6/20/2019

Di Sudut-Sudut Kecil


Apero Fublic.- Pemilihan Umum. Sudut-sudut kecil di negeri ini terdapat dalam tatanan sosial masyarakat kelas bawa. Masyarakat miskin, terasing, cacat, bodoh, dan polos. Mereka hidup sederhana apa adanya. Dalam    keseharian bekerja menyambung hidup. Demi pendidikan  anak mereka bergulat sepanjang hari. Demi beberapa rupiah mereka memeras tenaga siang dan malam.

Mereka itu, bekerja bermacam-macam. dari menjadi kuli, sopir becak, berjualan kecil, Tukang Sol Sepatu, Pemulung, orang-orang cacat, dan banyak lagi. Sedangkan Rumah mereka biasanya mengontrak dengan ukuran minim dan tempatnya kumuh lagi kotor. Sedangkan di desa-desa biasanya rumah mereka sederhana.

Mereka tidak punya banyak penghasilan, hidup dari menjadi buru perkebunan, baik Perseroan atau milik-milik orang kaya. Mereka membawa sepeda atau mendorong gerobak, atau mungkin dengan bakul berisi dagangan, dalam mencari nafkah hidupnya. Janda-janda tua atau yang pencari nafkah keluarganya. Atau orang tua yang mencari nafkah sekadarnya hanya untuk memenuhi perutnya demi tidak membebani anak-anak mereka.

Sudut-sudut kecil adalah gambaran kelas masyarakat paling bawah, baik dari segi ekonomi dan pendidikan. Mereka semua menjadi sasaran kampanye hitam, dan aliran uang dalam pembelian suara saat pemilihan. Mereka tidak tahu, mereka tidak mengerti. Mereka orang-orang yang tinggal di Sudut-Sudut Kecil.

Dunia mereka sangat terpinggirkan. Namun mereka menciptakan dunia mereka sendiri yang tenang dan bersahaja. Mereka hidup dengan sangat sederhana, namun cinta kasih mereka menyelimuti kesusahan dan mengubah kesusahan itu suatu kebahagiaan dalam kebersamaan.

Mereka mempunyai anak yang penurut dan biasanya pintar dan rajin. Sering anak-anak mereka kurang biaya dalam menuntut ilmu. Kebanyakan orang yang cukup berada, atau orang kaya hanya memandang sinis dan acu pada mereka di sudut kecil itu.

Pada masa tahun politik ini, mereka menjadi sasaran orang-orang bodoh, miskin intelektual, serakah, yang ingin menjadi pemimpin. Di sini mereka menebar pesona dalam janji. Sedangkan agen atau kaki tangan mereka membagikan uang secara rahasia dan tersembunyi.

Mereka membeli suara dan memberikan Janji-janji. Sedangkan selebihnya mereka membagikan sembako atau baju kaos dan kalender partai, yang tentu bergambar dengan tersenyum dan berbaju keagamaan. Orang yang di sudut-sudut kecil tertipu dan termakan rayu yang mereka tidak tahu.

DI SUDUT-SUDUT KECIL

Di Sudut–Sudut Kecil
Hidup Bersahaja dan Polos
Menggenggam Arang dan Becek Jalan
Beristanah Reot dan Kumuh
Beratap Terik, Beralas Letih

Di sudut–sudut Kecil
Hidup Berkasih  Sayang
Memperhatikan dengan hati
Tanpa Pamrih Bertolong Kasih

Di Sudut–Sudut Kecil
Bagai Dunia yang Tersisih, Namun menabur Kasih
Itu ada di Negeri –Negeri
Di sudut-sudut Kecil
Banyak Air mata yang Terjatuh
Bening di Malam, Jernih di Siang Hari

Di  Sudut-Sudut Kecil
Tak Terlihat Oleh Mata, Tak Ternilai Oleh Harta
Tak Tau Para mereka, Jua tak Mau Tau
Di sudut-sudut Kecil
Hanya ter-jamah yang Berhati

Di Sudut – Sudut Kecil
Tiada intrik, Tiada Politik
Jauh dari Ambisi dan Korupsi
Seliter Beras Mendamaikan Hati
Kebahagiaan ada walau dalam Susah

Di sudut-sudut Kecil
Tepat Mereka Menipu dan Mengumbar Janji
Di Sudut - Sudut Kecil
Tempat Raja-raja Bermulut Manis
Di Sudut- Sudut Keci
Tempat Menuai  Nama, Memampang Wajah
Di Sudut – Sudut Kecil
Banyak Korban Berjatuh
Di Sudut – Sudut Kecil
Membagi Rupiah, Sembako Bolelah Jua

Di sudut-sudut Kecil
Bergelimpangan Mayat Berbusuk
Tiada Daya Dalam Genosida
Di Hantam Atom Yang Licik
Di Sudut-Sudut Kecil                                                               
Hanya  Berserah Diri, Dalam Angin Sepi.    

Alhasil, pemilihan umum atau pemilihan sekelas nya menjadi kotor dan busuk. Mereka yang memilih setelah menerima uang, kemudian menjadi korban. Kerugian negara mulai terbuka saat korupsi mereka menjadi-jadi. Tidak ada arti dan hasil atas wakil yang mereka pilih.  Hanya sebuah nama yang membekas dalam ingatan.

Uang yang mereka terima tinggal menjadi kotoran yang berbau. Menjadi pejabat selama lima tahun mereka melupakan sudut-sudut kecil bagaikan orang Amnesia. kemudian lima tahun kemudian mereka datang kembali ke Sudut-Sudut Kecil. Menabur janji, memasang wajah pada baliho-baliho.

Tentunya uang seratus ribu, atau lima puluh ribu mereka selipkan kembali. Duh sudut-sudut kecil, tertipu lagi. negara tidak maju-maju. hanya sekelompok manusia serakah bermain anggaran, mabuk-mabukan dan wanita. Sudut-Sudut Kecil, tak berdaya dan selalu terkalahkan. Di bantai kemunafikan mereka-mereka buruk akhlak nya, entah sampai kapan. 
                        
Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 24 Juli 2018.
Kategori. Syarce Objektif.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com idline: Apero Fublic.  Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment