11/19/2019

Asal Usul Sungai Musi dan Istilah Batanghari Sembilan

Apero Fublic.- lkisah nan lampau, puluhan atau mungkin ribuan tahun yang lalu. Suatu kisah anak manusia yang ditakdirkan berbeda. Kisah yang haru penuh cinta dan kasih sayang sesama saudara dan keluarga. Tersebutlah ada sebuah pemukiman anak manusia yang sangat sederhana, yaitu Talang Andalas. Terletak di pedalaman Pulau Sumatera. Kelak wilayah mereka tinggal tersebut menjadi Provinsi Sumatera Selatan.

Rumah-rumah mereka berbentuk panggung. Berdinding kulit kayu, ada pula yang berdinding bambu. Atap rumah terbuat dari daun rumbia, daun ilalalang. Ada juga yang terbuat dari sirap bambu dan sirap kayu. Mereka hidup saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Ikatan kekeluargaan masih sangat kuat. Pada Masa itu, di Pulau Sumatera baru sekelompok kecil manusia tersebutlah yang ada di Pulau Sumatera. Kelak mereka akan dikenal dengan Bangsa Melayu.

Pulau Sumatera juga belum bernama. Penduduk masih menganggap hanyalah mereka yang ada di muka bumi ini. Datarannya berupa hamparan tanah dataran, berbukitan, danau-danau kecil, dan rawa-rawa. Air hujan hanya tertampung di paya-paya yang memanjang di lembah-lembah bukit.

Belum ada sungai-sungai seperti sekarang, besar atau kecil. Masih banyak sekali bekas kerangka hewan raksasa. Kelak kita kenal dengan nama dinosourus. Entah kapan masanya, hewan-hewan raksasa itu baru saja mengalami kematian masal. Menurut penelitian ilmuan masa moderen, dikenal dengan peristiwa hujan meteor. Tapi masih ada beberapa hewan raksasa yang tersisa, masih hidup. Kelompok tersisa sejenis hewan raksasa pemakan daging.

Talang Andalas terletak di dataran subur. Dikelilingi paya-paya yang memanjang menjadi sumber air untuk kebutuhan hidup dan pertanian. Penduduknya barulah sekitar seribu orang saja. Mereka hidup bertani ladang berpindah disekitar Talang mereka. Pemimpin tertinggi bergelar Puyang. Pemimpin perkampungan bergelar Datu.

Suatu hari, sekelompok anak-anak sedang bermain kejar-kejaran dilapangan rumput. Cara permainan, satu orang mengejar semuanya dan menyentuh tubuh salah satu dari yang dikejar. Lalu yang tersentu juga harus mengejar yang lain. Begitu terus menerus selama permainan. Waktu itu belum banyak bentuk permainan anak-anak. Baru permainan sederhana begitulah yang ada. Seperti biasa Puyang Andalas melakukan patroli rutin di sekitar Talang. Di ikuti oleh beberapa orang pengawal.
****
Siang itu Lewatlah Puyang Andalas yang diiringi beberapa pengawalnya, yang berbadan tegap dan kuat di sisi Padang rumput tempat anak-anak bermain. Melihat Puyang, puluhan anak-anak berlari mendatanginya seraya memanggil.

Puyang Andalas berhenti dan tersenyum ramah melihat anak-anak yang riang gembira menghampirinya. Puyang melirik seorang anak yang tubuhnya lebih besar dan tinggi. Tapi si anak seumuran dengan yang lainnya.

“Puyang Andalas. Puyang Andalas.” Puluhan anak-anak berlari menghampiri kakek berumur enam puluhan tahun itu. Para pengawal tidak mencegah, diam dan tetap berdiri dibelakang Puyang Andalas. Puyang selalu baik dan memberikan contoh yang baik. Dia tahu kelak anak-anak itulah yang akan meneruskan generasi mereka.

“Puyang, marilah berandai-andai. Pinta anak-anak tersebut bersamaan. Maka sang Puyang tidak dapat menolak. Kemudian dia mengarahkan anak-anak kebawa sebatang pohon beringin di sisi padang rumput. Setelah duduk dan bersiap-siap memulai mendongeng, Puyang Andalas mengatur duduk anak-anak agar teratur.

“Murada, Bumibu, Lalalu, jangan duduk terlalu jauh nanti tidak terdengar suara Kakek. Duduk di sebelah kanan Puyang. Sasana, Tatani, ajak teman-teman perempuanmu duduk berkumpul di sebelah kiri kakek. Ingat, laki-laki dan wanita harus menjaga jarak. Tidak boleh bercampur baur. Karena ini adalah adat istiadat kita, orang Melayu. Sebab kalian nanti menjadi besar dan meneruskan kehidupan, harus banyak belajar. Laki-laki harus hormati wanita. wanita juga harus tahu diri dan banyak malu.”

Semuanya mengiakan dan duduk membentuk dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Setelah itu, mulailah Puyang Andalas berandai-andai atau mendongeng tetang cerita si Kancil Yang Cerdik. Terkadang suaranya keras, meniru suara harimau, kadang juga dia membelai janggutnya yang sudah memutih. Anak-anak begitu antusias dan menyimak dengan seksama. Tidak akan ada satu katapun yang akan mereka lewatkan. Kelak puyang-puyang dikemudian hari juga akan menceritakan tentang Asal Usul Sungai Musi.
*****
Murada anak bungsu Datu Kalintang, ibunya bernama Wanana. Datu Kalintang dijuluki Datu Batanghari Sembilan. Karena dia memiliki sembilan anak laki-laki. Pada saat dia diangkat menjadi Datu oleh Puyang Andalas. Puyang Andalas menjuluki Datu Kalintang dengan Datu Batanghari Sembilan. Alasanya karena Datu Kalintang memiliki sembilan anak laki-laki. Setelah lima tahun menjabat sebagai Datu istrinya hamil kembali.

Kehamilan istri Dari Batanghari Sembilan anak ke sepuluh agak aneh. Selain kandungan besar, juga membuat istri Satu Batanghari Sembilan selalu ingin makan. More oun setelah satu setengah tahun mengandung. Biasanya normal wanita hamil melahirkan, sembilan bulan lebih beberapa hari. Saat lahir Murada sama seperti anak biasanya, dari fisik dan psikologisnya. Tidak ada yang aneh dan istimewa apalagi berbeda. Harapan sebelumnya, Datu Batanghari Sembilan dan Istrinya mendapat anak perempuan.

Tapi mereka tetap bersyukur dan menyayangi walau anak kesepuluh tetap anak laki-laki. Diantara nama anak-anak Datu Batanghari Sembilan. Yaitu, Anak pertama Maradu, kedua Muntaka, ketiga Melana, keempat Miruba, kelima Manaro, keenam Milaku, ketujuh Mankaka, kedelapan Misulatu, kesembilan Misulaka, dan kesepuluh Murada. Kakak-kakak Murada semua sudah menikah.

Kakak-kakak Murada semuanya memiliki perangai yang cepat marah atau cepat naik darah. Sedikit tersinggung langsung tinju dan tendangan mereka layangkan. Pertengkaran itu terkadang membuat luka-luka serius di tubuh mereka. Membuat Datu Batanghari Sembilan murka dan marah-marah. Sesungguhnya perangai tidak sabaran, pemarah dan kasar juga dimiliki oleh Datu Batanghari Sembilan. Tentu saja secara alamia menurun juga pada anak-anaknya. Hanya Murada yang berperangai lembut dan santun seperti perangai ibu mereka.

Perbedaan Murada dengan manusia lainnya. Murada sangat banyak makan. Boleh dikatakan dia tidak pernah kenyang. Ada saja dapat dimakan, dia makan. Sehingga dijuluki teman-temannya si Pemakan. Apa yang dia makan terasa lezat dan enak dilidahnya. Di umur lima tahunan saja ukuran makan sudah seperti orang dewasa. Tubuhnya tumbuh  cepat, sehat dan besar. Semua keluarganya bangga pada Murada. Datu Batanghari Sembilan beranggapan Murada orang yang memiliki kelebihan khusus. Tubuh Murada lebih tinggi dan lebih besar dari anak seumurannya.
*****
Setelah mendengar dongeng tentang si Kancil Yang Cerdik. Murada dan teman-temannya pulang dengan riang. Murada akan menceritakan pada ibunya tentang dongeng itu, pikirnya. Sasana, sebelum pulang dia berpamitan dengan Murada. "Murada aku pulang dulu ya." Ternyata Sasana diam-diam telah menyukai Murada. Tapi mereka masih anak-anak belum mengerti tentang cinta. Tidak boleh juga berpacaran.

Sesampai di halaman rumahnya Murada mendapati keadaan kacau balau. Dua orang kakaknya sedang berkelahi hebat. Entah apa yang terjadi dan apa penyebabnya, sehingga membuat mereka bertengkar hebat. Tapi untung dilerai oleh tetangga dan ibu Murada.

Baru saja usai suasana agak tenang sedikit. Kembali kedua kakaknya yang lain bertengkar hebat. Memang rumah mereka berdekatan satu sama lain. Lima rumah disebelah kiri. Empat rumah di seblah kanan rumah Datu Batanghari Sembilan. Entahlah, yang pasti kakak-kakak Murada selalu bertengkar satu sama lain. Tersinggung sedikit langsung berkelahi. Membuat ayah Murada, Datu Batanghari Sembilan sangat gusar. Bagaimana tidak, sembilan dari sepuluh anak laki-lakinya selalu berkelahi dan bertengkar hebat hanya karena hal-hal sepeleh. Setiap hari, kalau tidak siang, maka malamnya ada yang bertengkar hebat.

Hanya Murada yang tidak pernah bertengkar dengan saudara-saudaranya. Mungkin karena masih kecil saja, menurut pendapat warga-warga. Kalau sudah dewasa mengkin akan bertengakar juga. Murada waktu itu baru berumur sembilan tahun. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menonton dan meyaksikan ayahnya marah-marah pada kakak-kakaknya. Sedangkan ibu dan kakak-kakak iparnya hanya menangis dan menangis. Dipikirkanlah cara untuk menghentikan pertengkaran anak-anaknya oleh Datu Batanghari Sembilan.
*****
Seiring waktu, tubuh Murada terus mengalami pembesaran yang tidak normal. Semakin hari tubuhnya semakin besar. Pada walnya dia dianggap biasa saja. Tapi sekarang menjadi luar biasa. Semua orang tidak mengerti dan merasa sangat aneh. Mengapa tubuh Murada terus meninggi dan membesar.

Mulai Murada tidak muat lagi dengan ruangan rumah. Maka, dia tidur di halaman rumah. Terus membesar, dia pun terpaksa tidur di lapangan rumput di dekat pohon beringin dimana dahulu dia sering mendengar Puyang Andalas berandai-andai. Saat dia duduk hampir seluruh lapangan rumput tertutup oleh tubuhnya. Saat dia berdiri tingginya sama dengan pohon beringin tersebut. Saat di dekat pohon kelapa juga tingginya sama. Penduduk merasa takjub juga merasa prihatin, disertai rasa ngeri.

Murada yang dahulu hanyalah anak polos dan kecil. Sekarang tumbuh menjadi manusia raksasa. Sebab itulah Murada sekarang tidak dapat bersosialisasi lagi dengan teman-temannya, masyarakatnya dan keluarganya. Murada tidak dapat lagi masuk Talangnya. Karena akan merusak Talang atau mencelakai warga dan ternak warga. Murada sering menyendiri diperbukitan jauh. Saat dia duduk matanya dapat menyaksikan Talangnya. Warganya, teman-temannya, sanak keluarganya, dan kedua orang tuanya. Air mata Murada menetes sebab di Talang ada seorang gadis yang dia cintai, Sasana. Teman sepermainan itu telah mencuri hatinya.

Sasana juga menyukai Murada sesungguhnya. Pernah Sasana berharap muradalah menjadi suaminya. Mereka sudah berteman sejak dari kecil sampai tubuh Murada belum terlalu besar seperti sekarang. Bahkan sampai sekarang Sasana juga masih mencintai Murada. Namun pertumbuhan tubuh Murada terus menerus. Sehingga Murada menjadi manusia raksasa.

Maka tidak mungkin dia menikah dengan Murada. Murada juga sadar keadaan dirinya. Maka dia merelahkan Sasana menikah dengan seorang teman sepermainan mereka, Bumibu. Suatu hari Sasana pamit pada Murada. Ada air mata yang menetes dikedua belah pipi mereka. Begitupun Bumibu meminta izin untuk menikah dengan Sasana pada Murada.

Murada manusia raksasa yang baik hati berkata. “Menikalah Bumibu dengan Sasana. Jagalah dia baik-baik dan semoga kalian hidup bahagia. Aku akan selalu berdoa pada sang pencipta agar kalian dianugerahi keberkahan hidup.” Ujar Murada kuat. Sasana mendengar perkataan itu. Air matanya jatuh tidak terbendung lagi. Dia tahu kalau hati Murada pasti sakit dan hancur. Tapi dia sudah dewasa dan mengerti akan kehidupan.
*****
Hari itu adalah hari pernikahan Sasana dan Bumibu. Terlihat meriah dengan tabuhan-tabuhan gendang dan tarian-tarian. Talang Andalas bergembira ria pagi itu. Murada tampak sedih dan sepi sendiri. Alunan seruling terdengar seperti sembilu yang menyayat hati. Tapi dia sabar dan kuat. Dalam kemeriahan pernikahan Sasana itu. Tiba-tiba Talang Andalas dikepung oleh puluhan hewan raksas pemakan daging (dinosourus). Semua panik dan berlarian mencari selamat. Murada dari jauh melihat semua kejadian itu. Dia bangkit dan berlari cepat menuju Talang Andalas. Menerobos hutan-hutan rimbah yang sama tinggi dengan tubuhnya. Dia mencabut sebatang pohon kayu ulin atau kayu besi. Lalu di jadikan semacam tongkat untuk menyerang hewan raksasa tersebut.

Sementara di Talang Andalas. Sasana dan Bumibu terjebak sehingga mereka tidak dapat berlari. Ada juga warga yang akan terinjak-injak. Beberapa anak-anak juga hampir terinjak-injak. Dalam suasana genting itulah. Murada datang menerjang. Beberapa batu besar dilempar dan mengenai kepala hewan raksasa itu. Tendangan juga membuat beberapa hewan terpental, selamatlah Sasana dan Bumibu. Sasana terharu sekali atas kebaikan Murada. Kemudian pukulan dari tongkat kayu besar menghantam kepala beberapa ekor hewan raksasa, pecah. Mati seketika dengan kepala hancur.

Khawatir dengan keselamatan warga. Karena bantingan atau injakan hewan raksasa bergigi runcing mirip kadal tapi berjalan tegak. Murada berlari menjauh, memancing agar hewan-hewan raksasa buas itu menjauh dari Talang Andalas. Hewan-hewan raksasa mengejar. Karena merasa mendapat mangsa besar. Terjadilah pertarungan hidup mati antara Murada dan hewan-hewan raksasa itu.

Dari jauh warga Talang Andalas menyaksikan.  Berdoa untuk keselamatan Murada. Rasa haru dan bahagia, khawatir dan takut bercampur aduk. Warga merasa sayang dan bangga pada Murada. Dalam pertarungan itu, beberapa kali Murada terpental dan berguling-guling, semua menjerit.

Ibu Murada jatuh pingsan melihat anaknya dikeroyok hewan raksasa itu. Namun akhirnya Murada dapat mengalahkan seluruh hewan raksasa buas itu. Setelah peristiwa itu, sering Talang Andalas diserang hewan buas lainnya, sekelompok harimau, sekelompok gajah, ular raksasa. Tapi Murada selalu melindungi warga talangnnya. Sehingga aman dan tentram warga Talang Andalas dijaga oleh Murada.
*****
Beberapa bulan setelah peristiwa penyerangan hewan raksasa. Dua orang kakak Murada kembali ribut besar. Ada yang luka terkapar dan hampir meninggal. Malamnya kembali kakak keempat dan kelima juga ribut besar. Kembali satu diantaranya terkapar luka parah. Lalu kakak ke tujuh dan kakak ke sembilan juga ribut dan keduanya sama-sama hampir mati kalau tidak dilerai warga. Begitupun yang lainnya. Dalam sebulan ada enam orang kakak Murada yang hapir tewas akibat berkelahi satu sama lain. Bukan main sibuknya warga melerai mereka. Berita itu sampai juga ketelinga Puyang Andalas. Puyang Andalas tak habis pikir dengan anak-anak adik sepupunya itu.

“Aku tidak tahan lagi dengan kalian ini. Adik beradik macam sekelompok kera. Selalu bertengkar dan bertengkar. Maka aku sebagai Datu, mengusir kalian semua dari Talang Andalas. Pergi sejauh-jauhnya, pergi jangan sampai kalian bertemu lagi dan tidak bertengkar lagi. Pergiiiiii. Peerrggiiii.” Itulah keputusan akhir Datu Batanghari Sembilan. Karena Datu Batanghari Sembilan mempertimbangkan keselamatan mereka satu sama lain. Puyang Andalas juga merestui dan itu keputusan yang tepat menurutnya.

Tidak ada kelembutan lagi. Sebab pertengkaran mereka terus menghebat. Datu Batanghari Sembilan khawatir kalau mereka nantinya terjadi pertumpahan darah. Karena khawatir ada yang menyimpan dendam. Datu kemudian meminta limabelas orang pengawal untuk mengeluarkan semua barang alat-alat rumah tangga dari dalam rumah sembilan anak-anaknya. Lalu rumah mereka dirobohkan semua. Terusirlah mereka sembilan beradik dari Talang Andalas. Tidak peduli lagi siapa yang benar dan siapa yang salah. Agar adil maka semuanya harus pergi.

Puyang Andalas yang juga ikut musyawarah. Kemudian memerintahkan setiap anak Datu Batanghari Sembilan diangkat menjadi Datu. Agar mereka memimpin di Talang baru yang akan mereka dirikan disuatu tepat. Tiap-tiap anak Datu Batanghari Sembilan diberikan sepuluh orang pengawal. Yang juga pergi bersama anak dan istrinya. Kemudian setiap anak Datu Batanghari Sembilan diikuti dua puluh keluarga. Mereka ditugaskan Puyang Andalas untuk pergi menyertai agar tercipta sebuah Talang baru.

Singkat cerita, kesembilan anak-anak Datu Batanghari Sembilan bersama pengikut masing-masing pergi menembus hutan tidak tentu arah. Setiap rombongan menempu arah yang berbedah-bedah. Mereka hanya mengikuti kaki melangkah saja. Tidak tahu kemana tujuan mereka. Kalau telah lelah mereka beristirahat. Kalau sudah kuat mereka berjalan lagi. Bibit padi, bibit sayuran, beberapa pasang ternak, sapi, kerbau, kambing, ayam mereka bawa juga. Entah kemana mereka pergi yang penting saling berjauhan satu sama lain dan tentu juga, jauh dari Talang Andalas.
*****
Waktu berlalu, lima belas tahun kemudian. Tidak ada kabar lagi tentang anak-anak Datu Batanghari Sembilan. Ayah dan ibu Murada sudah semakin tua. Keduanya juga sangat merindukan sembilan kakak-kakak Murada. Namun mereka tidak tahu dimana gerangan anak mereka tinggal. Masih hidup atau sudah mati. Air mata keduanya selalu menetes. Ada sesal juga di hati Datu Batanghari Sembilan karena mengusir anak-anaknya.

Kesedihan keduanya sering mereka adukan pada Uwa Murada. Kakak kandung Datu Batanghari Sembilan yang pandai mengempu membuat alat-alat pertanian. Kadang juga keduanya langsung bercerita pada Murada. Membuat Murada menjadi sedih. "Sabarlah Umak, Bak. Yang terjadi biarlah terjadi. Akan ada hal lain atas semua yang telah terjadi itu. Demikianlah yang telah dia rencanakan, sang pencipta." Ujar Murada menghibur ayah dan ibunya.

Kemudian, dalam setahun berikutnya ada utusan-utusan dari sembilan kakak-kakak Murada. Datang berturut-turut ke Talang Andalas. Sehingga mengetahui kalau semua kakak Murada dan semua yang menemani kepergian mereka masih hidup dan mereka juga telah membuka Talang baru masing-masing. Perkiraan tempat dan arah juga diberi tahu. Ada yang sebulan perjalanan, dua bulan perjalanan. Tentu Murada juga bahagia mendengar kabar itu. Agak terobati rindu dan tenang hati ibu dan ayah Murada. Mendengar anak-anak mereka masih hidup. Hanya dengan hidup berjauhan mereka tidak lagi bertengkar-tengkar dan berkelahi.

Tapi obat kerinduan hanyalah bertemu. Ingin Ibu dan Ayah Murada mengunjungi anak-anaknya. Sehingga seringlah ibu Murada menangis sedih. Bagaimana pun hati seorang ibu tidak akan pernah jauh dari memikirkan anak-anaknya. Kadang berhari-hari ibu Murada menangis mengenang anak-anaknya. Terbayang sembilan anak-anak sewaktu masih kecil. Bermain dan makan bersama-sama, mandi ke sungai bersama-sama. Ibunya yang sudah tua tidak dapat berjalan jauh. Lama Murada memikirkannya. Bagaimana cara ibunya dapat berkunjung langsung kerumah kakak-kakaknya sesuka hatinya.

Suatu hari hujan lebat sekali. Sehingga membuat beberapa ekor monyet terjatuh dari pohon. Mereka hanyut dan berpegang pada sebatang pohon yang hanyut mengapung. Murada melihat dan menolong monyet yang hanyut itu. Beberapa hari kemudian dia memikirkan monyet yang hanyut itu. Juga teringat dengan ibunya yang selalu bersedi memikirkan kakak-kakanya. Murada pergi ke dekat Talang Andalas. Duduk di sekitar tempat sang Uwa mengempu. Maka berbincang-bincanglah Uwa dan kemenakan itu. Murada manusia raksasa tentu kalau berbicara suaranya juga besar dan keras.

“Jangan bentak-bentak Murada. Aku ini Uwa kau, nanti kau kualat?.” Ujar Uwa Murada sambil mengorek-ngorek telinganya yang terasa pesing dan gatal karena mendengar suara Murada yang keras seperti guntur. Murada menjawab.

“Bukan membentak Uwa. Memang suara aku besar, itu suara aku yang paling lembut. Jawab Murada. Kemudian dia melanjutkan. “Uwa jangan pula berbisik-bisik berbicara dengan aku. Aku tidak tuli pun." Kata Murada bercanda.

“Itu suara aku paling keras, Murada. Jawab Uwa Murada, lalu melanjutkan. “Ada apa Murada, tidak biasa kau mengunjungi Uwa-mu, yang tua ini.
“Bagaimana kabar Jajani. Apa lah menikah?.” Ujar Murada pelan-pelan berbasah-basih. Bertanya tentang adik sepupunya anak sang Uwa. Uwa jawab baik. Tahun depan Jajani akan menikah. Sebab sudah dilamar seorang pemuda.

Murada menceritakan tentang keadaan ibunya. Sang Uwa juga mengiakan. Sudah sering menasihati ujarnya. Tapi ibu Murada tetap merasa ingin bertemu dengan anak-anaknya. Namanya perasaan tidak dapat dihentikan kata sang Uwa. Murada menyampaikan maksud kedatangannya. Dia meminta dibuatkan cangkul dan parang untuk ukurannya. Sehingga sang Uwa menjadi kaget. Alangkah besarnya parang dan cangkul untukmu Murada. Tapi karena keponakan sendiri yang meminta. Maka sang Uwa membuatkannya juga walau berat dan sulit. Mata cangkul selebar atap rumah dan tiangnya seukuran tinggi satu pohon kelapa besar.

Maka Uwa Murada meminta bantuan warga Talang Andalas dalam membuat cangkul dan parang. Dalam waktu empat bulan barulah selesai parang dan cangkul pesanan Murada. Tentu saja Murada suka dan gembira. Warga bergotong royong membuat hulu parang dan gagang cangkul. Karena semuanya sayang pada Murada.

Murada merasa bahagia memiliki parang dan cangkul sesuai untuk ukuran dirinya, manusia raksasa. Sehingga suatu hari nanti, dia dapat membuat sesuatu katanya. Setelah mengambil cangkul dan parang. Murada pamit pada semuanya. Pergi membawa parang besar dan cangkul raksasa menurut ukuran manusia normal. Tapi bagi Murada itu ukuran biasa dan pas. Dia bilang kalau dia pergi menuju ke pantai Selat Malaka sekarang. Semua warga bertanya-tanya namun mereka diam saja sambil mengangkat bahu.
*****
Murada melangkah ke tepian pantai Selat Malaka. Cangkul raksasa, gagang yang terbuat dari kayu ulin atau kayu besi dia pikul dibahunya. Dibuat dari kayu berkualitas agar tidak mudah rusak apalagi sampai patah. Parang menggantung di pinggangnya. Saat berjalan parang tampak memukul-mukul pakaiannya yang terubuat dari rangkaian kulit hewan.

Setiap melangkah dia selalu berteriak-teriak pada hewan-hewan agar menyungkir nanti terinjak. “Kijang, rusa, kancil, tupai, burung, tikus, dan semuanya awas aku numpang lewat, nanti terinjak.” Memang tapak kaki Murada sangat besar karena dia manusia raksas. Hewan-hewan berlarian menepi dan memperingatkan teman-teman yang lainnya.

Setiap langkahnya terdengar suara bergemuruh dan semak-semak patah-patah. Tubunya yang besar setinggi pohon itu melangkah tanpa rintangan. Bukit-bukit tinggi ukuran manusia normal, bagi Murada hanyalah gundukan kecil. Sampailah dia tepian pantai Selat Malaka. Ombak berdebur ditepian pantai. Awan putih bearak-arak memenuhi langit yang biru. Banyak burung-burung terbang berlalu di udara yang mirip nyamuk bagi Murada. Banyak ikan paus yang berlalu di lautan. Dengan parangnya dia menangkap puluhan ikan paus. Kemudian dia memanggang dan makan dengan lahap. Setelah perutnya kenyang dia duduk diatas sebuah batu karang dan kakinya menjuntai ke laut. Seperti orang yang sedang duduk di kursi saja kiranya.

Sinar mata Murada menyiratkan rindu dengan seorang gadis canti teman bermainnya sewaktu kecil dulu, Sanana. Kemudian terbayang wajah Sanana yang sudah gadis, cantik dan lembut. Air matanya menetes perlahan sebab Sanana gadis yang dia cintai. Namun karena Murada tubuhnya membesar terus.

Sehingga dia menjadi manusia raksasa. Maka dia tidak mungkin dapat menikah dengan Sanana yang tubuhnya normal. Kesedihannya bertambah ketika teringat akan kesedihan ibunya karena lama berpisah dengan kakak-kakaknya. Ibunya tidak dapat mengunjungi anak cucunya yang tinggal berjauhan. Sedangkan dirinya sendiri tidak dapat berbuat banyak untuk menghibur ayah dan ibunya.

“Murada, aku sedih sekali. Ingat kakak-kakak kau, keponaan kau. Ingin sekali ibu setiap waktu dapat berkunjung kerumah kakak-kakakmu. Tapi, untuk berjalan aku sudah tua. Tak dapat nak bejalan jauh lagi.” Itulah kata-kata ibu Murada beberapa bulan lalu. Kata-kata yang mengusik hatinya dan jiwanya.

Maka dia ingin sekali memenuhi keinginan ibunya. Murada yang hidup kesepian merasa dia manusia yang tidak beruntung. Tapi Murada tetap sabar dan bersyukur pada sang pencipta. Karena dia telah diberikan kehidupan di dunia ini. Walau dia tidak memiliki apapun di dunia ini. Tapi dia ingin berbuat sesuatu untuk sang ibu dan ayah yang dia cintai. Entah apa yang akan dilakukan oleh Murada.

Keesokan pagi setelah sarapan pucuk-pucuk daun kelapa bakar dan ikan bakar. Murada memilih tempat yang dia anggap cocok. Lalu dia mulai menggali dan menggali tanah dengan cangkul raksasanya. Dari bibir pantai terus ke daratan. Murada menggali dan menggali dengan sangat lebar ukuran manusia normal. Tapi bagi Murada itu hanya selebar ratusan langkah saja.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Dari hasil galian Murada ternyata memanjang ke daratan. Galian Murada ternyata membentuk sebuah sungai yang besar. Selama tiga tahun Murada telah sangat panjang membuat sungai. Sungai yang dia buat sengaja dia lewatkan di dekat Talang Andalas. Ayah dan Ibu Murada melihat dari jauh pekerjaan anak raksasa mereka.

Ibu Murada meneteskan air mata. Dia sedih melihat keadaan anaknya. Beberapa warga dan sanak keluarga murada memotong hewan ternak. Lalu mereka memanggang tanpa memotong. Utuh hanya dibuang kulit dan kotorannya saja. Karena satu ekor sapi cukup satu kali makan bagi Murada. Murada bahagia sekali karena semua keluarga, sanak familinya, teman-temannya masa kecil, dan semua warga menyayanginya selalu tidak berubah walau dia manusia raksas.

Beebrapa bulan kemudian, sampailah galian Murada di dekat sebuah Talang masyarakat. Ada sebatang pohon kiara beringin atau Pohon Kayu Ara. Kelak disinilah akan berdiri Desa Kayuara di Kota Sekayu. Tubuh Murada terasa lelah, Murada sedang duduk dan beristirahat. Keringat mengalir deras dari dahinya. Angin menerpa wajahnya dan dia merasa sejuk. Tiba-tiba dia mendengar suara seorang manusia. Dia melirik kesamping dan terlihat seorang anak muda berdiri di cabang Pohon Ara.

“Mamak Murada. Apa kabar?. Murada menole ke sampingnya. Dia mengenali anak muda di atas cabang pohon kiara itu.
“Baik, Parinaka. Dah besar kau sekarang. Apa kabar Bak dan Umakmu?
“Baik Mamak. Sedang buat apa? Panjang dan lebar menggali. Macam nak buat paya saja." Parinaka bertanya.

“Mamak kau ini, sedang membuat Batanghari. Supaya Kakek dan Nenek kau dapat bertandang. Mereka rindu denganmu, ayahmu, ibumu dan semuanya. Kalau kau sedang tidak sibuk. Berakitlah ke hilir, bertandanglah kerumah kakekmu. Kasihan mereka rindu dengan kalian.” Ujar Murada. Dari sinilah nantinya timbul ungkapan berakit-rakit ke hulu. Berenang-renang ketepian.

"Batanghari itu apa Mamak?." Waktu itu kata sungai belum terbentuk.
"Tempat air mengalir, sama seperti paya. Tapi air paya tidak mengalir cuma tergenang saja." Jelas Murada.

Parinaka mengiakan tanda mengerti. Paman dan keponakan lama berbincang-bincang. Setelah itu, Parinaka berlari pulang. Memberi tahu ayah dan ibunya kalau Murada sedang menggali membuat Batanghari. Maradu kakak tertua Murada kemudian meminta bantuan warga memotong seekor sapi. Untuk menjamu Murada, semua penduduk merasa bahagia melihat Murada. Bagaimanapun, Murada adalah saudara mereka. Dari Talang Kayuara terdengar gemuruh pekerjaan Murada. Sementara Parinaka berlari menuju rumpun bambu dan dia membuat rakit. Setelah selesai dia jatuhkan kedalam sungai galian Murada yang sudah selesai disebelah hilir. Ayah dan Ibu Parinaka bertanya-tanya apa yang dilakukan anaknya.

Setelah selesai Parinaka mengajak beberapa pemuda seumuran dengannya untuk pergi berakit kehilir menuju Talang Andalas. Mereka semua memiliki keluarga di Talang Andalas. Saat pamit Parinaka menceritakan mengapa Murada membuat sungai (Batanghari). Beberapa hari kemudian. Saat itu Nenek dan Kakek Parinaka duduk di tebing sungai galian Murada. Mereka terkejut dan haru melihat di tengah sungai galian Murada ada beberapa orang anak muda. Mereka merasa mengenali mereka semua.

Ada seorang pemuda membawa buntalan pakaian yang sangat mirip dengan anak sulung mereka. Saat mendarat, tiba didekat mereka si pemuda memeluk keduanya. Tahulah mereka kalau itu Parinaka yang waktu mereka pergi dulu baru berumur sepuluh tahun. Menangislah Kakek dan Nenek Parinaka memeluk cucu dari anak tertua mereka. Karena sungai galian Murada itu, sekarang penduduk dapat saling mengunjungi satu sama lain. Ada juga yang ikut pindah dan bertambah penduduk Talang Kayuara.

Sementara itu, Murada terus menggali dan ke hulu sampai ke perbukitan Bukit Barisan. Di daerah Provinsi Bengkulu sekarang. Dia ingin sungai galiannya terus mengalir walau musim kemarau. Itulah mengapa dia gali sampai jauh kehulu. Karena dia tahu, hutan dan bukit menyimpan air. Semoga hutan tidak rusak dimasa-masa mendatang katanya. Setelah selesai dia beristirahat di Bukit Barisan. Duduk memandangi alam yang luas. Kembali kesedihan hadir dilubuk hati Murada. Sasana aku rindu padamu kata hati Murada. Sudah sekuat tenaga dia ingin melupakan Sanana. Tapi tidak mampu, hanya dengan kesibukan dia dapat melupakan. Gadis yang telah mencuri hatinya. Selain itu, Ibu dan ayahnya yang tidak dapat berkunjung kesemua rumah kakak-kakaknya. Juga menambah sedih hati Murada.

Sebulan kemudian dia kembali ke hilir dan berjalan ditengah sungai galiannya. Bagi Murada sama saja berjalan di sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Air sungai hanya sebatas lutunya. Mendekati Talang Kayuara kediaman kakak tertuanya. Dia melihat ayah dan ibunya, Parinaka, dan beberapa orang warga dari Talang Andalas, sedang mendarat dari rakit-rakit mereka. Terlihat sang kakak, keponakan kecilnya, kakak ipar dan puluhan warga menyambut kedatangan mereka. Mereka semua berpelukan melepas rindu. Murada juga ikut terharu dan dia duduk di tebing sungai sambil melambaikan tangan. Semuanya juga melambaikan tangan pada Murada.

Kembali kakaknya memotong ternak,  seekor kerbau dan memberikannya pada Murada. Satu guci besar air minuman gula nira hangat, dan satu keranjang besar nasih. Murada makan dengan lahap di tepi hutan. Dia tidak bisa masuk Talang apalagi masuk rumah. Murada kembali pamit dan pergi kembali ke hilir di dekat pantai. "Hati-hati Dah, Jangan lama-lama pulang." Pesan ibunya sambil menarik nafas berat.

Murada kembali menggali dan membuat sungai lagi. Sungai-sungai yang digali Murada  selanjutnya, juga melewati di samping Talang kakak-kakaknya yang lain. Talang Muntaka, Talang Melana, Talang Miruba, Talang Manaro, Talang Milaku, Talang Mankaka, Talang Misulatu, Talang Misulaka. Semua sungai-sungai yang digali Murada bermuara ke sungai galian pertamanya. Kelak sungai yang di gali pertama itu bernama Sungai Musi. Kata Musi bermakna kasih sayang dan kekeluargaan yang saling mencintai.

Dengan demikian terciptalah banyak sungai-sungai. Sehingga kakak beradik, anak dan ayah-ibu, sanak keluarga, masyarakat lainnya dapat saling berkunjung berkah dari sungai galian Murada. Banyak juga masyarakat Talang Andalas yang pindah dan membangun Talang-Talang baru di sepanjang pinggiran sungai-sungai tersebut. Sehingga dapat kita lihat sekarang, hampir disemua tempat pemukiman lama orang Sumatera Selatan banyak terdapat di dekat sungai-sungai.

Cinta orang tua pada anak tidak akan hilang selamanya. Kakak beradik tetap menjadi keluarga walau hidup berjauhan. Tapi saling mengunjungi dan berjumpa adalah bentuk penjalin kasih sayang keluarga. Mereka menyesal karena selalu bertengkar oleh masalah sepeleh saja. Hanya karena anak-anak mereka bertengkar membuat mereka bertengkar hebat. Saat jauh barulah mengerti kalau mereka bodoh dan membuat penyesalan masing-masing. Andai kalau diantaranya ada yang terbunuh. Alangkah buruk jalan hidup kata kakak-kakak Murada.

Sehingga mereka mengutuk anak keturunannya orang Sumatera Selatan yang ribut atau bertengkar satu sama lain sesama orang Sumatera Selatan (Melayu Sumatera Bagian Timur). Baik itu antar klompok organisasi, antar desa, antar kecamatan, antar kabupaten, atau lainnya. Maka janganlah sampai kita ribut atau komplik agar terhindar dari kutukan para Puyang-Puyang terdahulu.
*****
Kelak sungai-sungai yang digali oleh Murada akan dikenal dengan Wilayah Sungai Batanghari Sembilan. Yaitu, Sungai Klingi, Sungai Bliti, Sungai Lakitan, Sungai Rawas, Sungai Rupit, Sungai Lematang, Sungai Leko, Sungai Ogan, dan Sungai Komering. Pendapat lain mengatakan konsep atau istilah Batanghari Sembilan, mengacu ke wilayah, sebutan lain (tradisional) dari kawasan Pulau Sumatra Bagian timur.

Meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Bengkulu, dan Bangka Belitung. Atau wilayah yang dialiri sembilan sungai (batanghari) yang berukuran besar tersebut. Batanghari dalam beberapa bahasa lokal di Sumatra Selatan, misalnya saja bahasa Rambang (Prabumulih) atau bahasa Bindu (Kecamatan Peninjauan), berarti sungai.

Kalau ditelusuri dari bahasa dan budaya ternyata masyarakat Melayu di Sumatera Selatan berasal dari satu kelompok masyarakat. Itu terbukti dari bahasa Melayu yang digunakan sangat mirip. Hanya berbeda dialek sedikit saja. Itulah mengapa di Provinsi Sumatera Selatan tidak pernah terjadi keributan atau kerusuhan antar warga masyarakatnya.

Karena ada ikatan batin sebagai  kelompok masyarakat  yang satu asal dan satu keturunan. Membuat di Sumatera Selatan menjadi provinsi yang paling aman di Indonesia dan tidak pernah ada komplik antara masyarakatnya. Karena belajar dari kisah ini, masyarakat Melayu khususnya di Sumatera Selatan selalu mengedepankan musyawara dan dialog.

Oleh. Joni Apero.
Desti. S. Sos.
Palembang, 19 November 2019.

Daftar arti kata: Mamak: Paman. Talang: Perkampungan atau desa. Datu: Kepala Kampung. Puyang: Gelar untuk Pemimpin tertinggi di suatu kawasan. Gelar tidak bersifat turun temurun. Pemimpin yang dipilih masyarakatnya. Andai-andai: Mendongeng. Paya: Tempat air hujan tergenang membentuk memanjang seperti sungai, airnya cukup dalam, dan bertahan lama. Umak: Ibu. Bak: Ayah.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment