6/25/2019

Bentuk dan Jenis-Jenis Puisi

Apero Fublic.- Di Indonesia karya sastra bentuk puisi atau syair memiliki sejarah panjang. Syair (puisi) berkembang sejak zaman awan sejarah Indonesia. Pada mulanya syair lahir dari mantra-mantra nenek moyang bangsa Indonesia yang animisme. Kemudian berkembang saat kebudayaan India datang. Sebagai conto misalnya adanya syair tentang tokoh-tokoh agama Hindu, atau bertema kehinduan. Saat Islam datang kembali pola mantra berubah, terpengaruh oleh Islam.

Misalnya mantra diawali dengan basmalah, dan diakhiri syahadat. Begitupun dengan syair bernuansa sastra hadir dalam pengaruh Islam. Dalam perjalanan bangsa Indonesia yang kontak dengan kebudayaan barat kemudian, akhirnya juga membentuk pengaruh baruh dalam dunia sastra, terutama syair. Salah satu tokoh sastra yang melahirkan bentuk sastra syair baru seperti Amir Hamzah.

Indonesia banyak memiliki masa lalu dalam kebudayaan nenek moyang, terutama dalam dunia sastra lokal, kemudian berubah mengikuti perkembangan bangsa Indonesia. Sehingga muncul puisi moderen Indonesia. Pelopor puisi moderen Indonesia salah satunya, Amir Hamzah, kemudian disambut penyair Angkatan 45, salah satunya Chairil Anwar.

Sejak zaman pergerakan, dimana syair atau puisi lama Indonesia terdiri dari tradisi sastra Melayu. Kemudian berganti corak baru berupa puisi baru pengaruh sastra barat, seperti soneta. Syair atau puisi tidak lagi terikat aturan tertentu, menjadi bebas. Berikut ini, beberapa kesimpulan dari bentuk umum dari puisi lama Indonesia sebagai berikut.
1. Berbentuk puisi rakyat yang tidak dikenal pengarangnya.
2. Disampaikan turun temurun dan dari individu ke individu.
3. Sangat terikat oleh aturan bentuk, baris, jumlah bait, jumlah suku kata, dan rima.

Diantara puisi lama adalah:
a. Mantra: yaitu berupa ucapan dan rangkaian kata yang dianggap memiliki kekuatan magis atau kekuatan gaib. Ucapan ini bersifat mistis dan mengandung kekuatan.
b. Pantun: berupa rangkaian kata-kata yang berirama a-b-a-b, dengan akhiran yang sama dan berlawanan.
c. Karmina: Pantun pendek
d. Seloka: Pantun berkait
e. Gurindam: bentuk puisi yang berirama yang terdiri baris-baris bersajak a-a yang berisi nasihat, dan beralur panjang.
f. Syair: bentuk puisi yang bersumber dari Arab dengan tiap bait berjumlah empat baris, bersajak a-a-a-a yang bersifat cerita, nasihat. Syair adalah bentuk budaya Arab yang lahir dari pengaruh masyarakat Arab yang suka menceritakan kebesaran suku-suku mereka dahulu.
g. Talibun: berupa pantun yang berbentuk genap yang terdiri dari 6,8, dan sepuluh baris.
h. Senjang: bentuk pantun yang diiringi musik. Senjang pantun berpasangan, bait A dan bait B. Bait A adalah bentuk sampiran untuk menuju bait B. Senjang di lantunkan oleh dua orang yang berbalas-balasan. Terdapat di Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Musi Banyuasin.

4. Puisi Lama Berisi Nasihat-Nasihat dan Hiburan.
Bentuk umum dari puisi baru Indonesia.
1. Puisi baru berbentuk balada yaitu puisi yang bertema atau bercerita suatu tragedi atau fenomena.
2.Himne bentuk puisi pujaan pada tuhan, tanah air, atau pahlawan.
3.Ode bentuk puisi sanjungngan untuk orang yang berjasa.
4.Epigram yakni puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.
5.Romance yakni puisi yang penuh luapan perasaan cinta kasih.
6.Elegi yakni puisi yang berisi ratapan dan kesedihan.
7. Satire yakni puisi yang berisi kritikan pedas atau sindiran.[1]

1. Puisi Diafan.
Puisi diafan adalah puisi yang transparan, mudah ditangkap maksudnya karena menggunakan kata-kata yang biasa digunakan, namun nilai di balik kata-katanya yang biasa itu menimbulkan rasa gugah dan haru para pembaca atau pendengar. Para pembaca dan pendengar tidak terlalu sulit menangkap makna isi puisi seperti ini. Walaupun menggunakan kata-kata biasa tetapi memenuhi karakteristik puisi, kosentrif dan intensif. Berikut contoh puisi diafan:


JAGA HATI

Jagalah hati jangan kau nodai.
Jagalah hati lentera hidup ini.
Beramal salihlah.
Dimulai dari diri sendiri.
Diawali dari saat ini.
Dari hal-hal yang kecil-kecil.
Hendaklah kita selalu.
Berkerja keras.
Berpikir cerdas.
Beramal ikhlas.[2]

Oleh: Aa GYM.

2. Puisi Prismatis
Puisi prismatis adalah bentuk puisi gelap yang sukar untuk dipahami karena menggunakan kata-kata kiasan, asosiasi-asosiasi, simbol-simbol yang mengandung makna konotatif, yakni makna yang biasa ditafsirkan bermacam-macam (poly interpretable). Untuk memahami puisi jenis ini para pembaca perlu memiliki kepekaan dan ketajaman mata batin untuk menangkap nilai yang tersembunyi di balik puisi tersebut. Berikut contoh puisi prismatis:

ALIF LAM MIM

!      !
                         !     !     !
                                          !            !     !         !
                                                                        !
                       !       a
                                        Lif            !      !
                        1
            1            a
      1                        a                          m
                                                           !              !
    mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
                           iiiiiiiiii

mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

Oleh: Q/ Sutardji Calzoum Bachri.[3]

3. Puisi Kontemporer
Puisi kontemporer adalah bentuk puisi yang mengandalkan variasi bentuk dan permainan bunyi bahasa, seperti rima, irama, tekanan, intonasi, dan lain-lain. Yang menjadi ciri utama puisi jenis ini bukan pada arti atau makna kata-kata yang ditampilkan, tetapi pada kesan atau gaya gugah yang ditimbulkannya. Kata-kata dalam puisi ini tidak lagi dibebani oleh arti atau makna, kata-kata dibiarkan merdeka menciptakan kesan sesuai dengan yang dirasakan para pembaca sehingga tercipta komunikasi estetik. Berikut contoh puisi kontemporer:


MATA BERLIAN

Taksi melancar berbunyikan tuter.
Menuju pantai tempat beriang.
Awan berenang cahaya bulan,
Terdengar perempuan tertawa berlian.


Di kota pelabuhan kau lihat.
Duduk berdiam diri berpangku tangan,
Pupuran tebal juga kelihatan tua,
Aku duduk menjauhkan diri.


Aku meneguk kopi susu,
Kau hening berpangkuan tangan,
Pisang kukupas bukan karena lapar,
Tiba-tiba kutahu kau tiada makan.


Pura-pura aku tertarik padamu,
Engkau kuajak makan nasi,
Aku makan mengembirakan engkau,
Matamu bersinar berlian suci.

Oleh: Armijn Pane.

4. Puisi Mbeling
Puisi mbeling adalah bentuk puisi nakal yang tidak mengikuti aturan. Melawan arus, memberontak atas kemapanan, dan menggugat hal-hal yang bersifat sakral atau tabu. Motivasi dasar penciptaan puisi jenis ini adalah ketidakpuasan terhadap tatanan yang ada, memberontak hegemoni kaum elit tertentu. Inilah bentuk protes yang dilakukan seniman lewat karya sastra puisi.[4]
Contoh puisi mbeling:

SEBUAH LOK HUTAM
Buat sang pemimpin
Sebuah lok hitam
Terlepas dari gerbong.
Sendiri melancar dalam kelam
Ia menderam ia melolong

Ada lok hitam melancar sendirian.
Kami yang melihatnya bertanya keheranan:
Ke manakah lok berjalan.Adakah setasiun penghabisan.

Jauh di depan tak ada sinyal kelihatan
Jauh di depan hanya malam terhampar di jalan.[5]

Oleh: Hartojo Andangdjaja

Puisi ini ditujukan untuk Bung Karno pada masa pemerintahan Orde Lama, dimana sistem pemerintahan Bung Karno yang satu tangan dan didukung oleh kekuatan komunis, serta banyaknya diskriminasi pada karya sastra. Walau kekuasaan ada pada tangan Bung Karno tetapi sesunggunya beliau sendirian. Dimana Bung Hatta mengundurkan diri dari politik, suara-suara penentang di bungkam oleh Bung Karno. Hingga akhirnya Bung Karno tumbang oleh demonstrasi mahasiswa dan oleh kekuatan ABRI (TNI).

Oleh: Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang 14 Oktober 2018.

Daftra Pustaka:
Yohanes Sehandi. Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Ombak, 2014.Yant Mujiyanto. Setiap Hari Sebuah Puisi. Surakarta: Mediatama, 2007.
Ajip Rosidi. Puisi Indonesia Modern. Jakarta: Pustaka Jaya, 2008.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


[1]Yohanes Sehandi. Mengenal 25 Teori Sastra. (Yogyakarta: Ombak, 2014), h. 63-64.
[2]Yant Mujiyanto. Setiap Hari Sebuah Puisi. (Surakarta: Mediatama, 2007), h. 2
[3]Ajip Rosidi. Puisi Indonesia Modern. (Jakarta: Pustaka Jaya, 2008), h. 82.
[4]Yohanes Sehandi. Mengenal 25 Teori Sastra. h. 64.
[5]Ajip Rosidi. Puisi Indonesia Modern. h. 57.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment