7/27/2019

Adat Genti Duduk Yang Hilang

Apero Fublic.- Dalam prosesi pernikahan masyarakat Melayu di Sumatera Selatan. Ada tradisi pemberian benda adat "Genti Duduk. Sekarang, tradisi ini sudah mulai hilang ditelan zaman. Tinggal sekelompok kecil masyarakat yang masih menjalankannya.

Tepatnya di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Itupun dilaksanakan alakadarnya saja tidak menurut adat istiadat lagi. Adat Genti Duduk sudah mentradisi dari nenek moyang orang Sumatera Selatan sejak dahulu kala.

Adat Genti Duduk adalah bentuk tradisi budaya dalam prosesi acara pernikahan. Secara bahasa Adat Genti Duduk bermakna: Kata Genti dalam Bahasa Indonesia berarti ganti. Kata Duduk secara harfiah menjelaskan kedudukan atau posisi. Genti Duduk dimaksudkan untuk mengganti atau menyimbolkan keberadaan anak wanita yang sudah menikah.

Rasa sayang kepada anak tentu akan selalu membuahkan rindu dari orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika orang tua dilanda kerinduan. Seumpama anaknya yang menikah, jarang pulang. Tinggal jauh di negeri orang atau diperantauan. Keluarganya dapat melihat benda adat Genti Duduk tersebut sebagai obat rindu dan mengenangnya.

Untuk benda-benda Genti Duduk dipergunakan benda-benda budaya, yang  tahan lama. Seperti senjata tradisional masyarakat setempat atau daerah lain. Karena di kawasan Sumatera Selatan memiliki jenis-jenis senjata tradisional berbeda-beda. Seperti pisau ambai ayamkudukgobangkujurpedang, mandau dan sebagainya.

Ilustrasi pemberian Genti Duduk: Misalnya seorang bujang Melayu Basema (Pagaralam) menikah dengan gadis Melayu Sekayu. Pengantin dari Basma memberikan Genti Duduk berupa senjata tradisional dari Basma, misalnya pisau kuduk atau senjata tradisonal lain dari Basma. Apabila melihat genti duduk itu nantinya masyarakat akan mengetahui kalau si pengantin (menantu) laki-laki dari Basema.

Contoh lain di dalam daerah sendiri: Seandainya bujang Melayu Sekayu menikah dengan gadis Sekayu maka pemberian genti duduk sesuai dengan benda budaya di Daerah Sekayu atau daerah lain sesuai kesepakatan. Selain senjata tradisonal atau Genti Duduk boleh juga pakaian adat setempat. Genti Duduk juga dapat berupa kain tradisiona, yaitu kain songket atau pakaian dari songket. Kain songket biasanya netral karena dianggap milik masyarakat bersama Sumatera Selatan. 

Genti Duduk tidak boleh dijual harus dijaga baik-baik. Maka Genti Duduk tidak boleh sesuatu yang berharga, misalnya emas, perak dan lainnya. Dalam fhiloshofi Melayu tidak boleh benda berharga. Karena Genti Duduk benda yang sakral atau dikeramatkan keluarga.

Genti Duduk ibaratkan anak mereka dalam wujud lain, di rumah. Kedua, bermakna kalau keluarga itu sangat berharga dan tidak dapat dinilai dengan materi. Ketiga, ikatan keluarga tidak boleh berdasarkan sesuatu yang berharga atau berdasarkan materi. Tapi berdasarkan nilai-nilai luhur yang ikhlas.

Dalam perkembangannya adat Genti Duduk mulai dilupakan masyarakat Melayu Sumatera Selatan. Di Kabupaten Musi Banyuasin pemberian Genti Duduk sudah jarang dilakukan. Kalau pun ada pemberian Genti Duduk tidak lagi mengikuti adat. Misalnya pemberian Genti Duduk bersamaan saat musyawara keluarga dalam pembahasan acara pernikahan.

Kemudian Genti Duduk bukan berupa benda budaya milik masyarakat asli Indonesia. Tapi berupa senjata atau benda-benda yang membeli di toko-toko. Misalnya, samurai yang merupakan senjata tradisional bangsa Jepang (salah kapra). Sehingga pelaksanaan Adat Genti Duduk kurang tepat.

Menurut orang tua, pemberian Genti Duduk itu, sesaat setelah akad nikah sah. Sebab, saat itulah pengantin wanita akan ikut suaminya. Kalau belum akad nikah berarti belum ikut suami statusnya. Pemberian Genti Duduk dilakukan sama khalayaknya memberikan benda pusaka. Dilengkapi kotak kecil berukir sesuai benda yang diberikan.

Boleh diserahkan oleh orang tua atau wali dari mempelai laki-laki. Kepada orang tua atau wali mempelai perempuan. Pemberian Genti Duduk yang sangat tepat: Yaitu diserahkan pada ibu mempelai wanita oleh mempelai laki-laki. Saat menyerahkan, mempelai laki-laki harus berjanji akan menjaga anaknya sama seperti sang ibu menjaganya. Akan memperlakukan anaknya sama seperti ibunya memperlakukannya sebelum menjadi istrinya.


Kadang ibu dan ayah mempelai wanita tidak kuat. Kadang ada yang pingsan, paling tidak menangis. Sehingga sering diwakilkan pada wali atau keluarga dekat mempelai wanita. Mengapa demikian? "kata orang tua !!!. Karena sang ibu yang paling menderita membesarkan anaknya. Dari melahirkan, membesarkan, mendidik sang anak perempuannya. Tapi setelah dewasa anak pergi menikah.

Ibunya takut anaknya menderita atau diperlakukan tidak baik oleh suami dan keluarga suaminya. Pemberian Genti Duduk untuk menghibur sang ibu dan sang ayah. Menantu meyakinkan kalau dia akan memperlakukan dan menyayangi sama halnya seperti mereka lakukan. Hendaklah setelah sang ibu menerima dan menggendong Genti Duduk. Mempelai laki-laki sujut (sungkem), sejak saat itu sang ibu dari istri menjadi mertua yang setara dengan kedua orang tua kandungnya. Wanita yang haram untuk dinikahi.
Kain songket tenunan asli adalah salah satu benda berniali budaya yang sering dijadikan pemberian Genti Duduk. Biasanya dilipat dengan rapi dan dibuat kotak berukir dari kayu pilihan.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. Sos.
Palembang, 27 Juli 2019.
Sumber:Wawancara tetua desa di Kecamatan Sungai Keruh. Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
Sumber foto kain songket jenis rakam. Ulandari.Sumber foto senjata tradisional Basema. Apero Fublic.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment