6/20/2019

Empat Golongan Kaum Muslimin Indonesia Menyikapi Tahun Baru Masehi

Apero Fublic.- Kalender Masehi atau Anno Domini (AD). Anno Domini (AD) yang berarti Tahun Tuhan. Sedangkan kata Masehi  berasal dari bahasa Arab, dan bahasa Ibrani Mesias. Tahun baru Masehi menjadi polemik sosial keagamaan di dalam kehidupan masyarakat Islam. Tahun baru Masehi menjadi kalender dunia dalam perhitungan kebudayaan manusia sekarang.

Sehingga mau tidak mau kaum Muslimin masuk dalam perhitungan waktu ini. Memang pada awalnya kalender apapun yang hadir dalam suatu kebudayaan biasanya selalu dimotori oleh kepercayaan. Kalender selalu dihitung untuk menentukan jadwal-jadwal keagamaan.

Bangkitnya kebudayaan latin yang mengusung agama Kristianiti menjadikan kalender masehi sebagai penanggalan kebudayaan dunia. Di abad ke-15 Masehi pengaruh Eropa meningkat di dunia. Kemudian dengan menjajah dunia Timur, kemudian mereka menyebarkan agama kristen dan kebudayaan mereka.

Lalu disusul dengan bangkitnya berbagai bidang kebudayaan Barat, dari ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan membuat kebudayaan Eropa mendunia. Ketika kemajuan terjadi di dunia Barat, maka dunia Timur mengikuti kemajuan tersebut.

Mau tidak mau dunia Timur terutama dunia Islam juga terseret. Maka dengan perlahan, penyerapan kebudayaan terjadi, termasuk dalam penggunaan penanggalan. Namun, kalender masehi yang menjadi kalender dunia, atau kalaender umum tetap pada hitungan keagamaan Nasrani. Dalam sejarah kalender Masehi di mulai dari satu Januari tepat kelahiran Yesus, atau Nabi Isa dalam Islam.

Karena permasalahan dimulainya hitungan kalender dari kelahiran Yesus, menjadikan kaum Muslimin tidak dapat menerima kalender Masehi secara keimanan. Maka timbuk polemik, terbaginya berbagai kelompok umat Islam dalam menyikapi tahun baru Masehi atau Tahun Anno Domini yang berarti Tahun Tuhan.

1. Kelompok Petahana.
Kelompok muslim petahana adalah kelompok paling atas dalam menyerukan tidak merayakan tahun baru Masehi. Kelompok muslim petahana adalah kelompok yang mempertahankan kebudayaan Islam, dan memikirkan akibat buruk dari perayaan tahun baru Masehi. Kelompok petahana berusaha keras bagaimana kehidupan Islamis di tengah masyarakat Islam terjaga.

Mereka adalah kelompok-kelompok dakwa atau muslim-muslim yang memperjuangkan hadirnya keislaman di muka umum. Muslim petahana melawan pengaruh barat dan pengaruh kebudayaan non muslim. Karena mereka mempertahankan dan berusaha membangkitkan keislaman di tengah umat maka diistilahkan dengan muslim petahana.

2. Kelompok Netralisme.
Kelompok muslim netralisme ini yang tidak memperdulikan tentang boleh atau tidaknya merayakan tahun baru Masehi. Kelompok muslim netralisme menganggap libur tahun baru Masehi, dan perayaan tahun baru masehi sebagai libur tahunan dalam dunia kerja.

Libur dan perayaan tahun baru Masehi tidak di kaitkan dengan agama. Tetapi kalender Masehi dianggap kalender kebudayaan umum sebagai pengatur jadwal rutinitas kehidupan umum. Sehingga dalam kelompok netralisme ini tidak ada suara menentang atau mengikuti.

Kelompok ini biasanya mereka yang memiliki pemahaman yang cukup tentang keislaman. Kelompok netralisme berpendidikan dari sekolah Islam negeri, pesantern-pesantren, atau lulusan dari universitas-universitas Islam. Tidak merayakan dan tidak memperdulikan. Seandainya mereka liburan itu dianggap sebatas hari libur biasa.

3. Kelompok Sekularisme.
Kelompok muslim sekularisme ini adalah kelompok yang memang mengaggap bahwa pengucapan natal, ikut perayaan tahun baru, adalah sesuatu yang tidak melanggar syariat. Kelompok ini tidak memberikan larangan, tetapi bahkan mengajurkan untuk mengucapkan dan ikut perayaan tahun baru Masehi.

Kelompok muslim sekularisme ini berdalih selagi tidak merusak akidah, dan sebagai ungkapan toleransi. Karena memandang tahun baru Masehi sebagai budaya bukan sebagai ajaran agama. Kelompok sekularisme ini terlalu terburu-buru dalam menyikapi permasalahan tahun baru Masehi ini.

Sehingga kelompok ini nyaris tidak ada pembelaan terhadap kebudayaan Islam dan akidah Islam secara menyeluruh. Mereka cenderung tidak memperdulikan dakwa sosial dalam pendidikan umum kaum muslimin. Kelompok ini tidak memikirkan tingkat keimanan kelompok  Muslim awam.

Mereka lebih meyamaratakan pemahaman mereka dengan semua orang. Padahal tingkat pemahaman dikalangan Muslim awam tidak dapat disetarakan dengan pemahaman mereka. Kelompok sekularisme ini biasanya orang-orang berpendidikan tinggi. Seandainya mereka taat beribadah, mereka hanya taat sendiri, tidak memperdulikan pembangunan sosial keislaman.

4. Kelompok Awam.
Kelompok Muslim ini adalah kelompok yang tidak mengerti sama sekali. Mereka tidak tahu tentang tahun masehi dan tentang faham keislaman. Kelompok ini mengikuti perayaan tahun baru hanya karena ikut-ikutan. Mereka sangat awam dengan pengetahuan umum dan pengetahuan keislaman.

Dalam perayaan kelompok ini justru sangat beragam. Mereka mengagendakan acara sesuai kemampuan mereka. Terkadang mereka berbuat sesuatu yang amoral, yang sangat tidak pantas dilakukan sebagai muslim. Mereka hanya tahu kalau tahun baru adalah pergantian tahun. Mereka juga menganggap tahun Masehi sebagai tahun umum bukan tahun keagamaan. Tanpa terpikirkan di kepala mereka tentang agama, baik Islam atau non Muslim.

Kelompok ini adalah kelompok paling rendah tingkat keimanan dan pengetahuan keislaman. Mereka berpendidikan yang tidak mengajarkan keislaman secara cukup. Kemudian kulia di perguruan tinggi yang sekuler. Mereka jauh dari kehidupan keagaaman, dan hidup sesuai aturan umum yang berlaku.

Dalam permasalahan kalender ini tentu menguras banyak energi kaum Muslimin. Antara mengikuti atau menentang. Sehingga dua pilihan yang sulit, sebab godaan keduniaan sangat kuat dalam perayaan tahun baru Masehi. Masyarakat merasa lebih bebas, lebih leluasa meluapkan kegembiraan.

Bertolak belakang dengan tahun baru Hijriyah. Mengapa masyarakat Islam kurang antusias dalam perayaan tahun baru Hijriyah. Ada dua penyebab umum, Pertama dalam pemikiran umat Islam Indonesia, setiap aktivitas Islam adalah ritual ibadah: karena dari Islam yang selalu dipikirkan adalah ibadah, tidak ada celah kebersahajaan.

Islam adalah ibadah, sehingga yang merayakan yang pandai dalam beribadah. Maka perayaannya hanya membaca Al-Quran, yasinan, tahlilan, pakai jubah, pakai peci, dimasjid, ceramah, dan tidak boleh bergembiraria. Pemikiran seperti inilah yang menyebabkan kaum muslimin tidak antusias dalam perayaan tahun baru Hijriyah. Sebab dalam ritual ibadah sudah biasa.

Kedua, tahun baru Hijriyah tidak bersamaan dengan kalender umum, sehingga tidak ada libur panjang atau tidak berakhir tahun. Kalau kalender masehi digunakan perusahaan untuk libur, tutup buku, evaluasi dan sebagainya, atau berakhir tahun. Oleh karena itu, maka tahun baru Masehi dijadikan momen liburan, jalan-jalan, tamasya, dan bersantai.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 2 Januari 2019.

Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis.

Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero FublicwhatsApp: 081367739872. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment