7/14/2019

Syarce. Sakit Hati

Apero Fublic.- Pernah sesekali seseorang begitu sakit hatinya. Baik itu, karena cinta yang di hianati, atau mungkin juga karena hinaan seseorang pada dirinya. Sebab kekurangannya. Kadang juga karena tipuan orang, yang membuat kehancuran.  Atau karena sahabat yang menggunting dalam lipatan.

Celakanya orang yang menusuk kadang kalah adalah orang yang dekat, mungkin teman, atau saudara sendiri. Teman atau saudara yang seperti itu memang sangat mengerikan, seperti kalajengking yang bersembunyi dibalik rerumputan, kemudian menyengat tiba-tiba. Bahkan sengatan kalajengking, kalah dibandingkan sakit oleh penghianatan.

Dimana awalnya kita sangat percaya, bahwa dia seperti matahari yang bersinar menerangi. Tetapi kemudian ternyata dia seorang penghianat. Sehingga rasa sakit, kemudian memunculkan kemarahan, dan kebencian. Dahulu seperti bulan dan bintang, muncul bersamaan saat malam, dan menghilang bersamaan saat siang.

Sekarang bagaikan matahari dan rembulan, yang tidak akan pernah bersatu atau bertemu lagi. Bila pergi sebab merantau lambat laun akan kembali. Namun pergi sebab kekecewaan, mungkin seseorang akan pergi untuk selamanya.

Lalu dalam luka para itu, pergi dengan sendirinya. Mencoba mengobati hati, menapak jalan seorang diri. Apabila dibayangkan betapa sakit rasanya. Apalagi membayangkan mereka tertawa dalam kemenangan. Dia berbangga dengan kehebatan menipunya, dengan penghiatannya.

Sementara di sini, menahan rasa sakit yang tiada taranya. Bolehkah membalas dendam, bolehkah membenci mereka. Namun dengan sekuat tenaga mengubur itu semua. Sedikit tersenyum dengan nada rendah. Bersabar mencoba sabar. Menangis mencoba berhenti. Memang aku kalah jawab hati. Tuhan, kuatkan aku dalam pengasingan ini. Untuk membangun duniaku kembali.

SAKIT HATI

Kau kalajengking malam.
Tubuhmu hitam, sehitam-hitamnya.
Bermata merah berontak racun
kepalamu bertanduk kakimu bercakar.

Sekali kau sengat aku.
Hampir aku menangis, hampir aku menjerit
Namun semua aku benamkan,
di hati ku yang pilu.
Pecah empedu ku, pecah jantung ku.
Andai tiada tuhan,
Telah ku belah dikau dengan amuk ku
Nyeri, ngilu, menggigil tubuh ku.

Kau gigit aku.
Kau suntikan racunmu,
dengan ekor api mu.

Aku bertahan dan mengobati.
Dengan kesabaran dan ke ikhlas.
Mungkin aku tak dapat memaafkan.
Mungkin tuhan dapat memaafkan.
Berbuailah engkau dengan karma,
dan hari perhitungan.

Sekarang, 
bisa mu menebar racun dihidupku.
Membuat sekujur tubuhku mati.

Aku pergi, aku berhenti berharap.
Biarlah langit dan bumi selamanya berpisah.
Bukanlah suatu takdir.
Tetapi memang itu, semestinya.

Aku benci akan engkau, matahari.
Biarlah, aku berlari ke pelukan malam.
Kan ku cari cahaya ku sendiri.
Nan di langit, beribu-ribu, bintang-bintang.
Kan kudapat, satu bintang, akan ku miliki.
Matahari, bakarlah seluruh bumi.
Dengan api nafsu dan keserakahan mu.
Tiadalah peduli.
Karena aku sudah mati.

Kehidupan memang sangat keras. Namun semua itu tidak akan menyebabkan siksa apabila kita berserahdiri pada Allah. Satu hal yang harus kita tahu, bahwa manusia berjalan di garis takdirnya masing-masing. Ketiga garis itu berbeda sebagaimana kita kuat untuk menyatukan tidak akan mungkin bersatu.

Kita akan bersatu dengan dua jalan yang berbeda kemudian ujung jalan itu menyatu dengan jalan yang lainnya. Maka saat itulah nanti kita melangkah bersama. Jadi ikutilah jalan kita dan jangan risaukan kehidupan orang. Saat mereka menyakiti dan saat mereka melukai maafkan mereka. Akhiri kemarahan diri. Hapus rasa sakit hati, dan melangkah dengan cerita baru lagi. Semoga yang pernah sakit hati, yang pernah patah akan tetap kuat melangkah.

Oleh: Adral Edwan.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra
Palembang, 10 November 2013.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment