10/09/2019

Relevansi Gelar Puyang Untuk Tokoh Perempuan

Apero Fublic.- Relevansi berarti suatu keterkaitan atau sesuatu yang terhubung atau juga sesuatu yang cocok atau sesuai. Dalam pembahasan ini adalah bentuk kecocokan pemberian gelar puyang pada kaum wanita.

Gelar puyang di Pulau Sumatera Bagian Timur, meliputi Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung adalah gelar tradisional asli yang dimiliki oleh kawasan ini. Kata puyang terdiri dari dua suku kata, yaitu pu dan yang. Kata pu dalam bahasa Melayu Pulau Sumatera Bagian Timur bermakna tempat.

Sedang kata yang berindikasi kepemimpinan atau orang yang dihormati. Namun apabila kata puyang ini muncul sewaktu datangnya pengaruh Hindu-Budha di Indoesia. Maka kata yang dapat dirujukkan adalah kata hyang dalam bahasa sanskerta.

Hyang dalam bahasa sanskerta bermakna; suatu keberadaan spiritual tidak kasat mata yang memiliki kekuatan supranatural. Berupa kekuatan yang bersifat ilahia atau roh leluhur (wikipedia). Sehingga tidak mengherankan kalau gelar puyang sering diiringi dengan legenda-legenda mitos pada orang yang diberi gelar puyang.

Puyang memiliki empat pengertian pokok. Pertama, orang tua dari kakek-nenek yang digunakan oleh sebagaian wilayah di Provinsi Sumatera selatan. Kedua, gelar puyang diberikan untuk seorang pemuka agama disuatu tempat.

Ketiga, untuk menyebut leluhur atau nenek moyang masyarakat disuatu tempat. Keempat, untuk gelar seorang pemimpin yang berasal dari masyarakat biasa yang bukan keturunan dari bangsawan. Gelar puyang adalah gelar kepemimpinan demokrasi yang di berikan masyarakat pada pemimpinya.

Gelar puyang kalau secara luas sama dengan gelar Datuk di Malaysia, Teuku di Aceh, Sunan di Jawa, Daeng dari Bugis. Sebagaimana kita ketahui di Aceh ada gelar Teuku yang kita tahu seperti Pahlawan Nasional Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro dan lainnya.

Baru-baru ini di Malaysia seperti pemberian gelar pada penyanyi kondang Siti Nurhaliza yang diberi gelar Datuk Siti Nurhaliza. Kalau kita mencermati di Malaysia gelar datuk dapat diberikan pada kaum wanita juga. Apakah gelar puyang dapat diberikan pada wanita.

Di Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, ada sebuah makam tua yang masyarakat menyebutnya, Puyang Gadis. Gelar makam Puyang Gadis belum diketahui secara historis. Ada yang bilang memang dahulu yang dimakamkan adalah seorang gadis perawan. Ada juga yang berkata karena makam itu hanya satu, tidak ada yang pendampingnya.

Sehingga disebut Puyang Gadis. Masyarakat berpikir kalau seorang wanita sudah menikah, biasanya makamnya berdekatan dengan kuburan suaminya. Panggilan Puyang pada wanita juga berlaku dalam silsilah keluarga. Yaitu pada panggilan pada ibu dari orang tua, kakek atau nenek kita.


Kalau mengkaji dan menelusuri jejak gelar puyang untuk tokoh wanita adalah hal biasa, dan boleh diberikan. Berarti gelar puyang boleh juga diberikan pada tokoh-tokoh perempuan. Dengan artian gelar puyang tidak dimonopoli oleh kaum laki-laki. Pemberian gelar puyang juga harus memenuhi syarat-syarat khusus. Terutama penjagaan nama baik oleh penyandang gelar. Adanya badan hukum pemberian dan ketentuan-ketentuan pencabutan gelar puyang.
Foto Makam Puyang Gadis di Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Nisan makam tinggal satu, dan sudah aus. Kemungkin dahulu ada namanya. Posisi kuburan menghadap kiblat. Berarti kuburan seorang Muslim. Nisan terbuat dari kayu ulin atau kayu belian (kayu besi). Jejak pemberian gelar pada tokoh wanita. Kondisi makam tidak terawat.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 10 Oktober 2010.
Sumber foto. Apero Fublic.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment