6/18/2019

Biografi Sastrawan: Soni Farid Maulana


Apero Fublic.- Soni Farid Maulana lahir pada 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Soni Farid Maulana adalah seorang penyair dekade 80-an yang cukup menonjol. Soni belajar teater di ASTI Bandung sampai tingkat sarjana muda.

Karyanya dalam tulisan berupa puisi, cerpen, dan esai. Puisi yang ditulisnya antara lain dipublikasikan di Berita BuanaSuara PembaharuanSuara KaryaHorison serta Citra Yogya majalah sastra dan sebagainya.

Di antara kumpulan puisinya yang sudah diterbitkan, seperti Krematorium Matahari (Kelompok Sepuluh, 1986), Para Peziarah (CV. Agkasa, 1987) serta sejumlah puisi-nya disunting oleh Linus Suryadi AG untuk antologi Tonggak IV (PT. Gramedia, 1987), dan Matahari Berkabut dengan penerbit Pustaka, Bandung 1989 (1410 H). Antologi Matahari Berkabut terdiri dari 23 halaman, yang berisi kumpulan puisi dari 1984 sampai 1989. Antologi Matahari Berkabut juga di tulis untuk Rendra dan Ken Zuraida.

Pada bulan Maret 1986 diundang baca puisi oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam forum Temu Sastrawan Jakarta ’86. Kemudian pada bulan Juni 1987 dalam forum Tiga Penyair Bandung bersama Acep Zamzam Noor dan Nirwan Dewanto.

Pada September 1987 dalam forum Puisi Indonesia ’87, lalu November 1989 dalam forum Tiga Penyair Bandung bersama Acep Zamzam Noor dan Beni Setia. Soni Farid Maulana pernah menjuarai penulisan esai teater dalam Lomba Seni ASTI Bandung. Kemudian aktif dalam kelompok 99, juga Lingkar Studi Sastra Malaysia.

Antologi Matahari Berkabut merupakan kumpulan puisi yang baru, agak sedikit lain dari warna kepenyairan sebelumnya meski pun hal yang bersifat liris dan romantis tetap merupakan nada dasar kepenyairannya. Lewat kumpulan ini Soni Farid Maulana tidak hanya bicara obsesi individual tetapi juga bicara kepedulian sosial.

Pantas dibaca sebagai bahan kajian sastra atau pun refleksi diri. Beberapa akademisi berpendapat tentang kepenyairan dari Soni Farid Maulana, seperti yang diungkapkan Sutardji Calzoum Bachri Bactiar yang dimuat dalam Prioritas, 18 September 1986. “yang sekarang ini biasa-biasa saja seperti dahulu. Mereka cukup serius bergulat mencari pengungkapan diri mereka.

Tetapi karena begitu banyaknya penyair muda itu, barangkali belum kelihatan yang betul-betul meyakinkan. Ada beberapa orang satu dua, seperti dari Bandung Soni Farid Maulana atau seperti D. Zawawi Imron yang terakhir kita temukan dari Madura.

Begitu juga Suminto A Sayuti dalam Kedaulatan Rakyat, 20 Agustus 1989. Mengungkapkan, “mencermati sajak-sajak Soni Farid Maulana saya memperoleh beberapa kesan yang menarik. Tidak hanya dalam hal kebersahajaan penyair dalam memilih kata-kata yang dipertaruhkan dalam dunia puitik yang muncul sebagai makna bangunan dunia putik itu.

Hal ini disebabkan oleh kemampuan penyair dalam membentuk simpul-simpul imaji yang merangsang daya tanggap, baik secara visualauditif, maupun kinestetik. Dengan demikian, transaksi makna antara pembaca –dalam hal ini- dengan sajak-sajak itu pun terlaksana dengan lancar. Soni Farid Maulana menampilkan dua kecenderungan tematis yang cukup menonjol, yang saling berjalinan dan tak bisa di pisahkan yakni tentang obsesi individual dan kepedulian sosial.

Sedangkan menurut Abrar Yusra dalam Puisi Indonesia 87’ Dewan Kesenian Jakarta, berpendapat, “sebagai penyair Soni Farid Maulana cukup baik dengan sajak-sajak yang cukup intens. Kadangkala mencapai efek magis bahkan juga sufistik. Lain lagi bagi Yakob Sumardjo dalam Pikiran Rakyat, 5 Juli 1988.

Menurut beliau, imaji-imaji tahun 1970-an adalah imaji-imaji hidup yang mengantarkan pembaca pada peristiwa konkrit kehidupan. Pada sosok Soni Farid Maulana yang ada adalah hasil abstraksi kehidupan. Tidak heran kalau dia cukup mengatakan “sang kehidupan” untuk menyatakan sebagai pengalaman konkritnya. Hal-hal universal ini diungkapkan dalam bahasa universal pula. Berikut adalah cuplikan puisi Soni Farid Maulana.

AMSAL BATU

Aku batu terpelanting dari perut gunung
Jatuh di Borobudur: menjelma patung Buddha
Ku saksiskan tanah Jawa yang lengang dan sunyi
Tanah perburuan yang berubah warna dan rupa
Seakan pengap oleh jiwa yang lusuh
Terpisah dari semesta Sang Kehidupan

Tak Pernah aku terluka seperti Ini
Angin berdesing dalam kalbuku

Benamkan kakimu pada sungai rohani:
Menyeberanglah. Atasi arus yang datang padamu!

Bisik kuntum teratai
Mekar dalam puncak semediku. Di bawa bulan.

Oleh:  Soni Farid Maulana, 1984.


SOLITUDE

            Seperti padang terbuka
Yang diserbu musim penghabisan
                        Aku sempurna
            Dibakar api sunyi
Berkobar dari kedalaman tanah berlumut

Aku sempurna merayapi lumpur kenangan
                        Bagai keong lusu
            Di mana ribuan daun gugur
                        Menyentuh pundakku

O cintaku betapa menakutkan
            Dari pusat kegelapan
Sejumlah kelelawar menyeringgai
                        Ingin amis darhku
Begitu mawar: kupercayakan padamu.

Oleh. Soni Farid Maulana, 1989.

Oleh: Arip Muhtiar. S.Hum.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Sumber dan Hak Cipta: Soni Farid Maulana, Matahari Berkabut, Bandung: Penerbit Pustaka, 1989.
Sumber foto: Dari Buku, Matahari Berkabut, Penerbit Pustaka, 1989.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment