7/02/2019

Serat Dharma Wasita

Apero Fublic.- Salah satu karya sastra klasik Indonesia adalah, Serat. Serat merupakan hasil buah tangan dari penulis-penulis klasik dari Pulau Jawa. Serat banyak ditulis oleh orang-orang terkemuka, tokoh masyarakat, atau para bangsawan.

Seperti Serat Gendhing ditulis oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram Islam. Dan banyak lagi lainnya. Serat berupa tembang berbahasa Jawa bentuk sastra asli orang Jawa. Berikut ini sedikit informasi tentang sebuah karya sastra serat. Serat berjudul, Serat Darma Wasita yang didokumentasikan oleh Tatiek Kartika dan kawan-kawan.

Merupakan kumpulan dari serat yang dijadikan satu. Serat ini ditemukan dalam kumpulan “Serat Warna Warni” karangan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Negara IV, di Surakarta Jawa Tengah. Serat terdiri dari tiga pupuh, yaitu: 1. Pupuh Dhangdhanggula, sebanyak 12 bait. 2. Pupuh Kinanthi sebanyak 10 bait. 3. Pupuh Mijil sebanyak 20 bait.

Pupuh adalah istilah nama bagian-bagian dalam serat. Patokan dalam mendendang atau menyanyikan. Jumlah keseluruhan bait dari ketiga pupuh ini tersusun menjadi empat puluh dua bait. Serat ini berbentuk tembang, yang ditulis pada bulan Maret tahun 1878  Masehi atau pada hari Selasa Wage tanggal 13 Maulud Tahun Dal Ke 9, atau tahun 1607 Caka dengan sengkalan Tahun Jawa, yang berbunyi; “Wineling anengaha sariranta iku” yang berarti: hendaklah engkau mematuhi peraturan itu.

Dalam ajaran serat ditekankan dalam pendidikan berkeluarga. Baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan yang sudah menikah.  Hendaklah istri dapat membantu suami di dalam membina rumah tangga. Sebagai seorang istri yang juga sebagai seorang perempuan. Dalam upaya menaklukkan suami atau supaya dipercaya oleh suami.

Perempuan hendaklah berlaku baik, setia, lemah-lembut, sabar, berbudi luhur, menutup aurat, menjaga kelakuan, menjauhi pergaulan yang tidak baik.  Jangan pergi ke dukun lalu mengguna-gunai sumai agar suami percaya dan sayang. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Negara IV, menganjurkan masyarakat dengan memberikan ajaran, apa yang disebut dengan Astagina, berarti Delapan Ajaran (pituduh).

1. Harus rajin bekerja. 2. Harus rajin dan suka akan pekerjaannya. 3. Harus hemat. 4. Harus teliti. 5. Harus tahu perhitungan. 6. Harus rajin belajar. 7. Harus dapat mengendalikan hawa nafsu. 8. Harus bisa mengatur keuangan atau tidak boros dalam menggunakan uang. Berikut ini adalah cuplikan dari Serat Dharma Wasita yang terdiri dari tiga bagian pupuh, yaitu pupuh dandanggulapupuh kinanthi, dan pupuh mijil.

Serat Dharma Wasita

Pupuh Dandanggula.

Mirih sarkara pamardining siwi,
Winusita denira manitra,
Nujwari Selasa Wage,
Triwelas sasi Mulud,
Ka sanga Dal sengkaleng warsi,
Wineling anengaha,
Sariranta iku,
Mring iki wasitaning wong,
Marang sira putreng sun jalir lan estri,
Nuga padha ngestokena.


................................................


Pupuh Kinanthi.
Dene wulang kang dumunung,
Pasuwitan jalu estri,
Lamun gregep wateg ira.
Tan karya gela kang nuding,
Pethel iku datan dadya,
Jalaran duk sayekti.


................................................


Pupuh Mijil.
Wulang estri kang wus pala krami
Lamun pinitados.
Amengkoni mring bak wisma.
Among putra maru sentanabdi.
Deng angati-ati.
Ing sadurungipun


..................................................

Berikut ini penjelasan singkat dari pembahasan isi Serat Darma Wasita:
Pupuh Dhandanggula
Bagian pengantar serat. "Serat Darma Wasita ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV pada tahun 1607 C atau tahun 1887 Masehi, bulan Maret hari Selasa Wage, 13 Maulud tahun Dal ke 9. Dengan sengkalan tahun "wineling anengaha sariranta iku." Serat ini ditujukan kepada kita semua, baik laki-laki maupun perempuan. Kanjeng Gusti mengharapkan dengan Serat Darma Wasita ini agar kita semua melaksanakan ajaran yang terkandung di dalamnya.

Pupuh Kinanthi
Sedangkan pupuh kinanti berisi ajaran yang diberikan kepada para wanita dan pria ini adalah agar mereka memiliki sifat rajin, agar tidak membuat orang kecewa, kebodohan tidak akan membuat orang menjadi baik.

Pupuh Mijil
Pupu Mijil berupa ajaran bagi wanita yang telah bersuami (menikah), hendaklah dipercaya dapat mengatur rumah tangganya, dapat mengasuh (ngemong) kepada keturunannya (anaknya), madu serta para pembantunya dengan sangat hati-hati sebelum

Serat Dharma Wasita ditulis dalam bahasa Jawa, dan menggunakan aksara Jawa. Pada bait-bait memiliki baris yang berbeda dalam setiap pupuh. Bait pupuh dhandhanggula memiliki sepuluh baris syair dalam satu bait. Pada pupuh kinanti dan pupuh mijil terdapat enam baris syair dalam setiap satu bait.

Serat Dharma Wasita diteliti oleh, Tatiek Kartika Sari, Ninien Karlia, dan H. Ahmad Yunus, sedangkan sebagai konsultan adalah Profesor S. Budhisantoso. Diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1990. Buku penelitian ini terdiri dari empat bab dan 88 halaman, yang kata pengantarnya oleh ketua tim penelitian Tatiek Kartika Sari.

Oleh: Joni Apero.
Editor. Selita. S. Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 2018.
Sumber dan Hak Cipta: Tatiek Kartika Sari, Ninien Karlina, H. Ahmad Yunus, S. Budhi santoso, Serat Dharma Wasita. Jakarta: Serat Dharma Wasita, 1990.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment