6/20/2019

Empat Kelompok Paham Neofeodalisme di Dalam Jiwa Bangsa Indonesia

Apero Fublic.- Paham neofeodalisme terdiri dari empat kelompok secara umum. Bersarang di dalam jiwa-jiwa individu bangsa Indonesia. Paham yang menjangkiti individu-individu tersebut menjadi problematika sosial masyarakat di Indonesia. Tentu sangat merusak kehidupan bernegara dan berdemokrasi. Paham yang berkembang dan tumbuh subur menggerogoti jiwa-jiwa bangsa dengan sangat serius dan sangat memprihatinkan sekali.

Dampak nyata dari paham neofeodalisme menyebabkan kehidupan bangsa Indonesia jalan di tempat. Dari bidang ekonomi, pendidikan, SDM, dan sosial masyarakat. Neo-feodalisme penyakit sosial yang akut disebabkan kurangnya pengetahuan dan rendah kualitas pendidikan masyarakat. Untuk memahami empat macam paham neofeodalisme dewasa ini, ikuti  uraian berikut:

1. Neofeodalisme Absolutisme
Neofeodalisme Absolutisme adalah sikap seseorang atau sekelompok orang yang berbuat sewenang-wenang (menurut nafsunya) terhadap seseorang atau sekelompok orang  dengan memanfaatkan kedudukan, pangkat, jabatan, kekuasaan sesuai dengan kepentingannya. Sifat superioritas yang pongah dan merasa sangat hebat dan berkuasa.

Saat berurusan atau berhubungan dengan individu lemah. Mereka mulai dari mengancam, menggertak, dan membodohi. Mereka menutup pintu kebenaran untuk kehormatan diri mereka sendiri. Mereka berbuat dengan sebab untuk menunjukkan bahwa dirinya hebat, berkuasa, mampu berbuat sesuka hatinya.

Kenapa disebut neofeodalisme absolutisme karena penyakit sosial ini dirujuk ke sifat raja yang absolut. Karena orang-orang ini memakai paham seperti seorang raja yang absolut. Renungkan, dimana seorang raja merasa dirinya terhormat, mulia bahkan mengaku keturunan dewa-dewa, berdarah biru. Mereka-mereka ini tidak dapat menerima pandangan lain dari orang lain.

Tidak dapat menerima kritikan, tidak dapat menerima sedikit sanggahan, semua minta dilayani, selalu meminta dihormati, dan manusia adalah hamba maka hendaknya selalu patuh. Tidak tahu benar apa salah maka rajalah yang menang dari hamba-hambanya. Keputusan ada ditangannya, sesuai kepentingannya. Akan sangat memalukan kalau dia merasa dikalahkan.

Sifat raja absolut itu hadir, tumbuh, kemudian dianut oleh seseorang individu yang merasa berkuasa. Ketika orang ini mendapat kedudukan maka sifat itu muncul kepermukaan. Merasa sudah berkuasa dan memiliki derajad tinggi. Saat dia berada pada posisi di atas seseorang, seumpama penegak hukum dan seorang rakyat bodoh, apa yang terjadi. Mereka berlaku sewenang-wenang. Misalnya Dirut sebuah maskapai penerbangan yang mengajak tidur pramugari cantik. Kalau tidak mau resiko dipecat atau dibuat sulit. Inilah contoh paham neofeodalisme absolut. 

Masih ingat dengan seseorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), saat mobilnya di derek oleh Anggota Dinas Perhubungan (DISHUB). Anggota Dewan yang terhormat tersebut mengamuk, marah, tidak terimah, padahal memang dia memparkir mobilnya di tempat yang tidak boleh parkir dan berhenti. Kenapa dia emosi, marah, dan mengamuk, sebab dia merasa seorang anggota dewan yang ada kekuasaan. Orang ini merasa terhormat, memiliki kedudukan tinggi di dalam negara ini. Oknum DPR-RI tersebut menganut paham neofeodalisme absolut.

Sebua cerita menggambarkan dari paham neofeodalisme absolutisme oleh seorang oknum ABRI (ORBA). Cerita ini sudah lama saya simpan di dalam ingatan saya. Waktu itu masih berumur belasan tahun. Suatu hari aku pergi ke Kota Sekayu. Di pasar aku melihat kerumunan orang-orang. Aku mengetahui cerita dari seorang ibu yang menjadi saksi kejadian. Si ibu melihat dengan mata kepala kejadian itu.

Seorang tukang beca sedang sibuk membelokkan becaknya. Dia tidak melihat sebuah mobil mewah menerobos masuk parkiran. Sehingga ujung beca beradu dengan dinding mobil, menggores. Ternyata mobil tersebut adalah milik anggota ABRI. Si oknum ABRI menyalakan si tukang beca. Mau berkelahi, mau ke kantor polisi, semua dia layani.

Sehingga si tukang beca yang tua dan lemah itu begitu ketakuan. Padahal siapa yang salah dari kejadian itu. Sesuaikah sikap seorang prajurit seperti itu. Bukan berarti membelah si tukang beca yang miskin. Cerita ini ilustrasi dari tabiat seseorang yang menganut paham neofeodalisme absolut.

Pernah juga sewaktu saya memiliki sepeda motor yang belum memiliki STNK. Tetapi memiliki surat jalan dari daeler motor. Aku memiliki SIM C yang masih aktif. Aku tidak melanggar tertib lalu lintas. Sebuah pos polisi lalu lintas memberhentikan saya, dan meminta menunjukkan sim dan surat keterangan motor. Aku menunjukkan SIM dan Surat Jalan Motor. Melihat hal tersebut, mereka mempersilakan aku pergi dan menyarankan berhati-hati berkendaraan.

Keesokan hari aku kembali melewati pos di jalan yang berbeda. Ada beberapa polisi lalu lintas memberhentikan. Kali ini lain, mereka ingin menilang, dan menggertak. Saya tahu maksud mereka tetapi saya tidak menanggapi. Saya bilang apakah ada undang-udangnya menilang saya. Beberapa kali beradu alasan membuat si polisi di dalam pos merasa tersinggung. Mereka tetap merasa benar dan berhak menilang, alasannya tidak ada STNK.

Karena merasa berkuasa, ditilanglah saya di pos tersebut. Benarkah tilangannya?, inilah bentuk paham neofeodalisme absolutisme yang disebabkan oleh kedudukan atau jabatan. Mereka bertindak atas dasar berkuasa. Bukan karena kewenangan dan tugas atau kebenaran. Tapi jiwa kerdil yang dibaluti sifat sombong, angkuh, jahat dan semena-mena.

2. Neofeodalisme Partisipan
Neofeodalisme Partisipan adalah sifat neofeodalisme sekelompok orang di suatu tempat, lingkungan atau kawasan. Partisipan dalam pengertian adalah orang yang ikut berperan dalam suatu aktivitas. Sifat neofeodalisme ini muncul disebabkan oleh sifat menjilat dan melindungi kepentingannya. Diumpamakan pada sebuah keluarga besar misalnya. Ada seorang dari bagian keluarga yang kaya. Keluarga orang-orang ini selalu membela dan membenarkan tindakannya, meskipun sifat dan tindakan orang tersebut salah dan tidak sesuai.

Ketika seorang keluarganya yang miskin sedikit menentang, menyalakan, atau mengkritik, maka keluarga yang lain tersebut membela keluarga yang kaya tersebut, tidak peduli dia salah atau benar. Sehingga yang miskin tersingkir, dan si keluarga kaya menyukai dengan yang membela mereka. Rasa disukai itulah yang diinginkan oleh keluarga yang membelah. Karena mereka mengharapkan manfaat dari rasa suka tersebut.

Neofeodalisme partisipan juga terdapat dalam suatu kelompok kerja, kelompok kumunitas. Katakanlah dalam suatu kelompok dimana ada kepemimpinan. Sebut saja ketika seorang manajer, gubernur, kepala sekolah, rektor, dekan, dosen, guru, kepala sekolah, komandan, ulama, direktur, ustad, orang kaya, mentri,  kepala desa atau lainnya. Kedudukan-kedudukan tersebut, memiliki komunitas dalam pimpinannya atau dalam pengaruhnya.

Dari semua orang yang berada dalam komunitas atau pengarunya tersebut, mereka semua akan membelah, menyanjung, dan menuruti, memuji, agar disukai pemimpin. Namun dalam sifat mengalah, menyanjung, dan mengalah ini, terselip sifat untuk menjaga kepentingannya. Agar si pemimpin tadi menyukainya, dan posisinya aman, urusannya mudah. Sehingga dia mengabaikan moral, kebenaran, dan empati terhadap orang lain.

Kelompok ini cenderung akan selalu membenarkan si pemimpin, sebab mereka tidak mau si pemimpin tersebut membencinya atau menghalagi hajatnya kelak. Misalnya sekelompok mahasiswa tidak mau berdebat dengan dosenya saat sidang munaqosah sebab mereka tidak mau terjadi kesulitan, dan berdampak pada nilai, serta layanan mereka. Sifat neofeodalisme partisipan memang ampuh untuk menghadapi orang-orang yang menganut paham neofeodalisme absolutisme.

Apabila kita orang yang berintegritas, jujur, dan memihak kebaikan. Berada dalam komunitas neofeodalisme partisipan posisi kita akan sulit. Sebab kita akan ditekan oleh semua orang yang berada disana. Mulai dari fitnah, kesulitan dan diabaikan. Orang-orang neofeodalisme partisipan akan selalu menutup suara-suara atau kebenaran yang disampaikan dalam komunitas tersebut. Kebenaran pemimpin dalam kelompok yang menganut neofeodalisme partisipan adalah kebenaran mutlak. Walau mereka tahu kebenaran itu hanya olok-olok.

Pernah mengalami semasa kuliah, ketika seorang dosen memberikan kuliah dan pernyataan tersebut bertentangan dengan kebenaran. Bagi yang lain, tidak ada yang benar selain si dosen. Mereka menutup kebenaran lantaran seseorang itu berkedudukan dosen. Yang dianggap mengetahui segala sesuatu. Mahasiswa tersebut dikategorikan menganut paham Neofeodalisme partisipan.

Hal seperti ini, terjadi dimana-mana di Indonesia. Terjadi di dalam komunitas-komunitas masyarakat kita dari berbagai aspek dan komunitas. Baik itu komunitas swasta atau negara. Salah satu sifat buruk dampak neofeodalisme partisipan adalah, sifat cari aman, cari muka, menjadi penjilat.

3. Neofeodalisme Umur
Neofeodalisme Umur adalah bentuk sifat egoisme dari orang yang merasa lebih tua atau berpengaruh. Neofeodalisme umur adalah orang yang mengandalkan umur sebagai bentuk pengaruh dalam memimpin atau mengambil keputusan. Orang ini, tidak mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan pengetahuan, tetapi sebab dia merasa lebih tahu dan lebih mengerti.

Saya pernah menghadapi situasi pada masyarakat saya sendiri. Waktu itu, aku bersama-sama masyarakat membuka tanah lapang di hilir desa. Gotong royong memang menjadi kebudayaan masyarakat kita.  Karena yang kami buka adalah hutan, maka akan melakukan penebangan pohon di pinggir jalan raya. Permasalahannya adalah kabal dan tiang listrik yang melintang dan menggangu penebangan. Kalau sampai penebangan itu sembarangan akan mematakan tiang listrik dan memutuskan kabal listrik.

Waktu itu, aku baru berumur lima belas tahun. Kelompok masyarakat pembuka lahan waktu itu, ada seorang orang tua. Aku memiliki pengalaman dalam teori menebang pohon yang menggunakan tali tambang. Saat penebangan pohon berlangsung, maka diusahakan agar tidak menimpa tiang listrik. Solusi satu-satunya ditarik saat penebangan itu. Orang tua tadi, tentu dia dipercaya dalam memimpin warga.

Saat melihat cara penarikan itu, disiapkan sama dengan cara penarikan benda di atas permukaan tanah datar. Maka aku menyarankan cara tarik yang lain. Sebab pohon yang jatuh tidak akan dapat diimbangi dengang tarikan seperti tarik tambang. Aku memperkenalkan teori yang pernah aku lakukan beberapa waktu lalu.

Namun apa kata orang tua tadi, dia tidak dapat menerima sebab aku masih anak-anak menurutnya. Mana tahu dan diayang sudah tua  d yang paling berpengalaman. Semua orang juga tidak mau mengikuti saran saya. Akhirnya, penebangan pohon dilakukan. Mereka terseret dan pohon roboh menimpa tiang listrik, patah.

Hal yang menjadi inti persoalan adalah, pengetahuan bukan masalah umur dan seberapa banyak duduk di bangku pendidikan, tetapi siapa yang sudah belajar. Cerita itu meberikan dua contoh neofeodalisme sekaligus, yaitu neofeodalisme umur dan neofeodalisme partisifan. Dimana semua orang hanya mengikuti lantaran dia tua, dan tidak berpikir kritis atau memikirkan cara yang saya sarankan. Sehingga penebangan itu menuai perkara baru dan merugikan.

4. Neofeodalisme Materialisme
Kita ingat saat seorang raja feodal menyimbolkan kekuasaan dengan singgasana emas, mahkota emas dan berbagai jenis materialisme lainnya. Karena hal demikian simbol kebesaran dan keagungan si raja. 

Paham tersebut diikuti oleh manusia zaman sekarang. Hadir di dalam diri individu-individu orang Indonesia. Neofeodalisme materialisme adalah paham pemikiran dan anggapan orang-orang yang merasa terhormat, merasa berhasil, merasa pintar, hebat, sukses, dengan cara menyimbolkan semua itu dengan memiliki benda-benda. Misalnya mobil, motor, emas, henpone terbaru, selalu makan di restoran atau cafe-cafe. Baju mahal, jalan-jalan dan liburan. Padahal mereka itu cuma orang pas-pasan.

Karena mereka ini merasa kaya dan sukses. Mereka tidak mau berbaur dengan masyarakat sederhana. Malu kalau makan di tempat sederhana. Merasa level hidupnya tinggi. Aku punya cerita, berkenalan dengan seorang PNS di sebuah instansi Pemerintah Daerah. Dahulu dia cuma orang pas-pasan dan miskin. Setelah sekian lama honor dia jadi PNS. Lalu kredit mobil, kredit henpone bagus, kredit rumah, dan ada tabungan.

Orang ini setelah memiliki semua itu. Dua merasa sudah sukses, kaya, terhormat, level tinggi. Padahal semua yang dia dapatkan hanyalah pasilitas pribadi biasa. Bukan hal yang hebat. Sekarang tidak mau lagi makan di warung biasa. Inilah yang disebut orang yang menganut paham neo-feodalisme materialisme.

Neofeodalisme materialisme berpaham semua uang, dan semua dapat dibeli. Kalu kita perbandingkan orang-orang ini sama dengan kaum bangsawan zaman feodal yang suka menumpuk uang di dalam gerabah atau kotak kayu. Hidup mereka condong dengan kekayaan. Tidak ada kebaikan hidup selain kebaikan uang.  Penganut tidak ada menolong ikhlas. Merasa tidak membutuhkan pertolongan orang lagi. Meremehkan manusia yang miskin.

Di dalam Islam sifat neofeodalisme sangat tidak boleh. Karena sumber neofeodalisme adalah dosa-dosa besar. Seperti sifat sombong, riyah, menjilat, munafiq, dan sebagainya. Apabila kita telusuri kehidupan Rasulullah SAW, ternyata beliau walau hidup di abad ke tujuh Masehi tidak terdapat sifat feodal.

Ketika sifat itu tidak ada pada Rasulullah SAW berarti sifat itu adalah sifat yang salah. Apabila orang yang rajin beribadah, namun memiliki salah satu dari paham neofeodalisme tersebut. Sesunggunya imannya belum baik, agamanya belum benar, dan perlu banyak membaca agar ilmu pengetahuannya bertambah. Ilmu pengetahuanlah yang dapat membebaskan manusia dari sifat neo-feodalisme.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos
Palembang, 1 Januari 2019.

Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-samaBagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis.

Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment