7/23/2019

Dikurung Kenangan Hujan Soreh.

Apero Fublic.- Kita tidak pernah satu kembali. Begitulah satu untaian kata yang cocok pada sekelompok Pemuda. Ketika takdir mulai memisahkan mereka. Ibarat perjalanan dalam satu bus. Kemudian satu persatu turun di depan rumah masing-masing. Ada juga jalan bercabang memisahkan mereka di sepanjang waktu.

Ketika matahari tak lagi terbit dan terbenam diwaktu yang sama. Kemarin matahari kita sama-sama terbitnya. Sehingga dapat berkumpul di tempat yang sama. Kita bersama-sama membuka mata dan membuka buku. Berlari dan melangkah dengan tujuan satu ruangan yang sama. Saat azan, kita sering berpapasan dijalan menuju masjid. Atau saling mengingatkan tentang shalat zuhur.

Kisah ini bukan apa-apa. Bukan novel atau film yang disutradarai. Tidak ada yang menulis dan tidak ada yang merekam video. Tapi tersimpan di dalam memori kenangan yang terputar setiap saat. Suatu kisah sekelompok orang didalam gerbong kereta. Berangkat dari stasiun mimpi, menuju stasiun yang jauh. Dalam perjalanan itu, banyak cerita yang diukir dan ditulis dengan tinta-tinta kenangan. Tercoret di kertas-kertas harian.

Watak yang sangat berbeda dan aneh-aneh. Membuat gerbong kereta itu riuh, gaduh dengan bermacam tingkah. Tapi justru itulah yang membuat gerbong sempit itu mampu berjalan bertahun-tahun lamanya. Seakan menjadi bahan bakar menggerakkan piston dan silinder mesin kereta. Jangan ditanya dengan kisah-kisah yang terjadi. Ada kisah duka, tangisan, kesedihan, drama, kocak, kegembiraan, kebersamaan dan ada juga kisah cinta.

Aku yang selalu duduk disudut gerbong. Membuka jendela kereta dan sebuah buku. Dapat menyaksikan isi gerbong dengan baik. Aku sering membersihkan jendelah kaca yang terpercik air hujan. Dengan ujung lengan bajuku yang kusam. Saat aku melirik gemerlap papan tulis. Ada bayangan masa laluku yang buram. Mataku juga merabun saat melirik masinis yang mengemudi begitu pelan. Terasa lama rasanya disini bagiku. Ingin aku mempercepat lokomotif waktu ini.

Mengapa demikian, sebab aku seorang yang tertinggal dari keretaku yang dahulu. Seharusnya aku sudah lama sampai distasiun itu. Tapi ada belenggu takdir yang bercerita lain. Ketika kakiku dirantai kemiskinan dan kebodohan zaman. Ketika keadaan keluarga yang carut marut. Maka keretaku berlalu tanpa sempat aku singgahi. Tapi aku masih bersyukur, sebab aku masih ada kesempatan untuk pergi dari lembah kebodohan hidup. Lembah yang aku benci sejak aku kecil. Waktu dimana aku berjalan seorang diri menembus hutan hanya untuk duduk di bangku sekolah. Dunia baruku, telah hadir dan seakan terang.

Kini, gerbong yang terasa sempit dan sesak oleh nestapa kenangan. Telah sepi dan kosong. Seperti sebuah kotak yang tidak terawat, berdebu. Cat-catnya telah usang dihapus air hujan. Dahulu penghuni gerbong berlombah-lombah untuk meninggalkan gerbong itu. Tapi sekarang gerbong sempit yang dihuni orang aneh-aneh itu. Telah menjadi harta perjalanan hidup yang tidak terlupakan. Sering ada nyanyian rindu bahwa gerbong itu lebih indah dari dunia kita yang nyata ini.

Ada kesan dan pesan untuk datang kegerbong tua itu. Ada wacana dan ungkapan untuk kembali ke gerbong sempit yang dibenci itu. Namun semua hanyalah semu-semu kebersamaan. Semua seperti hayalan dan tidak pernah terjadi. Dari lebaran hingga akhir tahun. Hanya ada beberapa kepala yang melongok kedalam gerbong. Itupun sebatas pesat yang digunakan dengan ujung jari.

Beberapa masih datang dan berusaha datang, ke gerbong kereta itu. Beberapa mencoba membersihkan kembali walau untuk satu hari, satu jam, duduk seolah dahulu lagi. Dengan almater atau dengan blezer. Tapi tiket tak lagi cukup. Beberapa hanya bersandar di  dinding menanti pasrah. Seperti layangan-layang putus benangnya. Berteriak memanggil-manggil. Namun dia terus menjauh bersama angin.


Sekarang telah mulai suatu perjalanan baru. Kita mulai menanti kepergian yang lebih panjang. Rel tampak sudah mulai retak. Dinding yang mulai lapuk dibeberapa sisi. Ada yang mendorong kereta agar bergerak. Namun piston mesin sudah sangat lemah. Suara terdengar dari nada-nada mesin diantara asap knalpot. "Seperti kata lirih, perpisahan yang sebenarnya.
Minggu 21 Juli, sebuah reuni kecil. Aku bermaksud untuk sekedar mampir. Mencicipi makanan dan sedikit berbincang-bincang. Dalam pikiranku akan segerah pulang. Lalu mulai mengetik novel atau menulis artikel untuk weblog-ku. Aku begitu terobsesi untuk dapat menulis dengan baik. Menulis bagian dari mimpiku selama ini. Program Dawah Literasi telah membuat aku terus tekun belajar menulis. Maklum nilai Bahasa Indonesaiku hanya 6,5 atau C. Dari basic pendidikan juga sangat pas-pasan, jebolan sekolah Paket.

Begitupun yang lain, setelah makan-makan juga segerah pulang juga, bersih-bersih. Pertanyaannya??, "Apakah itu baik untuk sebuah pertemuan. Setelah makan kita langsung berpisah. Jahat sekali aku hari itu berarti. Begitulah mungkin pemikiran yang lainnya.

Hidangan sangat banyak waktu itu. Melebihi untuk dua puluh orang. Karena harapan banyak juga yang datang. Banyak wajah yang dirindukan. Atau menatap senyuman masing-masing. Terpaksa aku menghabiskan dua potong daging ayam. Begitupun yang lainnya karena waktu sudah semakin sore. Berusahalah kami untuk menghabiskan makanan. Tapi apa daya, semuanya menyerah. Apakah mereka-mereka tahu kalau sedang ditunggu?. Tidak, mereka sibuk semuanya. Mungkin juga telah lupa. Seperti bunga ilalang yang tersapu angin. Tak pernah tahu lagi dimana tangkainya dahulu. Tangkai tempat dia bersuka duka beberapa tahun.

Langit mendung, beberapa saat kemudian turun hujan. Lama hujan tak redah-redah. Membuat terkurung dan terpaksa berkumpul dan berbincang-bincang. Benarlah kata orang, hujan selalu mengurung kita. Bukan karena basahnya, tapi karena kenangaannya. Masih ada sisa tawa dahulu. Walau tidak lagi seriuh hari kemarin. Tertawa, bercanda, berkelakar, lalu berfoto ala-ala mengingatkan dulu waktu di kelas. Dimana suasana kacau sebab pak dosen tak datang. Mau pulang hujan tak redah-redah.


Sehingga banyak cerita yang diutarakan, dan kisah yang dipaparkan. Ini adalah satu pengajaran. Ada baiknya seandanyai suatu pertemuan itu jangan disampingkan. Tapi benar-benar luangkan waktu untuk bersama-sama. Lalu berceritalah bersama-sama meski itu lelucon paling aneh. Karena rindu kita tak meminta makanan. Tapi meminta waktu seperti dulu. Ingatlah, waktu kita tinggal sedikit. Sebelum dunia kita diambil alih oleh anak-anak kita. Mungkin ada masanya kita tidak pernah bertemu lagi.
Artikel dan halaman bersifat pengembangan. Saran dan kritik yang membangun sangat ditunggu. Ditunggu partisapasi semuanya.

Tim. Apero Fublic

Palembang, 21 Juli 2019.


Catatan:

Bagi sahabat-sahabat yang ingin berbagi kisa-kasa ringan dapat mengirimkan artikel ke www.aperofublic.com. Cerita akan masuk dalam segmen Cerita Kita. Cerita Kita adalah kolom Apero Fublic yang memuat berbagai kisah-kisah ringan yang baru saja terjadi. Bersifat hiburan dan umum. Seperti kisah reuni kecil, berwisata, belanja, kumpul sahabat, rapat terbatas, permainan, dan sebagainya. Artikel dan isi yang dikirim adalah tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim. Kontak: line: aperofublic. Instagram: @aperofublic. Messenger: aperofublic. Facebook. Apero Fublic. WhatsApp: 081367739872. email redaksi. fublicapero@gmail.com


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment