyang Karu-Karu duduk di hadapan anak-anaknya. Dalam musyawara itu berkatalah anak tertua Puyang Karu-Karu.

“Bak, bagaimana kalau aku dan anak istriku pergi membuka hutan baru. Tapi akan jauh dari Talang Selensing. Tidak mungkin kita terus bertahan dengan keadaan seperti ini. Yang aku takutkan, bagaimana kalau terjadi kemarau panjang atau ada serangan hama. Tentulah kita sekeluarga akan kelaparan.” Kata Kamaju. Semuanya diam dan memperhatikan dan memikirkan. Perbincangan berlanjut.

“Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Mari kita pikirkan lagi. Kalau hanya Kau, Istrimu, Gurula anakmu, dan dua adiknya yang masih kecil itu berbahaya. Sebab banyak harimau, ular piton dan gajah liar di hutan jauh. Kecuali kalau kau banyak orang pergi bersamamu. Sehingga terbentuk sebuah kelompok. Maka akan kuat, serta dapat mendirikan Talang baru.” Ujar Puyang Karu-Karu seraya menghirup air nira hangat.

“Kalau memang sudah tekad koyong nak pergi membuka Talang baru. Aku bersediah ikut. Aku juga tak tahan koyong, dengan keadaan kita yang pas-pas.” Kata Manaku.

Akhirnya semua anak Puyang Karu-Karu bersepakat untuk pergi membuka pemukiman baru. Sehingga dimulailah persiapan, dari perbekal, bibit tanaman, dan bibit ternak untuk dibawa. Banyak yang mendengar tentang rencana mereka. Maka ada juga yang tertarik dan mereka ikut bergabung pergi. Semua juga sama kesulitan ekonomi. Sebanyak tiga puluh keluarga berangkat mencari lokasi pemukiman baru. Puyang Karu-Karu dan istrinya juga ikut. Agar anak-anak mereka ada yang menengahi mereka. Selain itu, mereka juga tidak ingin jauh dari anak-anaknya.

Sebelum berangkat mereka berpamitan dengan warga. Perjalanan dimulai di pagi hari. Mereka menerobos perkebunan yang luas. Baru beberapa minggu menemukan hutan lebat dan terus berjalan berminggu-minggu. Sampailah mereka disuatu hutan rimba raya. Beristirahat di sebuah tanah  lapang disisi bukit. Tidak jauh dari tempat mereka istirahat ada sungai kecil dan paya-paya. Banyak rombongan yang membersihkan diri di lembah bukit kecil itu. Dimana ada benca yang berair jernih mengalir perlahan. Saat istirahat itu Gurula ingin buat hajat. Maka dia menjauh dan pergi ke sungai.

“Mak, aku nak buang hajat di sungai kecil, disana." Ujar Gurula sambil menunjuk. Dia tahu karena sudah ada warga yang mencari sungai tadi, dan bertemu.

“Ia, hati-hati Gurula, hutan ini baru kita datangi. Jadi belum tahu situasi. Apa penunggunya, entah suban entah hewan buas.” Jawab Ibu Gurula. Sementara ayah, kakek, paman, dan rombongan, sedang berdiskusi. Mereka mencari arah dan mengira-ngira keadaan. Apakah tempat itu sesuai untuk  pemukiman.

Mereka sepakat untuk membangun talang baru di dekat sungai besar. Agar mudah memenuhi kebutuhan hidup. Sungai dapat menjadi transportasi, dan tidak kekurangan air saat musim kemarau. Pengecekan geografis daerah juga mereka kuasai. Sepakat akhirnya, diputuskan apabila menemukan tempat cocok mereka akan menetap. Tanah subur, dan didekat sungai besar. Selain itu mereka sudah hampir sebulan berjalan mengikuti langkah kaki saja.

Waktu berlalu, mereka makan dan istirahat. Anak-anak bermain menunggu waktu perjalanan kembali. Tapi Gurula tidak kunjung muncul sudah cukup lama. Membuat Ibu Gurula menjadi khawatir dan datang menemui suaminya.

“Kanda, tadi Gurula pamit hendak kesungai kecil di sisi bukit. Sudah lama tak kembali-kembali." Ayah Gurula dan semuanya terkejut. Mereka segerah berkumpul bermupakat. Ayah Gurula meminta Salibu, Manaku, Tutuka, Bilanga, Babansa. Menemani dia mencari Gurula. Sedangkan yang lain berjaga-jaga. Mereka berlari-lari kecil mengikuti arah Gurula pergi ke arah sungai kecil itu.

*****

Sementara itu, setelah buang hajat Gurula merasa penasaran dengan suara gajah yang berbunyi terus-menerus. Mengintip dari jauh, terlihat sebua paya berair dangkal. Paya itu berlumpur akibat pengendapan tanah. Dua ekor anak gajah terperangkap di dalam paya berlumpur itu. Badan gajah hanyas sebatas kepala dan belalainya saja yang timbul. Gurula masuk kedalam paya berlumpur dan mendorong gajah di bagian depan. Bermaksud menolong. Tapi tenaganya sebagai anak manusia berumur dua belas tahun tidak memadai.

Tinggi lumpur juga sampai ke lehernya dan dia akhirnya kembali ke tebing paya. Dua anak gajah itu panik dan terus berbunyi, memanggil kawanan mereka. Keduanya seperti disedot oleh lumpur, tidak dapat berbuat apa-apa. Gurula duduk di atas tebing paya. Dia memikirkan bagaimana membantu kedua anak gajah itu keluar dari lumpur. Gurula mendapatkan ide, yaitu dengan mengalirkan lumpur kesisi paya. Paling tidak lumpur akan menyusut disekitar tubuh anak gajah itu. Sehingga keduanya dapat bergerak keluar.

Gurula menggunakan Pibang menggali tanah disisi tebing paya. Perlahan tapi pasti, terus menggali dalam dan memanjang jauh. Gurula bekerja tiada henti. Saat sedang sibuk itu ayah dan paman, warga yang mencari datang.

“Apa yang kau perbuat, Gurula?.” Tanya ayahnya. Gurula yang tampak kelelahan menunjuk kedua anak gaja di dalam paya berlumpur. Ayah Gurula dan semuanya mengerti dan mereka bekerja bersama-sama. Penggalian pun lebih cepat. Kemudian mereka mendorong dan mengalirkan lumpur ke lubang panjang galian mereka. Sehingga badan gajah terbebas dari benaman lumpur, dan dapat berjalan.

Tanpa mereka sadari dari tadi puluhan ekor gajah dewasa berdiri di seberang paya. Gajah-gajah itu memperhatikan semua peristiwa itu. Dengan akar dan rotan mereka mengikat lalu menarik tubuh gajah naik tebing paya, ada juga yang mendorong dari belakang. Sehingga selamatlah kedua anak gajah itu. Gurula membawa kedua gajah muda itu kesungai kecil berair jernih. Dimana tadi dia buang hajat dan mencuci wajah. Ayah dan paman-paman Gurula mengikuti.

Mereka semua membersihkan tubuh dari lumpur, termasuk dua anak gajah itu. Setelah badan kedua gajah itu bersih. Ternyata gajah satunya berbulu putih seperti kapas, indah sekali. Sedangkan yang satunya berbulu abu-abu seperti warna bulu gajah pada umumnya.

Mereka kemudian kembali ke rombongan dan meninggalkan kedua anak gajah itu. Terdengar suara riang gajah mengiringi kepergian mereka. Beberapa kali menyeburkan air keatas dengan belalainya. Sementara gerombolan gajah dewasa tadi mencari bagian paya yang dangkal. Lalu menyemberang dan menuju sungai kecil itu.

Tampak kedua anak gajah itu mendatangi seekor gajah perempuan yang besar. Sepertinya itu induk keduanya. Suara-suara gajah menjadi riuh, menemukan air. Ada yang minum dan berendam di dalam air. Kelak paya tempat gajah itu terbenam dikemudian hari dikenal dengan nana Paya Lebar atau Paye Libok.

Dua minggu dari hari itu, rombongan Puyang Karu-Karu menemukan rawa-rawa yang luas. Sehingga tidak dapat menyemberangi. Dikemudian hari daerah rawa-rawa itu dinamkan oleh masyarakat Gajah Mati, dengan Daerah Sawa.

Rombongan mereka kemudian mengarah ke arah barat. Sampailah di sebuah tebing sungai. Sungai itu berair jerni sekali. Gurula dan kawan-kawan langsung mandi berenang di sebuah lubuk sungai. Rombongan istirahat untuk sehari. Juga melihat kondisi dan memperhatikan tanda-tanda kalau daerah itu renah. Maka tidak cocok untuk pemukiman. Karena tanah renah sering banjir di musim hujan.

“Gurula, dari mana, lama sekali. Tanya Dinini.

“Mandi disungai, Bik. Air sungainya jernih sekali.” Jawab Gurula polos.

“Iya Mak, jerni sekali air nya. Kalau menengok kedalam sungai tu, terlihat ikan-ikan.” Ujar Sanlang anak Dinini.

“Sudah makanlah, sebentar lagi kita nak berangkat lagi." Ujar Dinina.

“Berangkat terus, kapan berhenti. Dah lelah kami, kan masih budak.” Kata Marti anak tetangga Gurula. "Betul. Ujar anak-anak lainnya.

Perjalanan ditunda karena anak-anak masih keleahan. Keesokan harinya, mereka pun melanjutkan perjalanan kembali. Menyemberangi sungai berair jernih itu. Kelak sungai itu dinamakan masyarakat Desa Gajah Mati dengan nama, Sungai Jernih (Sungai Jene). Menjelang sore mereka tiba di sebuah sungai berair kuning mirip air keruh. Sungai besar, mereka berjalan menghulu sungai. Dari jauh terlihat sebatang pohon rengas yang sudah roboh dan jatuh melintang di atas sungai.

“Coba kita menyeberang, lihat tanjung itu. Kata Puyang Karu-Karu.

“Tadi sungai air jerni, Sekarang Sungai airnya kuning seperti keruh. Guman beberapa orang diantara mereka.

Puyang Karu-Karu diikuti Pandika, Salibu, Kuraja. Kuraja suami Dinini. Mereka berempat menyemberang ke tanjung itu. Melintasi di atas batang pohon rengas yang roboh itu. Mereka melihat tanah tanjung. Tidak ada tanda-tanda banjir yang dalam disekitar tanjung itu. Pada malam harinya mereka bermusyawarah. Diterangi api unggun dan memakan ikan bakar, rusa panggang.

“Kita bangun disini saja, Talang. Kasian anak-anak dan wanita kalau berjalan terus. Sudah lebih sebulan kita berkeliling-keliling hutan.”  Kata Puyang Karu-Karu disela-sela perbincangan mereka.

“Sungai besar, tanah subur, bagus untuk talang baru.” Ujar Sangkan. Sangkan suami  Dinina.

Mereka sepakat, keesokan harinya dimulai membuka hutan di tanjung sungai itu. Menebang pepohonan, membersihkan semak-semak, dan membakarnya. Sehingga terbukalah tanah lapang. Di sisi tanah yang mereka buka itu, terdapat sebuah sungai kecil. Anak dari sungai yang berair kuning mirip keruh itu. Mereka membuat tepian madi untuk mandi diwaktu air sungai keruh naik (mendalam). Waktu berlalu dan berlalu. Rumah-rumah telah dibangun, halam rumah telah bersih. Pisang telah berbuah, sayur telah berpucuk. Mereka juga sudah membuka ladang-ladang. Sudah ada yang membuat perahu dan rakit. Ada pula yang menemukan pohon sialang. Untuk mengambil madu lebah hutan. Menemukan pohon aren dan menyadap nira.

Mereka sekarang hidup makmur dan berkecukupan. Karena hasil panen padi, sayuran berlimpa. Begitupun ternak mereka juga berkembang dengan baik. Talang mereka belum ada nama. Sedangkan nama sungai berair kuning mirip keruh, mereka namakan Sungai Keruh. Akhirnya nama itu melekat sampai sekarang.

Sementara itu, kawanan gajah-gajah yang dulu anaknya mereka tolong. Sekarang telah berada di sekitar talang mereka. Kadang gajah-gajah itu mandi si Sungai Keruh. Pernah suatu hari Gurula bertemu dua ekor gajah yang dia tolong dahulu, gajah putih dan gajah abu-abu. Gurula tidak menyangka kalau kedua anak gajah itu mau bersahabat dengannya. Berkali-kali Gurula naik kepunggung keduanya bergantian waktu bermain-main.

*****

Suatu hari Pandika memtong rambut. Zaman dahulu rambut laki-laki sama panjang seperti rambut perempuan. Karena dia sudah gerah dengan rambutnya sudah panjang sebatas pinggang. Melihat Pandika memotong rambut semuanya ikut memotong rambut. Sehingga pagi itu mereka kompak memotong rambut, pendek di atas bahu.

Mereka memotong rambut dengan senjata pusaka bernama Pibang. Pibang senjata tradisional milik Masyarakat Sungai Keruh. Setelah dipotong, rambut itu mereka kumpulan di tumpukan sampah. Di soreh harinya Manaku membakar sampah itu. Sehingga rambut-rambut bekas pemotongan mereka terbakar.

Bau angit rambut dibakar itu tercium semerbak di seluruh talang. Puyang Karu-Karu keluar dari rumah, dan mencari sumber tempat angit terbakar. Saat dia bertanya pada Manaku apa yang dibakar. Dijelaskan semua itu rambut  bekas pemotongan mereka pagi tadi. Puyang Karu-Karu menjadi khawatir sekali. Dia menceritakan pesan orang-orang tua. Jangan membakar rambut, sebab akan tercium oleh harimau dari gunung. Akan berbahaya dan kita harus bersiap menghadapi serangan harimau-harimau dari gunung.  Kata Puyang Karu-Karu cemas dan wajah pucat. Menyadari itu, maka keesokan harinya semuanya mulai mempersiapkan diri. Tombak, pedang dan panah disiapkan di dalam rumah masing-masing.

******

Nun jauh di Gunung Dempo di daerah Pagaralam. Sekawanan harimau gunung mencium bauh rambut terbakar yang diterbangkan angin. Harimau kumbang, raja harimau Gunung Dempo membawa sekitar seratus ekor harimau jantan turun gunung menuju sumber bau angit rambut terbakar. Diawali auman yang bersamaan yang membuat ngeri bagi yang mendengar.

Seratus satu harimau gunung Dempo turun berlari kencang menuju talang baru itu. Dalam waktu seminggu pasukan harimau gunung itu tiba di dekat talang baru itu. Auman mereka yang bersahutan membuat seisi talang ketakutan. Mereka semua berlari pulang dan mengurung diri. Tombak, panah, pedang dipersiapkan. Ayah Gurula terpekik-pekik mencarinya, tapi tidak bertemu. Ternyata Gurula sedang bermain jauh di hutan bersama dua gajah sahabatnya. Gajah putih dan Gajah Abu-Abu, panggilannya. Kedua anak gajah mengantar Gurula pulang. Tibalah di dekat sungai kecil tak bernama di sisi talang.

“Putih, suara harimau banyak sekali.” Kata Gurula yang mulai ketakutan. Dua ekor anak gajah itu terus berbunyi riang. Seakan memberi tanda kalau Gurula tidak perlu takut, ada mereka yang melindungi. Sesaat setelah menyeberangi sungai kecil. Puluhsn harimau mengepung tiga sahabat itu.

Harimau kumbang mengaum,  lalu empat harimau melompat menyerang dua gajah itu. Gajah Putih dan Gajah abu-abu tidak takut. Keduanya balik menyerang menerjang. Harimau penyerang mati seketika saat injakan kaki mengenai batang lehernya.

Sementara di talang semua tidak dapat kemana-mana. Puluhan harimau berkeliaran di tengah talang. Berjalan di bawah-bawah rumah panggung penduduk. Membuat semuanya takut gemetaran. Kerbau dan sapi mereka sudah ada yang diterkam karena belum sempat melarikan diri. Ayah dan ibu Gurula panik karena Gurula tidak tahu dimana. Begitupun dengan yang lainnya.

Gajah Putih meraih dahan pohon. Gurula mengerti kalau gajah putih memintanya naik pohon. Maka dia naik pohon sampai kepuncak tinggi. Kembali pertarungan hebat terjadi. Puluhan harimau mengeroyok dua anak gajah itu. Sambil bertaurung keduanya membunyikan tanda bantuan untuk gajah-gajah dewasa lainnya. Ratusan gajah dewasa yang berada tidak jauh berlari mendatangi sekitar talang.

Pertarungan tidak seimbang. Membuat keduanya kewalahan. Banyak cakaran, gigitan yang mengenai tubuh keduanya. Membuat keduanya banyak terluka. Sementara gajah putih yang lebih parah. Dua gigitan di lehernya sobek parah, banyak darah keluar. Dalam keadaan genting itu kawanan gajah dewasa datang. Suara bagai guntur yang bergemuru.

Melihat saudara mereka dikeroyok harimau. Membuat semua gajah marah besar. Apa lagi induk gajah putih dan gajah abu-abu, mengamuk hebat. Kali ini giliran harimau yang kerepotan. Satu lawan satu adalah hal yang kecil bagi gajah. Dalam waktu sebentar saja harimau-harimau itu mati dengan tulang patah-patah semua. Tidak satupun harimau itu selamat dari amukan gajah-gajah hewan besar itu. Termasuk harimau kumbang raja para harimau, tewas. Tidak ada ampun, ratusan gajah menginjak-injak tubuh harimau yang tergeletak bergiliran. Membuat mereka mati dengan tubuh lembek.

Gajah putih yang terluka parah terjatu kedalam sungai. Tubuhnya lemah karena kehabisan darah. Gurula turun sambil menangis mendatangi gajah putih. Berkali-kali suara-suara gajah putih terdengar. Induk gajah putih dan saudaranya gajah abu-abu datang. Mereka tampak menatap sedih. Hanya suara-suara gajah yang melengking-lengking terdengar ramai. Gurula tidak mengerti bahasa gajah. Belalai mereka bersentuhan dan saling membelit.

Sepertinya mereka melepas kasih sayang. Mereka tahu kalau gajah putih tidak akan berumur panjang lagi. Untuk terakhir kalinya gajah putih menyemburkan air sungai ke wajah Gurula. Ada air mata menetes dari mata gajah putih. Induk gajah putih membelai rambut Gurula yang tampak menangis dengan belalainya. Seakan dia berkata sabar, semua kehendak tuhan.

Keadaan telah aman, warga talang keluar dan menyaksikan disekitar talang mereka. Tampak bekas pertarungan gajah dan harimau. Bangkai harimau bergelimpangan di setiap sudut talang. Mereka semua menemui Gurula yang menangis disisi jasad gajah putih.

Penduduk melihat keseberang sungai kecil itu. Ratusan gajah-gajah tampak mulai melangkah pergi. Gajah abu-abu berkali-kali berbunyi-bunyi menghadap penduduk, tanda pamit mungkin. Lalu dia berbalik dan melangkah pergi mengiringi kawanannnya pergi. Gajah-gajah telah menyelamatkan semua warga talang. Semua melambaikan tangan pada gajah-gajah itu. Gajah-gajah membalas dengan suara-suaranya. Ada air mata haru mengiringi kepergian kawanan gajah-gajah itu. Setelah itu, mereka makamkan gajah putih di sisi tebing sungai kecil tak bernama itu.

*****

Sungai itu kemudian selalu disebut dengan sungai tempat gajah mati. Setiap kali bercerita atau hendak ke sungai. Mereka selalu  berkata,  "sungai tempat gajah mati. "Mandi di sungai tempat gajah mati." Begitulah kata-kata penduduk dari waktu ke waktu. Lama kelamaan, nama sungai itu pun menjadi Sungai Gajah Mati. Beratus-ratus tahun kemudian talang tak bernama itu juga dinamakan oleh peduduk dengan nama, Talang Gajah Mati.

Seiring waktu dengan berjalannya sejarah. Dari talang berkembang menjadi Desa Gajah Mati seperti sekarang. Walupun airnya sudah dangkal dan surut. Sungai Gajah Mati dan bekas-bekas pemukiman lama masyarakat Talang Gajah Mati masih dapat ditemui di belakang Kampung Laut, Desa Gajah Mati, di sebuah tanjung di pinggir tebing Sungai Keruh.

Orang tua-tua berpesan, "jangan membakar rambut. Nanti didatangi harimau dari gunung. Itulah mitos yang aku dengar sewaktu kecil dulu. Rambut yang sudah dipotong sebaiknya diletakkan di bawah-bawah pohon yang hidup. Agar rambut tersebut menyatu dengan tanah dan alam.


Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 12 November 2019.

Arti kata:
Kata Puyang memiliki empat makna: Pertama dalam silsilah: Puyang adalah Orang tua dari kakek-nenek kita, atau yang sejajar dengannya. Kedua, Puyang dalam artian Pemimpin suatu kelompok masyarakat. Ketiga, Puyang dalam artian orang yang sakti dan dikeramatkan. Keempat, Puyang dalam artian leluhur.

Paya: Penampungan air alami yang berbentuk memanjang seperti sungai tapi airnya tidak mengalir seperti sungai. Pibang. Senjata tradisional masyarakat yang berupa pedang pendek. Sering menjadi syarat adat genti duduk saat pernikahan.

Renah. Dataran tanah yang subur dan terletak disekitar sungai-sungai. Sehingga saat musim hujan sering terendam banjir saat air sungai meluap. Benca: tempat penampungan air yang terbentuk secara alami di hutan-hutan. Bentuk mirip sungai memanjang tapi kecil seukuran selokan.

Tipologi: Ilmu tentang bentuk-bentuk beserta ciri khasnya. Dataran Negeri Bukit Pendape adalah nama tradisional dari wilayah Kabupaten Musi Banyuasin di seberang, meliputi Kecamatan Sungai keruh, kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Palakat Tinggi dan sebagian dari wilayah kecamatan lain.

Bak: Ayah. Umak: Ibu. Talang: Pemukiman kecil sekelompok penduduk di tengah hutan atau di pinggir hutan. Basepat: Nama jenis rumah panggung orang Melayu lantai rumahnya bertingkat naik turun seperti punden berundak. Budak: Anak-anak.

Sy. Apero Fublic

Provesi Sederhana Semangat Membara.

Apero Fublic.- Hidup merupakan jalan takdir yang kita jalani. Hal yang baik dan buruk adalah pilihan bagi kita sendiri. Begitu juga halnya dengan mimpi. Semua orang bebas berkeinginan apapun. Akan tetapi, sebuah mimpi itu akan terwujud dengan adanya usaha yang sunguh-sungguh. Sungguh-sungguh mencapainya dan menjalaninya. Kalau hidup tanpa mimpi, bagaikan perjalanan tanpa tujuan.

Hari itu, Kota Palembang sibuk seperti biasa. Jalan selalu macet, kenek berteriak-teriak memanggil penumpang. Tukang parkir sibuk mengatur keluar masuk kendaraan. Langit cerah, jembatan Ampera melintang diatas Sungai Musi. Terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran dari menara Masjid Agung Palembang. Para pedagang sibuk melayani pembeli. Salah satu pedagang jamu gendong yang akan kita temuai.

Pedagang jamu, profesi yang digeluti oleh seorang wanita, yang bernama Sumari (bukan nama sebenarnya). Bagi sebagian orang mungkin menjadi seorang pedagang jamu adalah pekerjaan yang dipandang rendah. Namun tidak bagi mereka yang berjiwa mulia, apapun tingkat pendidikannya. Ukuran pekerjaan adalah nilai halal dan kebaikannya.

Pedagang jamu gendong atau pedagang jamu keliling lebih mulia dibandingkan para koruptor, pejabat yang meminta persen dari kontrkator. Atau orang hukum yang jual beli hukum dan menipu rakyat. Penjual jamu adalah penjual obat, yang memberikan kesehatan dan kesebuhan pada pembeli. Dari pada pedagang rokok dan minuman keras atau narkoba. Mereka menjual racun yang merusak. Pedagang jamu gendong jauh lebih mulia.

Ibu Sumari, sudah menjadi pedagang jamu keliling atau jamu gendong. Kurang lebih sudah 26 tahun lamanya. Jauh sebelum aku lahir ke dunia ini. Sekarang dia sudah berumur 55 tahun. Pada awalnya beliau bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga. Pada keluarga-keluarga di sebuah komplek perumahan di Kota Palembang. Akan tetapi hasil dari kerjanya itu tidak memadai. Dari hasil tabungannya, Ibu Sumari mencoba peruntungan dengan berdagang jamu keliling. Hasilnya lumayan dibandingkan dari hasil pekerjaan sebelumnya.

Ibu Sumari berangkat berdagang pukul sebelas siang. Pulang menjelang magrib atau setelah magrib. “Ndak nentu, dalam sehari kadang dapat seratus lima puluh ribu. Kadang lebih dan kadang kurang dari itu. Tergantung dari banyaknya pembeli. Ujar Ibu Sumari saat berbincang-bincang diselah-selah kesibukannya melayani pembeli. Dia menjelaskan dagangannya kadang tidak habis. Sehingga hanya kembali modal saja.

Wanita Kelahiran Jawa Tengah ini. Adalah sosok inspiratif sebagai wanita pejuang kehidupan. Demi membantu sang suami mencukupi kebutuhan sehari-hari. Walau salah seorang anaknya sudah sukses menjadi seorang bidan. Namun tidak menjadikan ibu Sumari berpangku tangan. Dia tetap bekerja dan tidak ingin menyusakan anak-anaknya.

Selain itu, setelah bercerita lebih dalam. Ternyata kehidupan Ibu Sumari penuh dengan cobaan. Hal yang membuat dia terpukul adalah saat suami pertamanya meninggal karena sakit. Dia terpaksa membanting tulang untuk menghidupi anak dan dirinya. Baru beberapa tahun kemudian dia bertemu sosok lelaki yang baik. Menjadi pendaping hidupnya dan menjadi ayah dari anak-anaknya. Suami beliau bekerja sebagai karyawan swasta (buruh).

Dari jerih payah beliau berdagang jamu. Dia telah menghantar anak-anaknya ke perguruan tinggi. Menurutnya, dunia yang moderen seperti sekarang. Pendidikanlah yang paling utama dalam memajukan kehidupan keluarga. Selain usaha, doa selalu dia panjatkan untuk keluarganya. Begitu pun anak-anaknya termotivasi dari buah perjuangan beliau.

Kami berbincang-bincang dengan salah seorang masyarakat di sekitar jalan A.K Gani 19 Ilir, Kota Palembang, Ibu Masna (bukan nama sebenarnya). Katanya, Ibu Sumari adalah sosok pedagang yang baik. Jujur dan selalu ramah melayani pembeli begitupun dengan masyarakat sekitar. Dia tabah dan sabar dalam kesehariannya. “Saya sering melihat Bu Sumari berdagang disekitar sini. Orangnya ramah, santun, dan pekerja keras.” Ujar Ibu Masna seraya berlalu.

Beberapa orang Mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang datang menghampiri dagangan Ibu Sumari. Mereka sedang berkunjung ke tempat wisata BKB (Benteng Kuto Besak).  Saat melihat ada pedangan jamu, mereka mampir untuk membeli minuman sehat itu. Namanya Intan, Mirtha, Bela, Sukma, dan Dewi. Mereka membeli jamu dagangan Ibu Sumari. Seorang diantaranya berkata, kalau jamu Ibu Sumari sama dengan jamu racikan ibunya. Namanya Intan gadis penyuka minuman tradisional ini. “Enak Bu, saya jadi ingat sama ibu saya. Itulah katanya sambil tersenyum manis.

Lain dengan pendapat Mirtha. Karena dia baru pertama kali minum jamu. “Ini pertama kalinya saya minum jamu, Bu. Kok pahit rasanya ya. Semua teman-temannya tertawa, aku pun ikut tersenyum. "Memang pahit karena jamu itu obat. Bukan minuman penyegar atau sirup. Begitulah kalau belum pernah meminum jamu. Tapi nanti, kalau nak Mirtha sudah tahu manfaat meminum jamu. Entar juga pasti suka walau pahit." Jelas Bu Sumari. Semua memberikan kesan tersendiri. Setelah selesai membayar para mahasiswi UIN Raden Fatah itu pamit, mengucap salam kemudian berlalu pergi.

Akupun demikian, pergi menyusuri jalan untuk menuju BKB. Hiruk pikuk kendaraan bermotor tiada henti. Langit tampak biru. Sekilas aku menoleh kebelakang melihat Ibu Sumari. Sosok wanita tua yang mengingatkan aku pada ibu. “Ya Allah, berilah keberkahan hidup pada Ibu Sumari. Aku berdoa didalam hatiku. Juga terbayang wajah ibuku, aku rindu ibu.

Oleh. Erna Nurdianti
Palembang, 18 Desember 2019.
Editor. Selita. S. Pd.
Sumber foto. Nur Aisyah.

Sy. Apero Fublic