6/27/2019

Lebah, Bunga dan Pertanian: Kelangsungan Hidup Manusia


Lebah adalah sekelompok serangga terbang yang menghasilkan madu. Mereka memproduksi dan menyimpan madu yang di hasilkan dari nektar bunga. Nektar atau dikenal dengan sari bunga adalah cairan manis sewaktu bungah mekar, guna cairan untuk menarik kedatangan serangga saat penyerbukan. Lebah memiliki 20 ribu spesies, saat ini dikenal 44 subspesies. Pada kaki lebah yang sedang menghisap nektar atau sari bunga akan menjadikan perkawinan bunga-bunga, saat ia berpindah ke bunga lainnya, proses ini disebut penyerbukan. Lebah berperan 80% dalam penyerbukan bungah pepohonan, bunga-bunga, padi dan sebagainya. Maka lebah juga menjadi bagian dari perkembangan buah dan tumbuh-tumbuhan. Dapat di bayangkan apabila lebah musnah dari kehidupan bumi, akan berdampak pada keseimbangan perkembangan buah-buahan, tentu manusia akan kekurangan makanan. Lebah adalah hewan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan mahluk bumi lainnya. Lebah datang tidak meninggalkan hama seperti serangga lain pada buah-buahan. Salah satu kelemahan lebah adalah, ia hanya dapat satu kali menyengat, dan saat sengatnya lepas, kemudian ia akan  mati.
Di Indonesia ada dua jenis lebah yang sering di ambil madunya oleh masyarakat, di hutan liar. Lebah-lebah liar tersebut bersarang di pepohonan tinggi dan lebat. Mereka membangun sarang, dan menyimpan madu. Madu yang banyak manfaat dengan harganya jual yang tinggi, menjadi buruan masyarakat. Sesunggunya banyak jenis lebah di Indonesia sebagai wilayah hutan tropis. Namun, yang memiliki maduh yang berarti hanya ada dua jenis lebah dengan koloni besar. Pada masyarakat di Sumatra Selatan ada jenis sarang lebah tunggal, yang di istilahkan penduduk dengan nama medu repe. Medu berarti lebah dalam bahasa Indonesia. Kata medu adalah bahasa Melayu turunan dari kata madu. Untuk penamaan madu masyarakat dengan sebutan manes (manis). Penamaan manes untuk madu, dikarenakan rasa madu yang manis. Lebah repe adalah jenis lebah madu bersarang tunggal, yang bersarang di rerimbunan pepohonan. Jenis lebah ini tidak suka sekeling sarangnnya rapi atau terbuka. Sehingga mereka memilih rerimbunan yang lebat, yang berguna untuk kamuplase dari pemangsa, seperti beruang dan elang. Bentuk sarang lebah madu ini memanjang, atau bulat bulan separuh. Ukuran lebah tunggal juga lebih besar dari ukuran lebah sialang.
    Jenis lebah kedua adalah lebah sialang. Lebah sialang terdapat di hutan-hutan rimbun dan lebat. Sialang adalah penamaan pohon tempat lebah bersarang. Pada pohon sialang terdapat puluhan sarang dan bahkan ratusan sarang. Tergantung besar dan bagusnya dahan serta banyaknya pohon berbunga. Ada banyak jenis pohon yang sering dibuat sialang, seperti pohon rengas, kiara beringin, dan sebaginya. Jenis pohon yang penting tinggi dan besar memiliki dahan-dahan dengan cabang-cabang landai mendatar.
    Di Sumatra pohon sialang biasanya dibuat oleh penduduk. Jarang pohon sialang tercipta sendiri. Penduduk yang ahli menata, memangkas, membersihkan dahan-dahan pohon besar, kemudian mereka memasang sarang tiruan dari ijuk, di dahan pohon tersebut. Saat lebah melihat sarang palsu tersebut, mereka tertarik membuat sarang juga.
    Dalam memanen madu lebah liar, penduduk menggunakan bara api. Penduduk membuat sejenis ikatan, alat pengusir lebah dari sarangnya. Biasanya sebesar betis orang dewasa, dari tangkai buah aren kering, dari sabut kelapa kering, atau dari jenis tumbuhan akar (tumbuhan merambat) yang di cerai dan dikeringkan. Nama alat ini disebut kuting. Setelah itu, dibakar dan di pukulkan ke sarang lebah, sehingga induk lebah pergi dari sarang. Terbang mengikuti bara api yang berterbangan jatuh kebawa. Karena lebah termasuk serangga siang dan mencari sinar sebai panduan terbang.
    Untuk naik pohon sialang yang tinggi, penduduk membuat tangga dari kayu, yang dinamakan lantakLantak terbuat dari kayu pilihan, panjangnya sekitar 40 cm, di runcingkan berbentuk pipih, lalu dikeringkan dengan cara di asap. Saat hendak naik lantak di tancapkan seperti memasang paku. Tetapi tidak sampai tembus, hanya seperempat dari panjang lantak, Cukup saat terasa kuat tancapanya. Setalah itu diikatkan kayu melintang untuk menyatukan lantak-lantak tersebut. Pemasangan lantak setidaknya satu setiap setengah meter, dan memanjang ke atas. Tidak memakai paku atau membuat lantak daru besi untuk menjaga batang tidak infeksi. Untuk mengambil madu juga disiapkan tali tambang yang panjang. Penduduk bekerja sama dalam memanen madu. Mereka membagi tugas masing-masing, terdiri seorang ahli panjat, penarik tambang, pengakut madu, dan pemeras madu, kemudian penduduk yang ikut biasa. Pembagian hasil madu terdiri dari empat bagian, pemanjat, pemilik pohon sialang, pekerja, pembano. Pembano diambil dari nama Bano. Bano istilah menyebut akar pohon yang besar diantara permukaan tanah yang terlihat. Mereka ini hanya duduk di bawah pohon saja sehingga disitilahkan demikian. Panen madu lebah juga ditentukan oleh ahli, sebab apabila habis waktunya madu akan kering, karena dimakan oleh larva-larva lebah yang siap menjadi lebah muda. Hal yang paling disesalkan adalah ketika masyarakat memanen madu, mereka mengambil habis madu, dan larva-larva lebah. Larva lebah tersebut juga dimakan oleh penduduk dengan dimasak, seperti di pepes, atau dimakan dengan dicampur madu itu sendiri. Dijadikan umpan memancing ikan.

Dua Faktor Kepunahan Lebah Liar
Pertama, pemanenan lebah dengan tanpa memikirkan perkembangbiakan lebah akan mengancam regenerasi lebah itu sendiri. Kebiasaan penduduk mengambil semua lebah pada satu sarang, dan juga mengambil larva lebah. Tentu cara ini sangat tidak baik bagi keseimbangan populasi lebah. Apabila setiap kali pemanenan demikian maka dipastikan lebah akan berkurang populasinya.
    Faktor kedua adalah rusaknya hutan dengan sistem pertanian detruktif. Pertanian destruktif adalah bentuk pertanian yang membumihanguskan vegetasi hutan alami dengan pestisida. Petani atau perusahaan pertanian hanya membiarkan tumbuh hanya tanaman yang mereka inginkan. Seumpama petani sawit dan karet. Mereka hanya membiarkan pohon karet atau sawit saja yang tumbuh. Tentu, kalau semua petani dan perusahaan membuat pertanian demikian tentu populasi vegetasi tumbuhan berbunga di hutan akan punah. Punahnya pohon berbunga akan diikuti oleh hilangnya sumber makanan lebah, terutama larva lebah.
    Apabila sistem pertanian tidak mengidahkan kelestarian pepohonan yang berbunga, maka lebah-lebah akan punah. Pepohonan yang besar juga habis ditebang untuk keperluan penduduk membangun rumah. Manusia akan menujuh kepunahan perlahan-lahan mengikuti punahnya lebah dan tumbuhan berbunga. Mari kita mulai bijak dalam memanen madu lebah, terutama tidak mengambil semua madu lebah, dan larvanya. Begitupun dengan pertanian harus memperhatikan dan menjaga keseimbangan alam. Dalam berkebun karet agar kembali menanam jenis karet yang dapat tumbuh bersama-sama pepohonan seperti zaman dulu. Selamatkan lebah, selamatkan pepohonan, dan selamatlah manusia.
    Catatan, masyarakat harus dididik dan diberi tahu tentang permasalahan ini, agar mereka mengerti, kemudian di sekolah-sekolah juga dibekali dengan wawasan lingkungan hidup.

Oleh: Joni Apero.
Palembang, 28 Juni 2019.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment