10/05/2019

Contoh Paham Neo-Feodalisme Di Indonesia

Apero Fublic.- Dalam pembahasan ini akan menjelaskan sifat atau paham dari neo-feodalisme di tengah masyarakat Indonesia sekarang (2019). Dalam tulisan ini tidak menyerang institusi atau individu. Pembahasan ini untuk menamakan paham perilaku tersebut secara umum.

Sehingga mengajak dialog pada sikap, sifat dan pemikiran dari kita semua. Yang diserang itu adalah tabiat atau bahasa akademisi diistilahkan social sickFeodalisme adalah paham orang-orang pada masa monarki dimana mereka merasa lebih tinggi, lebih hebat, sangat berkuasa (suverior). Orang-orang ini tidak mau dianggap salah. Hal-hal yang dia kerjakan adalah mutlak benar bagi dirinya.

Bantahan orang akan membuat dirinya tersinggung dan marah besar. Sedikit saja salah maka akan dia besar-besarkan dengan keangkuhannya yang di sandarkannya pada kedudukan, kekuasaan, pangkat, kekayaan, dan gelar. Tidak mau sedikitpun terlihat kalah dari orang yang dibawa otoritasnya. Meskipun itu sebatas kata-kata.
Skrinsut ini bagaimana si Bapak Polisi meminta maaf karena kehilafannya pada Abang Ojol. Tulisan ini tidak menyerang individu tapi mengilustrasikan sifat neofeodalisme yang sering terjadi. Mungkin kasus yang ini adalah bentuk kehilafan.
Skrinsut berita oknum rektor yang menjadi dosen pembimbing si mahasiswi sudah sering di tunggu bimbingan. Namun rektor itu selalu tidak bisa, sudah berbulan-bulan. Lalu waktu melemparkan disertasi ke mahasiswi tersebut Tulisan ini tidak menyerang individu. Mengilustrasikan dari paham neofeodalisme tersebut.
Orang-orang yang menganut paham feodalisme menilai keberhasilan mereka itu dengan simbol dan materi. Semakin banyak materi yang mereka dapatkan. Maka merasa semakin berhasil dirinya. Semakin besar dirinya, semakin berkuasa dirinya.

Dia merasa tidak ada hal yang dia takutkan. Dia merasa tidak bergantung pada orang. Orang yang di bawa otoritasnya, dia anggap remeh dan dipermudah dalam memperlakukannya. Sedikit saja membantah, salah maka akan dia persulit dan dia rendahkan.

Paham feodalisme ini sekarang telah menjangkiti komponen bangsa ini. Kalau zaman dahulu feodalisme ini di anut oleh kaum bangsawan dan orang kaya. Di zaman sekarang paham ini dianut oleh oknum orang-orang berkedudukan, orang kaya, dan dunia akademisi.

Seperti anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-D/MPR), oknum polisi, oknum TNI, oknum dosen (kadang jadi dosen cabul), oknum PNS, oknum pengusaha, oknum hakim, oknum pejabat, oknum bupati, oknum gubernur, oknum mentri dan sebagainya. Oleh karena itulah disebut dengan istilah penganut paham Neo-Feodalisme. Atau dengan pengertian munculnya kelompok orang-orang yang berpaham feodalisme baru.


Namun apabila dia si feodalisme memerlukan orang lain. Orang-orang ini juga tidak malu menjadi penjilat. Kelompok tersebut, bahasa kasar dalam istilah orang Melayu Sekayu “Mentang-Mentang.” Saya pernah mendengar sebuah percakapan cekcok. “mentang-mentang kau raje, nga ndak mbasengke uang. Aku ini manusio bukan pulek binatang. Salah-salah omongke aman salah. Dem tu ngasek pulek aman salah, jangan pulek mentang-mentang igek, idupkak segal kalu mati gancang.

Artinya: mentang-mentang kau pemimpin (TNI, Polisi, DPR, PNS, dan lainnya), dirimu memperlakukan orang sesuka hati. Aku ini manusia bukan binatang. Kalau ada salah, beri tahu. Kau itu, juga sadar diri. Kalau salah, ya salah. Jangan terlalu mentang-mentang. Hidup di dunia ini sebentar, nanti cepat mati (masuk neraka).

Sudah menjadi mantan DPR masih membawa paham feodalismenya. Merasa dirinya hebat, kuat, berkuasa. Meminta di istimewakan walau melanggar hukum. Oknum inilah yang dinamakan dengan penganut paham neofeodalisme.
Seorang oknum anggota DPR memiliki paham neo-feodalisme. Merasa dirinya hebat, kuat, berkuasa. Meminta di istimewakan, padahal itu salah. Oknum inilah yang dinamakan dengan penganut paham neofeodalisme.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 6 Oktober 2019.
Sumber foto. Scrincut.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment