7/17/2019

Hijranya. Seorang Lelaki

Apero Fublic.- Sejauh apa perjalananku, aku tetap dihantui oleh kata jodoh. Jodoh menjadi misteri yang sangat misteri bagiku. Aku ingin memilih diantara banyak pilihan. Aku mencari dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan.

Banyak cinta yang tersebar, terpencar, dijalanan hidup ini. Aku merasa kesendirian ini begitu lama dan membosankan. Telah aku usahakan mencari seseorang yang dapat menenangkan jiwa. Tetapi sampai saat ini, aku begitu kesulitan dan menemukannya.

Aku khawatir dengan umur dan pertanyaan orang-orang tentang jodohku. Aku takut dengan waktu yang terus bergulir, terus menerus. Sampai saat ini telah menggilas masa lampauku. Begitu sulit rasanya hidup ini. Aku menyadari begitu lemah diriku ini.

Ingin aku pacaran seperti mereka, berdua-dua dengan kekasih, bermesraan dengan kebahagiaan itu. Tetapi benarkah dengan demikian nantinya dia jodohku, tetapi benarkah cara-cara itu. Bagaimana kalu itu berakhir dengan keburukan.

Bukankah itu dosa dan tidak pantas bagi muslim, tidak cocok dengan budaya bangsa ini. Aku ingin berhijrah dari kepenatan hidup yang penuh sandiwara dan drama-drama ini. Hidup di alam kedamaian dan ketenangan batin. Dimana manusia mementingkan simbol-simbol yang palsu dengan atas nama cinta.

Kenapa cinta begitu menyiksa kiranya dalam hidup. Tetapi mengapa cinta diiringi dengan nafsu seks? mengapa cinta dibayangi oleh nafsu seks? Mengapa?. Benarkah cinta yang kita banggakan itu cinta. Apa hanya perantara untuk mendapatkan kebutuhan biologis kita. Aku tidak mengerti tentang cinta yang sebenarnya.

Ingin aku bertemu dengan seseorang yang cukup. Tidak terlalu jelek dan tidak terlalu bagus. Aku ingin dia mengerti dengan norma agama, norma adat, dan cara saling memperlakukan. Tidak perlu banyak sandiwara dalam kata-kata.

Tidak perlu banyak permainan dalam bersahabat. Tidak banyak membuang waktu dengan drama-drama cinta. Dia mempunyai hargadiri yang tinggi, namun rendah hati. Dia memiliki iman yang cukup untuk saling bersetia. Namun sejauh ini, aku belum menemukannya, ya Allah.

Aku ingin sedikit berbicara dengan dia, lalu aku bilang aku ingin menikah. Kemudian kita saling menerima dengan ikhlas. Saling menyempurnakan, dan saling pengertian. Pertemukan aku ya Allah dengan jodohku, tanpa harus pacaran, tanpa harus sakit hati, tanpa sandiwara-sandiwara, aku sudah bosan. Aku ingin di jalanmu, selamanya. Sampai kau memanggil pulang. Ampuni dosa-dosaku selama ini.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Foto. Dadang Saputra
Palembang, 4 Februari 2019.

Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis.

Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: www.fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment