7/08/2019

Antologi Puisi Negeri Daging

Apero Fublic.- Di dalam Takdim Mustofa Bisri menerangkan bahwa sajak-sajaknya dia tulis dari tahun 1987 sampai dengan 2001. Beberapa puisi juga telah dipublikasikan olehnya, baik itu di media cetak atau di arena pembacaan puisi.

Sebagaimana segera tampak, tema tulisan saya, masih “istiqomah” mengikuti perjalanan kehidupan makhluk Tuhan yang saya cintai: manusia dan Indonesia. Bahkan ada beberapa yang hanya “mengedit” sajak-sajak lama saya, seperti Reformasi.... dari Merdeka Atawa Boleh Apa Saja (dari Oboi Kumpulan Puisi-Puisi Balsem) dan Rasanya Baru Kemarin yang memang hampir setiap tahun beliau revisi.

Menurutnya, itu mungkin disebabkan karena sayanya yang tidak berubah, atau manusia (dan) Indonesia memang belum sebenarnya berubah. beliau juga berkata beliau tidak berpikir apakah tulisannya pantas disebut sebagai puisi, dan orang lain yang memikirkannya, tugas dirinya hanyalah menulis.

Beliau berterima kasih bagi yang mau membacanya. Begitupun saya mengucapkan terima kasih karena beliau telah menulis, sehingga saya dapat belajar dan menghambil pengajaran dari antologi puisi beliau. Karena saya menyadari kebesaran sebuah bangsa bukan dibangun dari material dan infrastuktur tetap peradaban besar selalu dibangun diatas goresan-goresan tinta dari anak bangsanya.

Buku antologi Negeri Daging diterbitkan oleh penerbit Bentang Budaya di Jogjakarta pada tahun 2002. Buku terdiri dari 89 halaman, berisi 36 puisi. Sajak puisi Negeri Daging memiliki keragaman bentuk dalam penulisan, seperti menggunakan sistem rata tengah, rata kiri, gabungan rata tengah dengan rata kiri.

Dalam hal jumlah baris juga ada yang berjumlah enam baris dan ada yang panjang mencapai tiga setengah lembar. Ada puisi yang bersifat umum seperti Negeri Daging dan bernafas keagamaan Islam, seperti berjudul Ijtihad dan lainnya.

Penyair A. Mustofa Bisri lahir Pada tanggal 10 Agustus 1944 di Rembang, Jawa Tengah. Beliau pernah belajar di Pesantren Lirboyo Kediri, Krapyak Yogyakarta, Raudlatut Thalibien Rembang, dan Universitas Al-Azhar Mesir. Kemudian menjadi pengasuh santri di Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang.

Dia juga sering menulis di media massa seperti IntisariAmanahPanji MasyarakatPelitaRepublikaJawa PostSuara MerdekaWawasan, dan lain-alin. Selain Negeri Daging, buku puisinya yang lain adalah Oboi (1991), Tadarus (19913), Pahlawan dan Tikus (1995), Rubaiyat Angin dan Rumput (1995), Wekwekwek: Sajak-Sajak Bumi Langit (1996), Sajak-Sajak Cinta Gandrung (2000).

Adapun karya-karyanya yang bukan puisi antara lain Ensiklopedia Ijmak (terjemahan bersama K.H.A. Sahal Mahfudz, 1997), Nyamuk Yang Perkasa (cerita anak-anak), Pokok-Pokok Agama (terjemahan), dan lain-lain. Berikut adalah cuplikan puisi A.Mustofa Bisri dalam antologi puisi Negeri Daging.

BISMILLAH

BismiLlah
Bismil lah
BismiLlahir Rahmaanir Rahiem
Yang pertama kusebut ketika bergerak
Yang pertama kusebut ketika menampak
Yang pertama kusebut ketika membaca
Yang pertama kusebut ketika menulis
Yang pertama kusebut ketika bekerja
AsmaMu, wahai Sang Mahapengasih
Wahai Sang Mahapenyayang
Semoga cahayaMu menyinari kalbuku
Cahayamu menyinari pikiranku
CahayaMu menyinari telingaku
CahayaMu menyinari mataku
CahayaMu menyinari Sekelilingku
cahayaMu memenuhi diriku
Memancarkan RahmatMu
Amin.[1]

Oleh: A. Mustofa Bisri, 2002

NEGERI DAGING

Di negeri daging
Kulihat banyak gedung
Dan orang-orang yang terus
Membangun gedung

Banyak perumahan
Dan orang-orang yang terus
Membangun perumahan

Banyak kantor
Orang-orang yang terus
Membangun kantor

Banyak hotel
Dan orang-orang yang terus
Membangun hotel

Banyak villa
Dan orang-orang yang terus
Membangun villa

Banyak restoran
Dan orang-orang yang terus
Membuka restoran

Banyak warung
Dan orang-orang yang
Terus membuka daging warung

Banyak kafe
Dan orang-orang yang
Terus membuka kafe

Banyak kelab malam
Dan orang-orang yang
Terus membangun kelab malam

Banyak pasar
Dan orang-orang yang terus
Membangun pasar
Banyak supermarket
Dan orang-orang
Yang terus membangun supermarket

Banyak mall
Dan orang-orang yang
Terus membangun mall
Banyak tempat hiburan
Dan orang-orang yang
Terus membangun tempat hiburan

Banyak tempat wisata
Dan orang-orang yang terus
Membangun tempat wisata

Banyak stasiun
Dan orang-orang yang terus
Membangun stasiun

Banyak terminal
Dan orang-orang yang terus
Membangun terminal

Banyak bandara
Dan orang-orang yang terus
Membangun bandara

Banyak masjid
Dan orang-orang yang terus
membangun masjid

banyak mushalla
dan orang-orang yang terus
membangun mushalla

banyak kakus
dan orang-orang yang terus
membangun kakus

banyak panti pijat
dan orang-orang yang terus
membangun panti pijat

banyak rumah sakit
dan orang-orang yang terus
membangun rumah sakit

banyak kuburan
dan banyak orang-orang yang terus
masuk kuburan

negeri daging
seperti tak pernah cukup
terus membangun
sambil merusak

di negeri daging
setiap hari banyak orang
asyik memperagakan daging
setiap hari banyak orang
hilir-mudik menjajakan daging
dinegeri daging
setiap hari banyak orang
mati memperebutkan daging

di negeri daging
setiap hari banyak orang
tekun menimbun daging
setiap hari banyak orang
pikun membakar daging

di negeri daging
untuk mendapatkan daging
orang-orang tidak berjalan
tapi berlarian
tidak berdekatan
tapi berdesakan
tidak bersaing
tapi saling menjatuhkan

di negeri daging
setiap hari orang sibuk dengan daging

di negeri daging
untuk mendapatkan daging
orang-orang tidak melaju
tapi merebut
tidak berbagi
tapi berebut
tidak bertegur sapa
tapi ribut

di negeri daging
untuk mendapatkan daging
orang-orang tidak menghimbau
tapi membentak
tidak bicara
tapi berteriak
tidak saling sentuh
tapi saling tabrak

di negeri daging
jagal-jagal berkeliaran
daging-daging berserakan

di negeri daging
daging dimana-mana
di negeri daging
tak ada lagi tempat
untuk jiwa.[2]

Oleh: A. Mustofa Bisri, Rembang 2 Mei 2001.

Demikian informasi tentang sastra moderen Indonesia. Semoga berguna bagi pemerhati dan peneliti sastra Indonesia. Mengingat sangat banyak buku-buku antologi puisi yang sudah ditulis oleh penyair Indonesia.

Tidak banyak orang yang menyukai dunia sastra terutama dunia persajakan. Namun bagi orang-orang yang ingin mengembangkan sumber daya masyarakat tentu dia sangat ingin memajukan dunia sastra. Dunia perpuisian adalah langkah terdepan dalam membangkitkan pendidikan. Sebab puisi memiliki dua ruh, hiburan dan pendidikan.

Pesan-pesan puisi atau syair membekas di dalam sanubari manusia yang mendengarnya. Kemudian suatu saat akan menjadi bibit pemikiran dan dukungannya pada suatu masalah. Syair hanyalah coretan bagi jiwa yang mati dan gersang. Namun, syair adalah harta berharga bagi jiwa yang hidup dan subur.

Oleh: Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Foto. Dadang Saputra
Sumber dan Hak Cipta: A. Mustofa Bisri, Negeri Daging, Jogjakarta: Bentang Budaya, 2002.

[1]Mustofa Bisri, Negeri Daging, Jogjakarta: Bentang Budaya, 2002, h. 1.
[2]A. Mustofa Bisri, Negeri Daging, Jogjakarta: Bentang Budaya, 2002, h. 37-42.

Sy. Apero Fubli.

0 komentar:

Post a Comment