6/25/2019

Uang Logam. Antara Kebutuhan dan Kegengsian


Apero Fublic.- Uang logam atau sering juga disebut koin. Kata koin diserap dari kata dalam bahasa Inggris coin. Uang logam adalah uang yang terbuat dari bahan logam, dikeluarkan oleh suatu pemerintahan dan disahkan secara hukum. Uang logam sudah ada sejak zaman-zaman klasik.

Pada masa klasik uang logam dinilai dengan bahan dasar logam. Semakin berharga logamnya, semakin besar nilai uang. Seperti uang dinar emas, berbeda dengan nilai dinar berbahan dari perak. Seiring zaman, Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang ekonomi, semakin bermacam-macam jenis uang logam.

Setelah penilaian nominal uang logam berdasarkan jenis logam, kemudian berganti dengan penilaian dengan satuan angka. Seperti pada masa kolonialisme Belanda (VOC) uang mulai dinilai dengan angka, seperti satu sen (cen), lima sen, sepuluh sen, dan sebagainya. Sehingga muncul kata sen untuk penyebutan uang di tengah masyarakat Indonesia. Seperti masyarakat di Sekayu, Sumatera Selatan menamakan uang dengan sen.

Setelah memasuki masa Pemerintahan Kolonial Belanda muncul, untuk pertama uang kertas, Gulden Hindia Belanda di keluarkan De Japanssche Regeering. Uang pertama Republik Indonesia di cetak dengan nama doeit, baik uang logam atau uang kertas. Sehingga muncul kata duit dalam menyebut uang.

Untuk uang kertas memiliki nominal besar, sehingga nominal kecil ditetapkan pada uang logam. Sehingga di zaman moderen uang logam menjadi satuan uang terkecil. Dengan nominal terkecil digunakan untuk transaksi ekonomi langsung di tengah masyarakat. Uang logam sangat berguna dalan transaksi jual beli langsung masyarakat.

Uang logam adalah satuan terkecil, dipecah-pecah dalam pembayaran dan kembalian. Sehingga pembayaran tidak terganggu dan sesuai dengan hitungan. Sehingga muncul juga istilah lokal di tengah masyarakat Sekayu, mepeca sen atau menukarkan uang menjadi satuan kecil.

Karena uang logam menjadi satuan uang terkecil, timbul rasa gengsi di kalangan masyarakat sekarang. Sehingga uang logam tidak begitu diperdulikan. Rasa malu apabila menunggu kembalian uang logam. Rasa malu apabila berbelanja dengan uang logam semua. Hampir tidak ada masyarakat menabung uang logam di bank-bank.

Begitupun dengan orang-orang yang sudah merasa kaya, mereka cenderung mengabaikan uang logam. Cap miskin akan melekat apabila seseorang bertransaksi dengan uang logam. Apabila uang logam tercecer di jalan, di halaman, di lantai, di pasar, atau di mana saja. Sangat langkah melihat orang untuk mengambilnya. Karena yang mengambil uang logam tercecer hampir disamakan dengan pengemis di pinggir jalan.

Apabila kita berpikir dengan bijak. Dari Sabang sampai Merauke ada banyak uang logam yang terjatuh atau tercecer. Mungkin ribuan koin yang jatuh atau tercecer, lalu dibiarkan saja dalam sehari. Bayangkan apabila setahun berapa uang logam yang hilang. Uang logam adalah uang yang sama dengan uang kertas.

Hanya berbeda material dan nominalnya. Sah sebagai alat bayar. Uang logam juga kekayaan negara sama dengan uang kertas. Apabila kita membiarkan uang koin yang terjatu, atau kita membiarkan saat menemukan di jalan atau dimana saja. Maka kita telah berbuat mubazir sendiri, dan secara bersama-sama.

Kita juga membiarkan negara dalam kerugian. Mungkin nilai di hadapan kita hanya lima ratus rupiah, tetapi apabila ditambahkan jumlah yang jatu dari Sabang sampai Merauke akan berlipat-lipat jumlahnya, dan besarlah kerugian negara. Itu berarti kita telah merugikan negara secara bersama-sama.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk uang logam. Pertama, apabila kita memiliki uang logam dengan nominal seratus rupiah, dua ratus rupiah dan lainnya. Jangan dibiarkan saja, apalagi dibuang. Belilah tabungan kecil dari plastik, untuk wadah uang logam tersebut. Kemudian saat anda mendapatkan kembali uang logam lagi, maka masukkan  kembali uang tersebut ke dalam tabungan kecil anda.

Ketika uang sudah cukup banyak, jangan dibiarkan di dalam tabungan saja. Belanjakan dengan hal yang anda sukai, atau anda bawak ke bank dan tabungkan ke bank. Tukar di tempat-tempat perbelanjaan. Agar uang kembali berputar. Supaya mempermudah karyawan bank, atau orang toko tempat berbelanja, atau tempat menukar uang logam.

Sebelum itu, hitung uang logam anda. Buat satuan uang, misalnya uang logam dua ratus rupiah samakan dengan yang dua ratus rupiah. Kemudian hitung nominal genap agar mudah menghitung, seperti nominal seribu. Lalu pasang isolatif jernih agar uang menyatu. Sehingga saat belanja atau menabungkan ke bank mudah dan cepat.

Kedua, apabila menemukan uang logam yang tercecer di jalan, di halaman, berapapun nilainya ambilah, dan simpanlah. Walaupun anda orang kaya, orang terhormat, orang berpendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, seorang gadis, seorang pemuda, seorang anak, seorang dewasa. Apapun provesi anda, ambillah uang logam yang tercecer atau terjatuh tersebut.

Ingatlah derajad manusia tidak diukur dengan uang logam dan nominal uang, tetapi diukur dari ahlak, pemikiran positif, kebesaran jiwa, manfaat bagi manusia lain, dan manfaat bagi alam ini. Jadi jangan malu berbelanja dengan uang logam, menabung dengan uang logam ke bank, mengambil uang logam jatuh di tengah keramaian, atau menunggu kembalian uang logam anda.

Uang seratus ribu rupiah akan berkurang nilainya apabila kurang satu rupiah saja. Dengan menyelamatkan uang logam, sesungguhnya kita sedang mengangkat sesuatu yang besar. Bayangkan saja apabila ada ribuan orang menyelamatkan uang logam setiap hari, maka ada banyak kekayaan negara yang diselamatkan.

Apabila anda mencintai negeri ini, dengan menjaga uang koin saja anda sudah membuktikan bahwa anda mencintai negeri ini. Kemudian perbuatan anda akan dinilai pahalah oleh Allah. Sebab manusia yang berbuat kebaikan sebesar biji dzarrah akan mendapatkan balasan.

Apabila uang logam yang kecil-kecil itu tidak ada lagi, maka harga-harga akan lebih mahal, dan lebih cepat naik, sebab pedagang hanya akan menghitung genap atau ganjil. Bayangkan apabila modal satu buah barang, sembilan ribu duaratus rupiah, kemudian pedagang ingin mengambil untung seribu rupiah satu barang, maka dia akan menjual barang seharga sepuluh ribu dua ratus rupiah.

Apabila tidak ada uang logam seratus rupiah, dua ratus rupiah, dan lima ratus rupiah, maka harga akan menjadi genap sebelas ribu rupiah. Karena tidak ada untuk kembaliannya. Maka kita semua yang menjadi susa. Saya juga berharap suatu saat nanti ada ATM uang logam, dimana masyarakat juga dapat menabung sendiri.

Ada mesin penghitung dan pengepak uang logam, baik di toko-toko dan perbangkan. Bank juga memberi tahu masyarakat agar tidak malu menabung dengan uang logam. Yuk, cintai uang logam, manfaatkan uang logam, dan selamatkan uang logam.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 30 Januari 2019.
Sumber foto. Putri Adilah Sari.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya. Kirim saja ke Apero Fublic.

Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis.

Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: www.fublicapero@gmail.com. idline dan Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment