6/25/2019

Nawacita Problematika Kepemimpinan di Era Milenial

Apero Fublic.- Nawacita adalah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti sembilan. Pembahasan ini, menyangkut kepribadian bangsa. Yang dihubungkan dengan sejarah sosial budaya masa lalu dan dampaknya pada masa sekarang. Manusia telah menapaki perjalanan sejarah panjang. Dari masa nomaden, sampai masah mentap, memasuki tahap kebudayaan. Dimana manusia dikuasai oleh segelintir manusia saja.

Kemudian mereka memiliki kebudayaan dan sifat mereka tersendiri, yaitu feodalisme. Lalu, sepanjang masa ribuan tahun kebudayaan tersebut bertahan dan berakhir di awal abad ke-20 M. Dengan berkembangannya ilmu pengetahuan dan ideologi-ideologi. Berlanjut dengan berbagai peristiwa revolusi dunia mengawali runtuhnya feodalisme. Sebut saja dari revolusi di Prancis 1792 M, di  Amerika Serikat antara tahun 1776-1783 M, sampai dengan revolusi sosialis kiri di Rusia 1917 M.

Revolusi sistem politik tersebut juga terjadi di Turki, Jepang, Cina, Inggris dimana tumbangnya kekuatan feodalisme. Di Indonesia revolusi sosial juga terjadi sepanjang masa Pergerakan Nasional secara damai. Ada sedikit insiden yang dilakukan oleh kelompok sosialis kiri yang menewaskan seorang Pahlawan Nasional Amir Hamza.

Rangkaian panjang peristiwa sejarah dunia tersebut membuat perubahan sosial budaya masyarakat dunia. Mengubah wajah dunia sebagaimana kita kenal sekarang. Namun di negara-negara Asia dan Afrika dunia feodalisme hanya tumbang pada bentuk fisiknya saja.

Tetapi, warisan dari sifat, sikap, pemikiran, paham dari feodalisme, tetap bertahan di dalam jiwa-jiwa anak bangsanya. Termasuk di dalam jiwa anak bangsa Indonesia. Feodalisme hanya hilang dari simbol-simbol saja. Seperti runtuhnya kekuasaan raja yang absolut atau kekuasaan kaum bangsawan (tuan tanah). Tidak ada lagi mahkota emas, juga penyembahan. Namun, sekarang feodalisme muncul dengan bentuk ringkarnasi baru.

Hanya berbeda wujud dan penampakannya, atau diistilahkan dengan neofeodalisme. Sesungguhnya sifat feodalisme muncul bukan karena sistem pemerintahan monarki dan kebangsawanan. Tetapi muncul sebab kebodohan, keangkuhan dan keserakahan individualisme.


Feodal memiliki beberapa pengertian dan pemahaman. Menurut KBBI feodalisme adalah sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan. Sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat. Bukan mengagungkan prestasi kerja. Masa feodal, para raja-raja dan kaum bangsawan hidup dalam kemewahan.

Disepanjang masa ribuan tahun berlalu. Sehingga terjadi kesenjangan sosial yang besar antara kaum bangsawan dan rakyat. Mereka memakai pakaian yang mewah, terbuat dari sutra bersulam emas, kemana-mana ditandu, di kawal. Kata-kata selalu benar, tidak dapat dibantah. Tidak suka sesuatu yang terlihat sederhana. Selalu meminta diistimewakan, dan disembah.

Ukuran keberhasilan mereka adalah seberapa lama mereka berkuasa. Seberapa luas wilayah yang dia kuasai. Yang utama adalah seberapa banyak dapat mengumpulkan materialisme (istri, emas, perak, budak, istana mega, mahkota, kenikmatan hidup, dan sebagainya). Contok kongkret, di Aisa Tenggara ada bangsawan yang mengkoleksi ribuan mobil mewa.


Pembahasan.
Rangkayan panjang sejarah dunia, sejarah nasional Indonesia. Maka terbentuk suatu rangkaian pemikiran sosial masyarakat secara merata. Pemikiran ini merujuk pada kehidupan sosial budaya zaman feodal dan penjajahan. Sehingga bangsa kita terjerat dalam hedonisme materialisme. Dimana bangsa kita menganggap kesenangan adalah tujuan hidup mereka.

Untuk mendapat kesenangan itu, maka harus mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Dapat kita saksikan sekarang kehidupan para pemimpin kita, sama dengan orang-orang feodalisme zaman dahulu. Keberhasilan mereka dari simbol-simbol dan kesenangan duniawi yang hura-hura. Maka dampak dari pemikiran tersebut negara kita menjadi negara korup. Untuk mencapai itu semua mereka berkorupsi. Baik secara individu atau secara berjamaah.


Sebut saja misalnya kasus korupsi e-KTP (Kartu Tanda Penduduk Eletronik). Pemimpin yang dimaksud dalam tulisan ini, bukan berarti presiden. Tapi pemimpin itu adalah semua elemen bangsa, dari para guru, dosen, eksekutif, yudikatif, legislatif, ASN, TNI, POLRI, BUMN, dan lainnya. Semuanya adalah pemimpin dalam masyarakat.

Tidak heran kalau kita melaporkan kehilangan sepeda motor di Kapolsek (tertentu, oknum). Kemudian diminta biaya sukarela. Bukan disana saja, pada Catatan Sipil, atau instansi lainnya. Padahal mereka digaji pemerinta untuk melayani rakyat. Kalau memang mau meminta uang dari rakyat, seharus jangan pemerintah yang menggaji. Tetapi masyarakat membentuk badan swadaya keuangan untuk menggaji abdi negara.

Kenapa mereka melakukan itu. Karena mereka kaum hedonisme materialisme dan mewarisi paham feodalisme masa lampau. Ada beberapa pokok renungan yang dapat dikemukakan dalam kepemimpinan di era milenial bangsa kita. Berikut adalah bahan renungan tersebut. Perenungan berikut ini diambil dari kepemimpinan politik.


1. Kesederhanaan.
Sederhana dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak berlebih-lebihan. Kesederhanaan hidup adalah dimana seseorang itu hidup yang tidak terperdaya oleh gemerlapnya dunia. Walaupun dia mampu. Hidup tidak mengagungkan harta dan materi. Tidak memiliki sifat yang meminta penghormatan. Atau meminta diperlakukan istimewa. Kesederhanaan itu sangat penting bagi manusia, baik orang biasa atau seorang pemimpin.

Paham dan pandangan menghormati orang karena ahlak, dan kepribadian baik perlu ditanamkan dalam dunia pendidikan. Untuk melawan paham materialisme dalam menghargai orang. Sebagai wacana, ketika seorang pemimpin di negara kita melakukan aktivitas sederhana, seperti meninjau langsung kelokasi tempat yang dituju, dengan penampilan sederhana. Begitu populer dan menghabis energi publik membahasnya.

Kenapa? Karena masyarakat kita begitu terpesona dengan cara aktivitas pemimpin tersebut. Populer karena hal tersebut baru. Karena rakyat kita berpikir seorang pemimpin harus selalu menampilkan kemewahan. Paham itu didapat masyarakat merujuk ke zaman feodalisme. Maka hapuslah pemikiran seperti itu, agar kita tumbuh menjadi bangsa yang dewasa.


2. Feodalis Pendukung.
Pemikiran feodal dalam tata pencarian dukungan ditengah masyarakat adalah dengan meminta legitimasi gaulGaul agar diakui keren, berjiwa muda, tidak kolot. Misalnya untuk masuk ke kelompok anak muda, dengan cara membeli minuman keras. Bahkan sampai dengan cara membeli obat-obat terlarang. Berbincang-bincang yang tidak memiliki manfaat.

Pesta-pesta dan hura-hura. Lalu bersekutu dengan kelompok yang memiliki suatu kepentingan. Sehingga apabila orang itu menjadi pemimpin akan memenuhi janji tersebut. Pola mencari dukungan seperti ini dilakukan secara tertutup. Biasanya masuk kedalam wilayah kedaerahan. Mungkin secara publik, media, perbuatan itu tidak diketahui. Namun menjadi rahasia umum ditengah masyarakat.


Mengapa disebut mencari dukungan dengan cara feodalisme. Karena tidak adanya wibawa. Tidak ada kemampuan intelektual dalam pencarian dukungan. Misalnya diskusi bermanfaat dengan masyarakat. Dukungan hanya sebatas meminta coblosan nomor, nomor partai atau nomor urut.

Tidak ada pendidikan politik untuk masyarakat. Pendukung hanyalah sebuah fenomena sesaat. Muncul dan tenggelam diwaktu-waktu tertentu. Kemudian setelah usai kehidupan berjalan sendiri-sendiri. Kelompok pendukung hanyalah segerombolan orang-orang mencari keuntungan pribadi. Sebab gerombolan ini terdiri dari orang-orang yang tidak punya harga diri. Mereka budak uang dan materi.

Orang-orang ini akan suka kalau pemimpin itu adalah orang berahlak buruk. Karena sesuai dengan kehendak mereka. Ini hanyalah gambaran kecil, bagi orang terdidik dan bijaksana mungkin menangkap maksudnya. Bayangkan kalau secara nasional, mislanya pendukungnya radikalis, komunis, itu permasalahan besar.


3. Bukan Amanah Tapi Karir.
Kepemimpinan sekarang bukanlah suatu tanggung jawab moral. Dari kepemimpinan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Yang menjadi tujuan bukan amanah, tetapi karir. Sehingga mereka tidak memikirkan bagaimana idealisme dalam memajukan negara. Pemimpin dengan gaya karir ini akan melakukan apa saja dalam ambisi karirnya. Misalkan dia anggota DPRD, mau ke DPRD Provinsi, Lalu Ke MPR.

Atau menyeberang ke eksekutif, misalnya menjadi bupati atau walikota. Satu periode ingin dua periode. Kemudian ingin menjadi gubernur, dari gubernur ke presiden, atau paling tidak ke DPRD Pusat. Sehingga kosentrasi mereka bukan dalam hal kemajuan bangsa, atau pembangunan. Tidak juga pada sektor perbaikan sosial masyarakat. Mereka tidak memiliki pamor, wibawa, sebab saat menjadi pemimpin mereka lebih sibuk dengan urusan material dan individual saja.

Selanjutnya mencari pencitraan dalam setiap tindakannya. Kalau tidak berhasil dengan pencitraan, mereka sudah punya materi yang siap bermain nantinya. Maka jauh dari kehidupan masyarakat sesungguhnya. Untuk mendapatkan uang kampanye mereka bermain dengan kontrktor-kontraktor busuk. Kepemimpinan bagi mereka hanyalah sebuah karir. Bagaimana bertahan dan menang.


4. Keberhasilan Dengan Simbol Materi.
Salah satu point yang sangat kuat dalam warisan paham feodal adalah mengukur keberhasilan dengan simbol materi. Bukan dengan prestasi dalam kepemimpinan. Seberapa banyak mereka dapat mengumpulkan materi, semakin berhasil dalam anggapan mereka. Begitupun dengan masyarakat sebaliknya.

Juga menganggap berhasilnya mereka itu, dari legislatif, eksekutif, dan yudikatif adalah saat rakyat sekitar melihat mereka dengan kemewahan. Bergelimang harta benda. Maka untuk mencapai itu, korupsilah yang mereka lakukan. Karena mereka ingin diakui berhasil. Selagi masyarakat kita berpikir bahwa materialisme tanda berhasil, maka pemimpin akan mengejar materialisme. Maka diperlukan orang sederhana dalam kepemimpinan.


5. Konsep Kesatuan Kepemimpinan Bersama.
Kesatuan gerak kepemimpinan dalam mensejahterakan masyarakat dan memajukan negara harus tersistem. Jangan sampai pihak oposisi selalu menghalagi. Mencegah atau merusak sistem-sistem yang baik. Seharusnya dalam oposisi itu hanya terletak pada saat kampanye. Bukan pada subjek pemerintahan berjalan.

Berikut saya contohkan misalnya. Di daerah saya, program bupati pertama membangun tempat-tempat olah raga, seperti landasan pacu pesawat untuk olah raga terbang layang, sirkuit balap sepeda motor dan sebagainya. Menghabiskan banyak uang APBD milyaran rupiah.


Namun setelah bupati pertama tidak lagi menjabat, sudah menjadi gubernur. Bupati pengganti tadi membiarkan bangunan-bangunan itu sehingga akhirnya hancur. Tidak di rawat dan tidak dimanfaatkan. Bupati ini, ingin merusak pengaruh bupati pertama dan pengaruh partainya.

Mungkin kelak dia berencana untuk mencalonkan lagi sebagai bupati lagi. Atau nanti dia akan menjadi oposisi saat pemilihan gubernur mendatang. Demi karir politiknya itu, telah mengorbankan aset daerah yang berharga. Contoh lain, berkonsep kebersamaan, kesatuan program yang saling menunjang satu sama lain, dan saling berhubungan.

Misalnya di suatu provinsi membangun satu rel kereta mengelilingi provinsi agar hubungan lancar. Disitu dikonsep bersama sehingga terjadi kesatuan dalam kepemimpinan (eksekutif, legislatif, yudikatif). Bukan sibuk mengatur keuangan masing-masing untuk celah korupsi. Oposisi boleh, membangun bersama-sama. baik itu hijau, kuning, merah, biru, dan sebagainya.


6. Pemimpin Sekali Jadi.
Apa yang dimaksud dengan pemimpin sekali jadi. Yaitu pemimpin yang hanya muncul saat kampanye dan menghilang setelahnya. Baik terpilih atau tidak terpilih. Pemimpin sekali jadi ini, adalah seorang yang memimpin tanpa memiliki pengetahuan luas. Tidak mengerti ideologi dan tidak ada jiwa nasionalisme, apalagi patriotisme.

Karena memang mereka hanya orang-orang yang mau mengubah nasip dari segi kedudukan dan ekonomi. Disepanjang jalan hidup mereka tidak memiliki pengetahuan kepemimpinan. Tidak ada penggemblengan diri. Tidak ada pengalaman, tidak ada pelatihan, tidak ada pendidikan kepemimpinan. Mereka hanyalah jiwa-jiwa kosong yang terdorong oleh nafsu.

Tidak memiliki konsep, tidak meiliki tujuan memimpin, tidak mengerti amanah. Popularitas mereka dibangun dari poster, dari sepanduk, dari brosur, kalender, baju kaos, kartu nama, cetak yasin dan media sosial. Kemudian yang memiliki banyak uang, mereka kampanye hitam dengan tangan-tangan orang lain membagi-bagikan uang.

Mereka mirip api yang membakar padang ilalang yang membumbung tinggi, namun kemudian padam dan menyisakan abu. Pemimpin sekali jadi ini, sesuai dengan pribahasa lama kita, “mahal di timbangan murah di mulut.” Yang bermakna, janji sangat banyak, namun tidak ada yang ditepati. Kaum ini, hanya akan menjadi penyakit bagi negara bukan memperbaiki negara.


7. Integritas dan Jalan Kepemimpinan.
Integritas diri di pahami sebagai sikap yang teguh mempertahankan prinsip. Tidak menyukai sipat-sipat korup dan sipat-sipat amoral. Sipat tersebut menjadi dasar yang asli dalam kehidupannya.  Memiliki jiwa yang mengagungkan nilai-nilai moral. Tidak tunduk pada kesenangan perut, kelamin, dan materi.

Dia tegas dan berwibawa. Tidak tergiur dengan kemewahan, kehormatan, dan pujian. Banyak orang-orang selalu ingin dipuji atas perbuatannya. Namun orang yang memiliki integritas tidak perlu dipuji-puji atau dikagumi orang. Perbuatannya iklas dan penuh patriotisme. Memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi. Memikirkan hak-hak orang lain. Juga bertanggung jawab atas perbuatannya.


Jalan kepemimpinan dibentuk dari intgritas diri. Yang membuat seseorang itu berkualitas. Dia memiliki tujuan jelas, baik jangka pendek atau jangka panjang. Jalan kepemimpinannya adalah jalan kebenaran dan keadilan. Jalan tanggung jawab dan jalan amanah. Berbuat tidak untuk kepentingan diri dan kelompok. Jalannya lurus tidak berkompromi dengan keburukan.

Lebih mengedepankan prinsip kemanusiaan. Sehingga dia bergerak terus dan tidak kendor oleh tipu daya nafsu. Seperti masa kepemimpinan awal negara kita. Kaum pergerakan dan pejuang mereka memiliki jalan yang jelas mau dibawa kemana rakyat zaman itu. Mau diarahkan kemana bangsa ini. Dari rakyat jelata yang bodoh sampai elit politik semua satu arah.

Oposisi atau kawan tetap satu tujuan. Sehingga bangsa kita mampu mencapai kemerdekaan dari penjajah. Kepemimpinan sekarang tidak memiliki jalan kemana akan menuju. Apalagi sesama oposisi. Lebih mementingkan keunggulan karir politik. Melupakan tujuan untuk bangsa, mementingkan ego politik.


8. Ilmu Pengetahuan.
Pengetahuan sangat penting dalam perkembangan kejiwaan dan pemikiran manusia. Apabila tidak ada pendidikan di dunia ini, maka akan sulit sekali membedakan kita manusia dengan hewan. Tidak ada seorang manusia menjadi seseorang yang hebat secara instan. Pemikiran dan intelektual manusia perlu dikembangkan.

Kemampuan berpikir harus di asah. Pemikiran tidak dapat tumbuh apabila tidak memiliki pendidikan dan pengembangan pengetahuan. Semua pemimpin-pemimpin besar selalu lahir dari orang-orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Suka membaca, dan memiliki banyak buku.


Buku baginya adalah sesuatu yang berharga dan lebih penting dari emas. Manusia dapat mengembangkan moral, dan jiwa manusianya karena pendidikan. Pendidikan bukan berarti dibangku sekolah dan bangku kulia saja. Orang yang memiliki intelektual tinggi dia akan belajar terus setiap waktu.

Baik belajar secara formal atau belajar non formal. Membaca buku diwaktu-waktu senggang, dan mempelajari apa yang dia baca. Orang-orang besar yang lahir dari pengetahuan dan mencintai ilmu pengetahuan. Seperti Kong Hu Cu adalah conto manusia mencintai ilmu pengetahuan.

Di negara kita, seperti Bung Hatta, Bung Karno, Haji Agus Salim, Buya Hamka, Sutan Syarir. Di India ada Mahatma Gandhi. Di Afrika Selatan ada Nelson Mandela dan banyak lainnya. Ilmu pengetahuan itu hadir dengan banyak membaca, kemudian dilanjutkan dengan penulisan. Maka tanda terbaik orang itu, ketika dia mencintai ilmu pengetahuan.


9. Universa-ethical principles orientation.
Tingkat keunggulan pada tahap perkembangan pemikiran manusia. Yaitu, tahap universal-ethical principles orientation. Tahap ini, terdapat pada manusia-manusia yang sudah benar-benar dewasa dalam masyarakat. Atau orang-orang yang berpikir sudah sangat maju.

Orang-orang tahap tersebut tujuan utamanya adalah membela keadilan dan hak-hak setiap manusia di dunia ini secara menyeluruh (universal) tanpa terkecuali (Sarlito Wirawan Sarwono: 89:1987). Manusia dengan tarap kepribadian Universal-ethical principles orientation akan mampu membawa sebuah masyarakat menuju kesejahteraan hidup. Semoga akan bermunculan pemimpin-pemimpin tersebut di semua lini kehidupan bangsa Indonesia.


Kesimpulan.
Pemimpin yang ideal itu, tidak memiliki jiwa feodalis. Lepas dari sifat-sifat individualistik dalam bertindak (subjektif). Hidup sederhana dengan kerendahan hati. Memiliki banyak teman, pendukung orang-orang berahlak baik, orang-orang berilmu dan berkepribadian jujur. Tidak ada pemimpin seorang diri, maka dia harus memiliki komunitas pendukung yang baik. Dia menjadikan kepemimpinan adalah amanat baginya, bukan menjadikan untuk perjalanan karir kepemimpinan atau jejang pangkat.

Keberhasilannya bukan dari simbol-simbol materialisme. Seperti simbol kehormatan, simbol martabat, simbol materi, atau seks. Dapat menyatukan segenap komunitas di dalam kepemimpinannya. Dapat berkonsep maju secara bersama-sama. Menghilangkan ego individual demi kepentingan dalam kepemimpinan. Memiliki tahapan dan tempahan dalam menapaki perjalanan kepememimpinan.

Bukan pemimpin yang sekali jadi. Bukan pemimpin yang dibentuk dari iklan, reklame, brosur, kalender, baju kaos, media sosial. Tetapi pemimpin yang tumbuh di tengah masyarakat secara alami, karena kewibawaan dan kebaikan ahlaknya, sebab pribadinya yang luhur. Dalam memimpin dia memiliki jalan dan tujuan jelas dalam kepemimpinannya. Sehingga yang mengikuti tidak terpencar, tidak tersesat.


Jalan yang dimaksud adalah landasan jelas kepemimpinannya, searah bersama. Hal yang tidak kala penting, yaitu mencintai ilmu pengetahuan. Banyak membaca buku-buku dari berbagai disiplin ilmu. Karena hanya dengan banyak membaca orang akan terbuka pemikirannya. Seorang dosen saya berkata, kecerdasan inteletual tidak ajaib masuk kedalam pemikiran dan jiwa manusia.

Oleh karena itu, pemimpin itu harus mencintai ilmu pengetahuan. Setelah melewati semua hal tersebut, maka dia akan mencapai tahap perkembangan manusia yang di istilahkan Universal-ethical principles orientation. Dimana orang yang mencapai tahap ini akan berbuat untuk keadilan dan kebaikan bagi umat manusia. Demokrasi, siapa saja boleh dan dapat menjadi pejabat. Namun tidak semua orang dapat menjadi seorang pemimpin.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 28 Maret 2019.

Daftar Pustaka.
A. Dahlan Ranuwijaya. Bung Karno dan Wacana Islam. Jakarta: Iramedia, 2001.
Abdul Munir Mulkhan, Kiai Ahmad Dahlan: Jejak Pembaharuan Sosial dan Kemanusiaan. Jakarta: Kompas, 2010.
Ensiklopedia Bejarah dan Budaya. Sejarah Nasional Indonesia 8. Jakarta: Lentera Abadi. 2009.
Gd. Bagoes Oka, (terj). Gandhi Sebuah Otobiografi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1985.
Gustave Le Bon. Psikologi revolusi. Terj. Alifa Hanifati Irlinda & Ambhita Dhyningrum. Yogyakarta. Forum, 2017.
Hans kohn, Dasar Sedjarah Rusia Moderen. Terj. Hasjim Djalal. Jakarta: Bhratara, 1966.
Ig. Krisnadi. Sejarah Amerika Serikat. Yogyakarta: Ombak, 2015.
Lothrop Stoddard. Pasang Naik Kulit Berwarna. Terj. Kistijah & Rochmuljati. Djakarta: Menteri Kordinator Kesedjahteraan, 1966.
Raymond Dawson. Kong Hu Cu: Penata Kerajaan Langit. Terj. Y. Joko Suyono. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Sigit daryanto, dkk. Pribahasa Indonesia. Surabaya: Apollo, t.th.
Suharso dan Ana Retnoningsih. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya, 2017.
Sarlito Wirawan Sarwono. Masalah-Masalah Kemasyarakatan di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment