7/13/2019

Rendra. Ballada Orang-Orang Tercinta


Apero Fublic.- Buku antologi puisi Ballada Orang-Orang Tercinta ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1957, di Jakarta. Cetakan kedua pada tahun 1971 yang diterbitkan oleh PD. Pustaka Jaya di Jakarta. Kemudian diterbitkan terus sampai cetakan yang kedelapan pada tahun 1999.

Buku antologi ini memuat 19 sajak, dengan jumlah halaman 52 halaman. Pada latar sampul menyajikan pemandangan dengan langit biru, awan, tanah gersang membentang yang di lihat dari pinggir dimana terdapat pepohonan.

Antologi puisi Ballada Orang-Orang Tercinta ini merupakan buku pertama kumpulan sajak-sajak Rendra. Sajak Rendra ini tidak berbentuk lirik seperti kebanyakan sajak sezamannya, tetapi berbentuk epika. Rendra pada tahun 1957 mendapat hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN), sebagai penyair terbaik tahun-tahun 1955-1957.

Rendra berasal dari Solo, Jawa Tengah, ia dilahirkan pada tanggal 7 November 1935. Ia anak seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Selain menulis sajak beliau juga menulis cerita pendek, dan terjun di  bidang teater. Berikut ini kutipan sajak Rendra dari antologi puisi Ballada Orang-Orang Tercinta.

Ballada Lelaki-Lelaki Tanah Kapur

Para Lelaki telah keluar di jalanan
Dengan kilatan-kilatan ujung baja
Dan kuda-kuda para penyamun
Telah tampak di perbukitan kuning
Bahasa kini adalah darah.

Di belakang pintu berpalang
Tangis kanak-kanak, doa perempuan.

Tanpa menang tiada kata pulang
Pelari akan terbujur di halaman
Ditolaki bini dan pintu berkunci.

Mendatang derap kuda
Dan angin bernyanyi :
- ‘Kan kusadap dara lelaki
Terbuka guci-guci dada baja
Bagai pedagang anggur dermawan
Lelaki rebah di jalanan
Lambung terbuka dengan geram serigala!
O, bulu dada yang riap!
Kebun anggur yang sedap!

Setengah keliling memagar
Mendekat derap kuda
Lalu terdengar teriak peperangan
Dan lelaki hidup dari belati
Berlelehan air amis
Mulut berbusa dan debu pada luka.

Pada kokok ayam ke tiga
Dan jingga langit pertama
Para lelaki melangkah ke desa
Menegak dan berbungah luka-luka
Percik-percik merah, dada-dada terbuka.

Berlumur keringat diketuk pintu.
-Siapa itu?
-Lelakimu pulang, perempuan budiman!

Perempuan-perempuan menghambur dari pintu
Menjilati luka-luka mereka
Dara-dara menembang dan berjengukan
Dari jendela.

Lurah Kudo Seto
Bagai trembesi bergetah
Dengan tenang menapak
Seluruh tubuhnya merah.

Sampai di teratak
Istri rebah bergantungan pada kaki
Dan pada anak lelakinya ia berkata:
-Anak lanang yang tunggal!
Kubawakan belati kepala penyamun bagimu
Ini, tersimpan di daging dada kanan.[1]

Oleh: Rendra.

Ballada Lelaki Yang Terluka

Lelaki yang luka
Biarkan ia pergi, Mama!
Akan disatukan dirinya
Dengan angin gunung.
Sempoyongan tubuh kerbau
Menyobek perut sepi.
Dan wajah para bunda
Bagai bulan redup putih.

Ajal! Ajal!
Betapa pulas tidurnya
Direlung pengap dalam!
Siapa akan diserunya?
Siapa leluhurnya?
Lelaki yang luka
Melekat di punggung kuda.

Tiada sumur bagai lukanya.
Tiada dalam bagai pedihnya.
Dan asap belerang
Menyapu kedua mata.
Betapa kan dikenalnya bulan?
Betapa kan bisa menyusu dari awan?
Lelaki yang luka
Tiada tahu kata dan bungah.

Pergilah lelaki yang luka
Tiada berarah, anak dari angin.
Tiada tahu siapa dirinya
Didaki segala gunung tua.
Siapa kan beri akhir padanya?
Menapak kaki-kaki kuda
Menapak atas dada-dada bunda.

Lelaki yang luka
Biarkan ia pergi, Mama!
Meratap di tempat-tempat sepi.
Dan di dada:
Betapa parahnya.[2]

Oleh. Rendra.

Gerilya

Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.

Angin tergantung
Terkecap pahitnya tembakau
Bendungan kelu dan bencana.

Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki tergulung di jalan.

Dengan tujuh lubang pelor
Diketuk gerbang langit
Dan menyala mentari muda
Melepas kasumatnya.

Gadis berjalan di subuh merah
Dengan sayur-mayur di punggung
Melihatnya pertama.

Ia beri jeritan manis
Dan duka daun wortel.

Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.

Orang-orang kampung mengenalnya
Anak janda berambut ombak
Ditimba air bergantang-gantang
Disiram atas tubuhnya.

Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki terguling di jalan.

Lewat gardu Belanda dengan berani
Berlindung warna malam
Sendiri masuk kota
Ingin ikut ngubur ibunya.[3]

Oleh: Rendra

Anak Yang Angkuh

Betapa dinginnya air sungai.
Dinginnya! Dinginnya!
Betapa dinginya daging luka
Yang membaluti tulang-tulangku.

Hai, anak!
Jangan bersandar juga di pohon.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginya!

(Di luar angin menari putar-putar.
Si anak meraba punggung dan pantatnya.
Pukulan si bapak menimbulkan dendam).

Masih terlalu kecil ia
Digemukkannya dadanya kecil.
Amboi! Si jagoan kecil
Menyusuri sungai darah.

Hai, anak!
Bara di matamu dihembusi angin.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Daun-daun kecil pada gugur
Dan jatuh atas rambutnya.
Si anak jalanan tolak pinggang.
Si jantan kecil dan angku).

Amboi, ingusnya masih juga!
Mengapa lelaki harus angkuh
Minum dari puji dan rasa tinggi
Dihangati darah yang kotor?

Hai, anak!
Darah ayah adalah di ototmu
Senyumlah dan ayahmu akan lunak
Di dada ini tak jagoan selain kau.

Dan satu senyum tak akan mengkhianati kata darah,
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginya!

(Dengan langit sutra hitam
Dan reranting patah di kakinya
Si anak membusung tolak pinggang
Kepala tegak dan betapa angkunya!).[4]

Oleh: Rendra

Di Meja Makan

Ia makan hati dan isi hati
Pada mulut terkunya duka
Tatapan matanya pada lain sisi meja
Lelaki muda yang dirasa
Tidak lagi dimilikinya.

Ruang diributi jerit dada
Sambal tomat pada mata
Melele air racun dosa.

Dipeluknya duka erat-erat
Dikurung pada bisu mulut
Dan mata pijar warna kesumba.

Lelaki depannya mengisar hati
- Sudah lama.

Terungkap rahasia diperam rasa
Terkunci pintu hati, hilang kuncinya
- Sudah lama.

Ia makan nasi dan isi hati
Pada mulut terkunya duka
Memisah sudah sebagian nyawanya
Di hati ia duduk atas keranda.

Lalu ditutup matanya gabak
Gambaran yang digenggam olehnya:
Lelaki itu terhantar di lantai kamar
Pisau tertancap pada punggungnya.[5]

Oleh: Rendra


Perempuan Sila

Ia terbaring di taman tua
Pestol di tangan dan lubang di jidatnya.

Mereka menemuinya tanpa dukacita
Dan angin bau karat tembaga.

Mulutnya menggigit berahi layu
Bunga biru dan berbau.

Matanya juga tidak pejam
Lain mimpi, lain digenggam.

Ah, tubunya! Ah, rambutnya!
Tempat tidur tersia suami tua.

Bunga bagai dia diasuh angin
Oleh nasib jatuh ke riba lelaki tua dingin.

Nizar yang menopangnya dari kelayuan
Perempuan bagai bungah, lelaki bagai dahan.

Lelaki muda itu bertolak tinggalkan dia
Tersisa jantung dan hati dari timah.

Ia terbaring di taman tua
Pestol di tangan dan lubang di jidadnya.

Suaminya yang tua berkata
-Farida, engkau ini perempuan sial![6]

Oleh: Rendra

Demikian informasi sastra untuk kategori sastra moderen Indonesia. Rendra termasuk sastrawan kelas atas di Indonesia. Semoga info ini bermanfaat bagi yang mencintai sastra Indonesia, para pemerhati sastra, dan peneliti sastra. Kurang dan lebihnya mohon maaf. Saya sendiri sedang belajar menulis dan merangkum buku. Saran dan kritik yang membangun ditunggu.

Oleh: Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos
Foto. Dadang Saputra.
Palembang, 2018.
Sumber dan Hak Cipta: Rendra. Ballada Orang-Orang Tercinta. Jakarta: Pustaka Jaya, 1999.

[1]Rendra, Ballada Orang-Orang Tercinta, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1999), h. 11-13.
[2]Rendra, Ballada Orang-Orang Tercinta, h. 16-17.
[3]Rendra, Ballada Orang-Orang Tercinta, h. 20-21.
[4]Rendra, Ballada Orang-Orang Tercinta, h. 35-36.
[5]Rendra, Ballada Orang-Orang Tercinta, h. 39-40.
[6]Rendra, Ballada Orang-Orang Tercinta, h. 45-46.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment