7/08/2019

Malam Berbintang

Apero Fublic.- Syarce. Di suatu malam aku sendiri di teras rumah. Kusaksikan langit yang cerah dan bintang yang berkelip di langit. Kesendirian ini, membuat aku mengenang masah-masah sulit dahulu. Dimana luka, dan kesendirian menjadi bagian yang berkepanjangan dalam hidupku. Rasa tidak bahagia, hati hampa dan kosong.

Malam ini, aku terkenang akan kesalahan pada seseorang. Pada Ayah dan Ibu, pada teman dan tetangga. Aku begitu egois dan tidak mengerti. Sekarang aku menyadari kesalahanku dan diikuti rasa menyesal. Selain itu, kehidupan yang susah dan menyakitkan membuat aku sedih. Aku hidup tanpa harapan. Apakah aku putus asah, atau aku sedang lelah saja.

Aku tidak tahu. Aku memperhatikan bintang-bintang yang berkelip di langit malam. Aku mencoba mencari makna dari setiap cobaan yang aku jalani. Aku mencoba menjawab mengapa hal-hal bodoh terjadi di dalam kehidupanku. Aku benar-benar tidak mengerti akan kehidupan ini. Yang aku tahu dan aku bayangkan adalah rasa sedih, rasa sakit, ketidak beruntungan, dan kehampaan hidup.

Kesalahanku, dosaku dan khilafku disebabkan oleh kebodohanku. Aku hidup tanpa dan tanpa pendidikan. Watak keras dan membuat aku menjadi orang yang aneh. Lidah dan sikapku sering membuat orang terluka dan kecewa. Aku orang yang tidak sempurna. Aku menangis ingin mengembalikan waku. Aku ingin dimulai dari kecil sampai aku dewasa tidak pernah berbuat salah.

Tidak pernah membuat orang tersinggung, sedih, kecewa, atau sakit hati. Aku ingin menjadi anak yang baik dengan budi yang baik. Tapi itu tidak mungkin, dan aku menyadari kalau aku hanyalah manusia yang tidak sempurna. Tapi mengapa aku sebodoh itu? Tapi mengapa aku begitu tidak mengerti. Aku menyesal sekali Ya Allah. Ampuni Aku.

Maafkan Aku, Gemintang  

Gemintang malam di sangkar langit.
Bermain diantara galaksi malam.
Bersapalah, jangan membisu.
Aku tulis asah di malam ini.
Merenung dalam kidung kehidupan.
Sehingga tergaris lah, hikayat-hikayat.

Torehan kisah tak sempurnah.
Menancap sudah suka-duka.
Aku takut akan ini.
Aku ragu semuanya.

Ada banyak salah, terjadi.
Semua bagai terselimut salju.
Dingin, sepi dan Lengang.

Hari-hari kulalui dengan keras.
Menegang upuk semesta.
Merapi pun bergolak hendak meletus.

Namun di akhir senja, aku menyendiri.
Di tikar ini, diri bersenandung dalam diam.
Walau mata sudah lama terpejam.
Jiwaku, tidak jua beranjak tidur.
Jauh hari terus terkenang.
Yang berlalu terus membayang.
Satu salah di jalan ku, aku menyesali.
Satu keyakinan, aku pegang, aku ragu.
Namun yang ada, Aku bersalah.
Ku kata, si jahat diri ini.
Lalu, tanpa dikau, semuanya tau.
Aku bisik di angin malam ini.
Maafkan aku.

Aku ingin belajar menjadi seseorang yang baik. Menjadi hamba tuhan yang sebenarnya. Telah banyak kesalahan-kesalahan yang aku perbuat. Aku ingin menghapus semua itu. Tetapi bagaimana aku menghapusnya sedangkan masa telah berlalu. Yang terluka telah luka, entah sudah sembuh atau tidak. Atau mungkin dia pelihara untuk bukti pada Allah untuk diadili. Banyak juga yang kecewa olehku. Sehingga penyesalan dihari ini.

Aku ingin berubah dari aku yang dulu. Dahulu aku seorang yang tidak teratur, tidak disiplin. Sekarang aku ingin menjadi disiplin. Dulu aku berkata dengan cara kasar. Sekarang aku ingin berkata cara yang lembut. Aku berusaha sabar dan menyabarkan diri.

Aku memaafkan semua orang yang menyakiti hatiku. Aku juga melupakan atas perlakuan buruk orang-orang pada. Ibadah adalah satu dari jalan yang aku pilih sekarang. Aku melangkah dengan ikhlas dan sabar. Kehilafan dan kesalahan dulu harus berakhir.

Aku hanya menitip kata pada bintang dan angin berhembus. Katakan pada bahwa aku meminta maaf atas semua kesalahan aku dahulu. Ya Allah, berilah aku kesuksesan agar aku dapat menebus kesalahan aku pada mereka-mereka. Aku tahu tidak ada artinya kebaikan. Tapi setidaknya aku memberitahu. Aku bersalah dan meminta maaf. Aku tidak seperti yang dulu.

Oleh: Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang 5 Agustus 2016.
Syarce. Kategori Fiksi.
Sumber foto. Anita. Lahat.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment