12/26/2019

Wacana Pembangunan MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh. Musi Banyuasin


Apero Fublic.- Bangsa Indonesia adalah bangsa besar. Bangsa yang lahir dari pejuang-pejuang tangguh. Dari nenek moyang, sampai masa pergerakan kemerdekaan. Bangsa Indonesia terhitung bangsa yang tidak pernah mau tunduk pada penjajah (Belanda, Inggris, Jepang). Api perjuangan tidak pernah padam dari generasi ke generasi.

Sebut saja misalnya, seperti perlawanan Teuku Umar dari Aceh, Sultan Mahmud Badaruddin II, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Nuku Sultan Papua, dan banyak lagi lainnya. Kemudian pada masa pergerakan sampai masa perang mempertahankan kemerdekaan dari tangan Kolonial Belanda pada tahun 1946 sampai 1949, mereka datang ingin menjajah kembali.

Apabila kita nengingat semua pejuang-pejuang bangsa kita. Benarlah, bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang. Presiden Soekarno pernah berkata. Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.

Peperangan mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia. Juga terjadi di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Mulai dari peperangan melawan Jepang, sampai dengan peperangan melawan Belanda.

Banyak korban jiwa, gugur dan hilang. Kerugian materil dan penderitaan kaum perempuan dan anak-anak. Mereka selalu siap siaga mengungsi kehutan-hutan. Sewaktu kecil aku pernah diceritakan oleh almarhum kakek tentang seorang pemuda di Desa Rantau Sialang. Pemuda tersebut menembak iring-iringan tentara Belanda yang melalui jalan di tengah desa.

Dari balik tiang-tiang, tumpukan kayu bakar, di bawah rumah seorang penduduk. Pemuda itu mengintip dengan senjata api tradisonal, kecepek. Lalu dia menembak dan mengenai seorang tentara belanda. Ada yang bilang tentara Belanda yang tertembak hanya terluka, ada juga yang bilang tewas.

Senjata api kecepek hanya sekali menembak. Sehingga dia harus lari menghindar. Tapi berondongan senjata otomatis membuat dia tertembak dan gugur. Sayangnya waktu itu aku belum mengerti. Sehingga aku tidak bertanya dengan detail, tidak mencatat cerita dan nama pemuda pemberani itu. Pemuda itu tidak dimakamkan di taman makam pahlawan.

Padahal dia seorang pahlawan dan telah menunjukkan jiwa perlawanan dan perjuangan. Dengan demikian, Belanda tahu kalau mereka bukan hanya berhadapan dengan tentara Indonesia saja. Tapi berhadapan dengan seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana kita menghargai jasa-jasa mereka. Salah satu cara adalah dengan membangun Monumen Perjuangan Rakyat atau MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Semasa perang, setelah Kecamatan Sungai Keruh dikuasai Belanda. Mereka melakukan pembersihan masyarakat yang ikut berjuang. Desa Tebing Bulang adalah sasaran pertama karena disekeliling markas Belanda di Kecamatan Sungai Keruh. Pada tanggal 7 September 1947. Terdapat 25 orang yang berhasil Belanda tangkap, diantaranya:

1. Benih bin Benah (Tebing Bulang)
2. Daud bin Benih (Tebing Bulang)
3. Badri bin Djahamad (Tebing Bulang)
4. Nurdin bin H. Aman (Tebing Bulang)
5. Rahusin bin Sein (Tebing Bulang)
6. Sahunil bin H. Siin (Tebing Bulang)
7. Syamsuddin bin Kerun (Tebing Bulang)
8. Duwi bin Mail (Tebing Bulang)
9. Ropal bin Ali Arab (Tebing Bulang)
10. Utjin bin Akim (Tebing Bulang)
11. Soleh bin Jabal (Tebing Bulang)
12. Nurdin bin Soleh (Tebing Bulang)
13. Aso bin Remah (Tebing Bulang)
14. Malik bin Deris (Tebing Bulang)
15. Bahrun bin Bahri (Tebing Bulang)
16. Asis bin Unang (Tebing Bulang)
17. Su’un bin Musa (Tebing Bulang)
18. Nurdin bin Marsup (Tebing Bulang)
19. Suro (Gajah Mati)
20. Yusup Keria Kertajaya (Kertajaya)
21. H. Zainal bin Sayip (Asal Sekayu)
22. Basri bin Ujud (Asal Sekayu)
23. Malik bin Samiun (Asal Sekayu)
24. Ayub bin Djasam (Tebing Bulang)
25. Nunsi bin Rahman (Tebing Bulang).[1]

Mengenang tentang Haji. Zainal bin Sayip yang diperlakukan dengan biadab oleh tentara Belanda. Badannya diikat lalu ditarik dengan mobil. Di lehernya digantung tulisan yang berbunyi, “orang yang membakar jerambah.” Waktu kecil dahulu aku mendengar orang-orang tua barisan kakekku bercerita tentang Kakek Suro yang ditangkap Belanda.

Mendengar itu, hampir semua laki-laki yang ikut membantu peperangan atau ikut berperang bersembunyi ke hutan. Hanya Kakek Suro yang tertinggal informasi dan dia tertangkap oleh Belanda. Semua yang ditangkap dibawa ke Pabel, daerah Kabupaten PALI. Kemudian mereka dimasukkan kedalam satu lubang dan dieksekusi mati.

Daftar pembantaian tersebut jumlah korban satu hari saja. Belum korban yang tidak tercatat dan kejadian diluar sepengetahuan saksi sejarah. Misalnya ada kontak langsung masyarakat diluar masa perang frontal. Banyak rumah dan pemukiman masyarakat yang dibakar.

Ada juga yang tewas oleh tembakan membabi buta tentara Belanda ke pemukiman. Di Desa Pagarkaya terhitung tujuh puluhan rumah dibakar tentara Jepang. Korban sejumlah itu, korban besar untuk daerah kecil seperti di Kecamatan Sungai Keruh. Karena jumlah penduduk belum sebanyak sekarang.

Dengan demikian, kita yang hidup damai pada masa sekarang. Ada baiknya mengenang dan menghargai jasa-jasa para pejuang dahulu. Tidak salah kalau Pemerinta Republik Indonesia, melalui Pementah Daerah menghargai perjuangan masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh. 

Perang telah dimulai dari masa perebutan senjata tentara Jepang, sampai dengan peperangan dengan pasukan Belanda. Telah menelan banyak korban, kerugian materil, dan penderitaan rakyat. Hampir semua potensi daerah kecil ini bergerak. Penduduk yang punya padi menyumbang padi, hasil ladang. Ada penduduk yang membuat senjata kecepek, Luin dari Desa Kertayu.

Pemerintah seharusnya membangun sebuah Monumen Perjuangan Rakyat atau MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh. Sebagai bentuk penghargaan pada perjuangan rakyat. MONPERA ini akan menjadi kebanggaan masyarakat Sungai Keruh. Serta membangun jiwa patriotisme generasi penerus yang lahir di kecamatan ini. Perang ini bersamaan dengan perang fron Langkan. Dimana front Langkan sudah dibangun MONPERA.

Lokasi yang tepat pembangunan MONPERA, di desa atau di sekitar Desa Tebing Bulang. Karena lokasinya di tengah kecamatan, sekaligus ibu kota kecamatan. MONPERA juga untuk mengenang 25 orang warga sipil yang bantai tentara Belanda.

Sekaligus semua yang telah gugur diketahui atau tidak ketahui. Yang dimakamkan di taman makam pahlawan atau yang dikebumikan di belakang rumah-rumah penduduk. Tidak terkecuali yang hilang dan sampai sekarang tidak di temukan jasadnya. Alfatihah untuk mereka semua.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 26 Desember 2019.
Sumber: Yusman Haris. Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. 2010.

[1]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, h. 117.
Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment