6/24/2019

Mantera: Bentuk Sastra Permulaan


Apero Fublic.- Salah satu jenis sastra lama Indonesia adalah Mantera. Mantera adalah bentuk gubahan bahasa yang diresapi oleh kepercayaan kepada dunia yang gaib dan sakti. Gubahan bahasa dalam dalam mantera itu mempunyai seni kata yang khas pula. Kata-katanya dipilih secermat-cermatnya, kalimat tersusun dengan rapi, kalimatnya tersusun dengan rapi, begitu pun dengan iramanya.


Isinya dipertimbangkan dalam-dalam, ketelitian dan kecermatan memilih kata-kata, menyusun lirik. Yang terpenting dalam mantera adalah menekankan iramanya untuk menimbulkan tenaga gaib. Dalam melapalkan mantera, mantera harus diucapkan semestinya, tidak boleh salah kata, salah lagu, dan salah iramanya. Maka apabila terjadi akan hilang kekuatan gaib dan yang ingin di hasilkan. Pada waktu itu, seseorang penggubah mantera memiliki keyakinan dengan kekuatan mantera.


Menurut S. Takdir Alisjahbana mantera adalah golongan bahasa berirama. Dalam bahasa berirama, iramalah yang sangat penting. Begitu pun dengan mantera, untuk membangkitkan tenaga gaib-nya mantera memerlukan irama. Mantera timbul dari suatu hasil imajinasi dalam alam kepercayaan animisme. Mereka percaya kepada hantu, jin, setan, dan benda-benda keramat dan sakti.

Hantu, jin, dan setan, itu menurut anggapan masa kepercayaan animisme dan dinamisme ada yang baik dan yang jahat. Hantu-hantu jahat adalah hantu yang mengganggu manusia seperti menyebabkan sakit atau menyebabkan kesialan. Sedangkan hantu, setan, dan jin yang baik akan membantu manusia, seperti membantu berburu, mencari ikan, bertani. Dalam berburu rusa mereka mengucapkan mantera terlebih dahulu agar dapat rusa yang besar, mudah, terhindar dari mara bahaya. Berikut ini adalah contoh mantera berburu rusa.


Mantra Berburu Rusa.

Sirih lontar pinang lontar.
Terletak diatas penjuru.
Hantu buta, jembalang buta.
Aku mengangkatkan jembalang rusa.[1]
                                                (Hooykaas, 1952).

Dalam berburu rusa tersebut tentu mereka juga akan berhadapan dengan bermacam-macam binatang buas. Seperti harimau, ular, beruang, buaya. Untuk itu ada juga mantera yang dibacakan untuk memberanikan diri melawan harimau. Dengan mantera ini, harimau akan pergi dan menghindari mereka yang sedang berburu rusa, mencari kayu, menangkap ikan, dan sebagainya dalam aktivitas di hutan. Berikut adalah contoh mantera untuk masuk hutan.


Hai, si gempar alam.
Gegap gempita.
Jarum besi akan rumahku.
Jarum tembaga akan rumahku.
Ular bisa akan janggutku.
Buaya akan tongkat mulutku.
Harimau menderam diperigiku.
Gajah mendering bunyi suaraku.
Suaraku seperti bunyi halilintar.
Bibir terkatup, gigi terkunci.
Jikalau bergerak bumi dengan langit.
Bergeraklah hati engkau.
Hendak mara atau hendak membinasakan aku.[2]
                                                (Wilkinson, 1907).

Dalam mencari nira pohon aren pun orang-orang zaman dahulu memiliki mantera untuk membujuk pohon aren agar mengeluarkan nira yang banyak.


Al-salamu alaikum putri sa-tokong besar.
Yang beralun berkilir si mayang.
Se gedaba mayang.
Putri tujuh dara dang mayang.
Mari kecil kemari.
Mari senik kemari.
Mari halus kemari.
Aku memaut lehermu.
Aku membawa sedap gading.
Aku membasu mukamu.
Sedap gading merancong kamu.
Kaca gading menadahkanmu.
Kalam gading menati di bawamu.
Bertepok berkecar di dalam kolam gading.
Kalam bernama maharaja bersalin.[3]
                                                (Skeat’s Malay Magic).

Kemudian ada juga mantera untuk menghadapi hantu, jin, roh jahat, agar tidak mengganggu. Dalam pandangan orang Melayu dahulu (mungkin sebagian sampai sekarang), jenis hantu, jin, roh gentayangan, hantu, tinggal di hutan, gunung, pohon, gua-gua, rawa-rawa, gaung, dan tempat-tempat seram lainnya. Untuk menghadapi makhluk halus tersebut maka ada mantera yang dibaca saat mendatangi tempat-tempat tersebut.

Assalamualaikum, anak cucu hantu pemburu
Yang diam dirimbah sekampung
Yang duduk diceruh banir
Yang bersandar di pinang burung
Yang berteduh di bawa tukas
Yang berbulukan daun resam
Yang bertilamkan daun lirik
Yang berbuai di medan jelawai
Tali buaya semambu tunggal
Kurnia tengku Sultan Berumbingan
Yang diam di Pagarruyung
Rumah bertiang terus jelatang
Rumah berbendul bayang-bayang
Bertaburkan batang purut-purut
Yang berbulu roma sungsang
Yang menaruh jala lalat
Yang bergendang kulit tuma
Janganlah engkau mungkir setia padaku!
Matilah engkau ditimpa daulat empat penjuru alam!
Matila engkau ditimpa malaikat yang empat puluh empat?
Mati ditimpa tiang ka’bah.
Mati disula Besi Kawi
Mati dipanah halilintar
Mati disambar kilat senja
Mati ditimpa Qur’an tiga puluh jus
Mati ditimpa kalima.
                         (Hooykaas, 1952).[4]

Dari mantera-mantera di atas dapat di pahami bahwa mantera ini sudah mendapat pengaruh Islam. dengan memulai matra dengan kata AssalamualaikumKalimahAl-Quran, adalah bentuk kata-kata dalam Islam. sebelumnya mantera-mantera juga mengalami masa-masa pengaruh Hindu dan Buddha.

Mantera-mantera masa ini masih dapat dilacak. Namun mantera permulaan sebelum adanya pengaruh kebudayaan Hindu dan Buddha, dan Islam belum dapat di simpul-kan. Di zaman modern di saat terbuka ilmu pengetahuan mantera berangsur-angsur menghilang di tengah masyarakat Melayu atau Indonesia. Sesungguhnya sangat banyak ragam mantera yang tersebar di tengah masyarakat. Mantera penyembuhan penyakit, mantera pengusir penunggu tanah, mantera pembungkam lawan atau musuh.

Mantera lari cepat, mantera penawar racun, mantera supaya kuat, matra agar disegani, matra agar tampak cantik atau tampan, dan yang paling populer adalah mantera pelet. Kepercayaan akan mantera masih tinggi di tengah masyarakat walau penggunaan mantera tidak lagi berkembang. Masyarakat mulai meninggalkan budaya mantera di mana kerasionalan meningkat yang di dorong ilmu pengetahuan, dan berkembangnya tingkat pemahaman agama Islam.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 24 Juni 2019.
Sumber: Edwar Djamaris. Menggali Khazana Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama). Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


1]Edwar Djamaris. Menggali Khazana Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama). Jakarta: Balai Pustaka, 1990, h. 21.
[2]Edwar Djamaris. Menggali Khazana Sastra Melayu Klasik. h. 21-22.
[3]Edwar Djamaris. Menggali Khazana Sastra Melayu Klasik. h. 22-23.
[4]Edwar Djamaris. Menggali Khazana Sastra Melayu Klasik. h. 22-23.

Sy. Apero fublic

0 komentar:

Post a Comment